Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 - Obrolan Tengah Malam
Malam itu, kamar Gwen diselimuti keheningan yang lembut, hanya dipecahkan oleh desahan napas pelan dan detak jantung dua insan yang saling berkejaran. Lampu nakas menyala redup, melemparkan cahaya keemasan yang hangat di atas seprai putih yang sedikit kusut akibat gelora yang baru saja mereda. Udara di dalam kamar terasa hangat, dipenuhi aroma parfum mahal Aga yang bercampur dengan wangi sabun mandi Gwen yang manis.
Aga menarik Gwen lebih dekat ke dalam pelukannya. Dada bidangnya yang kokoh menjadi bantal nyaman bagi kepala wanita itu. Jari-jarinya menyusuri lembut lengan Gwen dengan gerakan lambat, seolah tak ingin melepaskan sedikit pun kehangatan yang ada di antara mereka.
“Apa warna favoritmu, Baby?” bisik Aga lembut, suaranya rendah dan penuh kasih sayang, bibirnya hampir menyentuh telinga Gwen.
Gwen menggeser tubuhnya sedikit, wajahnya masih bersembunyi di dada pria itu. “Hmm, kuning dan pink maybe,” jawabnya lirih.
Aga mengangkat alisnya, matanya yang tajam menatap Gwen dengan penuh minat. “Oh, ya? Aku gak pernah melihat kamu memakai baju warna itu,” ucapnya heran, jari tangannya terus mengusap punggung Gwen dengan gerakan melingkar yang menenangkan.
Gwen menghela napas panjang. “Aku nggak pede,” jawabnya jujur.
“Why?” tanya Aga lagi, suaranya penuh kelembutan.
“Kamu kan tahu waktu kecil aku agak gemuk,” cerita Gwen sambil menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi bahunya. “Ibu nggak pernah mengizinkanku pakai baju warna pink atau kuning. Katanya warna itu bikin aku kelihatan makin gemuk. Jadi, aku selalu dibelikan baju warna gelap… biar kelihatan lebih kurus.”
Pikiran Gwen melayang jauh, membawa kenangan masa kecil yang pahit-manis. Ia ingat betapa dulu semua teman-teman perempuannya di taman bermain memakai gaun-gaun berwarna cerah. Mereka berputar-putar seperti bunga-bunga hidup. Sementara Gwen? Ia selalu menjadi satu-satunya yang mengenakan baju hitam besar yang kebesaran, seperti penyihir kecil yang kesepian. Setiap kali ia meminta baju pink kepada ibunya, jawabannya selalu sama: 'Kamu sudah gemuk, jangan tambah kelihatan lebih besar lagi.'
Sedih rasanya. Tapi lama-kelamaan Gwen terbiasa. Warna-warna cerah menjadi mimpi yang tertunda.
Pelukan Aga semakin erat menyelimuti tubuhnya.
“Dulu kamu memang agak chubby,” katanya jujur, namun nada suaranya penuh kehangatan. “Aku masih ingat dengan jelas. Kamu sering berlarian di taman rumah dengan baju hitam yang kebesaran. Pipimu tembem, senyummu lebar sekali hingga matamu hampir hilang setiap kali tertawa. Menurutku… kamu sangat lucu. Menggemaskan.”
Gwen mengerjap, matanya sedikit berkaca-kaca. “Kamu nggak ilfeel?”
Aga tersenyum lembut. Ia menunduk perlahan, mengecup bibir Gwen dengan penuh kasih sayang. “Justru sebaliknya. Aku menyukainya. Kamu terlihat sangat menggemaskan. Sekarang pun, meski tubuhmu sudah ramping dan indah, aku tetap suka mengingat versi kecilmu yang chubby itu. Sangat imut.”
Gwen tersenyum, hatinya terasa hangat. Ia beringsut naik sedikit, mencium pipi Aga dengan lembut.
“Besok coba pakai baju pink atau kuning, ya,” bisik Aga di telinga Gwen, suaranya serak namun penuh keyakinan. “Kamu pasti cantik banget. Pakai warna apa pun, kamu selalu kelihatan cantik di mataku.”
Gwen tersenyum lebar. “Kalau kamu? Warna favoritnya apa?”
“Hitam,” jawab Aga tanpa ragu. “Tapi mulai hari ini, pink dan kuning juga menjadi warna favoritku. Karena itu warna yang paling kamu sukai.”
Mereka tertawa pelan. Aga mengusap rambut Gwen dengan sayang, lalu bertanya lagi dengan nada penasaran yang lembut.
“Film favoritmu apa, Baby?”
Gwen terdiam sejenak, matanya berbinar mengingat. “Aku suka Pride and Prejudice versi 2005, yang dibintangi Keira Knightley. Romantisnya klasik, tapi tetap menyentuh hati."
Aga tersenyum lebar mendengar jawabannya, ibu jarinya mengusap pipi Gwen dengan lembut. “Besok aku cari film itu, kita nonton bareng di apartemenku. Tapi kalau lagi berdua lebih enak nonton film horor.”
“Kenapa?” tanya Gwen penasaran.
“Biar aku bisa peluk kamu,” jawab Aga sambil nyengir lebar.
Gwen mendengus pelan, lalu mencubit dada Aga. “Modus banget, sih kamu,” ledeknya sambil menggeleng-geleng kepala, tapi pipinya memerah.
Aga hanya tertawa pelan, tidak menyangkal. Gwen lalu balik bertanya, “Kalau kamu? Film favoritnya apa?”
Aga tersenyum, matanya sedikit menerawang. “The Dark Knight Trilogy. Batman versi Christian Bale. Aku suka ceritanya yang gelap, kompleks, dan tentang pilihan sulit yang harus diambil seseorang untuk menjadi pahlawan.”
Gwen mengangguk sambil tersenyum. “Pandji juga suka film itu. Setiap liburan, kami pasti nonton bareng.”
Aga tertawa pelan dan mengecup kening Gwen. “Kalau libur, kita juga bisa nonton bareng.”
“Sama Pandji?” tanya Gwen.
Aga menggeleng. “Kalau dia ikut, malah ganggu,” ucapnya, lalu mengecup punggung tangan Gwen.
“Makanan favoritmu apa?”
“Aku suka semua makanan,” ucap Gwen sambil tersenyum. “Kalau kamu?”
“Steak yang rare,” jawab Aga cepat. “Tapi sekarang ada satu tambahan di daftar itu.”
“Apa?”
“Kamu.” Aga menunduk dan menggigit lembut leher Gwen, membuat wanita itu menggelinjang kecil.
Tak ada lagi pembicaraan yang panjang setelah itu. Hanya cumbuan yang semakin dalam. Bibir Aga menjelajah leher Gwen dengan penuh kelaparan yang lembut, meninggalkan jejak-jejak hangat. Tangan pria itu menyusuri pinggang Gwen, menariknya semakin rapat.
“Aga… jangan kasih banyak tanda,” ucap Gwen tersengal. “Nanti Ayah curiga.”
Aga mendesah frustrasi. “Please, Baby, lain kali jangan sebut Ayah pas kita lagi make out. Itu cara membunuh mood paling ampuh,” protesnya.
Gwen terkikik. “Ternyata takut juga sama Ayah.”
“Aku bakal langsung ditendang dari daftar calon mantu kalau Ayah tahu aku ngapa-ngapain putri kesayangannya,” balas Aga, bergidik membayangkan namanya dicoret dari daftar calon mantu.
“Idih, geer siapa yang mau nikah sama kamu?” kekeh Gwen.
“Baby…” Aga kembali mencium bibir Gwen kali ini lebih panas dan liar dari sebelumnya. Kali ini ciumannya dalam, basah, dan penuh kepemilikan. Lidah mereka saling menari dengan ganas, napas saling bercampur kasar. Tangan Aga menyusup ke bawah baju Gwen, mengusap kulit perutnya yang panas sebelum naik ke dada, meremas dengan lembut tapi penuh nafsu.
Gwen mendesah panjang di antara ciuman, kakinya tanpa sadar melingkar di pinggang Aga, menarik pria itu lebih dekat lagi.
Mereka tenggelam dalam cumbuan yang panas dan tak terkendali, seolah malam ini tak ada batas waktu.
Tiba-tiba,
Tok tok tok.
“Ga! Waktu abis, buruan keluar sebelum Bokap curiga!” bisik Pandji dari balik pintu dengan nada kesal.
Aga berdecak keras, frustrasi, bibirnya masih menempel di leher Gwen. “Sialan,” gerutunya serak.
Gwen tertawa kecil sambil tersengal, tangannya mendorong dada Aga lemah. “Cepat keluar… nanti ketahuan.”
Aga mengecup bibir Gwen sekali lagi, panjang dan penuh penyesalan karena harus berpisah. “Besok pagi jangan lupa pakai baju pink atau kuning, Baby.” bisiknya sebelum bangkit dengan enggan.
Gwen hanya mengangguk, matanya masih berkabut penuh cinta.
Aga keluar kamar dengan gerakan cepat dan diam. Pandji sudah menunggu di koridor dengan wajah datar, tangannya terlipat di dada.
“Lo berdua bikin gue nggak bisa tidur,” gerutu Pandji pelan.
Aga hanya nyengir lebar, hatinya masih penuh kehangatan dari obrolan dan pelukan tadi. Malam ini, ia tidak hanya memuaskan rindu fisik, tapi juga semakin mengenal hati Gwen yang selama ini tersembunyi.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍