NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19. Jamu Surga Dunia

Malam itu, Unit 402 tidak lagi terlihat seperti apartemen minimalis yang dingin. Berkat "serangan" kado dari Eyang Utari, ruang tamu kini lebih mirip gudang toko barang antik yang sedang cuci gudang.

Nala duduk bersila di atas karpet, menatap tumpukan keranjang rotan berisi berbagai macam rempah, makanan tradisional, hingga botol-botol kaca tanpa label yang hanya bertuliskan tulisan tangan rapi: “Untuk Cucu Kesayanganku, Saga.”

Saga sendiri sudah mengungsi ke balkon, berusaha menetralkan paru-parunya dari aroma wangi melati yang dibawa Eyang tadi.

“Mas Saga! Sini deh!” panggil Nala sambil mengguncang-guncangkan sebuah botol kaca berisi cairan berwarna cokelat pekat.

Saga masuk dengan wajah masygul.

“Nala, sudah saya bilang, jangan sentuh barang-barang itu. Kita akan kembalikan semuanya pelan-pelan besok.”

“Duh, Mas, ini ada jamu. Kata Eyang tadi ini jamu ‘Sari Rahayu’. Katanya bagus buat kesehatan, apalagi Mas kan kerja lembur terus,” Nala membaca labelnya dengan teliti.

“Kayaknya ini jamu stamina deh. Wanginya kayak jahe sama madu.”

Nala membuka tutup botolnya. Bau rempah yang kuat langsung menyeruak. Karena penasaran, Nala menuangkannya ke dalam dua gelas kecil.

“Yuk, kita minum buat merayakan kemenangan kita hari ini karena nggak ketahuan Eyang!”

“Saya tidak minum cairan yang tidak saya ketahui komposisi kimiawinya, Nala,” sahut Saga ketus. Ia meraih botol air mineral dingin dari kulkas.

Nala mendengus. “Dasar arsitek kaku. Ini organik, Mas! Alami! Nih, aku coba dulu.” Nala menyesap sedikit. “Eh, enak! Manis, hangat di tenggorokan, ada sensasi pedas-pedas jahenya.”

Melihat Nala tampak baik-baik saja dan bahkan terlihat segar, Saga yang sebenarnya sedang merasa haus dan lelah mulai goyah.

Ia melihat gelas yang sudah dituangkan Nala di atas meja marmer. Tanpa banyak bicara, Saga menyambar gelas itu dan meminumnya dalam sekali teguk—niatnya hanya agar Nala berhenti mengoceh soal jamu tersebut.

“Puas?” tanya Saga sambil meletakkan gelas dengan bunyi tuk yang tegas.

“Nah, gitu dong! Sehat itu perlu, Mas,” Nala tersenyum puas sambil mulai merapikan kotak-kotak hadiah.

Sepuluh menit pertama, semuanya normal. Nala sibuk memindahkan keranjang buah ke dapur, sementara Saga kembali duduk di meja kerjanya untuk memeriksa draf wawancara Nala.

Namun, memasuki menit ke-limabelas, Saga mulai merasakan sesuatu yang aneh.

Awalnya hanya rasa hangat yang menjalar dari perut ke dada.

Saga pikir itu hanya efek jahe. Tapi perlahan, suhu tubuhnya terasa meningkat drastis. Ia mulai merasa gerah, padahal AC ruang tamu sudah disetel di suhu 18 derajat Celcius.

“Nala... kamu kecilkan AC-nya?” suara Saga terdengar sedikit lebih rendah dari biasanya.

Nala menoleh dari arah dapur. “Enggak, Mas. Masih 18 derajat kok. Kenapa? Kedinginan ya?”

“Bukan... saya... panas sekali,” Saga melonggarkan kerah kaos hitamnya. Wajahnya yang biasanya pucat kini berubah menjadi kemerahan, mulai dari telinga hingga ke leher.

Nala menghampiri Saga dengan dahi berkerut. “Lho, Mas? Kok muka Mas kayak udang rebus gitu? Keringetan lagi!”

Saga mengusap dahinya yang basah. Ia merasa jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

Darahnya seperti sedang dipompa dengan kecepatan maksimal. Ia berdiri, mencoba berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka, tapi langkahnya terasa

sedikit limbung.

“Mas Saga! Mas kenapa?!” Nala panik, ia segera menahan lengan Saga agar tidak jatuh.

Begitu kulit Nala bersentuhan dengan lengan Saga, Saga tersentak. Kulit Nala terasa sedingin es di tengah padang pasir bagi Saga.

“Tangan kamu... dingin sekali,” gumam Saga, matanya menatap Nala dengan tatapan yang tidak biasa—tatapan yang lebih tajam, namun tampak kabur di saat yang sama.

Nala memeriksa botol jamu tadi dengan panik. Ia membalik botolnya dan melihat ada tulisan sangat kecil di balik label: “Jamu Sari Rahayu: Khusus Lelaki. Meningkatkan suhu tubuh dan vitalitas secara instan.”

Mata Nala melotot hampir copot. “Mas tadi

minum satu gelas penuh!”

“Apa?” Saga mencoba fokus, tapi kepalanya mulai berdenyut. “Eyang... kasih saya... jamu apa?”

“Ini jamu stamina dosis tinggi, Mas! Aduh, pantesan Mas kepanasan! Ini mah namanya Mas lagi overdosis ramuan tradisional!” Nala memapah Saga menuju sofa, tapi Saga menolak.

“Tidak... saya mau ke atas. Saya mau... mandi air es,” Saga memaksa melangkah naik ke lantai atas.

Nala, yang merasa bertanggung jawab, terus memegang pinggang Saga untuk membantunya mendaki tangga kayu.

Sesampainya di kamar lantai atas, "bencana" visual lainnya menyambut mereka.

Sprei merah menyala pemberian Eyang sudah terpasang rapi, menciptakan suasana yang—dalam kondisi Saga yang sedang kepanasan—terasa sangat provokatif dan mengintimidasi.

Saga menjatuhkan dirinya di pinggir tempat tidur. Ia merenggut kaos hitamnya hingga terlepas, memperlihatkan dada dan perutnya yang bidang namun kini berwarna kemerahan dan penuh keringat.

“Mas! Jangan buka baju sembarangan!” Nala berteriak sambil menutup mata, tapi ia segera sadar kalau pria ini sedang dalam kondisi darurat medis (atau stamina).

“Aduh, Mas Saga, maafin Nala! Aku nggak tahu kalau jamu Eyang sekuat itu!”

“Nala... panas... ambilkan air,” rintih Saga. Suaranya serak, membuat Nala merinding bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang menjalar di punggungnya.

Nala berlari turun, mengambil seember air dingin dan beberapa handuk kecil. Ia kembali ke atas dan mendapati Saga sudah berbaring telentang di atas sprei merah, napasnya memburu.

Perpaduan kulit Saga yang memerah dan sprei merah Eyang membuat suasana kamar itu terasa sangat panas, secara harfiah dan kiasan.

Nala duduk di tepi kasur, memeras handuk dingin, dan perlahan menempelkannya ke dahi Saga.

“Tahan ya, Mas. Ini biar adem.”

Saga memejamkan mata saat handuk dingin itu mjjmenyentuh kulitnya. “Terima kasih... Nala...”

Saat Nala hendak memeras handuk kedua untuk mengelap dada Saga yang berkeringat, tiba-tiba tangan Saga menangkap pergelangan tangan Nala. Gerakannya cepat dan kuat. Nala tersentak, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Saga.

“Mas?” bisik Nala, jantungnya ikut berdebar tidak karuan.

Saga membuka matanya. Mata elang itu kini tampak sayu dan penuh dengan gejolak yang sulit dijelaskan.

“Kamu... kenapa ceroboh sekali?” bisik Saga pelan, suaranya sangat dekat di telinga Nala.

“Kalau saya kenapa-kenapa... siapa yang mau kamu repotkan di Jakarta ini?”

Nala terpaku. Gelang emas pemberian Eyang di pergelangan tangannya berdenting pelan saat Saga mengeratkan genggamannya.

“Maaf... aku cuma pengen Mas sehat...”

“Saya sehat,” sahut Saga, tangannya perlahan berpindah dari pergelangan tangan Nala ke arah tengkuk gadis itu, menariknya sedikit lebih dekat. “Terlalu sehat sampai saya... sulit berpikir jernih sekarang.”

Nala bisa merasakan hembusan napas Saga yang panas di pipinya. Suasana kamar yang merah, efek jamu yang gila, dan kedekatan posisi mereka membuat Nala lupa caranya bernapas.

Untuk sesaat, ia tidak ingin menjauh. Ia justru ingin tahu, apa yang akan terjadi jika garis pembatas selotip di bawah sana benar-benar tidak pernah ada.

Tepat saat suasana mencapai puncak ketegangan yang sanggup membuat penonton drakor berteriak histeris, ponsel Nala di saku celananya bergetar hebat.

Bzzzttt! Bzzzttt!

Suara getaran itu merusak keheningan. Nala tersentak dan langsung menarik diri, hampir saja terjungkal dari kasur. Ia buru-buru merogoh ponselnya dengan tangan gemetar.

“Ha-halo? Siapa?” tanya Nala dengan suara pecah.

“Nala! Ini Mama!” suara melengking Tante Sofia terdengar dari seberang telepon.

“Eyang sudah sampai rumah, dia bilang hadiahnya sudah diterima ya? Oh iya, Eyang bilang Saga sudah minum jamunya belum? Itu jamu spesial dari resep kakek buyut, efeknya bisa bikin orang ‘semangat’ semalaman! Mama telepon cuma mau bilang, jangan capek-capek ya, ingat kalian belum sah!”

Nala menatap Saga yang kini sedang menutupi wajahnya dengan bantal, tampaknya sadar sepenuhnya betapa memalukannya situasi ini.

“I-iya, Ma. Mas Saga sudah... ‘semangat’ banget ini. Nala tutup ya Ma, lagi... lagi ngompres Mas Saga!” Nala menutup telepon dengan kecepatan cahaya.

Keheningan kembali melanda. Saga perlahan menyingkirkan bantal dari wajahnya. Rona merah di wajahnya mulai berkurang, namun kecanggungannya meningkat seribu persen.

“Nala,” panggil Saga, suaranya kembali datar meski masih sedikit serak.

“Iya, Mas?”

“Keluar.”

“Hah?”

“Keluar dari kamar saya. Sekarang. Sebelum saya meminum seluruh air di ember itu untuk mendinginkan otak saya,” ujar Saga sambil membalikkan badan, memunggungi Nala.

Nala tersenyum kecut, meski ada sedikit rasa kecewa yang ia sendiri tidak mengerti kenapa harus ada.

“Iya, Mas Arsitek. Istirahat ya. Jamunya... jangan dibuang, siapa tahu Mas butuh buat lembur proyek lain kali.”

“NALA!”

Nala berlari turun sambil tertawa kecil, meninggalkan Saga yang masih berjuang melawan efek panas di atas sprei merah yang provokatif itu. Malam itu, di Unit 402, mereka berdua tahu bahwa batas yang mereka buat sudah tidak lagi hanya sekadar urusan selotip hitam di lantai, tapi sesuatu yang lebih dalam yang mulai membakar dari dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!