NovelToon NovelToon
Belenggu Kasih Kaisar Tirani

Belenggu Kasih Kaisar Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Sistem / Fantasi
Popularitas:32.5k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?

Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.

Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.

Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.

"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.

"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DRAMA PAGI

Pagi-pagi sekali, suara teriakan Diana, sudah memenuhi kediaman Belmont.

"VICTOR! LIHAT APA YANG DILAKUKAN PUTRI IBLIS MU ITU PADA WAJAHKU!"

Teriak Diana menggelegar, penuh amarah berlari menuju ruang kerja Duke Victor dengan kain menutupi pipinya yang terbalut kain kasa yang merembeskan darah, sementara tangannya yang diperban karena kuku yang terluka.

Di sisi lain, Lina berlari kencang menuju arah yang sama, namun dia berhenti di depan pintu ruang kerja Duke, menjatuhkan dirinya bersimpuh sambil menangis sejadi-jadinya sesuai perintah Rania.

Ceklekk

Pintu ruang kerja terbuka keras, Duke Victor berdiri di sana dengan wajah yang luar biasa menyeramkan, di belakangnya, Dante muncul dengan tatapan mata yang gelap dan dingin.

"Apa lagi ini?!" bentak Victor.

"Victor! Lihat tanganku! Lihat pipiku! Rania masuk ke kamarku semalam dan mencoba membunuhku! Dia gila! Dia harus dikurung di penjara bawah tanah!" Teriak Diana dengan air mata buaya nya.

"Jangan membual, Diana, tidak mungkin Rania berbuat seperti itu," ucap Duke Victor, dingin.

"Aku tidak berbohong! Anak sialan itu benar-benar iblis! Lihat pelayan rebahan ini, pasti dia disuruh anak sialan itu!" lanjut Diana,

menunjuk Lina dengan penuh kebencian.

"Duke! Tolong Nona Rania! Saya mohon, selamatkan Nona Rania!" tangis Lina pecah, suaranya terdengar sangat memilukan hingga beberapa ksatria penjaga mulai berkumpul karena cemas.

Dante melangkah maju, namun bukan menuju ibu tiri nya, melainkan menatap gadis pelayan itu.

"Apa yang terjadi pada Rania?" tanya Dante, cepat.

Lina mendongak, air mata membanjiri wajahnya, sangat meyakinkan kalau semua ini bukan sandiwara.

"N-nona... Nona Rania terluka, Nyonya Diana mendorongnya semalam, Nona tidak mau saya melapor karena dia takut Duke akan semakin membencinya, Nona bilang lebih baik dia mati saja daripada terus disiksa..." jawab Lina, menangis pilu.

Deg

Wajah Duke Victor seketika memucat, sementara Dante mengepalkan tangannya kuat, rasa bersalah kembali mengerti kedua pria Belmont itu.

"Dia berbohong! Wanita sialan ini berbohong!" teriak Diana histeris.

"DIAM!"

Bentak Duke Victor menggelegar, membuat seluruh lorong membeku.

"Dante, bawa tabib ke paviliun Rania sekarang juga!" perintah Duke Victor, tegas.

"Jika aku melihat satu lagi luka di tubuh Rania, aku tidak akan segan-segan menghukum mu, seperti yang kamu lakukan pada Putri ku, aku akan menceraikan mu dan mengusir mu bersama Putri mu, dari kekaisaran ini tanpa membawa satu keping koin pun!" ucap Duke Victor, menatap tajam pada Dania.

"Victor... kamu... kamu membela anak itu?" Diana terpaku, syok melihat suaminya tidak mempercayai luka di wajahnya sendiri.

"Aku sudah melihat cukup banyak kemunafikan mu, Diana," ucap Victor dingin.

"Dante, wanita ini, aku akan menemui adik mu," lanjut Duke Victor melangkah pergi dengan terburu-buru, jantungnya berdegup kencang karena ketakutan, takut terjadi hal buruk pada Putri nya.

Sementara itu, di kamar nya, Rania sedang duduk tenang sambil menyeruput teh melati hangatnya, menunggu kedatangan ayah nya yang sedang panik itu dengan penuh kemenangan.

"Bagus, semuanya berjalan sesuai rencana," gumam Rania sambil meletakkan cangkir tehnya perlahan.

Tiba-tiba Rania mendengar suara langkah kaki yang sangat terburu-buru, seperti suara kuda yang sedang berlari, itu pasti Ayahnya, pikir Rania.

Dengan gerakan cepat, Rania menarik selimutnya sampai ke dada dan sengaja membiarkan rambutnya sedikit berantakan agar perban di dahinya terlihat jelas.

BRAK

Pintu kamar terbuka dengan sangat keras, Duke Victor masuk dengan napas tersengal-sengal, wajahnya yang biasanya dingin kini tampak sangat pucat.

"Rania! Kamu tidak apa-apa?" tanya Duke Victor, suaranya terdengar gemetar.

Rania berpura-pura terkejut, dia sedikit menjauhkan tubuhnya ke pojok ranjang seolah merasa terancam.

"A-Ayah? Kenapa Ayah di sini?" tanya Rania dengan suara kecil, matanya melirik ke arah dahi yang terbalut perban.

Duke Victor mendekat, tangannya ingin menyentuh dahi Rania, tapi dia mengurungkan niatnya karena takut menyakiti putrinya lagi.

"Lina bilang kamu terluka, apa Diana benar-benar mendorongmu semalam?" tanya Victor, matanya berkaca-kaca melihat bercak darah yang sedikit merembes di perban Rania.

Rania menundukkan kepalanya, jari-jemarinya memainkan pinggiran selimut.

"Itu... itu salah Rania, Ayah, Rania hanya ingin menyapa Ibu Diana dan meminta maaf jika Rania sudah membuat kesal, tapi sepertinya Ibu sedang tidak enak hati," jawab Rania pelan, terdengar sangat pasrah.

Mendengar itu, Duke Victor merasa hatinya seperti diremas-remas, anak ini disiksa, tapi dia masih menyalahkan dirinya sendiri dan meminta maaf.

"Dia bilang kamu mencoba membunuhnya, apa itu benar?" tanya Duke Victor lagi, kali ini nadanya lebih lembut.

Rania mendongak, menatap mata ayahnya dengan pandangan polos namun terlihat sedih.

"Bagaimana mungkin aku ingin membunuh Ibu Diana, Ayah tahu sendiri, bahkan pisau buah pun pelayan tidak pernah memberikannya padaku karena takut aku menggunakannya untuk mencelakai diri sendiri," ucap Rania dengan senyum getir.

"Wanita itu benar-benar sudah gila," desis Duke Victor pelan.

Tiba-tiba, Dante masuk ke dalam kamar bersama seorang tabib tua, wajah Dante terlihat sangat dingin, namun matanya terus menatap tajam ke arah dahi Rania.

"Tabib, periksa dia sekarang, jika ada luka sekecil apapun di tempat lain, katakan padaku," perintah Dante singkat dan tegas.

Tabib itu segera mendekat dan mulai memeriksa luka di dahi Rania, sementara Rania hanya diam, membiarkan tabib itu bekerja.

"Rania... kenapa kamu tidak melapor semalam? Kenapa harus menanggungnya sendiri?" tanya Dante, suaranya terdengar berat dan penuh penyesalan.

Rania menoleh ke arah kakaknya, dia bisa mendengar isi hati Dante melalui kemampuannya.

"Cih! Kenapa baru sekarang kalian perduli," batin Rania, geram.

“Rania, maafkan kakak, aku benar-benar kakak yang buruk,” batin Dante yang terdengar di telinga Rania.

Rania tersenyum tipis, senyum yang membuat orang yang melihatnya merasa sangat bersalah.

"Aku tidak mau merepotkan Kakak dan Ayah. Lagipula, bukankah selama ini memang seperti ini? Rania sudah terbiasa," jawab Rania santai, namun kata-katanya sangat menyayat hati.

Dante mengepalkan tangannya kuat, sampai kukunya memutih, dia merasa sangat bodoh karena selama bertahun-tahun ini dia justru ikut membenci adiknya sendiri.

"Ini tidak akan terjadi lagi, Rania. Aku berjanji padamu," ucap Dante dengan nada sungguh-sungguh.

Tabib itu selesai memeriksa dan membungkuk pada Duke Victor serta Dante.

"Duke, luka di dahi Nona Rania cukup dalam karena benturan benda tumpul. Beruntung tidak ada patah tulang, namun Nona membutuhkan istirahat total agar tidak pusing," lapor Tabib itu, sopan.

"Apa ada luka lain?" tanya Dante cepat.

"Ada bekas lebam di lengannya, sepertinya seseorang menariknya dengan paksa," ucap Tabib itu lagi.

1
°RhaiKen™
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ gak habis thinking kak aku sama Aron nii...
sehat selalu buat autor paling the best lah pokoknya 👏👏👏👏
miss blue 💙💙💙
kemana perginya monstee itu 😭😭😭🤣🤣🤣
Tiara Bella
Aron Aron yg lagi jatuh cinta bentar lg bucin akut...
miss blue 💙💙💙
lama lama nih sistem aku bungkus aja, biar nanti suruh gosip sama ruben onsu, kayaknya cocok 🤣🤣🤣
T1 T1n
untung aku belum tidur/Chuckle//Determined/
°RhaiKen™
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ ampun dah raja bucin mu sungguh mengesankan /Curse//Curse//Curse/
Tiara Bella
Aron keenakan tiap ada sesuatu pasti dicium sm Rania....
T1 T1n
kapan up lagi😭😭
°RhaiKen™
aaaa....so sweet deh.. bucin sudah pda waktunya nieee..🤣🤣
renjani
sistem sableng kayaknya dibuat sama leluhur Aron nih biar dia cepet nikah🤭🤣
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍😍
Milah Milah
Waah Kaisar Aron sudah menandai kepemilikannya, dan memanggilnya my Queen. Jadi meleleh thor... 🤭
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 rania malu malu meong🤭🤭
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Astiana 💕
baru kali ini sistem menyuruh tuan nya ke jurang kemesuman🤣🤣
beybi T.Halim
sistem nya romantis sekali😁 dikit2 peluk dikit2 cium wahhhh ,terbaik lah💝
kaylla salsabella
lanjut
Milah Milah
Sistem buatan othor emang keren abiz👍
Inah Ilham
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Pa Muhsid
ciee mak comblang sukses 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!