Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Pra-nikah
Mendengarkan kejujuran rain, Baik martin maupun aku menarik napas panjang, membiarkan setiap kata Rain mengendap di kepala ka.i. Tidak ada isak tangis, tidak ada drama simpati yang berlebihan meski luka yang ia buka barusan begitu mengerikan.
Sebagai wanita berusia tiga puluh empat tahun dalam raga yang lebih muda, aku tahu bahwa rasa kasihan adalah penghinaan bagi pria sekuat Rain.
Aku menyandarkan punggungku, melipat tangan di dada dengan dagu yang sedikit terangkat.
Mataku menatapnya lurus, membalas kejujurannya dengan ketenangan yang setara.
"Rain," suaraku terdengar stabil, dingin, namun penuh penghargaan.
"Terima kasih untuk kejujuran yang itu. Aku menghormati lukamu, dan aku menghargai caramu menatap masa depan yang realistis."
Aku meraih cangkir kopiku yang sudah dingin, menyesapnya sedikit sebelum meletakkannya kembali dengan bunyi klunting yang presisi di atas lepeknya.
"Jika pernikahan ini adalah aliansi untuk hadiah nenek yang merawatmu, untuk ibuku, untuk privasi kita masing-masing, maka aku setuju. Kamu adalah sahabatku yang ku percaya. Kita hanya butuh rekan strategis yang tidak akan saling mengkhianati karena kita tahu rasanya dikhianati."
Aku menoleh ke arah Martin, yang sejak tadi menyimak dengan napas tertahan.
"Martin, kamu saksinya. Hari ini, di meja ini, tidak ada lamaran romantis. Yang ada adalah kesepakatan dua orang dewasa yang lelah dengan ekspektasi dunia. Kita akan membangun rumah yang isinya adalah kebebasan yang terukur."
Lalu aku kembali menatap Rain, memberikan senyum tipis yang sarat akan makna "bisnis".
"Aku akan menyiapkan draf janji pranikahnya malam ini. Poin utamanya sederhana: Kamu tetap dengan duniamu, aku dengan duniaku, dan kita bertemu di titik tanggung jawab sosial dan keluarga. Tidak ada tuntutan domestik yang konyol, tidak ada drama cemburu yang tidak logis."
Aku berdiri, meraih tas tanganku, lalu merapikan blus yang kukenakan untuk kencan buta. Sikapku tegak, memancarkan aura wanita yang baru saja memenangkan negosiasi besar di ruang rapat.
"Ayo ke toko perhiasan itu. Aku ingin sesuatu yang elegan tapi fungsional, Rain. Sesuatu yang mengingatkanku bahwa aku terikat pada kesepakatan, bukan pada kepemilikan."
Martin ikut berdiri, ia menghela napas panjang seolah baru saja menonton akhir dari film epik yang menyesakkan namun memuaskan.
"Gila... kalian benar-benar membuat sejarah baru dalam kamus hubungan," gumam Martin sambil menatap kami berdua dengan takjub.
"Baiklah, sebagai saksi dan sahabat, aku akan mengawal aliansi 'dingin' ini sampai ke pelaminan. Tapi ingat, jangan salahkan aku kalau suatu saat nanti logika kalian kalah oleh hal-hal yang tidak rasional."
Aku hanya melirik Martin sekilas dengan tatapan "jangan-berharap-terlalu-jauh", lalu melangkah mendahului mereka menuju pintu keluar.
Satu jam lalu, kami adalah dua singa yang saling mengaumkan prinsip di meja kafe. Namun, begitu kaki kami menginjak lantai marmer toko perhiasan yang dingin dan berkilau ini, seluruh keangkuhan itu luruh. Aku dan Rain berdiri mematung di depan etalase kaca, menatap deretan cincin berlian seolah-olah benda-benda itu adalah bom waktu yang siap meledak.
Kami yang baru saja menantang takdir dengan logika dingin, kini justru tampak seperti sepasang bocah tersesat.
"Kalian berdua benar-benar... luar biasa konyol," suara Martin memecah keheningan, diikuti helaan napas panjang yang terdengar sangat lelah.
Mengingat hari yang semakin gelap, martin melangkah maju, mengambil alih panggung dengan aura seorang kurator seni. Ia tidak menunggu kami bersuara. Dengan satu jentikan jari, ia memanggil pelayan toko dan mulai menunjuk beberapa koleksi.
"Singkirkan model yang terlalu ramai itu. Temanku ini tidak suka menjadi pusat perhatian yang berisik," ujar Martin tegas pada pelayan.
Sambil menunggu proses pembayaran, ia menyeret kami ke butik gaun pengantin di sebelah toko perhiasan.
"Ini gaunmu, Ra. Intimate, elegan, dan punya jiwa 'ketuaan' yang mahal. Jangan membantah," potongnya sebelum aku sempat membuka mulut.
Sepanjang sore itu, Martin menceramahi kami tanpa henti.
"Kalian berdua harus paham, aliansi kalian ini butuh bungkus yang cantik agar keluarga tidak curiga. Di depan Nenek Elia, kalian harus terlihat saling menjaga. Rain, pegang bahunya sesekali. Ayara, jangan menatapnya seolah dia adalah laporan keuangan yang salah hitung! Bisa tidak kalian sedikit lebih... manusiawi?"
Martin menggelengkan kepala untuk kesekian kalinya, menatap kami dengan pandangan kasihan. "Aku merasa seperti sedang menuntun dua robot yang lupa diinstal program 'cara bersosialisasi'.
Aku dan Rain hanya bisa saling lirik dalam diam. Di bawah kendali Martin, semua persiapan yang tadinya terasa berat justru selesai dalam hitungan jam. Kami yang tadinya merasa paling dewasa di kafe tadi, kini benar-benar merasa seperti murid yang sedang diajari cara hidup oleh seorang profesor mode yang cerewet.
"Tempatnya sudah kupikirkan," Martin menutup ceramahnya sambil memeriksa ponsel. "Halaman belakang rumah sewa itu akan kita sulap. Sedikit lampu gantung, meja kayu panjang, dan bunga-bunga liar. Itu jati dirimu, Ra. Sakral tanpa harus pamer."
Aku menghela napas, menatap tas belanja di tangan Rain. "Terima kasih, Tin. Tanpa kamu, mungkin kami sudah pulang dengan tangan kosong."
Martin hanya mendengus, lalu merangkul bahu kami berdua. "Sudahlah, ayo pulang. Malam ini kalian masih harus menghadapi 'sidang' keluarga besar. Pastikan draf janji pranikah itu sudah siap, sebelum Nenek Elia menyuruh kalian akad nikah besok."
"Kita ke notaris, Tin. Sekarang," ucapku datar, seolah baru saja mengajak mereka mampir beli camilan.
Martin membelalak, langkahnya terhenti di depan butik. "Notaris? Ra, sepenting itukah? Kalian bukan pejabat negara, bukan konglomerat yang mau bagi-bagi aset. Ngapain sejauh itu sampai harus pakai stempel negara.Lagi pila lihat jam berapa sekarang?"
Aku tidak menjawab.
Kakiku melangkah pasti menuju area perkantoran di pusat kota. Aku tahu persis ke mana harus melangkah.
Di masa depan yang sudah kulalui, aku sudah terbiasa menemani atasan dan beberapa rekan mengurus dokumen-dokumen legal seperti ini. Aku tahu notaris mana yang bekerja cepat dan punya jam terbang tinggi untuk urusan domestik.
"Ikut saja," balasku singkat tanpa menoleh.
Rain mengikuti di belakangku dengan diam yang penuh pengamatan. Ia tidak protes, tidak bertanya. Sepertinya, luka masa lalunya membuat ia lebih menghargai "kepastian hukum" daripada sekadar janji manis di bawah sinar bulan.
Begitu sampai di kantor notaris yang beraroma kertas tua dan kopi, suasana mendadak formal. Rain memberikan ruang padaku untuk duduk di depan komputer asisten notaris, membiarkanku menyiapkan draf yang sudah menari-nari di kepalaku sejak di kafe tadi.
Jemariku menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang tidak wajar untuk wanita usia dua puluh empat tahun. Martin dan Rain hanya bisa berdiri di belakangku, menatap layar dengan kening berkerut.
"Selesai," ucapku, kurang dari sepuluh menit kemudian.
"Selesai?!" seru Martin hampir berteriak. "Ra, itu dokumen hukum, bukan daftar belanjaan! Kamu bahkan tidak baca ulang?"
Rain pun tampak tertegun. Ia menatap draf itu, lalu menatapku. "Kamu sudah menyiapkan ini sejak lama?"
"Aku sudah menyiapkannya selama tiga puluh empat tahun, Rain," jawabku dalam hati, meski yang keluar dari bibirku hanyalah senyum tipis yang penuh rahasia.
Pegawai notaris kemudian membacakan isi perjanjian itu dengan suara yang jelas. Lembar demi lembar dibalik. Isinya lumayan panjang, namun di luar dugaan Martin, draf itu tidak berisi pasal-pasal "egois" yang tadi kusebutkan dengan nada sinis di kafe.
Tidak ada larangan memasak, tidak ada poin tentang kemalasan, tidak ada rincian tentang siapa yang harus cuci piring.
"Perjanjian ini mencakup hal wajar pasangan pra nikah yang sangat detail," jelas pegawai itu sambil membetulkan kacamatanya. "Lalu ada poin tentang perlindungan hak asasi masing-masing dalam rumah tangga, pembagian tanggung jawab finansial yang proporsional, dan penanganan konflik secara mediasi tanpa melibatkan pihak ketiga kecuali diperlukan secara hukum."
Martin dan Rain menyimak dengan saksama. Ini adalah perjanjian umum yang paling detail yang pernah dilihat pegawai itu, disesuaikan secara luar biasa dengan kondisi mereka sebagai individu mandiri.
"Dan... ada poin tambahan di lembar terakhir," lanjut si pegawai, menatapku dengan tatapan kagum sekaligus heran. "Permintaan dari pihak pertama,
Saudari Ayyara, adalah: 'Kedua belah pihak wajib menjamin ruang untuk tetap menjaga privasi total bagi pasangannya, dan berkomitmen untuk saling mendukung satu sama lain agar tetap menjadi diri sendiri seutuhnya tanpa tuntutan perubahan kepribadian.'"
Ruangan itu hening. Martin mendesah panjang, rasa kagetnya berubah menjadi rasa hormat yang mendalam. Ia menyadari bahwa Ayyara tidak sedang mencoba memenangkan kesepakatan, ia sedang mencoba menyelamatkan jiwa mereka berdua agar tidak mati di dalam institusi bernama pernikahan.
"Jadi... ini bukan soal siapa yang cuci baju?" tanya Martin pelan.
"Ini soal siapa yang berhak tetap menjadi manusia, Tin," jawabku tenang.
Aku melirik Rain. Pria itu mengambil pena, menatap draf itu sejenak, lalu membubuhkan tanda tangannya dengan mantap tepat di samping namaku. Tidak ada keraguan di goresan tintanya.
"Aku terima syaratnya, Ra," ucap Rain pendek. "Terima kasih sudah memikirkan ruang untukku juga."
Di kantor notaris yang sepi itu, di bawah saksi bisu tumpukan berkas hukum, kami bukan lagi sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Kami adalah dua sekutu yang baru saja menandatangani pakta pertahanan bersama