Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Aku
Elvano mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Artinya, kau ingin mengatakan bahwa tidak ada satu pun petunjuk?"
"Sejauh ini, nol besar, Dok. Wanita itu seolah-olah menguap begitu saja. Bahkan penjaga pintu lobi tidak melihat ada wanita yang keluar dengan ciri-ciri mencurigakan, karena saat subuh, banyak staf dapur dan kebersihan yang juga berganti shift." ucap sang asisten.
Elvano terdiam. Rasa bersalah yang besar kini bercampur dengan rasa penasaran yang membuncah. Ia merasa seperti pecundang.
Seorang Elvano Narendra, yang selalu bisa mendapatkan apa pun yang ia inginkan, kini kehilangan jejak seorang wanita yang baru saja menghabiskan malam paling panas bersamanya.
"Terus cari!" desis Elvano. "Cek semua agen penyalur tenaga kerja paruh waktu di kota ini. Periksa daftar rumah sakit atau klinik di sekitar hotel, barangkali ada wanita yang mencari bantuan medis pagi ini. Dia pasti kesakitan semalam, Yudha. Aku tahu seberapa kasar aku saat itu." ucap Elvano merasa begitu bersalah jika mengingat-ingat ha tersebut.
"Saya akan terus mencari, Dok." ucap Yudha, sang asisten.
Setelah Yudha keluar, Elvano menyandarkan kepalanya ke kursi kebesarannya. Ia memejamkan mata dan kembali terlempar ke memori semalam. Ia ingat bagaimana wanita itu gemetar di bawah tubuhnya. Ia ingat air mata yang membasahi pipi wanita itu saat ia memberikan hujaman pertama.
"Maafkan aku," gumam Elvano pada kesunyian ruangan.
Selama ini, Elvano selalu menganggap dirinya sebagai manusia yang paling memegang kendali. Namun malam itu, ia menyadari bahwa ia hanyalah seorang pria biasa yang bisa hancur oleh nafsu jika dipicu dengan cara yang kotor.
Dan yang paling membuatnya tersiksa adalah perasaan asing yang tertinggal di hatinya. Itu bukan sekadar rasa puas setelah berhubungan s*ks tetapi ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuatnya merasa seolah ia telah menemukan bagian dari dirinya yang hilang, namun kembali direbut oleh takdir sebelum ia sempat melihatnya dengan jelas.
Di sisi lain, ia tahu dalang di balik obat ini pasti orang yang mengenalnya dengan baik.
Siapa yang ingin menjatuhkannya? Siapa yang ingin ia tertangkap basah di kamar hotel dengan wanita asing? Jika tujuannya adalah skandal, kenapa tidak ada wartawan yang datang semalam?
Pikirannya berputar-putar hingga sebuah ketukan lain di pintu membuyarkan lamunannya. Ibunya, Mama Zoya, masuk dengan senyum lebar yang terlihat dipaksakan.
"Elvano sayang! Mama dengar kau pulang lebih awal dari hotel tadi pagi? Bagaimana acaranya? Apakah kau sempat mengobrol dengan putri Pak Handoko? Dia bilang kau menghilang di tengah acara," ujar Mama Zoya dengan nada menyelidik.
Elvano menatap ibunya dengan tatapan dingin yang mampu membekukan air.
"Jangan berpura-pura, Ma. Apakah Mama ada hubungannya dengan apa yang ditaruh di dalam minumanku semalam?" tebak Elvano yang begitu curiga dengan mama nya.
Wajah Mama Zoya berubah sesaat, ada kilatan terkejut namun segera digantikan oleh ekspresi terluka.
"Apa maksudmu? Mama memang ingin kau menikah, tapi Mama tidak serendah itu untuk meracuni anak sendiri!" seru mama Zoya begitu dramatis.
Elvano mendengus. Ia tidak sepenuhnya percaya, tapi ia juga tidak punya bukti.
"Siapa pun pelakunya, dia sudah melakukan kesalahan besar. Dan jika aku tahu pelakunya adalah orang di sekitar Mama, jangan salahkan aku jika aku pergi dari rumah sakit ini selamanya." ucap Elvano dengan tegas dan mutlak, tanpa kompromi.
Mama Zoya terdiam melihat kemarahan putranya yang begitu nyata. Ia belum pernah melihat Elvano sefrustrasi ini.
Elvano kembali menatap jendela. Wanita misterius itu kini menjadi hantu yang menghantui setiap detik hidupnya. Ia tidak tahu bahwa wanita yang ia cari sedang meringkuk di sebuah kamar kos sempit, menangisi nasibnya, dan membawa benih kehidupan yang suatu hari nanti akan menyeret Elvano kembali ke dunia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Jejak itu memang hilang untuk saat ini, tapi takdir memiliki caranya sendiri untuk mempertemukan kembali dua kutub yang telah bersatu dalam gairah yang terlarang.
...****************...
Pagi itu, langit di atas Jakarta tampak abu-abu, seolah mencerminkan perasaan Ashela Safira yang masih karut-marut.
Setelah tiga hari mengurung diri di dalam kamar kosnya yang sempit yaitu hari-hari yang ia habiskan dengan menangis, mencuci tubuhnya hingga memerah, dan menatap kosong ke arah plafon yang berjamur dan Ashela akhirnya sampai pada sebuah titik balik.
Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap amplop cokelat berisi uang dari agen penyalur tenaga kerja hotel tempo hari. Uang itu terasa berat, seolah membawa beban moral yang menghimpit dadanya.
Namun, saat ia melihat kalender di dinding yang sudah penuh dengan coretan tanggal jatuh tempo hutang, kenyataan pahit kembali menamparnya.
“Menangis tidak akan membuat delapan puluh juta itu hilang, Asha.” bisiknya pada diri sendiri. Suaranya serak, matanya masih sedikit sembab, namun ada binar ketegasan yang mulai muncul kembali.
Ia bangkit, merapikan tempat tidurnya dengan gerakan mekanis. Jika ia terus terpuruk, rentenir itu akan datang lagi. Mereka tidak peduli apakah ia baru saja kehilangan kesuciannya atau tidak.
Mereka hanya peduli pada uang. Dan ayahnya... meski sang ayah telah tiada, Ashela merasa bertanggung jawab untuk membersihkan nama ayahnya dari lilitan hutang yang memalukan itu.
Ashela memulai harinya dengan sangat pagi. Pekerjaan pertamanya di kantor logistik menantinya. Ia mengenakan kemeja paling rapi yang ia miliki, mengancingkannya hingga ke kerah paling atas yaitu sebuah tindakan bawah sadar untuk menutupi jejak-jejak merah yang syukurnya mulai memudar dari kulit lehernya. Ia memulas wajahnya dengan sedikit bedak tipis untuk menyembunyikan rona pucat di pipinya.
Di kantor, Ashela bekerja dua kali lebih keras dari biasanya. Ia tidak membiarkan pikirannya kosong barang semenit pun.
Begitu ada waktu luang, ia segera menawarkan diri membantu divisi lain.
Ia ingin otaknya dipenuhi oleh angka, alamat pengiriman, dan laporan inventaris, bukan oleh memori tentang tangan besar Elvano atau aroma maskulin yang sempat membuatnya gila.
"Asha, kamu semangat sekali hari ini? Biasanya jam segini kamu sudah menguap," tegur Siska, rekan kerjanya.
Ashela tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya sampai di bibir. "Lagi butuh banyak tambahan, Sis. Katanya kalau target pengiriman bulan ini tercapai, kita dapat bonus, kan?"
"Iya, sih. Tapi jangan sampai sakit, Sha. Kamu kelihatan agak kurusan sejak libur tiga hari kemarin," ujar Siska penuh perhatian.
Ashela hanya mengangguk pelan. Sakit? Ia sudah merasakan sakit yang paling dalam di jiwanya, maka sakit fisik rasanya bukan lagi ancaman yang berarti untuknya lagi karena yang di pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya melunasi hutang yang terus berbunga itu.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
next...
semangat othor💪💪💪💪
di double up