Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Menghancur & Pawang Sang Singa
Rasa cemas dan gelisah terus menghantui hati Daniel sejak tadi. Sudah cukup lama ia tidak melihat keberadaan Ziva, dan pesan singkat yang dikirimnya tak kunjung dibalas. Firasat buruk terus merayapi benaknya, membuatnya tak bisa tenang berbicara dengan tamu. Akhirnya, ketidak tenangan itu memenangkan segalanya—ia pun bergegas mencari sosok Novi, wanita yang ia percayai menjaga adiknya sepenuh hati.
Daniel berjalan cepat menembus kerumunan tamu, matanya menyapu setiap sudut ruangan hingga menemukan sosok yang dicari sedang berdiri di sudut ruang dengan wajah pucat dan gelisah yang tak wajar. Ia langsung melangkah mendekat dengan langkah tegas.
"Novi!" panggil Daniel dengan nada suara yang sudah tak lagi ramah, penuh penekanan. "Di mana kamu membawa adikku?"
Pertanyaan itu membuat tubuh Novi seketika membeku seolah tersambar petir di siang bolong. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi putih pasi, matanya terbelalak tak percaya menatap atasannya.
"A-adik... Tuan?" tanyanya terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar.
"Iya," jawab Daniel tegas, keningnya berkerut bingung melihat reaksi aneh sekretarisnya itu. "Wanita yang tadi menemaniku, yang kamu bawa pergi itu adalah adik kandungku sendiri, adik perempuanku yang baru pulang ke rumah. Sekarang katakan padaku, di mana dia kamu bawa?!"
Dunia seakan runtuh di hadapan Novi. Kakinya lemas tak bertulang, rasanya ia ingin terjungkal ke lantai saat itu juga. Ia tak pernah menyangka, tak pernah menyangka sedikitpun bahwa wanita yang ia benci, yang ia anggap saingan cintanya, yang ia rencanakan untuk dihancurkan kehormatannya malam ini... ternyata adalah adik kandung Daniel sendiri!
Ia baru saja melakukan hal paling gila dan bodoh dalam hidupnya. Ia baru saja mencelakai darah daging majikannya sendiri, orang yang paling ia hormati dan cintai. Rasa takut yang luar biasa menyergapnya, sekujur tubuhnya gemetar hebat.
"Di mana dia, Novi?!" teriak Daniel, suaranya meledak penuh amarah dan kekhawatiran yang tak bisa lagi ditahan.
"K-kamar... k-kamar 502, Tuan!" jawab Novi terbata-bata, air mata sudah mulai menggenang karena ketakutan.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Daniel langsung berlari kencang menuju lift. Firasat buruknya semakin menjadi-jadi, jeritan hati bilang adiknya sedang dalam bahaya besar.
Namun, apa yang tak disangka Daniel, di lobi hotel di bawah sana, sudah menunggu tiga sosok yang wajahnya penuh badai kemarahan. Kevin, Zio, dan Zea ternyata menyusul ke sini karena sama-sama merasa gelisah. Kevin yang sejak awal tak setuju Ziva datang, perasaannya tak pernah tenang, akhirnya ia memutuskan datang bersama kedua adiknya.
Saat melihat Daniel keluar dari lift dengan napas memburu dan wajah penuh ketakutan, Kevin langsung melangkah lebar menghampiri, tangannya kasar mencengkeram kerah kemeja kakak sulungnya itu, mengangkatnya sedikit hingga wajah mereka berhadapan jarak dekat.
"Sudah ku duga dari awal! Kamu memang tidak bisa diandalkan menjaga dia kan?!" bentak Kevin dengan nada dingin namun penuh amarah yang menggelegak, urat-urat di lehernya menonjol menahan emosi.
"Kevin! Lepaskan! Kamu mau apa hah?!" Daniel berusaha melepaskan diri tapi cengkeraman Kevin terlalu kuat.
"Sudahlah Kak, lepaskan dulu. Jangan membuat suasana makin kacau di sini," cegah Zio cepat, ia langsung menarik tangan Kevin agar melepaskan Daniel. Ia tahu kalau dibiarkan, Kevin bisa menghajar kakak sulungnya sendiri di sini.
Kevin mendengus kasar, melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Daniel terhuyung. Tanpa banyak bicara mereka berempat segera bergegas menuju kamar 502. Di belakang mereka, Novi berjalan tertatih dengan kaki gemetar, dipaksa ikut karena takut ditinggalkan sendirian.
Sesampainya di depan pintu kamar, tangan Novi gemetar hebat saat memasukkan kartu kunci.
Ceklek.
Pintu terbuka perlahan, dan saat itulah...
Suara desahan halus yang terdengar jelas memenuhi ruangan itu langsung menyambar telinga mereka. Suara itu membuat seluruh anggota keluarga Sterling membatu di tempat. Wajah Daniel memucat, Kevin menggeram marah, Zio terbelalak kaget, dan Zea menutup mulutnya dengan tangan karena tak percaya.
Saat pandangan mereka jatuh ke dalam kamar, pemandangan di hadapan mata mereka seolah menyambar seluruh akal sehat mereka. Di atas ranjang yang berantakan, terlihat Arsen sedang tertidur pulas dengan wajah puas, sementara di sampingnya terbaring Ziva yang wajahnya masih tampak merah merona namun terlihat sangat lelah hingga tak sadarkan diri. Pakaian mereka berdua berantakan, tak perlu dijelaskan lagi apa yang baru saja terjadi di ruangan itu. Semuanya sudah terlihat jelas, bukti nyata bahwa mereka telah melakukan hubungan terlarang.
"Brengsek!!"
Teriak keras itu meledak dari mulut Kevin. Tanpa pikir panjang ia langsung melangkah lebar mendekat, siap menyerang Arsen yang masih terpejam.
Di saat yang sama, gerakan itu membuat Ziva tersentak bangun. Ia membuka matanya yang masih berat, dan saat melihat siapa saja yang berdiri di sana—saudara-saudaranya, termasuk Kevin yang matanya memancarkan api pembunuhan—wajah Ziva seketika berubah pucat pasi. Ia merasa dunianya runtuh saat itu juga. Rasa malu, takut, dan panik menyerangnya sekaligus.
"Pakai pakaianmu dulu, bro. Kita tunggu di luar. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan," ucap Daniel dengan nada tenang yang mengerikan, meski di balik ketenangannya itu tersimpan amarah yang siap meledak kapan saja.
Zea yang juga masih kaget segera berlari mendekat, ia mengambil selimut dan menutupi tubuh kakaknya yang masih berantakan, lalu membantu Ziva berpakaian dan merapikan diri dengan tangan yang masih gemetar karena kaget dan sedih.
Sementara itu, Zio tak bisa menahan amarahnya lagi. Ia berbalik badan, menangkap lengan Novi yang berdiri gemetar di ambang pintu, lalu dengan kasar menyeret wanita itu keluar ruangan, menuju lorong kosong di depan kamar.
Brak!
Zio menghempaskan tubuh Novi dengan keras hingga wanita itu jatuh tersungkur di lantai keramik yang dingin, tepat di hadapan kaki Daniel.
"Bisa tidak kamu atur bawahanmu, Kak?!" bentak Zio kepada Daniel dengan nada suara yang sangat tinggi dan penuh kemarahan.
Daniel mengerutkan kening bingung sekaligus kesal. "Apa maksudmu, Zio? Kenapa kamu perlakukan dia seperti ini?"
"Masih tanya?! Kamu benar-benar tidak sadar ya, Kak?!" seru Zio tak habis pikir. "Wanita rendahan ini... dia sudah lama mendambakanmu! Dia cemburu buta melihat Ziva di sampingmu, dia yang merencanakan semua ini! Dia yang memasukkan obat bius ke minuman Ziva, dia yang membawa adik kita ke sini demi menghancurkannya demi kepuasan hatinya yang kotor! Kamu pikir dia malaikat penolong hah?!"
Pengakuan itu seperti petir di siang bolong. Daniel terpaku, menatap Novi dengan tatapan tak percaya sekaligus penuh rasa kecewa yang dalam.
"T.. tuan... itu tidak benar Tuan! Saya tidak bermaksud begitu! Saya hanya ingin membantu!" elak Novi sambil menangis tersedu-sedu, berusaha merayu agar dimaafkan.
"Maafkan saya, Tuan... saya gelap mata... saya tidak tahu dia adik Tuan... saya salah..." ratap Novi.
PLAK!! PLAK!!
Dua tamparan keras dan nyaring mendarat tepat di kedua pipi Novi, membuat kepala wanita itu terhempas ke samping dan pipinya langsung memerah membiru.
Semua orang terkejut bukan main. Yang menampar bukan orang lain, melainkan Zea. Gadis yang biasanya lembut, manja, dan penurut kini berdiri di sana dengan napas memburu, matanya menatap tajam penuh kebencian.
"Itu baru sedikit balasanmu, wanita jahat! Kamu berani menyakiti Kak Ziva, kamu berani merencanakan hal kotor seperti itu?! Kamu pikir kami akan diam saja?!" bentak Zea dengan suara bergetar menahan amarah.
Kevin yang melihat itu langsung memberi isyarat pada dua orang tubuh yang sudah ia bawa diam-diam. "Bawa dia pergi. Serahkan pada timku, berikan hukuman yang pantas untuknya. Pastikan dia tidak bisa mengganggu kami lagi selamanya."
Setelah urusan Novi selesai, Kevin kembali berbalik menatap Arsen yang sudah berdiri tegak dengan wajah pasrah menerima segala konsekuensi. Tanpa aba-aba, tangan kekar Kevin melayangkan pukulan keras tepat mengenai wajah Arsen, membuat pria itu terhuyung ke belakang dan bibirnya langsung berdarah.
"Brengsek! Kamu pikir kamu siapa berani menyentuh adikku?!" bentak Kevin lagi, siap memukul lagi.
Namun, tiba-tiba ada sosok kecil yang berlari dan berdiri tepat di depan Arsen, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. Itu Ziva.
"Cukup! Berhenti!" seru Ziva keras, matanya menatap tajam ke arah Kevin, penuh amarah dan pembelaan.
Kevin terkejut, matanya membelalak tak percaya. "Apa yang kamu lakukan?! Kamu mau membela dia? Dia yang sudah menodai kamu, Ziva!"
"IYA! Aku membela dia!" jawab Ziva tegas, suaranya tak kalah keras melawan suara Kevin. "Dia tidak bersalah di sini! Dia datang menyelamatkanku! Semua ini terjadi karena obat yang diberikan wanita itu! Mengapa kamu selalu menyalahkan orang lain, mengapa kamu selalu mau melampiaskan amarahmu sembarangan?! Dia tidak salah, aku yang mau! Kenapa kamu harus ikut campur terus dalam hidupku?!"
Pertengkaran antara kakak dan adik itu tak terbendung lagi. Kata-kata tajam saling dilontarkan, emosi keduanya sama-sama meledak tak terkendali. Melihat pemandangan itu, kepala Zio terasa pening dan pusing. Ia tahu kalau dibiarkan, pertengkaran ini bisa berujung buruk.
Matanya melirik ke arah Kevin yang amarahnya sudah di ubun-ubun, dan kemudian jatuh pada sosok Zea yang berdiri tak jauh di sana. Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalanya. Zio sadar betul satu hal: Kevin tidak pernah menganggap Zea sebagai adiknya. Kevin mencintai Zea sebagai wanita, sebagai pujaan hatinya. Dan hanya satu orang yang bisa menenangkan singa yang sedang mengamuk ini.
Zio mendekatkan wajahnya ke telinga Zea, berbisik pelan. "Cepat, Zea. Kamu yang tenangin dia. Hanya kamu yang bisa, dia pasti berhenti kalau ada kamu."
"Aku takut Kak... lihat dia marah sekali, aku mana berani," jawab Zea gemetar, menolak dengan wajah takut. "Kamu saja sana yang bicara."
Zio menghela napas panjang. Ternyata Zea belum menyadari sepenuhnya perasaan Kevin padanya. Tak ada waktu untuk menjelaskan sekarang, pikir Zio. Ia harus bertindak cepat.
"Maafkan aku ya Zea..." bisik Zio pelan.
Tanpa memberi kesempatan Zea bertanya, Zio dengan sengaja mendorong tubuh adiknya itu sedikit keras hingga punggung Zea terbentur keras ke dinding koridor di belakangnya.
BRAK!
Suara benturan itu cukup keras untuk terdengar jelas.
Dan keajaiban pun terjadi. Detik itu juga, seolah disambar petir, amarah Kevin seketika lenyap. Wajahnya yang tadinya penuh kemarahan berubah menjadi panik luar biasa. Ia langsung melupakan Arsen, melupakan pertengkaran, dan berlari secepat kilat menghampiri Zea.
"Zea! Kamu tidak apa-apa?! Sakit tidak?!" tanya Kevin panik, tangannya dengan lembut memegang bahu dan kepala Zea memeriksa apakah ada yang terluka. Wajahnya yang garang tadi kini berubah lembut dan khawatir luar biasa.
Melihat momen itu, Zio segera memberi isyarat pada Daniel dan Ziva untuk segera pergi dari sana.
"Ayo kita pergi dari sini. Biarkan singa itu dijinakkan oleh pawangnya," bisik Zio pelan.
Akhirnya, mereka semua pun berjalan pergi meninggalkan lorong itu, meninggalkan Kevin yang sibuk memperhatikan keadaan Zea dengan penuh perhatian.
Daniel yang berjalan di depan hanya bisa menggelengkan kepala sambil mendengus sebal. "Dasar adik-adikku, kelakuan kalian benar-benar membuatku pusing setiap hari." batinnya dalam hati.