Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Jejak di Balik Seragam
Pukul 05.00 pagi. Aditya sudah berlari.
Lima kilometer. Misi harian sistem tidak bisa ditawar. Jika tidak diselesaikan sebelum jam 06.00, 10 Koin hangus begitu saja—dan dia butuh setiap koin untuk membeli Pil Pemulihan Jiwa.
Kakinya menghentak aspal gang-gang sempit yang masih gelap. Paru-parunya bekerja seperti mesin yang baru diservis. Efek Pil Pemurnian Tubuh benar-benar terasa. Dulu, lari 500 meter saja dadanya sudah terbakar. Kini, 5 kilometer terasa seperti pemanasan.
Misi Harian Selesai. +10 Koin. Total: 160 Koin.
"Masih 2.840 koin lagi," gumamnya terengah, menyeka keringat dengan ujung kaos oblong lusuh. "Butuh 284 hari kalau cuma mengandalkan misi harian."
Sembilan bulan lebih. Terlalu lama. Kakek Wijaya mungkin hanya punya kesadaran 7%—dan tidak ada yang tahu kapan angka itu mencapai nol.
Aditya butuh misi besar. Misi berbahaya. Misi seperti menyelamatkan Alesha yang memberinya 150 koin dalam satu malam.
Cek misi tersedia.
Panel Misi:
Misi Utama: Bangkitkan Kakek Wijaya (Hadiah: 2000 Koin, Pil Pemulihan Jiwa)
Misi Sampingan: Identifikasi Anggota Kartel Lotus di Pradipa Group (Hadiah: 300 Koin per anggota terverifikasi)
Misi Acak: Bantu seseorang yang membutuhkan hari ini (Hadiah: Variabel)
Aditya menatap misi ketiga. "Bantu seseorang yang membutuhkan"? Itu terlalu acak. Tapi hadiah variabel biasanya menarik.
Pukul 08.00. Aditya tiba di Pradipa Tower dengan seragam barunya—jas hitam sederhana yang dibelikan Alesha kemarin. Ia muak belanja, tapi sang CEO bersikeras: "Asisten pribadiku tidak boleh terlihat seperti baru keluar dari kapal tenggelam."
Saat berjalan menuju lift, matanya menangkap kerumunan di depan lobi. Beberapa karyawan berbisik-bisik, menunjuk ke arah seorang wanita muda berseragam polisi yang berdiri dengan tangan di pinggul. Wajahnya tegas, alisnya tebal, dan tatapannya...
All-Seeing Eye Teraktivasi.
Nama: Inspektur Dina Anggraini
Jabatan: Satreskrim Polres Metro Jakarta
Kekuatan: 28
Kecerdasan: 22
Status Emosi: Frustasi 91%, Marah pada sistem 78%, Penasaran pada kasus aneh 85%
Kasus yang dipegang: Perampokan tak terselesaikan—tiga toko emas dalam dua minggu. Pelaku diduga menggunakan metode "mustahil".
Kelemahan: Terlalu idealis. Tidak punya koneksi di kepolisian. Sedang dalam pengawasan atasan korup.
"Ini sudah minggu ketiga," suara Dina terdengar dari kerumunan. "Satpam kalian tidak melihat apa-apa? Tidak ada rekaman CCTV? Tidak ada sidik jari?"
"Maaf, Bu Polisi," satpam di depannya mengangkat bahu. "Kami hanya operator gedung. Silakan ajukan surat resmi ke manajemen."
"Itu yang selalu kalian bilang!"
Aditya tersenyum tipis. Inilah "seseorang yang membutuhkan" dari misi acaknya.
Ia melangkah mendekat. "Permisi, Bu Inspektur."
Dina menoleh. Matanya yang cokelat tajam mengamati Aditya dari atas ke bawah. "Siapa kau?"
"Aditya Pratama. Asisten Presiden Direktur Pradipa Group."
Alis Dina terangkat. "Asisten? Kau terlihat... muda."
"Banyak yang bilang begitu. Ada yang bisa saya bantu?"
Dina meraih siku Aditya dan menariknya ke sudut lobi yang lebih sepi. Gerakannya cepat, profesional—wanita ini tidak main-main.
"Kau mau membantu? Bagus. Aku sudah dua minggu mencoba masuk ke gedung ini untuk memeriksa rekaman CCTV. Tiga toko emas di radius dua kilometer dari sini dirampok. Pelaku selalu masuk tanpa jejak, keluar tanpa jejak. Saksi bilang melihat bayangan hitam. Hanya itu."
"Dan kenapa gedung ini?"
"Karena ketiga toko itu adalah milik Pradipa Group. Dan aku punya saksi yang melihat bayangan itu mengarah ke gedung ini."
Aditya menatap mata Dina. Tiga detik. Sistemnya bekerja.
Kasus Perampokan:
· Pelaku: Klan Malam—kelompok kultivator tingkat rendah.
· Metode: Teknik "Langkah Sunyi", membuat mereka tidak terdeteksi oleh kamera dan tidak meninggalkan sidik jari.
· Motif: Mengumpulkan emas untuk ritual yang membutuhkan 100 kilogram emas murni.
· Lokasi Saat Ini: Lantai B3—parkiran bawah tanah yang sudah tidak digunakan sejak 2020.
· Jumlah: 4 orang. Pemimpin: Level Kultivasi 5 (Alam Bela Diri Tingkat Awal).
Aditya menghela napas. Kultivator lagi. Kali ini pencuri.
"Inspektur Dina," katanya hati-hati. "Bagaimana kalau saya katakan bahwa pelakunya bersembunyi di basement gedung ini... dan mereka bukan penjahat biasa?"
Dina menyipitkan mata. "Maksudmu?"
"Mereka tidak tertangkap kamera karena mereka bergerak dengan cara yang tidak bisa direkam CCTV biasa. Mereka tidak meninggalkan sidik jari karena... sidik jari mereka sudah dimodifikasi."
"Omong kosong."
"Itu yang akan Anda buktikan sendiri. Saya bisa antar Anda ke lokasi mereka sekarang."
Dina terdiam. Tangannya bergerak refleks ke pinggang—tempat pistol polisi tersimpan.
"Kalau ini jebakan," suaranya rendah, "kau akan jadi tersangka pertama."
"Kalau ini bukan jebakan," Aditya balas tersenyum, "Anda akan memecahkan kasus yang mustahil. Sendirian. Tanpa bantuan atasan."
Pukulan telak. Dina menggertakkan gigi. Aditya bisa melihat angka "Frustasi" di panel statusnya melonjak, lalu turun drastis.
"Baiklah. Tapi aku yang memimpin. Kau di belakangku."
---
Lantai B3 berbau debu dan oli bekas. Lampu neon yang tersisa hanya beberapa—sisanya sudah mati entah kapan. Mobil-mobil tua berdebu berjajar seperti kuburan logam.
Dina melangkah dengan pistol terhunus. Di belakangnya, Aditya mengamati dengan All-Seeing Eye.
Area terdeteksi: Sarang Klan Malam.
Jebakan terdeteksi: Kawat pemicu di pintu masuk, ranjau suara di sudut kiri.
"Berhenti," bisik Aditya. "Ada kawat di depan pintu itu."
Dina menoleh, keningnya berkerut. "Aku tidak lihat apa-apa."
"Arahkan senter lebih rendah. 20 sentimeter dari lantai."
Dina melakukannya. Dan di sana—seutas kawat baja tipis hampir tak terlihat, membentang selebar pintu.
"Bagaimana kau—"
"Percayalah, penjelasannya akan lebih gila dari yang Anda kira."
Mereka melangkahi kawat itu. Di kejauhan, suara-suara terdengar—orang sedang berdebat. Aditya mengintip dari balik pilar beton.
Empat pria berdiri mengelilingi tumpukan batangan emas yang berkilau di bawah lampu minyak. Salah satunya—yang paling tinggi—memegang sebuah gulungan perkamen kuno.
"Ritual besok malam," katanya. "Kita butuh 20 kilogram lagi."
"Tapi Kak Jaka, Pradipa Group sudah meningkatkan keamanan. Kita tidak bisa—"
"Diam! Kau pikir kita bisa berhenti setelah sejauh ini? Kalau ritual ini berhasil, kita naik level. Kita bisa keluar dari lingkaran sampah ini!"
Aditya membaca data mereka.
Pemimpin: Jaka Sembung. Level Kultivasi 5. Kejahatan: Perampokan, pembunuhan dua satpam. Status: Target eliminasi direkomendasikan.
Dina menggigit bibir. "Empat lawan dua. Tidak ideal."
"Tunggu di sini," Aditya berbisik. "Saya akan mengalihkan perhatian mereka."
"Kau gila? Mereka bersenjata!"
Tapi Aditya sudah melangkah keluar dari balik pilar.
"Permisi," suaranya santai—terlalu santai untuk seseorang yang berhadapan dengan empat kultivator kriminal. "Saya tersesat. Ada yang tahu jalan ke lobi?"
Keempat pencuri menoleh. Mata Jaka menyipit.
"Siapa kau?!"
"Hanya asisten. Tapi sebelum kalian melakukan apa pun..." Aditya tersenyum. "Kalian harus tahu bahwa kalian sudah terkepung."
Jaka tertawa. "Terkepung? Oleh siapa? Kau sendirian, bocah!"
"Sendirian?" Aditya menggeleng. "Coba lihat ke atas."
Refleks, keempatnya menengadah.
Dan saat itu, Dina muncul dari balik pilar. Dua tembakan peringatan memecah keheningan basement.
"POLISI! JANGAN BERGERAK!"