NovelToon NovelToon
SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: 秋天(Qiūtiān)

Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: JANTUNG BUMI YANG MEMBARA

Kegelapan menyambut Han Jian saat tubuhnya menghujam permukaan kolam hitam di bawah air terjun. Air itu tidak dingin seperti yang ia duga; sebaliknya, cairan itu terasa kental dan memiliki suhu hangat yang ganjil, seolah-olah ia sedang tenggelam ke dalam darah raksasa purba. Tekanan air segera menghimpit paru-parunya, namun Han Jian tidak panik. Ia memusatkan kesadarannya pada tulang belakangnya. Seni Transmutasi Tulang Purba bereaksi secara naluriah; pori-pori kulitnya menutup rapat, dan sumsum tulangnya mulai mengekstraksi oksigen dari energi yang tersimpan di dalamnya, memungkinkan dia untuk bernapas melalui pori-pori tulang.

Ia terus menyelam lebih dalam. Cahaya matahari dari permukaan menghilang dengan cepat, digantikan oleh kegelapan mutlak. Namun, fragmen tulang hitam di dalam sakunya mulai berpendar dengan cahaya ungu yang redup, menerangi dinding-dinding gua bawah air yang sempit dan berlumut.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, Han Jian merasakan tarikan arus yang kuat. Ia terseret masuk ke dalam sebuah celah sempit dan tiba-tiba—Wuuussh!—ia terlempar keluar dari air dan mendarat di permukaan batu yang keras dan panas.

Han Jian terbatuk, memuntahkan sisa cairan hitam dari mulutnya. Ia bangkit perlahan, dan matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya. Ia berada di sebuah kawah bawah tanah yang sangat luas. Di langit-langit gua, kristal-kristal raksasa menggantung, memancarkan cahaya kemerahan. Namun, yang paling menakjubkan adalah apa yang ada di tengah kawah: sebuah kolam lava cair yang tidak meluap, melainkan berputar perlahan membentuk pusaran, dan di pusat pusaran itu melayang sebuah bola kristal berwarna merah membara seukuran jantung manusia.

"Inti Bumi yang Membara," bisik Han Jian. Suaranya bergema di ruang kosong yang luas itu.

Namun, ia tidak sendirian.

Dari balik bayang-bayang bebatuan besar di tepi kolam lava, sebuah mahluk merayap keluar. Bentuknya menyerupai kadal raksasa, namun kulitnya terdiri dari lempengan batu vulkanik yang keras, dan di punggungnya tumbuh kristal-kristal api yang tajam. Matanya yang kuning vertikal menatap Han Jian dengan rasa lapar yang buas. Ini adalah Salamander Kerak Bumi, binatang buas tingkat dua puncak yang kekuatannya setara dengan kultivator tahap Pusaran Bumi tingkat akhir.

Mahluk itu meraung, melepaskan gelombang panas yang membuat udara di sekitar Han Jian mendidih. Tanpa peringatan, Salamander itu melesat. Kecepatannya sangat kontras dengan ukurannya yang besar.

Han Jian tidak memiliki waktu untuk menghindar sepenuhnya. Ia menyilangkan kedua lengannya untuk menahan hantaman ekor sang Salamander.

BANG!

Tubuh Han Jian terpental sejauh sepuluh meter, menghantam dinding gua dengan keras hingga menciptakan retakan. Rasa sakit yang tajam menghujam lengannya, namun ia terkejut menyadari bahwa tulangnya tidak patah. Energi hitam dari sumsumnya telah membentuk lapisan pelindung internal yang sangat padat tepat sebelum benturan terjadi.

"Kau ingin memakan tulangku?" Han Jian berdiri kembali, menyeka darah di sudut bibirnya. Matanya berkilat penuh kegilaan. "Coba saja jika kau mampu menghancurkannya!"

Han Jian menerjang maju. Ia tidak memiliki pedang atau teknik Qi yang megah, tapi ia memiliki kepalan tangan yang didukung oleh kepadatan tulang yang melampaui logika. Ia melompat ke udara, menghindari semburan api dari mulut Salamander, dan mendarat tepat di atas kepala mahluk itu.

"Hancur!" teriak Han Jian. Ia menghantamkan tinjunya ke lempengan batu di kepala Salamander itu.

KRAK!

Lempengan pelindung itu retak. Salamander itu menjerit kesakitan dan mencoba melempar Han Jian, namun pemuda itu mencengkeram kristal di punggungnya dengan erat, mengabaikan rasa panas yang membakar telapak tangannya. Han Jian terus memukul, satu demi satu, setiap hantamannya membawa getaran frekuensi tinggi yang merambat masuk dan menghancurkan struktur internal kepala binatang itu.

Setelah belasan hantaman brutal, Salamander Kerak Bumi itu akhirnya tumbang dengan kepala yang hancur. Han Jian jatuh terduduk di samping bangkai mahluk itu, napasnya tersengal-sengal. Kulit tangannya melepuh parah, namun di bawah kulit yang hancur itu, tulang jarinya berkilau hitam metalik, tetap utuh dan tak tergores.

"Jangan berhenti di sini, Nak. Waktumu terbatas," suara berat itu kembali bergema di kepalanya.

Han Jian menatap kolam lava. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, meskipun itu terdengar seperti bunuh diri. Ia berjalan menuju tepi kolam lava, merasakan panas yang begitu ekstrem hingga pakaiannya mulai hangus.

Ia melepaskan jubahnya yang sudah compang-camping, menyisakan tubuh kurusnya yang kini penuh memar namun memiliki struktur otot yang mulai menonjol. Dengan satu napas panjang, ia melompat menuju pusat pusaran lava, tempat Inti Bumi melayang.

Saat tubuhnya bersentuhan dengan Inti Bumi, rasa sakit yang tak terbayangkan meledak. Ini bukan sekadar terbakar; ini adalah sensasi seolah-olah setiap inci dagingnya dicabut dari tulangnya dan digantikan oleh cairan logam cair.

"AAAAAAAGGGHHHH!"

Jeritan Han Jian memenuhi gua. Inti Bumi yang Membara meresap masuk melalui dadanya. Energi api murni itu tidak menghancurkannya karena fragmen tulang hitam di tubuhnya bertindak sebagai jangkar, menyerap panas tersebut dan mengarahkannya langsung ke dalam sumsum tulang.

Ini adalah proses Penyaliban Sumsum. Di bawah suhu ribuan derajat, sumsum tulang Han Jian yang tadinya berwarna merah fana mulai mendidih dan berubah warna. Kotoran terakhir dalam tubuhnya dipaksa keluar melalui pori-porinya dalam bentuk uap hitam yang berbau busuk. Tulang-tulangnya yang hitam mulai menyerap esensi api, menciptakan guratan-guratan merah lava di permukaannya.

Di tengah penyiksaan itu, Han Jian mendapatkan penglihatan. Ia melihat ribuan tahun yang lalu, para raksasa kuno berjalan di atas bumi tanpa dantian. Mereka tidak meminjam energi dari langit; mereka adalah bagian dari bumi itu sendiri. Tulang mereka adalah fondasi dunia, dan darah mereka adalah sungai kehidupan.

"Kultivasi Dantian adalah penemuan para pengecut yang takut akan rasa sakit murni," suara itu berbisik. "Kau, Han Jian, telah memilih jalan penderitaan. Maka penderitaanlah yang akan memberimu keabadian."

Proses itu berlangsung selama berjam-jam. Perlahan, api yang berkecamuk di dalam tubuh Han Jian mulai mereda. Pusaran lava di sekitarnya perlahan mendingin dan mengeras menjadi batu hitam yang solid, karena seluruh energinya telah disedot habis oleh Han Jian.

Han Jian membuka matanya. Pupil matanya kini tidak lagi hitam murni, melainkan memiliki lingkaran merah redup di bagian tengahnya. Ia berdiri di tengah kawah yang kini mati dan gelap. Kulitnya yang tadi melepuh kini telah pulih, namun teksturnya terasa lebih padat, hampir seperti kulit binatang buas tingkat tinggi.

Ia mencoba mengepalkan tangannya. Sebuah getaran kuat merambat dari lengannya, menciptakan gelombang tekanan udara yang menghancurkan bebatuan di dekatnya tanpa menyentuhnya.

"Penyaringan tahap pertama... selesai," gumamnya. Suaranya kini terdengar lebih berat dan berwibawa.

Ia tidak lagi merasa lemas. Sebaliknya, ia merasa seolah-olah ia bisa mengangkat seluruh gunung ini di pundaknya. Setiap inci kerangkanya kini telah berevolusi menjadi Tulang Perunggu Bumi. Meskipun secara basis kultivasi ia masih terlihat seperti manusia biasa tanpa Qi di perutnya, kekuatan fisiknya sekarang mampu meremukkan seorang ahli tahap Pusaran Bumi dengan tangan kosong.

Han Jian melihat ke arah lubang keluar di langit-langit gua. Ia tahu Tetua Kedua dan para pengejar klan mungkin masih menunggu di atas sana, menganggapnya sudah mati terbakar atau dimakan binatang buas.

"Kalian menunggu sampah yang kalian buang untuk mati?" Han Jian mengambil fragmen tulang hitam yang kini telah menyatu ke dalam telapak tangannya. "Sayangnya bagi kalian, sampah ini baru saja terlahir kembali sebagai badai."

Dengan satu lompatan raksasa yang didorong oleh kekuatan otot kakinya yang baru, Han Jian melesat menembus kegelapan, kembali menuju permukaan untuk menuntut keadilan yang telah lama ia lupakan.

1
Malik Junjung
critanya trlalu ringkas...
Malik Junjung
yach... mnurut sy sich drpd ikut ujian kdewasaan mnding klwr dri klan... drod pmer kekuatn....
angin kelana
bab selanjutnya semoga lebih seru lg..
秋天(Qiūtiān): di tunggu ya teman teman
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!