NovelToon NovelToon
Dunia Akan Hancur Lagi Dan Aku Sudah Pernah Mati

Dunia Akan Hancur Lagi Dan Aku Sudah Pernah Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Ruang Ajaib
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rizqi Handayani Mu'arifah

Aku sudah mati sekali di hari kiamat.

Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.

Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.

Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.

Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22 Reina lepas kendali level 2

Angin malam berhembus pelan di antara pepohonan.

Untuk pertama kalinya setelah pertarungan mereka mencoba bergerak lagi.

Tidak ada monster.

Tidak ada kabut.

Harusnya aman.

“Coba lagi, apa masih akan lepas kendali” kata Dandi sambil mengangkat tombaknya.

Reina berdiri di hadapannya, memutar pedangnya perlahan.

“Aku tahan. Kamu fokus ke kecepatan,” lanjut Dandi.

Reina mengangguk, kemudian dia maju. Gerakannya ringan, dan terukur.

CLANG!

Pedang dan tombak beradu.

Normal.

Sekali lagi.

CLANG!

Masih normal.

Lalu sepersekian detik, Dandi melihatnya.

Mata kiri Reina, berubah merah.

“Reina, berh—”

Terlambat.

Gerakan Reina tiba-tiba melonjak. Bukan lebih cepat.

Tapi terlalu cepat.

SHRAAAK!!

Serangannya menembus pertahanan Dandi, langsung menghantam perisainya dengan kekuatan yang tidak wajar.

DUAARR!!

Dandi terpental keras ke belakang.

Debu beterbangan.

“UGH—!” Dandi terbatuk, hampir kehilangan napas.

Reina… tidak berhenti.

Napasnya berubah.

Lebih berat.

Lebih liar.

Akar bayangan tipis mulai muncul di sekitar kakinya bukan nyata, tapi cukup untuk terlihat.

“Reina!” teriak Andri.

Perlahan… Reina mengangkat kepalanya. Menatap Dandi yang masih mencoba bangkit.

Tapi tatapannya bukan seperti melihat teman. Lebih seperti…

mangsa.

CLANG!!

Santo muncul di depannya, menahan tebasan berikutnya.

Bayangan di pedangnya langsung bereaksi, menahan energi gelap dari Reina.

“Kembali,” katanya pelan.

Reina menyerang lagi.

Lebih kuat.

CLANG!! CLANG!!

Santo mundur satu langkah.

Untuk pertama kalinya dia terlihat tertekan.

Melihat Reina lepas kendali dan bertarung dengan sesama tim membuat Prisma juga bergerak.

“Prisma!” teriak Andri.

“Saya tau!” Prisma langsung melompat masuk, menghantam tanah di antara mereka.

BOOOM!!

Gelombang energi memisahkan Reina dari Santo.

Dandi akhirnya bangkit, terengah. “dia gak bisa menahan diri”

Reina berdiri di tengah. Sendirian. Tubuhnya gemetar. Matanya setengah merah dan setengah normal.

“Pergi…” suaranya pelan.

Tapi bukan ke timnya.

Ke sesuatu di dalam dirinya.

Tiba-tiba dia memegang kepalanya. “Bukan sekarang…” gumamnya.

Napasnya tidak teratur. Bayangan di kakinya mulai naik. Akar-akar tipis mencoba mengambil alih lagi.

Melihat bayangan akar monster ingin mengambil alih tubuh Reina kembali, Andri mengangkat pistolnya.

DOORR!!!

bukan ke Reina.

Tapi ke tanah tepat di sampingnya.

DOR!

Ledakan kecil. Cukup untuk mengganggu fokusnya.

“FOKUS, REINA!” teriaknya. "KAMU MASIH DI SINI!”

Reina terdiam. Sepersekian detik, panjang.

Lalu dia menusukkan pedangnya sendiri ke tanah. Kedua tangannya mencengkeram gagang.

“INI… KENDALIKU…” teriak Reina geram.

Akar bayangan itu bergetar. Kemudian retak, dan memudar.

Setelah ledakan itu, Semua berhenti. Angin kembali terasa.

Reina berdiri… lalu perlahan berlutut.

Tidak ada yang langsung mendekat. Untuk pertama kalinya mereka ragu.

Dandi yang biasanya paling cepat membantu, hanya berdiri diam.

Prisma mengepalkan tangan.

“…kalau tadi gue telat sedikit…” Dia tidak melanjutkan.

“Kita gak bisa anggap ini hal kecil,” kata Andri dingin. “Ini bukan cuma efek samping.”

Dia menatap Reina. “Ini ancaman.”

Santo melangkah maju. Pelan.

“Dia lagi bertarung,” katanya. “Bukan sama musuh di luar, tapi di dalam.”

Dia menoleh ke yang lain. “Dan kita gak bisa bantu kalau dia sendiri gak mau menang.”

Reina akhirnya berdiri.

Pelan. Dia tidak membantah. Tidak marah. “…aku tau.”

Dia menatap mereka satu per satu. “Aku hampir nyerang kalian.”

“Kalau itu kejadian lagi?” tanya Andri, langsung tanpa basa-basi.

Reina tidak langsung jawab. Lalu “…kalau aku kehilangan kendali lagi…”

Dia menarik napas. “…jangan tahan aku.”

Dandi langsung bereaksi. “Gila? Itu bukan solusi—”

“ITU satu-satunya,” potong Reina nada suaranya tegas, bukan emosi tap keputusan.

Tidak ada yang setuju. Tapi…

tidak ada yang bisa menyangkal.

Prisma menunduk.

Dandi mengalihkan pandangan.

Andri diam, tapi matanya tetap waspada.

Santo, hanya menatap Reina.

Lebih dalam dari yang lain.

Di bawah tanah sesuatu yang kecil berdenyut sekali.

Dum.

Langit masih merah gelap. Sisa-sisa pertarungan dengan monster belum benar-benar hilang dari udara. Bau darah, daging busuk, dan energi aneh masih menempel di napas mereka.

Reina berdiri sedikit menjauh.

Tubuhnya sudah kembali stabil… tapi hanya di luar.

Di dalam, sesuatu bergerak.

“Dia berubah.”

Suara Andri dingin, tapi jelas.

Semua mata langsung tertuju pada Reina.

Prisma menggenggam palunya lebih erat.

“Apa maksudmu?”

Andri tidak langsung menjawab. Ia menatap Reina lama—seolah mencoba melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

“Aku sudah melihat ini sebelumnya,” katanya pelan.

“Orang yang terkontaminasi… tidak semuanya langsung jadi monster.”

Dandi langsung mengangkat perisainya. Refleks.

“Jangan asal bicara.”

Reina tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Tapi karena dia… sudah tahu.

“Jadi sekarang?” katanya lirih.

“Kalian mau bunuh aku sebelum aku berubah?”

Santo melangkah maju.

Aura gelapnya merayap pelan di tanah, seperti bayangan yang hidup.

“Kalau itu satu-satunya cara untuk memastikan kalian tetap hidup…” suaranya rendah, “…aku akan melakukannya.”

“Cukup!”

Prisma membentak.

Tanah di bawah kakinya retak.

“Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuhnya.”

Keheningan pecah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Ketidakpercayaan.

Andri menghela napas panjang. “Kita tidak punya waktu untuk perasaan.”

“Ini bukan soal perasaan!” bentak Prisma. “Ini soal tim!”

“Tim?” Andri menatapnya tajam. “Tim tidak bertahan hidup dengan emosi. Tim bertahan dengan keputusan kejam.”

Dandi melangkah di depan Reina. Perisainya tertancap ke tanah. “Kalau kalian ingin menyentuhnya,” katanya pelan,

“…lewati aku dulu.” sambungnya.

Santo tidak berhenti. Langkahnya tetap maju.

Pedangnya mulai diselimuti bayangan yang lebih pekat. “Aku tidak akan ragu.”

Reina menunduk. Tangannya sedikit gemetar.

Bukan karena takut. Tapi karena sesuatu di dalam dirinya merespons.

“Berhenti…”

Suara Reina berubah. Lebih dalam. Lebih asing.

Semua orang terdiam.

Perlahan, Reina mengangkat kepalanya.

Matanya… bukan lagi sepenuhnya miliknya. “Aku… masih bisa menahan ini…” Senyumnya tipis. Retak. “Tapi kalau kalian terus seperti ini…”

Energi gelap mulai bocor dari tubuhnya. Udara bergetar. “…aku tidak janji… siapa yang akan mati lebih dulu.”

Udara bergetar. Retakan halus menjalar di tanah, seolah dunia menahan napas.

Aura gelap dari tubuh Reina tidak lagi bocor, ia meledak keluar.

“Reina… berhenti…” Suara Prisma terdengar jauh. Terlalu jauh.

Detak jantung Reina menggema di telinganya sendiri.

Satu.

Dua.

Tiga

BOOM.!! Hancur.

Energi hitam menyembur dari punggungnya seperti sayap yang robek. Tanah di sekitarnya terangkat, serpihan batu melayang, lalu hancur jadi debu.

Matanya berubah. Bukan sekadar gelap tapi kosong.

Santo langsung bergerak.

Pedangnya dilapisi bayangan, menebas lurus ke arah Reina. “Kalau dia lepas kita semua bisa mati!”

CLANG!

Serangan itu ditahan.

Bukan dengan senjata. Dengan tangan kosong. Reina mengangkat kepala perlahan.

Senyumnya muncul tapi itu bukan senyumnya. “Lambat…” katanya.

Dalam satu gerakan, Santo terpental puluhan meter, menghantam reruntuhan.

“Ini bukan Reina!” teriak Dandi.

Perisainya terangkat, melindungi Prisma dan Andri dari gelombang tekanan yang terus membesar.

Andri mengangkat pistolnya. Tangan kirinya gemetar untuk pertama kalinya. “…kita sudah terlambat.”

Reina melangkah.

Satu langkah tanah runtuh.

Dua langkah udara terbelah.

Namun di dalam kegelapan itu, Reina masih ada.

“Ini… bukan aku…”

Suaranya bergema dari dalam, terdistorsi, seperti dua suara saling tumpang tindih.

Kilasan ingatan muncul.

Kematian.

Jeritan.

Darah.

Teman-temannya jatuh satu per satu.

“Kalau aku kalah sekarang…”

Tubuhnya bergerak liar, menyerang tanpa arah. Energi gelap menghantam segalanya hampir mengenai Dandi.

“…semuanya akan terulang lagi.”

Tangan Reina mencengkeram kepalanya sendiri.

Kuku-kukunya menusuk kulit.

Darahnya mengalir akibat kukunya.

“REINA!”

Suara Prisma memecah semuanya.

Untuk sesaat dunia seakan berhenti.

Reina melihat mereka.

Santo yang terluka.

Dandi yang masih berdiri di depannya.

Andri yang tetap membidik, tapi ragu.

Prisma yang tidak mundur sedikit pun.

Bukan ketakutan yang ia lihat.

Tapi pilihan.

“Percaya… atau bunuh aku…”

Aura gelap kembali melonjak lebih ganas dari sebelumnya.

Namun kali ini Reina tidak melawan dengan kekuatan.

Ia… menerima.

“Kalau kau bagian dari diriku…” bisiknya pelan, “…maka kau akan tunduk.”

Gelombang energi berbalik arah.

Bukan keluar tapi masuk.

Tubuh Reina bergetar hebat.

Retakan hitam menjalar di kulitnya, lalu perlahan… memudar.

BOOM!

Ledakan terakhir mengguncang area itu. Debu dan kegelapan menelan segalanya.

Saat semuanya mereda—

Reina berdiri.

Terengah.

Lemah.

Tapi… sadar.

Matanya kembali normal.

Hanya tersisa jejak bayangan tipis yang belum sepenuhnya hilang. “Aku… masih di sini…”

Hanya menyisakan keheningan.

Santo bangkit perlahan. Pedangnya masih terangkat tapi tidak lagi menyerang.

Andri menurunkan pistolnya. Untuk pertama kalinya tanpa argumen.

Dandi menarik napas panjang. Perisainya perlahan turun.

Prisma berjalan mendekat. Berhenti tepat di depan Reina.

Menatapnya lama. “…jangan lakukan itu lagi,” katanya pelan.

Reina tersenyum tipis.

Lelah.

Retak.

“Kalau aku bisa memilih…”

Matanya menatap langit merah. “…aku juga tidak mau.”

1
DRR_LOVE
Keren loh, wajib dibaca..
Ellasama
cari referensi Thor supaya tau dan bisa bikin novel yang bagus apalagi reader gak suka type karakter yang lemah apalagi untuk si fl
DRR_LOVE: tentu kak, terimakasih
total 1 replies
Ellasama
gak heran makin dikit yg kasih like
Ellasama
alah ternyata type fl menyek-menye please paling gak suka kalau karakter ny gitu, katanya terlahir kembali dan sudah pernah ngalamin gitu aja gak bisa ngatasin
DRR_LOVE: halo kak, maaf kalau tidak sesuai dengan pemikiran kakak ya.. karena murni hasil dari imajinasi 🙏🙏
total 1 replies
Ellasama
kukira ada zombie ny ternyata dewa-dewi alurnya,,,, agak aneh tp suka kalau ada space entah seterusnya kek mana/NosePick/
Ellasama
Dewi Sinta? film India kah,,,, ada ada aja ni author. pasti ni ada benang merahnya ni🤭
Anime aikō-kā
.
yang
semngat💪
DRR_LOVE: terimakasih suportnya kak😍💪🙏
total 1 replies
yang
hus sana pergi
yang
hmm
DRR_LOVE: halo kak, terimakasih sudah suport😍🙏
total 1 replies
Andira Rahmawati
lanjuttt trusss semangat💪💪💪
DRR_LOVE: terimakasih sudah support kak🙏😍
total 1 replies
Andira Rahmawati
hadir thorrr
DRR_LOVE: Terimakasih kak 😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!