Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Pagi itu, aroma tajam dari parutan kencur dan jahe merah memenuhi ruang tengah rumah Agus yang sempit. Asap tipis mengepul dari sebuah panci tua yang airnya baru saja mendidih, dicampur dengan garam kasar dan beberapa lembar daun sirih. Ibu agus sedang berlutut di lantai, dengan telaten menyiapkan ramuan tradisional untuk mengompres pergelangan kaki Agus yang masih membengkak hebat. Tidak ada uang lagi untuk kembali ke klinik, dan sisa obat pereda nyeri yang dibeli tempo hari sudah habis tak bersisa.
Agus duduk di kursi kayu dengan gigi yang terkatup rapat. Setiap kali kain hangat yang telah direndam ramuan itu ditempelkan ke kulit kakinya yang kencang dan berwarna keunguan, ia harus mencengkeram pinggiran kursi hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa panas yang menyengat seolah-olah sedang bertarung dengan rasa nyeri yang berdenyut di dalam dagingnya.
"Sabar ya, Gus. Ini supaya darahnya jalan lagi. Kalau tidak dikompres begini, bengkaknya tidak akan turun sampai besok," ucap ibu agus dengan nada suara yang penuh dengan kelembutan yang menyayat hati. Tangannya yang kasar dan penuh kerutan bergerak dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang memegang barang pecah belah yang paling berharga.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa. Agus kuat," jawab Agus singkat, meskipun keringat dingin sebesar biji jagung mulai membasahi dahinya.
Bapak agus yang duduk tidak jauh dari mereka hanya bisa terdiam, bersandar pada bantal yang sudah kempes. Matanya yang sayu menatap kaki anaknya dengan perasaan bersalah yang tak kunjung padam. "Gus, kalau Sabtu besok kakimu belum bisa jalan normal, jangan dipaksakan. Kirim pesan saja pada Rahma, bilang kalau kamu sedang ada halangan. Bapak tidak mau kamu jatuh di jalan atau malah merepotkan orang di rumahnya nanti."
Agus menggeleng pelan sambil menyeka keringat di wajahnya dengan punggung tangan. "Tidak bisa, Pak. Sudah tiga kali Agus menolak undangan mereka. Kalau kali ini tidak datang juga, Rahma akan berpikir kalau Agus tidak menghargai keluarganya. Biarlah, nanti Agus pelan-pelan saja naik motornya."
Ibu agus menghentikan kegiatannya sejenak, ia menatap wajah Agus dengan serius. "Gus, Ibu bukannya mau mengecilkan hatimu. Tapi... apa kamu sudah pikirkan nanti di sana bagaimana? Kamu mau bawa apa? Di desa kita ini, bertamu ke rumah orang apalagi calon mertua itu ada tata kramanya. Tidak mungkin kamu datang dengan tangan kosong, apalagi mereka orang berada."
Pertanyaan ibunya adalah sebuah tamparan kenyataan yang sejak semalam coba dihindari oleh Agus. Bertamu dengan tangan kosong adalah sebuah penghinaan bagi harga dirinya sebagai laki-laki, namun di sisi lain, dompetnya benar-benar kering. Setelah membayar koperasi kemarin, ia bahkan tidak punya uang untuk membeli bensin motor, apalagi membeli buah-buahan atau bingkisan sebagai buah tangan.
"Nanti Agus usahakan, Bu. Mungkin besok Agus bisa pinjam sedikit uang ke Pak RT atau kerja serabutan apa saja yang ringan," ucap Agus, meski ia sendiri ragu dengan ucapannya.
"Pinjam lagi, Gus? Hutang kita sudah menumpuk di mana-mana. Ibu malu kalau harus mengetuk pintu tetangga lagi hanya untuk urusan begini," suara ibu agus mulai bergetar.
Agus terdiam. Ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding tua yang bunyinya tidak beraturan. Keheningan itu terasa sangat menyesakkan. Kemiskinan bukan hanya merusak fisik mereka, tapi juga perlahan-lahan mengikis martabat dan keberanian mereka untuk sekadar bersosialisasi dengan orang lain.
Siang harinya, saat ibu agus sedang ke dapur dan bapak agus tertidur karena kelelahan, Agus meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Layarnya yang retak memperlihatkan sebuah notifikasi pesan baru dari Nor Rahma.
Nor Rahma: "Mas Agus, ini alamat rumahku ya. Masuk saja lewat gerbang perumahan Cempaka Indah, nanti cari blok B nomor 12. Rumahnya cat warna krem dengan banyak tanaman di depannya. Aku sudah bilang ke Ayah kalau Mas akan datang jam tujuh malam. Ayah bilang beliau ingin mengobrol banyak denganmu."
Agus membaca pesan itu berulang kali. Perumahan Cempaka Indah. Ia tahu tempat itu. Itu adalah kompleks perumahan paling elit di kota ini, tempat di mana orang-orang berpangkat dan pengusaha sukses tinggal. Jalannya mulus, lampunya terang, dan setiap rumah memiliki pagar besi yang tinggi. Sangat jauh berbeda dengan gang sempit rumah Agus yang jika hujan sedikit saja langsung berubah menjadi kubangan lumpur.
Ia mulai mengetik balasan dengan jari yang terasa sangat berat.
Agus: "Terima kasih, Rahma. Alamatnya sudah saya simpan. Insya Allah saya akan datang tepat waktu. Sampaikan salam hormat saya untuk Ayahmu."
Agus meletakkan ponselnya kembali. Ia menatap langit-langit kamarnya yang menghitam karena rembesan air hujan yang tak kunjung diperbaiki. Di dalam benaknya, ia mulai membayangkan skenario terburuk. Bagaimana jika nanti di depan gerbang perumahan itu ia dihentikan oleh petugas keamanan karena motornya yang butut dan berasap? Bagaimana jika nanti ayah Rahma bertanya tentang tabungannya, atau tentang rencana masa depannya yang saat ini masih berupa angan-angan kosong tertutup debu semen?
Rasa rendah diri itu kembali menyerang seperti wabah. Agus merasa seolah-olah ia sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam kandang singa tanpa membawa senjata apa pun. Harga dirinya adalah satu-satunya perisai yang ia miliki, namun perisai itu pun sudah mulai retak karena tekanan ekonomi yang tak henti-hentinya menghajar.
Sore harinya, dengan langkah yang masih terpincang-pincang menggunakan kayu penyangga, Agus mencoba keluar menuju bagian samping rumah. Ia melihat motor tuanya yang terparkir lesu. Debu tebal menempel di seluruh badan motor itu. Ia mengambil kain lap basah dan mulai membersihkan motornya perlahan-lahan. Ia menggosok bagian knalpot yang berkarat, mencoba membuatnya sedikit lebih bersih agar tidak terlalu memalukan saat diparkir di depan rumah Rahma nanti.
Setiap gerakan membungkuk untuk mengelap bagian bawah motor membuat pergelangan kakinya berdenyut hebat, namun Agus tidak mempedulikannya. Ia butuh melakukan sesuatu agar pikirannya tidak terus-menerus memikirkan ketakutannya.
Ibu agus keluar membawa sebuah bungkusan kertas kecil. "Gus, ini ada uang dua puluh ribu. Tadi Ibu jual sisa beras kita sedikit ke warung depan. Pakai ini buat beli bensin besok, supaya kamu tidak mogok di tengah jalan."
Agus menatap uang dua puluh ribu rupiah yang kumal itu di tangan ibunya. Ia merasa hatinya hancur berkeping-keping. "Bu... itu kan buat makan kita besok lusa. Jangan dijual berasnya."
"Sudahlah, Gus. Soal makan nanti Ibu cari cara lain. Mungkin Ibu bisa petik daun singkong di belakang rumah atau pinjam sedikit nasi ke rumah saudara. Yang penting kamu bisa pergi dengan tenang. Ibu ingin kamu terlihat pantas di depan keluarga Rahma," ucap ibu agus dengan mata yang berkaca-kaca.
Agus menerima uang itu dengan tangan gemetar. Air matanya hampir jatuh, namun ia segera berpaling agar ibunya tidak melihatnya menangis. Dua puluh ribu rupiah. Uang itu mungkin hanya cukup untuk membeli dua liter bensin dan satu pak tisu kecil. Tidak cukup untuk membeli buah-buahan, tidak cukup untuk membeli martabak sebagai buah tangan.
Malam itu, di dalam kamarnya yang gelap, Agus mengeluarkan kemeja biru tuanya. Ia melihatnya dengan sangat teliti di bawah lampu senter ponselnya. Ia menemukan ada bagian kecil di jahitan bawah yang mulai terlepas. Ia kembali mengambil jarum dan benang, mencoba memperbaikinya meskipun penglihatannya mulai kabur karena kelelahan fisik dan mental.
"Hanya ini yang aku bisa, Rahma," bisiknya lirih pada kemeja itu. "Hanya kejujuran dan usaha ini yang aku punya untuk membuktikan diri di depan keluargamu."
Ia tahu, hari Sabtu esok bukan sekadar tentang makan malam. Sabtu esok adalah hari di mana dunianya yang gelap akan dipaksa bersentuhan dengan dunia Rahma yang terang benderang. Ia tidak tahu apakah ia akan diterima atau justru akan diusir secara halus setelah mereka tahu siapa ia sebenarnya. Namun, di tengah semua rasa takut itu, ada satu tekad yang bulat di hati Agus, ia tidak akan mundur. Karena bagi Agus, mencintai Nor Rahma berarti ia harus siap menelan semua rasa pahit dan hinaan yang mungkin akan ia temui di depan sana.
Ia memejamkan matanya, membiarkan rasa nyeri di kakinya menjadi teman setianya malam itu. Di luar, suara angin malam berhembus melalui celah-celah dinding papan, seolah membisikkan doa-doa yang belum sempat ia ucapkan kepada Tuhan. Besok adalah hari pertaruhan, dan Agus hanya bisa berharap agar harga dirinya tidak runtuh sepenuhnya di depan gerbang perumahan Cempaka Indah.