⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga
Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.
Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...
Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.
Dua pria, satu wanita.
Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Valencia Bunuh Diri
Namun, teriakan dan permohonannya sama sekali tidak didengar oleh kedua pria yang sedang diliputi amarah buta itu. Mereka terus saja saling memukul dan bergulat dengan hebatnya, seolah tak ada orang lain di sana.
Hati Valencia terasa hancur berkeping-keping melihat pemandangan itu. Ia merasa sangat bersalah dan menjadi penyebab penderitaan mereka berdua. Pikiran buruk mulai memenuhi kepalanya, ia merasa hidupnya sudah tidak ada gunanya lagi. Saat pandangannya melayang ke meja pertemuan di dekat sana, matanya tertuju pada sebilah pisau tajam yang tadinya digunakan untuk memotong buah yang disajikan saat rapat usai tadi. Dengan sisa tenaga yang ada dan rasa putus asa yang mendalam, ia merangkak perlahan mendekati meja itu, lalu dengan cepat meraih pisau tajam tersebut.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia menggoreskan pisau itu dengan keras ke pergelangan tangannya yang putih mulus. Darah segar seketika mengalir deras dan menetes ke lantai, menciptakan noda merah yang mengerikan.
"Berhenti!!" teriaknya lagi sekuat tenaga sambil menatap mereka.
Namun, sayang sekali, mereka masih saja asyik berkelahi dan tak mempedulikannya sedikitpun. Rasa sakit fisik yang ia rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Melihat mereka masih saja bertengkar hebat meski ia sudah melukai dirinya sendiri, keputusasaan Valencia semakin menjadi-jadi. Ia menggenggam gagang pisau itu erat-erat, lalu dengan tekad yang bulat dan mata yang berkaca-kaca, ia mengarahkan ujung pisau yang tajam itu tepat ke perutnya sendiri. Dengan sekuat tenaga yang tersisa, ia menusukkannya ke dalam tubuhnya.
Srek!
Tubuhnya terhuyung mundur karena dorongan yang ia berikan sendiri, lalu punggungnya menabrak kursi besar di belakangnya dengan keras sebelum akhirnya tubuhnya jatuh terjerembap ke lantai. Pisau itu masih menancap tegak di perutnya, darah mengalir semakin deras membasahi pakaian dan lantai di sekitarnya.
Suara gaduh seketika lenyap seketika. Kedua pria itu serentak menoleh saat mendengar bunyi tabrakan yang keras itu. Pandangan mereka jatuh pada sosok Valencia yang terbaring di lantai dengan darah yang menggenang di samping tubuhnya. Wajah mereka seketika berubah pucat pasi, amarah di mata mereka lenyap seketika berganti dengan kepanikan dan ketakutan yang luar biasa.
"VALENCIA!!"
Teriak mereka serentak dengan suara yang menggema dan menyayat hati. Tanpa pikir panjang lagi, mereka berdua segera berlari mendekati tubuh wanita itu dengan wajah penuh kepanikan dan penyesalan yang tak terhingga.
Baik, ini lanjutan ceritanya sesuai dengan rincian dan alur yang kamu minta ya:
Melihat darah yang terus mengalir deras dari tubuh Valencia, kepanikan menyelimuti hati kedua pria itu. Tanpa banyak bicara lagi, insting untuk menyelamatkan nyawa wanita itu mengalahkan segala rasa benci dan amarah yang tadi berkobar hebat.
Dengan tangan gemetar namun gerakan yang sigap, Zyro segera melepaskan jaket kulit tebal yang melekat di tubuhnya. Ia membentangkannya lebar-lebar, lalu dengan hati-hati dan lembut membungkus tubuh bagian atas Valencia yang masih terbuka, berusaha menutupinya sepenuhnya. Di sisi lain, Ansel pun melakukan hal yang sama. Ia meraih jas mahalnya yang tergeletak sembarangan di lantai yang belum sempat dia kenakan tadi, lalu dengan cekatan ia gunakan untuk menutupi dan membungkus bagian bawah tubuh Valencia yang juga masih terbuka. Mereka sama-sama berusaha sekuat tenaga agar tubuh wanita itu tertutup rapat dan terlindungi.
Setelah memastikan tubuh Valencia sudah tertutup dengan baik, Zyro segera mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya dengan sangat hati-hati seolah membawa benda paling berharga dan rapuh di dunia. Ia memeluknya erat, memastikan posisi tubuh Valencia stabil agar lukanya tidak semakin parah, lalu bergegas berjalan cepat keluar dari ruangan itu menuju kendaraannya.
Sementara itu, Ansel buru-buru meraih kemejanya yang juga tergeletak di lantai, ia memakainya dengan tergesa-gesa, kancing-kancingnya bahkan belum sempat dikancingkan dengan rapi. Ia berlari mengejar langkah Zyro yang sudah mendahuluinya keluar ruangan. Saat melewati lorong dan melihat Jodi yang berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat dan bingung, Ansel berhenti sejenak, menoleh ke arah asistennya itu dan membentak dengan suara tegas serta penuh perintah.
"Urus kekacauan di sini! Bereskan semuanya dan pastikan tidak ada satu orang pun yang tahu apa yang terjadi di dalam ruangan ini! Jangan biarkan ada berita yang bocor ke mana-mana! Mengerti?!" seru Ansel dengan nada yang tidak bisa dibantah lagi.
"Siap, Tuan! Akan saya urus semuanya dengan baik," jawab Jodi dengan sigap dan hormat, meski hatinya masih sangat kaget melihat apa yang baru saja terjadi.
Ansel tidak menunggu lebih lama lagi, ia segera berlari menyusul Zyro yang sudah sampai di dekat mobil balapnya yang terparkir di halaman depan.
Saat Zyro sudah berdiri di samping pintu mobilnya sambil menggendong Valencia yang semakin lemah dan pucat, Ansel segera menghampirinya.
"Mana kunci mobilnya?" tanya Ansel dengan nada cepat dan tegas, matanya menatap tajam ke arah Zyro.
Zyro terdiam sejenak, matanya menyipit menatap Ansel dengan rasa curiga dan keraguan yang masih tersisa di hatinya. Ia ragu untuk menyerahkan kunci kendaraannya kepada pria yang baru saja bertengkar hebat dengannya.
Melihat keragu-raguan di wajah Zyro, Ansel menghela napas kasar, lalu menatap mata Zyro lekat-lekat dengan sorot mata yang serius dan mendesak.
"Bukan waktunya kita berdebat atau saling memukul sekarang, Zyro!" bentak Ansel dengan suara tinggi namun nadanya terdengar penuh kepanikan.
"Nyawa Valencia taruhannya! . Biarkan aku yang menyetir. Demi Tuhan, kumohon percayalah padaku kali ini saja! Aku juga tidak ingin dia mati, sama sepertimu!"
Zyro terdiam mendengar ucapan itu. Ia sadar Ansel benar. Keadaan terlalu mendesak, dan tidak ada waktu untuk bertengkar lagi. Dengan berat hati dan wajah yang masih cemberut, ia menjawab singkat.
"Di kantong celana sebelah kanan..."
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Ansel langsung merogoh kantong celana sebelah kanan milik Zyro dengan tangannya sendiri. Ia meraba dan menemukan kunci kendaraan itu di sana. Segera ia mengeluarkannya, lalu menekan tombol pembuka kunci pintu.
Ting! Ting!
Pintu mobil terbuka. Ansel dengan sigap membukakan pintu kursi belakang lebar-lebar untuk Zyro.
"Masuklah dan jagalah dia dengan baik! Pastikan lukanya tidak berdarah semakin banyak!" perintah Ansel.
Zyro segera masuk ke dalam dan duduk di kursi belakang, tetap memeluk tubuh Valencia yang terbaring lemah di pangkuannya dengan sangat erat dan hati-hati.
Setelah memastikan mereka sudah aman di dalam, Ansel segera berputar dan melangkah cepat menuju kursi pengemudi. Ia masuk, duduk, dan menyalakan mesin kendaraan itu dengan cepat. Suara deru mesin yang kencang terdengar menggelegar. Ansel mengambil alih kemudi sepenuhnya, ia menginjak gas dalam-dalam, memacu kendaraan itu melesat dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat, matanya menatap tajam ke jalan depan dengan wajah yang penuh ketegangan dan doa dalam hati.
"Bertahanlah, Valen... Kumohon bertahanlah... ..." gumam Ansel lirih di dalam hatinya.