" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perisai di Balik Kelembutan
Sore itu, teras depan kios Arumi terasa lebih hidup. Maya datang membawa putranya, Leo, yang sebaya dengan Kinan. Kedua anak itu langsung akrab, duduk beralaskan tikar sambil menyusun balok-balok mainan.
"Leo, lihat! Aku bikin kastil untuk Ibu!" seru Kinan dengan tawa renyah.
"Aku yang bikin bentengnya, Kinan! Biar naga nggak bisa masuk!" timpal Leo, bocah laki-laki yang lincah dan penuh semangat.
Maya dan Arumi memperhatikan mereka sambil menyeruput teh hangat. "Lihat deh, Rum. Anak-anak itu nggak punya beban ya. Pengen deh jadi mereka lagi," ujar Maya sambil menyandarkan bahu.
"Iya, May. Kebahagiaan mereka itu sederhana banget. Asal ada teman dan mainan, dunia rasanya aman," jawab Arumi tulus.
Namun, ketenangan itu pecah saat sebuah mobil jip hitam meluncur kencang di jalanan depan pasar yang mulai sepi. Mobil itu menabrak tumpukan tong kayu dan berhenti mendadak. Tiga orang pria berpenutup wajah turun, mengejar seorang pria paruh baya yang terluka di lengan dan perutnya.
Pria itu adalah Baron, sosok yang dikenal sebagai "Ketua" yang menguasai jalur distribusi logistik di wilayah itu—sosok mafia yang disegani sekaligus ditakuti.
"Sembunyi, May! Masuk ke dalam!" teriak Arumi refleks. Ia mendorong Maya, Leo, dan Kinan masuk ke dalam gudang bumbunya yang kokoh.
"Ibu! Ada apa?!" Kinan ketakutan.
"Sstt... diam di sini sama Tante Maya, Sayang. Jangan keluar!" Arumi mengunci pintu gudang dari luar.
Baron terjatuh tepat di depan kios Arumi. Ia terengah-engah, darah mengucur deras. Para pengejarnya sudah sangat dekat, menghunus senjata tajam. Tanpa pikir panjang, Arumi meraih karung merica bubuk yang sangat halus di dekatnya—stok yang baru saja ia giling.
Saat para pengejar itu sampai di depan kios, Arumi berdiri tegak menghadang.
"Minggir, Perempuan! Jangan ikut campur kalau mau selamat!" bentak salah satu pria bertopeng.
"Kalian tidak akan menyentuh siapa pun di depan kios saya!" Arumi melempar segenggam penuh bubuk merica murni ke arah mata mereka.
"Aaargh! Mataku! Panas!" Teriakkan kesakitan menggema. Bubuk merica murni itu sangat pedih, membutakan mereka seketika.
Arumi tidak berhenti. Ia meraih botol berisi cuka makan yang sangat tajam aromanya, menyiramkannya ke arah mereka hingga mereka terbatuk-batuk hebat dan kehilangan keseimbangan. Di saat yang sama, tim keamanan pasar yang mendengar keributan mulai berdatangan dengan peluit nyaring. Para penjahat itu terpaksa melarikan diri ke dalam kegelapan.
Arumi segera berlutut di samping Baron yang mulai kehilangan kesadaran. Ia merobek kain jilbab cadangannya untuk membebat luka di perut pria itu.
"Tahan, Pak... ambulans akan segera datang," bisik Arumi, tangannya berlumuran darah namun tidak gemetar.
Baron membuka matanya sedikit, menatap wajah Arumi yang tenang namun berani. "Siapa... kau?"
"Hanya seorang pedagang bumbu, Pak. Bertahanlah," jawab Arumi singkat.
Tak lama kemudian, anak buah Baron datang dengan mobil-mobil hitam lainnya. Mereka terperangah melihat bos mereka dirawat oleh seorang wanita sendirian di tengah pasar yang kacau.
"Tuan Baron!" teriak salah satu pengawal.
Baron mengangkat tangannya yang lemah, menunjuk ke arah Arumi. "Ingat wajah ini... Dia... dia yang menyelamatkanku. Mulai hari ini, tidak boleh ada satu helai rambut pun yang jatuh dari kepala wanita ini di wilayahku."
Setelah Baron dibawa pergi, Arumi jatuh terduduk di lantai. Napasnya baru terasa sesak sekarang. Pintu gudang terbuka, Kinan berlari keluar dan langsung memeluk leher ibunya.
"Ibu! Ibu nggak apa-apa? Kinan takut..." tangis Kinan pecah.
Arumi memeluk Kinan erat, mencium rambutnya. "Ibu nggak apa-apa, Nak. Ibu cuma... sedikit lelah."
Maya keluar dengan wajah pucat pasi. "Rum... kamu gila! Itu tadi Baron! Mafia besar! Kamu baru saja menyelamatkan orang paling berbahaya di kota ini!"
Arumi hanya tersenyum tipis. "Bagi aku, dia cuma orang terluka yang butuh bantuan, May. Lagipula, kalau kios ini hancur, Kinan nggak bisa makan."
Di kejauhan, Baskara melihat semua itu dari balik bayangan toko yang tutup. Ia gemetar hebat. Ia melihat Arumi yang begitu berani melawan penjahat, sementara ia sendiri hanya bisa bersembunyi ketakutan di balik tong sampah. Rasa rendah diri Baskara mencapai puncaknya. Ia merasa Arumi kini bukan lagi bunga, tapi baja yang tak akan pernah bisa ia patahkan lagi.