Laki-laki hanya mencintai satu kali, sisanya hanya menjalani hidup. Ada yang mengatakan seperti itu. Damien tidak tau apakah itu benar, namun perjalanan hidupnya kali ini benar-benar diluar prediksi dan rencana.
Dia kehilangan istri dan keluarga kecilnya juga terancam pecah, namun di saat yang hampir bersamaan, ternyata semua bencana yang dia alami mengantarkan dia bertemu kembali ke sosok wanita yang dulu sangat dia idam-idamkan sepenuh jiwanya untuk menjadi pasangan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shelly Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua sisi.
Bab 9
Aling benar-benar marah bercampur khawatir sekarang, dia tidak bisa menghubungi anak nya. Hapenya tidak aktif, dia tidak masuk kantor , dan juga tidak pulang kerumah.
Dan yang lebih membuatnya murka, suaminya bahkan tidak terlihat khawatir ataupun ikut sibuk mencari, tapi masih menunggu Putri nya sendiri untuk menghubungi dia. “Nanti saya cari ke RS sekitar rumah hingga bandara, mah... mungkin dia terpaksa kesana, karena penyakitnya kumat lagi saat dia bersiap pulang kemarin”. Hanya itu jawaban sang mantu kepada nya.
Aling mendengus kesal, lalu mulai menelusuri galeri foto hape miliknya, lalu setelah menemukan apa yg dia cari, dia bangkit bergegas mencari dokumen administrasi kependudukan miliknya di lemari kamar nya. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya dia menemukan lembar asli KK dan foto kopi lama KTP milik anaknya sebelum menikah.
Segera dia bersiap merapikan diri, berencana pergi ke kantor polisi terdekat untuk melaporkan kehilangan jejak anaknya, Lidya.
Aling juga memutuskan untuk tidak memberitahukan dulu kepada saudara nya lain, kakak nya yang tinggal di semarang mengenai hal yang akan dia lakukan hari ini, karena dalam hatinya dia masih berharap ada berita mengenai Lidya langsung.
Dengan masih terus berharap dan berdoa, dia mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar menuju garasi rumah dimana mobilnya terparkir disana,sebuah mobil city car warna putih yang selalu dipakainya kemanapun dia pergi.
Dia berencana mendatangi POLDA METRO JAYA , untuk melaporkan kehilangan anaknya sekaligus permintaan pencarian anak semata wayangnya. Dokumen yang dia siapkan hanyalah foto anaknya , yang dia putuskan untuk dicetak dari hape nya di tempat fotokopi digital terdekat di sepanjang perjalanan menuju tujuannya nanti, juga fotokopi KK dan KTP anaknya yang kebetulan masih tersisa di bahagian dokumen keluarga yang dia simpan.
Sempat terlintas untuk memberitahukan kepada menantu nya, mengenai keputusan dia hari ini, namun langsung dia tepis kan sendiri dari otaknya dengan marah. Tidak usah , ini anak ku.. aku sudah tidak peduli dengan apapun yang menantu ku lakukan, dan bahkan kalau boleh berharap, jika ternyata Lidya bisa ditemukan dengan selamat, dia akan terang-terangan meminta sang anak untuk kemungkinan berpisah dengan suaminya... !!
Kamu mencintai laki-laki yang salah, Lid . Pikir sang Mama sedih, sambil masuk ke dalam mobil lalu mulai menyalakan mesinnya.
Aling lalu memanggil mbah Arum, asisten rumah tangga yang sudah hampir 10 tahun ini bersama dia mengurus rumah , untuk membantu membuka dan menutup pintu pagar rumah saat dia pergi .
Dia masih terpikirkan cucunya, dan apa yang harus dia lakukan untuk mempertahankan cucunya sehingga tidak bisa diambil hak asuhnya oleh menantu nya nanti, tapi itu nanti saja... pasti bisa di atur, yang penting dia bisa mendapatkan pengacara yang bagus untuk semua masalah yang mengikuti perceraian. Ujar Aling dalam hati saat keluar dari rumah nya.
Bab 10.
Clara tampak mengutak atik hapenya, lalu sambil berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri, dia menoleh ke arah tempat tidur yang baru saja dia tinggalkan. “Makasih ya mas, transferannya sudah masuk..” Clara berkata dengan ceria, sambil mengibaskan rambutnya terlihat lepek karena bercampur keringat . Dia berjalan melenggang, bertelanjang dada, hanya memakai celana dalam warna hitam berbentuk mini masuk kedalam kamar mandi.
Pak Dharma, yang masih berbaring di atas spring bed dikamar tidur , bertelanjang bulat,hanya berselimutkan bedcover warna biru muda berornamen bunga-bunga kecil berwarna pink, hanya menggumam pendek sambil tersenyum kecil. Diapun terlihat sedang mengutak atik hape nya, dan mengetikkan sesuatu sambil mengerutkan keningnya.
Clara menyalakan shower, lalu mendekatkan diri kebawah air yang memancar dari atas lubang-lubang shower dengan suhu hangat hingga semua ruas tubuhnya dari kepala hingga kaki basah teraliri air. Ia membersihkan dirinya dengan cepat namun teliti, dan ketika dia membersihkan dadanya, dia sedikit mengerenyit kan alisnya. Duh, masih terasa sesak juga nyeri sedikit di samping buah dadanya . Lalu sambil mengusap n memijat pelan , dia berpikir ‘pakai kemben itu sakit juga ternyata, pas dilibatkan ke dada. Tapi gapapa lah. Toh sudah ga diperlukan lagi.’
Sambil berpikir dia menyelesaikan mandinya, yang tepat ditandai dengan ketukan dipintu kamar mandi oleh pak Dharma “Clara, 1 jam lagi rapat klien, kita harus siap-siap , saya mau mandi juga “ , “ iya mas..sudah selesai “ jawab Clara cepat.
Dia langsung mengambil handuk dan juga membalut rambutnya dengan 1 handuk putih pendek, lalu berjalan keluar kamar mandi.
Pak Dharma sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, langsung masuk kesana setelah sebelumnya mencium Clara di pipi.
Clara hanya tertawa kecil, sambil terus berlalu menuju lemari pakaian tempat baju-baju kerjanya sudah di letakkan sekaligus dengan baju kerja pak Dharma.
Lalu sambil mulai bersiap-siap, pikiran nya kembali melayang ke kain kemben yang dia pakai beberapa waktu yg lalu.
Jangan ditaruh sembarangan, kurasa aku masih membutuhkan nya nanti. Pikir Clara sambil melirik kearah dadanya, memang repot kalau punya buah dada yg besar... tapi ini senjata utama ku. Jawab pikiran Clara nakal. Semua lelaki sama saja, langsung khilaf tiap melihat buah dada yg besar.
Tapi dia terdiam sejenak. Tidak...tidak semuanya lelaki suka buah dada besar. Ada juga yang tidak terpengaruh, pikir Clara kembali dengan sedikit sinis. Contoh lelaki yang bodoh, pikir Clara kembali sambil memakai baju kerjanya.
Kini, sambil menunggu pak Dharma selesai bersiap-siap, dia memakai make up nya dengan hati-hati dan cermat. Sebenarnya dia sangat ingin memakai softlens berwarna, tapi dia tau itu tidak pantas dikenakan saat bertemu dengan para klien saat rapat nanti, pak Dharma tidak menyukai nya.Jadi dia menahan diri untuk memakai nya pas nanti dia sedang punya waktu santai... jalan-jalan ke mal besok. Tidak sabar rasanya ingin bertemu dengan beberapa teman di mal besok.
Teman-teman Gym nya besok mengajak dia kumpul di kafe lantai dasar mal yg letaknya tidak jauh dari apartemen nya.
Sebenarnya ada tujuan terselubung untuk clara dan beberapa teman-teman nya saat berkumpul nanti. Tapi itu sangat rahasia, jangan sampai pak Dharma tau... Mas ku pujaan ku, tapi tetap, punya seseorang lain untuk kencan sesaat lebih menyenangkan, pikir Clara lagi.
Tepat ketik clara selesai menyapukan lipstik di bibir nya, dan sedang memakai sepatu fantofel nya, pak Dharma juga terlihat sudah selesai mandi dan sekarang sedang mengambil bajunya untuk dikenakan.
“kamu tunggu di lobby sambil siapkan berkas untuk rapat nanti ya”. Ujar pak Dharma langsung. “oke mas” jawab Clara patuh. Clara mengambil tas kerjanya, lalu mengambil tumpukan berkas yang juga sudah dimasukkan kedalaman tas khusus berkas, dan bergegas keluar kamar terlebih dahulu.
Mereka selalu bersikap seperti ini, agar tidak terlalu mencurigakan karena terus bersama-sama.