Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 — Berubah
Beberapa hari setelah pertemuan pertama itu, hidup Bella kembali berjalan seperti biasa—atau setidaknya, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya masih sama. Pagi hari tetap diisi dengan rutinitas sederhana, menyiapkan sarapan meski sering kali tidak disentuh, merapikan rumah yang sebenarnya sudah rapi, lalu menghabiskan waktu dengan hal-hal kecil yang dulu terasa menyenangkan. Namun kini, entah kenapa, semua itu terasa berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang benar-benar berubah secara nyata, melainkan karena perasaan Bella sendiri yang tidak lagi setenang dulu.
Dominic tetap sibuk. Itu bukan hal baru. Tapi ada sesuatu dalam kesibukan itu yang kini terasa lebih… jauh. Dulu, setidaknya ia masih memberi kabar, meski singkat. Sebuah pesan sederhana seperti “aku pulang terlambat” atau “jangan tunggu makan malam” sudah cukup membuat Bella merasa diingat. Sekarang, bahkan hal kecil seperti itu pun mulai menghilang. Ponsel Bella lebih sering sepi, dan setiap kali ia membuka layar, harapan kecil yang muncul selalu berakhir dengan kekecewaan yang sama.
Bella tidak langsung berpikir buruk. Ia berusaha rasional. Mungkin Dominic memang sedang banyak pekerjaan. Mungkin ada proyek besar. Mungkin ia hanya terlalu lelah untuk sekadar mengetik pesan. Ia mengulang-ulang kemungkinan itu di kepalanya, seperti mantra yang ia harap bisa menenangkan hatinya sendiri.
Namun tetap saja, ada satu hal yang terus mengusik.
Diana.
Nama itu tidak pernah benar-benar keluar dari pikiran Bella sejak malam itu. Bukan karena wanita itu melakukan sesuatu yang jelas-jelas salah, melainkan justru karena sikapnya yang terlalu santai, terlalu nyaman, seolah ia memang punya tempat di kehidupan Dominic—tempat yang bahkan Bella sendiri belum sepenuhnya miliki.
Sore itu, Bella sedang duduk di ruang tengah dengan sebuah buku yang sebenarnya tidak ia baca. Halamannya terbuka cukup lama di bagian yang sama, namun pikirannya melayang ke mana-mana. Hujan kembali turun di luar, menciptakan suasana yang seharusnya menenangkan. Tapi tidak dengan hatinya.
Suara pintu terbuka membuat Bella menoleh cepat. Untuk sesaat, wajahnya berbinar.
“Dom?”
Namun langkah yang masuk bukan hanya satu.
Bella berdiri perlahan saat melihat sosok itu lagi. Diana.
Wanita itu datang tanpa ragu, seperti seseorang yang sudah terbiasa. Senyumnya terukir ringan saat melihat Bella, tidak canggung, tidak juga merasa bersalah.
“Kamu di rumah saja?” tanyanya santai, seolah mereka sudah cukup akrab untuk bertukar basa-basi.
Bella mengangguk pelan. “Iya.”
Dominic melepas jasnya tanpa banyak bicara, lalu berjalan melewati mereka begitu saja menuju ruang kerja. Tidak ada penjelasan. Tidak ada pengantar. Seolah kehadiran Diana di rumah itu adalah hal yang wajar.
Bella menatap punggung suaminya sejenak sebelum kembali pada wanita di depannya.
“Mau minum sesuatu?” tanyanya, mencoba tetap sopan.
Diana mengangkat bahu ringan. “Air putih saja.”
Bella berbalik menuju dapur, mengambil gelas, lalu menuangkan air. Tangannya bergerak otomatis, namun pikirannya terasa penuh. Ia tidak tahu harus merasa apa. Semua ini terlalu… abu-abu. Tidak cukup jelas untuk disebut salah, tapi juga tidak cukup wajar untuk diabaikan.
Saat ia kembali, Diana sudah duduk di sofa, memainkan ponselnya dengan santai. Bella menyerahkan gelas itu tanpa banyak bicara, lalu duduk di kursi seberangnya.
“Dom lagi sibuk banget ya,” kata Diana tiba-tiba, matanya masih terpaku pada layar.
Bella sedikit terkejut mendengar nada bicaranya yang begitu akrab menyebut nama suaminya.
“Iya,” jawabnya singkat.
Diana tersenyum kecil, lalu menatap Bella. “Dia memang begitu dari dulu. Kalau sudah kerja, bisa lupa waktu.”
Kata “dulu” itu lagi.
Bella menahan napas sejenak, berusaha tetap tenang. “Kamu sering kerja bareng dia?”
“Cukup sering,” jawab Diana ringan. “Apalagi sekarang.”
Sekarang.
Kata itu terasa seperti sesuatu yang sengaja ditekankan.
Bella mengangguk pelan, meski dalam hatinya mulai muncul pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak ia sukai. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi sesuatu menahannya. Mungkin karena ia takut pada jawaban yang akan ia dengar. Atau mungkin… ia masih ingin percaya bahwa semuanya baik-baik saja.
Waktu berjalan pelan sore itu. Diana tidak segera pergi, dan Dominic tidak juga keluar dari ruang kerjanya. Sesekali suara mereka terdengar samar dari dalam, berbicara tentang sesuatu yang tidak Bella mengerti. Nada suara Dominic terdengar berbeda—lebih hidup, lebih santai, bahkan sesekali diselingi tawa kecil yang jarang sekali Bella dengar darinya.
Dan itu… cukup untuk membuat sesuatu di dalam hati Bella terasa mengencang.
Menjelang malam, akhirnya Diana berdiri.
“Aku duluan ya,” katanya sambil merapikan tasnya.
Bella ikut berdiri, mengangguk sopan. “Hati-hati.”
Diana tersenyum, lalu melangkah mendekat sedikit. “Kamu baik-baik ya, Bella.”
Kalimat itu terdengar biasa. Namun cara ia mengucapkannya terasa… aneh.
Seolah mengandung sesuatu yang tidak diucapkan.
Bella hanya tersenyum tipis, tidak menjawab.
Setelah pintu tertutup, rumah kembali sunyi. Terlalu sunyi.
Bella berdiri beberapa saat di tempatnya sebelum akhirnya berjalan perlahan menuju ruang kerja. Tangannya terangkat, hendak mengetuk, tapi berhenti di udara. Ia ragu. Untuk hal sekecil ini pun, ia merasa seperti orang asing.
Akhirnya, ia tetap mengetuk.
“Masuk.”
Suara Dominic terdengar datar seperti biasa.
Bella membuka pintu sedikit. “Kamu mau makan malam?”
Dominic bahkan tidak menoleh dari layar laptopnya. “Nanti.”
“Nanti itu kapan?”
Baru kali ini Bella bertanya seperti itu. Suaranya tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat Dominic berhenti sejenak.
Ia menghela napas pelan. “Aku masih ada kerjaan.”
Bella mengangguk, meski pria itu tidak melihatnya. “Oke.”
Ia menutup pintu lagi, kembali ke ruang makan yang kosong. Meja itu kembali hanya terisi satu piring. Sama seperti beberapa hari terakhir.
Bella duduk perlahan, menatap makanan di depannya tanpa benar-benar berselera. Ia mencoba menyuap satu dua kali, tapi rasanya hambar.
Entah karena masakannya yang kurang enak… atau karena hatinya yang sudah tidak lagi utuh.
Malam itu, Bella kembali berbaring lebih dulu. Ia memejamkan mata, tapi tidak benar-benar tidur. Ia menunggu, meski tidak ingin mengakuinya.
Beberapa saat kemudian, ia mendengar langkah kaki masuk ke kamar. Suara itu pelan, hati-hati, seolah tidak ingin membangunkannya. Bella tetap diam, berpura-pura tertidur.
Kasur sedikit bergerak saat Dominic berbaring di sampingnya. Jarak di antara mereka tidak jauh, tapi terasa begitu asing.
Dalam gelap, Bella membuka matanya perlahan.
Ia menatap punggung suaminya.
Begitu dekat.
Tapi juga… terasa sangat jauh.
Tangannya sempat terangkat, ingin menyentuh, ingin memastikan bahwa pria itu masih miliknya. Namun pada akhirnya, ia menurunkannya kembali.
Perasaan itu muncul lagi.
Hal kecil.
Hampir tidak terlihat.
Tapi nyata.
Sesuatu sedang berubah.
Dan Bella… mulai merasakannya.
END BAB 3
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹