NovelToon NovelToon
PENGANTIN ARWAH

PENGANTIN ARWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lilack Sunrise

Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LI WEI

Kirana baru saja melangkahkan kaki keluar dari Kuil Longshan ketika hujan turun begitu derasnya, seolah langit Taipei sendiri ikut menentang niatnya. Wei berlari ke emperan toko terdekat, tapi Kirana tetap berdiri di tengah rintik, menggenggam jimat kuning itu erat-erat hingga tulisannya nyaris luntur terkena air.

“Kir! Cepat ke sini!” teriak Wei.

Tapi kaki Kirana terpaku. Bukan karena hujan. Bukan karena takut basah. Tapi karena di pergelangan tangannya, benang merah itu mulai berdenyut kencang, terasa panas seperti kawat membara. Kirana menjerit kecil, lalu berlari ke tempat Wei berteduh. Ia menggulung lengan bajunya. Benang merah itu sekarang berubah warna dari merah pucat menjadi merah tua kehitaman, dan melingkar semakin erat, seperti ular yang mencekik.

“Li Wei marah,” bisik Wei sambil membaca ekspresi panik di wajah Kirana. “Dia tahu kamu akan ke pohon beringin.”

Kirana mencoba menenangkan diri. Ia masih punya waktu. Masih lima jam sebelum tengah malam. Tapi begitu ia menatap jalanan, semua taksi melaju tanpa berhenti. Gojek ( Yoxi aplikasi Taiwan) ? Aplikasi di ponselnya error terus. MRT? Stasiun terdekat tutup karena insiden orang jatuh ke rel. Wei mencoba memanggil taksi online, tapi setiap kali ada yang menerima, sopirnya membatalkan setelah membaca tujuan: Taman Chengde.

“Sopir takut,” kata Wei lirih. “Taman itu terkenal angker di Bulan Hantu.”

Kirana memutuskan jalan kaki. Taman Chengde hanya berjarak tiga kilometer. Ia bisa sampai dalam empat puluh menit jika cepat. Wei setia menemani, meskipun wajahnya pucat. Mereka berdua menyusuri trotoar basah, melewati gang-gang sempit yang hanya diterangi lampu kuning minimarket. Tapi setiap kali mereka mendekati tikungan menuju taman, tiba-tiba ada penghalang: sebuah truk sampah yang menghalangi jalan, atau gerbang besi yang tadinya terbuka kini terkunci rapat.

Sampai di pertigaan terakhir sebelum taman, Kirana berhenti. Jantungnya berdebar bukan karena lelah. Di depannya, jalan menuju pohon beringin itu lenyap. Yang ada hanya dinding beton tinggi seolah-olah taman itu sudah ditutup bertahun-tahun lalu. Tapi Kirana tahu itu tidak mungkin pohon beringin itu masih ada. Ia baru melihatnya tiga malam lalu.

“Ini jebakan,” kata Wei. “Li Wei mengubah jalannya. Dia tidak mau kau mengembalikan mahar.”

Kirana menekan jimat kuning itu ke dadanya. Ia teringat pesan biksu: Kembalikan mahar itu bukan dengan ketakutan, tapi dengan ketulusan. Mungkin jalannya bukan fisik. Mungkin ia harus menembus ilusi.

“Aku akan tetap jalan,” kata Kirana tegas. “Ikut atau tidak?”

Wei mengangguk ragu.

Mereka berdua melangkah menembus dinding beton itu. Dan seperti yang Kirana duga, tubuh mereka melewatinya tanpa rasa sakit. Di sisi lain, taman Chengde terbentang persis seperti yang ia ingat pohon beringin tua di tengah, rumput basah, angin dingin yang membawa aroma dupa. Tapi ada yang berbeda. Di bawah pohon itu, seorang laki - laki berbaju merah duduk di atas bangku kayu, kepalanya tertunduk, rambut panjang hitam menjuntai menutupi wajah. Di pangkuannya, sebuah amplop merah baru, mengilap seperti darah segar.

Kirana merasakan benang di pergelangannya menarik keras, seolah ingin menyatukannya dengan perempuan itu. Wei meraih tangannya, tapi tiba-tiba Wei terpental oleh sesuatu yang tak terlihat, jatuh ke semak belukar dan tak sadarkan diri.

Kini Kirana sendirian. laki - laki itu perlahan mengangkat wajah. Kulitnya pucat seperti porselen, bibirnya merah darah, matanya kosong tapi penuh tuntutan. Ia mengulurkan tangan kirinya. Di pergelangan tangan Li Wei, benang merah yang sama menjuntai, ujungnya mengambang mencari pasangan.

“Kau terlambat,” suara Li Wei bukan keluar dari mulutnya, tapi berbisik langsung di otak Kirana. “Tapi kau di sini sekarang. Ayo selesaikan pernikahan kita.”

Kirana gemetar, kakinya tak bisa bergerak. Jimat kuning di tangannya terasa berat seperti besi. Ia ingin berteriak, ingin lari, ingin menggantungkan jimat itu ke pohon. Tapi tubuhnya lumpuh, seolah seluruh taman ini adalah perangkap laba-laba raksasa, dan ia hanya lalat yang tak berdaya menunggu dimakan.

1
Dania
semangat tor
byyyycaaaa
keren,lanjutkan thorr
no more dreams
bagusssssss
Na Er
bagus
byyyycaaaa
lanjut dong thor
CIngakuu🦁: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!