NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Teman Lama dan Percikan yang Tak Terduga

Minggu pagi menyapa dengan suasana yang sedikit lebih tegang dari biasanya. Panggilan telepon dari Siska semalam masih menyisakan gema di kepala Arumi. Meskipun Adrian telah menegaskan posisinya, Arumi tahu bahwa darah lebih kental daripada air. Ada rasa bersalah yang mencubit hatinya saat memikirkan kakaknya terlunta-lunta di sebuah hotel murah, meskipun itu adalah konsekuensi dari perbuatannya sendiri.

Namun, fokus Arumi teralihkan ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.

“Rum, aku sedang di Jakarta untuk pameran buku. Ada waktu untuk kopi siang ini? Sudah lama sekali kita tidak diskusi soal draf novelmu. – Pandu.”

Pandu adalah teman kuliah Arumi, sekaligus senior yang banyak membimbingnya dalam dunia kepenulisan. Pria itu adalah salah satu dari sedikit orang yang menghargai Arumi bukan sebagai "adik Siska", melainkan sebagai penulis berbakat.

Arumi ragu sejenak, lalu melirik Adrian yang sedang duduk di meja makan sambil membaca koran digital di tabletnya.

"Mas... siang ini aku ada janji bertemu teman," ujar Arumi hati-hati.

Adrian mendongak, alisnya bertaut sedikit. "Teman? Siapa?"

"Namanya Pandu. Teman kuliah dulu. Dia seorang editor di penerbitan besar. Kami ingin membicarakan draf novelku," jelas Arumi.

Adrian terdiam sejenak. Ia meletakkan tabletnya di meja. "Di mana?"

"Di kafe dekat mal pusat kota. Hanya sebentar, kok."

Adrian tampak menimbang-nimbang. "Aku akan mengantarmu. Aku juga ada keperluan di daerah sana."

Arumi sedikit terkejut. Sejak kapan Adrian punya waktu luang di hari Minggu untuk mengantarnya? Namun, ia tidak membantah. "Baik, Mas."

Perjalanan menuju kafe terasa sedikit berbeda. Adrian tampak lebih diam dari biasanya, namun tangannya yang memegang kemudi sesekali mengetuk-ngetuk setir—sebuah tanda bahwa pikirannya sedang tidak tenang.

Sesampainya di depan kafe bernuansa kayu yang estetik, Arumi melihat Pandu sudah melambai dari balik jendela kaca. Pandu tampak kasual dengan kemeja flanel dan kacamata bingkai hitamnya, terlihat sangat kontras dengan Adrian yang selalu tampil rapi meski di hari libur.

"Itu dia?" tanya Adrian, suaranya sedikit lebih berat.

"Iya, itu Pandu. Terima kasih sudah mengantar, Mas. Aku mungkin pulang naik taksi saja nanti."

"Telepon aku kalau sudah selesai. Aku akan menjemputmu," ujar Adrian dengan nada memerintah yang tidak menerima penolakan.

Arumi hanya bisa mengangguk dan turun dari mobil. Saat ia melangkah masuk, ia tidak menyadari bahwa mata Adrian tetap tertuju pada kafe itu selama beberapa menit sebelum akhirnya melajukan mobilnya.

"Arumi! Wah, kamu terlihat... berbeda. Lebih bercahaya?" sapa Pandu sambil berdiri dan menjabat tangan Arumi hangat.

Arumi tertawa kecil, menarik kursi di depan Pandu. "Mungkin karena akhirnya aku punya waktu lebih banyak untuk menulis, Ndu."

Mereka pun tenggelam dalam obrolan seru.

Pandu memberikan banyak masukan teknis tentang alur cerita Arumi. Bagi Arumi, mengobrol dengan Pandu selalu menyegarkan. Pandu tahu bagaimana cara memancing kreativitasnya.

"Aku serius, Rum. Draf ini punya potensi besar. Kamu hanya perlu sedikit lebih berani menonjolkan perasaan tokoh utamanya. Jangan biarkan dia terlalu pasrah," ujar Pandu sambil mencondongkan tubuh, antusias.

"Aku sedang berusaha, Ndu. Kadang sulit membedakan perasaan tokoh dengan perasaanku sendiri," jawab Arumi jujur.

"Ngomong-ngomong... aku dengar soal pernikahanmu. Maaf aku tidak bisa datang karena sedang di luar kota. Tapi... apakah kamu bahagia? Maksudku, itu terjadi begitu cepat."

Arumi terdiam. Ia menyesap latte-nya, mencari kata-kata yang tepat. "Awalnya berat, Ndu. Tapi... Mas Adrian ternyata tidak seburuk yang orang-orang bicarakan. Dia... menjagaku."

Tepat saat itu, denting pintu kafe terbuka. Arumi tidak terlalu memperhatikannya sampai ia merasakan sebuah kehadiran yang sangat familiar berdiri di samping mejanya.

"Sudah selesai bicaranya?"

Arumi mendongak dan terperangah. Adrian berdiri di sana, masih dengan wajah datarnya, namun matanya menatap Pandu dengan tajam.

"Mas Adrian? Kok cepat sekali?"

Pandu segera berdiri, merasa sedikit terintimidasi oleh aura otoriter pria di depannya. "Ah, Anda pasti suami Arumi. Saya Pandu, teman kuliahnya."

Adrian menjabat tangan Pandu sebentar, genggamannya kuat. "Adrian Pramoedya. Maaf menginterupsi, tapi kami ada acara keluarga setelah ini."

Arumi mengernyit. Acara keluarga apa? Adrian tidak mengatakan apa-apa tadi pagi. Namun, melihat rahang Adrian yang mengeras, Arumi tahu sebaiknya ia tidak bertanya sekarang.

"Oh, tentu. Kami juga sudah hampir selesai kok," ujar Pandu sopan. Ia menoleh ke Arumi. "Kabari aku soal revisi Bab 12 ya, Rum."

"Tentu, Ndu. Sampai jumpa."

Di dalam mobil, suasana terasa dingin. Lebih dingin dari biasanya. Adrian melajukan mobil dengan kecepatan yang sedikit di atas rata-rata.

"Mas... kenapa tadi bohong soal acara keluarga?" tanya Arumi pelan.

"Aku tidak suka cara dia menatapmu," jawab Adrian singkat.

Arumi tertegun. "Maksud Mas? Pandu itu teman lama. Dia sedang membantuku soal novel."

"Membantu atau sekadar mencari kesempatan?" Adrian mendengus. "Dia terlihat terlalu... akrab."

Arumi tanpa sadar tersenyum. Apakah ini yang namanya cemburu? Seorang Adrian Pramoedya cemburu pada seorang editor buku?

"Mas cemburu?" tanya Arumi jahil, mencoba mencairkan suasana.

Adrian terdiam. Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang agak sepi, lalu menoleh menatap Arumi. "Cemburu? Aku hanya memastikan bahwa istriku tidak dimanfaatkan oleh orang lain di bawah hidungku."

"Pandu orang baik, Mas. Dan dia menghargai karyaku."

"Aku juga menghargai karyamu, Arumi," sela Adrian cepat. "Malam itu... saat kamu tertidur di depan laptop, aku membaca beberapa halaman drafmu. Kamu menulis dengan sangat indah. Kamu tidak butuh pria itu untuk memberitahumu bahwa kamu berbakat."

Wajah Arumi memerah. "Mas... Mas membacanya?"

"Hanya sedikit. Tapi cukup untuk tahu bahwa kamu punya dunia yang luar biasa di dalam kepalamu." Adrian menghela napas, suaranya melunak. "Maaf kalau tadi aku terlalu kasar. Aku hanya... tidak terbiasa melihatmu tertawa lepas dengan orang lain."

Arumi merasakan kehangatan menjalar di hatinya. Ia memberanikan diri menyentuh lengan Adrian. "Terima kasih, Mas. Tapi Mas tidak perlu khawatir. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Mas di... rumah kita."

Adrian menatap tangan Arumi di lengannya, lalu kembali menatap matanya. Ketegangan di wajahnya perlahan mencair. "Ayo pulang. Aku ingin mendengar lebih banyak soal Bab 12 itu. Tanpa gangguan editor itu."

Sesampainya di rumah, sebuah kejutan lain sudah menunggu. Mobil ayah Arumi, Baskoro, terparkir di depan halaman.

Arumi dan Adrian saling pandang. Mereka segera masuk ke dalam rumah dan menemukan Baskoro serta Ratna duduk di ruang tamu dengan wajah cemas. Di sudut lain, Siska berdiri dengan kepala tertunduk, memegang tas kecil yang tampak kusam.

"Ayah? Ibu?" Arumi mendekat.

Ratna segera memeluk Arumi sambil menangis. "Rum... Siska kembali. Dia datang ke rumah tadi pagi, memohon-mohon. Ibu tidak tega melihatnya seperti itu."

Baskoro berdiri, menatap Adrian dengan rasa bersalah yang amat sangat. "Nak Adrian... maafkan kami. Siska melakukan kesalahan besar, kami tahu. Tapi dia tetap putri kami. Dia minta maaf dan ingin bicara dengan kalian."

Siska melangkah maju, matanya sembap. "Adrian... Arumi... aku benar-benar minta maaf. Aku bodoh. Laki-laki itu... dia menipuku habis-habisan. Aku tidak punya apa-apa lagi. Aku janji tidak akan mengganggu pernikahan kalian. Aku hanya... aku hanya ingin minta maaf."

Adrian berdiri dengan sikap protektif di depan Arumi. Suaranya terdengar sangat tenang, namun tegas. "Siska, aku sudah mengirimkan uang melalui asistenku semalam. Itu cukup untukmu memulai hidup baru di luar Jakarta atau di mana pun yang kamu mau."

"Tapi Adrian, aku ingin memperbaiki hubunganku dengan keluargaku," isak Siska.

"Kamu bisa melakukannya, tapi jangan di rumah ini," ujar Adrian. "Arumi adalah nyonya di rumah ini sekarang. Kehadiranmu hanya akan memberikan beban emosional yang tidak perlu baginya."

Arumi menatap kakaknya. Dulu, ia pasti akan langsung lari memeluk Siska dan memaafkannya. Namun sekarang, ia menyadari sesuatu. Ia bukan lagi bayangan Siska. Ia punya hidupnya sendiri, suaminya sendiri, dan harga dirinya sendiri.

"Kak Siska," panggil Arumi lembut namun mantap. "Aku memaafkan Kakak. Benar-benar memaafkan. Tapi Mas Adrian benar. Kita butuh waktu dan jarak. Kakak harus belajar bertanggung jawab atas pilihan Kakak sendiri."

Siska tampak terkejut. Ia tidak menyangka adiknya yang penurut bisa bicara setegas itu.

Baskoro mengangguk pelan. "Arumi benar. Siska, ayo pulang bersama Ayah. Kamu harus menata hidupmu kembali dari awal, bukan dengan mencoba masuk lagi ke kehidupan yang sudah kamu buang."

Setelah perdebatan kecil yang emosional, akhirnya orang tua Arumi membawa Siska pergi.

Rumah kembali sunyi.

Arumi terduduk di sofa, merasa seluruh energinya terkuras habis. Adrian duduk di sampingnya, merangkul bahunya dengan lembut.

"Kamu hebat tadi," bisik Adrian.

"Aku merasa jahat, Mas," ujar Arumi lirih.

"Tidak, kamu tidak jahat. Kamu hanya sedang tumbuh," balas Adrian. Ia mencium puncak kepala Arumi sekilas—sebuah tindakan spontan yang membuat jantung Arumi berdebar kencang.

"Bagaimana kalau kita lupakan semua drama ini dan fokus pada hal yang lebih penting?"

"Apa itu, Mas?"

"Bab 12 novelmu. Aku ingin tahu kenapa tokoh prianya begitu dingin. Apakah karena dia memang kaku, atau karena dia hanya butuh wanita yang tepat untuk mencairkannya?"

Arumi tertawa, air mata haru dan tawa bahagia bercampur jadi satu. "Mungkin keduanya, Mas."

Malam itu, di bawah cahaya lampu ruang tengah yang hangat, Arumi mulai membacakan tulisannya kepada Adrian. Tidak ada lagi rahasia besar, tidak ada lagi pengkhianatan yang menghantui. Konflik-konflik ringan yang mereka hadapi justru menjadi bumbu yang memperkuat ikatan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!