NovelToon NovelToon
Dao Of The Fate Severer

Dao Of The Fate Severer

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Bilah Pedang Awan Es meluncur dengan kecepatan yang mampu membelah batu karang. Energi Qi tingkat delapan meledak dari bilah perak itu, membawa hawa dingin yang mengiris kulit dan suara lengkingan yang memekakkan telinga.

Bagi mata murid luar biasa, tebasan Ye Chen adalah eksekusi mutlak. Tidak ada jalan keluar.

Namun, di mata Jiang Xuan—sepasang mata yang telah menyaksikan langit runtuh dan lautan darah di kehidupan masa lalunya—tebasan itu tidak lebih dari ayunan kayu seorang balita yang sedang tantrum. Lintasan pedang itu lurus, penuh tenaga liar, arogan, dan menyedihkan karena terlalu banyak celah.

Jiang Xuan tidak menangkis. Melakukan kontak fisik antara tubuh Kondensasi Qi tahap dua miliknya dengan Qi tahap delapan milik Ye Chen sama saja dengan meminta tulangnya dihancurkan menjadi bubuk.

Di sepersekian detik sebelum bilah pedang menebas lehernya, Jiang Xuan menggeser tumit kanannya hanya sejauh dua inci. Ia mencondongkan punggungnya ke belakang dengan kemiringan yang dihitung secara absolut.

WUSSH!

Bilah perak itu menyapu udara kosong, memotong beberapa helai rambut hitam Jiang Xuan. Hawa dingin dari pedang itu membekukan lapisan keringat di lehernya, tetapi tidak satu pun inci kulitnya yang tergores.

"Mati!" raung Ye Chen, memutar pergelangan tangannya untuk mengubah tebasan menjadi tebasan horizontal yang mengincar pinggang.

Jiang Xuan menjatuhkan tubuhnya ke bawah dengan gaya gravitasi, membiarkan lutut kanannya menghantam tanah bersalju. Pedang Ye Chen mendesing tepat di atas kepalanya. Di saat yang sama, tangan kanan Jiang Xuan yang berlumuran darah melesat ke atas, dua jarinya menembus celah pertahanan Ye Chen dan menggores udara kosong tepat di depan wajah sang jenius.

Sret!

Garis tak kasat mata tercipta dari ujung jarinya. Niat Membunuh murni ditinggalkan di udara, menggantung seperti seutas kawat berduri transparan.

Ye Chen tersentak mundur, instingnya berteriak meski matanya tidak melihat apa-apa. "Tikus keparat! Berhenti menghindar dan terima kematianmu!"

Jiang Xuan bangkit dalam keheningan total. Wajahnya sepucat mayat yang baru digali dari kubur. Di balik jubah kasarnya, hawa dingin ekstrem dari Bunga Teratai Sumsum Es yang ia simpan mulai merambat masuk melalui pori-porinya. Pembuluh darah di dada kirinya mulai membiru, membekukan aliran darahnya secara perlahan.

Satu menit, Jiang Xuan menghitung di dalam kepalanya, rasionalitasnya bekerja seperti mesin pembantai yang dingin. Otot betisku mulai robek karena dipaksa bergerak melebihi batas kelenturannya. Hawa beku dari teratai ini menggerogoti organ dalamku. Aku hanya punya sisa stamina untuk dua belas tarikan napas sebelum paru-paruku berhenti berfungsi secara permanen.

Ia tidak punya waktu untuk bermain-main. Perbedaan ranah kultivasi sangat mutlak. Jika ia terkena satu saja ujung pedang Ye Chen, ia akan terbelah dua. Ia harus mengakhiri ini dengan satu pukulan telak.

Ye Chen kembali menerjang maju. Salju berhamburan setiap kali sepatunya menginjak tanah. Kali ini, ia menyarangkan lusinan tusukan mematikan secara beruntun. "Hujan Es Penusuk Tulang!"

Jiang Xuan bergerak. Tubuhnya meliuk, menunduk, dan berputar seperti bayangan hantu yang terlepas dari belenggu neraka. Setiap gerakannya sangat efisien, tanpa satu milimeter pun gerakan yang terbuang sia-sia. Ia membiarkan ujung pedang Ye Chen merobek jubah luar dan menggores bahunya, mengorbankan kulit demi menghindari serangan fatal di titik vital.

Dan setiap kali ia menghindar, jari telunjuk dan tengahnya yang terus meneteskan darah menggores udara kosong.

Sret! Sret! Sret!

Tiga goresan vertikal.

Dua goresan diagonal.

Satu goresan horizontal.

Darah segar menetes dari hidung dan sudut bibir Jiang Xuan. Cincin emas di pupil kirinya berputar dengan kecepatan gila, membaca setiap jengkal lintasan pedang Ye Chen dan menempatkan Niat Formasi tepat di titik-titik buta musuhnya. Fisik remajanya menjerit kesakitan; meridian di lengannya mulai retak karena tidak kuat menyalurkan Niat Membunuh dari jiwa berusia tiga ratus tahun.

Namun, ekspresi Jiang Xuan tetap datar dan kosong. Tidak ada erangan kesakitan. Hanya fokus pembunuh yang membekukan jiwa.

Di sisi lain, Ye Chen mulai merasakan ada sesuatu yang sangat salah.

Napasnya yang semula teratur kini memburu tajam. Pedang pusakanya tiba-tiba terasa seberat ratusan kati batu besi. Awalnya, ia pikir ini karena kelelahan, tetapi saat ia melangkah maju, udara di sekitarnya terasa sepadat rawa lumpur.

"Apa... apa yang kau lakukan padaku?!" Ye Chen berteriak, matanya melebar panik. Ia mencoba mengayunkan pedangnya lagi, tetapi lengannya bergetar hebat.

Tanpa ia sadari, goresan-goresan tak kasat mata yang ditinggalkan Jiang Xuan di udara telah terhubung satu sama lain. Niat Formasi yang ditenagai oleh Niat Membunuh murni kini membentuk jaring laba-laba tiga dimensi di sekitar Ye Chen. Itu bukan formasi yang menjerat fisik, melainkan formasi yang langsung menekan jiwa dan pikiran.

Setiap kali Ye Chen bergerak menembus garis ilusi itu, gelombang ilusi pembantaian menghantam otaknya. Ia mulai melihat halusinasi yang mengerikan. Salju di sekitarnya berubah menjadi lautan darah kental. Bayangan Jiang Xuan terpecah menjadi puluhan iblis tanpa wajah yang merayap dari neraka terdalam, menatapnya dengan rasa lapar yang buas.

Ini adalah teror psikologis dari seseorang yang pernah membantai ribuan kultivator. Bagi Ye Chen, seorang "jenius" yang hidup nyaman di bawah perlindungan sekte dan belum pernah mengalami pertarungan hidup-mati yang sesungguhnya, tekanan mental ini terlalu brutal untuk ditanggung.

"Menyingkir dariku! Menyingkir!" Ye Chen berteriak histeris, mengayunkan Pedang Awan Es secara membabi buta ke udara kosong. Formasi pertahanannya hancur total. Matanya merah dan dipenuhi urat darah, ketakutan primalnya mengambil alih sisa-sisa kesombongannya.

Langkah Ye Chen terhuyung. Ia tersandung akar pohon beku dan nyaris jatuh ke belakang. Jaring tak kasat mata itu perlahan menyusut, mengikat pikiran rasionalnya dan memaksanya berlutut di bawah beban Niat Membunuh absolut.

Di luar jaring ilusi itu, Jiang Xuan menghentikan langkahnya.

Tubuhnya bergetar hebat. Darah segar terus mengalir dari telinga dan hidungnya, menetes ke atas salju putih. Lengan kanannya nyaris lumpuh total, memar hitam pekat menyebar dari pergelangan hingga ke sikunya. Ia telah mencapai batas absolut dari wadah fana tingkat Kondensasi Qi tahap dua.

Hawa beku dari Bunga Teratai Sumsum Es di balik jubahnya telah membuat separuh dada kirinya mati rasa. Jantungnya berdetak begitu lambat hingga nyaris berhenti.

Namun, tugasnya hampir selesai.

Goresan Void Calligraphy telah menjerat mangsanya. Array Niat Pembunuh tingkat dasar telah sempurna di udara, mengepung Ye Chen dari delapan penjuru. Yang ia butuhkan kini hanyalah satu pemicu. Satu ketukan mematikan untuk meledakkan seluruh Niat Membunuh itu langsung ke dalam lautan kesadaran musuhnya.

Jiang Xuan menatap Ye Chen yang sedang berteriak liar dan mengayunkan pedang ke arah udara kosong. Tidak ada sedikit pun belas kasihan di mata sang Cendekiawan Tinta Hantu. Benang takdir emas di tubuh Ye Chen memudar redup, sementara benang hitam kematian kini mengikat leher sang jenius dengan sangat erat.

"Takdirmu hanya sampai di sini, Ye Chen," bisik Jiang Xuan datar. Suaranya sangat pelan, namun terbawa oleh angin beku dan menembus langsung ke telinga Ye Chen, menghentikan kegilaan pemuda arogan itu seketika.

Ye Chen menoleh perlahan. Tubuhnya membeku oleh teror murni saat melihat Jiang Xuan berdiri di depannya. Remaja kurus dan kotor itu tidak lagi terlihat seperti murid luar yang bisa ia injak-injak. Di mata Ye Chen saat ini, Jiang Xuan adalah perwujudan dari dewa kematian itu sendiri.

Dengan sisa tenaga terakhirnya, Jiang Xuan mengangkat tangan kanannya yang gemetar. Jari telunjuknya yang dipenuhi darah menunjuk tepat di tengah-tengah formasi jaring laba-laba ilusi yang mengepung Ye Chen.

Mata Jiang Xuan menajam, gelap gulita dan tanpa ampun.

Ujung jarinya menekan udara kosong.

"Meledaklah."

1
Shadow
Yahhh keren juga gaya Jiang Xuan tapi jangan kejam x sam Lin ya
Shadow
MC nya sadis
Shadow
Kasat sekali kamu Jiang Xuan
Shadow
Ye Chan tingkat 8, kenapa yang di periksa murid luar yang baru tumbuh ? Harusnya murid dalam atau murid inti yang di periksa.. Para tetua sekte begitu sombong sama murid yang lemah, Padahal anggota sekte sendiri.
Shadow
Kecewa neh MC nya...
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Teteh Lia
serasa gigitan nyamuk, kata na 😱
Teteh Lia
Kalau kultivator gini tuh, ada film na nda ya?
@arv_65: cari di play store donghive
total 3 replies
Shadow
Terlalu banyak kalimat kiasan
Shadow
Sepertinya bagus neh ceritanya
Teteh Lia
Kebanyakan, novel genre seperti ini, pakai nama Xuan.
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏
Teteh Lia: makasih penjelasan na, kak. maaf saya banyak tanya.
saya kurang paham cerita genre seperti ini.
total 5 replies
@arv_65
okee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!