"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"
Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.
Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.
"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: SEKTOR PERAKITAN DAN DERIT BAJA
Lantai bordes di bawah kaki Haidar bergetar secara ritmik, seolah seluruh tempat ini adalah jantung raksasa yang sedang mengalami serangan aritmia. Bau oli terbakar yang menyengat menusuk lubang hidungnya, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menelan serpihan kaca panas. Mereka telah meninggalkan Pasar Karat, namun suara riuh jiwa-jiwa yang tenggelam itu masih berdengung di telinga Haidar, bersaing dengan peringatan Pak Hadi yang terus berputar seperti piringan hitam rusak.
Jangan percaya pada pemandu yang tidak pernah merasa lelah.
Haidar melirik punggung Sersan. Pria itu berjalan dengan langkah yang terlalu presisi. Tidak ada tetesan keringat di tengkuknya, tidak ada napas yang memburu meski suhu di lorong Sektor Perakitan ini sudah melampaui batas kewajaran manusia. Haidar mengepalkan tangannya, merasakan belati hitamnya terasa panas di genggaman. Ia merasa seperti domba yang sedang digiring masuk ke dalam rumah jagal yang sangat canggih.
"Suhu meningkat tiga puluh derajat setiap seratus meter," suara bariton Sersan memecah kesunyian, datar tanpa emosi. "Jangan biarkan fokusmu memuai karena panas, Haidar. Kita hampir sampai di jantung Baron."
"Kau tidak merasakannya, Sersan?" tanya Haidar, suaranya parau. Ia menyeka keringat yang mulai mengalir ke matanya, terasa perih karena bercampur debu logam.
Sersan berhenti sejenak, namun tidak menoleh. "Merasakan apa?"
"Panas ini. Rasa sakit ini. Bau kematian ini. Apa kau benar-benar nyata, atau kau cuma bagian dari kegilaan ini?"
Sersan tidak menjawab. Namun, sebelum keheningan itu memanjang, sebuah bunyi klik mekanis yang tajam terdengar dari langit-langit lorong yang gelap.
Creeaaaak!
Tiga unit Scout-Drone berbentuk laba-laba besi terjun bebas. Masing-masing seukuran motor besar dengan delapan kaki baja yang ujungnya adalah gergaji sirkular yang berputar. Mereka mendarat dengan bunyi dentum berat yang menggetarkan fondasi lorong. Uap panas menyembur dari sela-sela mesin mereka yang karatan, namun sensor merah mereka langsung mengunci posisi Haidar.
"Sersan, mundur!" teriak Haidar. Kali ini dia tidak mau menunggu instruksi. Dia butuh melampiaskan kemarahan dan keraguan yang tertahan di dadanya.
Haidar menerjang drone terdekat. Dia melompat, menghindari tebasan gergaji yang nyaris membelah perutnya, lalu menancapkan belati hitamnya ke celah baja drone tersebut. Krang! Percikan api memercik, tapi kulit baja drone itu terlalu tebal. Haidar terhempas, bahunya menghantam dinding besi hingga ia terbatuk darah.
"Uhukk! Sialan, keras banget!"
Drone kedua melompat ke arahnya. Haidar berguling di lantai yang panas, merasakan kulit lengannya melepuh saat bersentuhan dengan besi bordes. Dia bangkit dengan cepat, menebas kaki depan drone itu hingga patah, namun drone ketiga sudah berada di belakangnya, siap menghujamkan gergajinya ke punggung Haidar.
Haidar terpojok. Napasnya pendek, paru-parunya seperti terbakar udara panas, dan otot-ototnya mulai lemas karena dehidrasi ekstrem. Di sudut matanya, ia melihat Sersan hanya berdiri diam, memperhatikan dengan tangan bersedekap. Sersan seolah sedang menonton sebuah eksperimen.
"Sersan! Bantu aku!" teriak Haidar sambil menangkis serangan drone dengan belatinya. Suara denting logam beradu memenuhi lorong.
Sersan tetap bergeming. "Kau tidak bisa menang dengan otot manusia, Haidar. Kau bukan lagi manusia biasa sejak kau menginjakkan kaki di Niskala."
Gergaji drone itu mulai mengikis belati Haidar, mengeluarkan suara decitan yang memekakkan telinga. Haidar berlutut, kedua tangannya gemetar menahan beban mesin itu. Satu detik lagi, gergaji itu akan membelah kepalanya.
"Aktifkan Mata Niskala, sekarang!" perintah Sersan, kali ini dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Lihat frekuensi mereka, atau mati sebagai rongsokan di sini!"
Dalam kondisi terdesak, naluri bertahan hidup Haidar meledak. Ia memaksakan pikirannya masuk ke dalam sumbu frekuensi yang paling dalam.
Zuuuut!
Dunianya seketika berubah menjadi monokrom abu-abu. Namun, rasa sakit yang datang kali ini jauh lebih brutal. Karena suhu ruangan yang sudah sangat panas, aktivasi Mata Niskala terasa seperti seseorang sedang menuangkan timah cair langsung ke bola matanya.
"ARGHHHH!" Haidar menjerit. Mata kirinya mulai mengeluarkan uap tipis, dan cairan merah kental mulai merembes keluar dari sudut matanya.
Tapi di balik rasa sakit yang menjahanamkan itu, dia bisa melihatnya. Garis sirkuit berwarna merah terang yang berdenyut di bawah lapisan baja tebal drone itu. Ada satu titik pertemuan energi di bagian sambungan leher belakang yang tidak terlindungi sempurna.
Dengan sisa tenaga, Haidar menendang bagian tengah drone itu untuk menciptakan jarak, lalu dengan gerakan flick, dia melemparkan belatinya tepat ke arah sirkuit merah tersebut.
Jleb! Bzzzzzt!
Drone itu kejang seketika. Percikan listrik biru menyambar-nyambar sebelum akhirnya mesin raksasa itu ambruk tak bernyawa. Dua drone lainnya mencoba menyerang secara bersamaan, tapi dengan Mata Niskala yang masih aktif, pergerakan mereka terasa sangat lambat di mata Haidar. Dia melihat bayangan gerak mereka sebelum serangan itu benar-benar terjadi.
Haidar bergerak lincah, seperti glitch dalam sistem. Dia mencabut belatinya dan dalam dua tebasan presisi, kedua drone sisa itu meledak, hancur menjadi tumpukan besi tua.
Mata Niskala mati secara paksa. Haidar jatuh tersungkur, memegangi wajahnya yang terasa seperti terpanggang api. Dia terengah-engah, darah menetes dari sela jarinya ke lantai besi.
Sersan mendekat, bayangannya menutupi tubuh Haidar yang ringkih. "Bagus. Kau mulai terbiasa dengan rasa terbakar itu."
Genggaman Sersan di bahu Haidar terasa sangat kuat—terlalu kuat, seperti cengkeraman tang hidrolik. "Bangun, Eksekutor. Kita sudah di depan pintu. Di balik sana, The Welder sedang menunggu. Ambil intinya, dan gunakan baja mereka untuk mendinginkan matamu yang sudah mulai hangus itu."
Haidar menatap Sersan dengan satu matanya yang masih bisa melihat jelas. "Kau... kau membiarkan aku hampir mati tadi cuma buat ngetes mataku, kan?"
Sersan tidak menjawab. Dia hanya menoleh ke arah pintu hidrolik raksasa yang bertuliskan "UNIT 02: THE WELDER". Pintu itu mulai berderit terbuka, mengeluarkan hawa panas biru yang menyilaukan.
Haidar bangkit dengan kaki gemetar. Keraguan di hatinya kini sudah berubah menjadi api kemarahan yang dingin. Dia mengikuti Sersan masuk ke dalam kegelapan yang menyala itu, menyadari bahwa pahlawan di sampingnya ini mungkin jauh lebih berbahaya daripada monster yang mereka lawan.