NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: AUDIT BERDARAH DAN STRATEGI HATI

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Matahari baru saja menyembul di cakrawala Jakarta, namun di halaman belakang mansion Vipera yang luasnya setara dengan lapangan bola, lima puluh pria berbadan tegap sudah berdiri mematung. Udara pagi yang lembap terasa berat oleh ketegangan. Mereka semua mengenakan seragam hitam taktis, namun bagiku, mereka tak lebih dari sekelompok warga sipil yang diberi mainan berbahaya.

​Aku berdiri di atas podium beton, mengenakan kaus olahraga hitam dan celana pendek. Di sampingku, Marco tampak gelisah, sesekali melirik jam tangannya.

​"Tuan Muda Leo," bisik Marco. "Mereka adalah tim elit Vipera. Beberapa dari mereka adalah mantan tentara bayaran internasional. Mungkin... metode 'disiplin dasar' ini terlalu—"

​"Terlalu apa, Marco? Terlalu menghina harga diri mereka?" potongku tanpa menoleh. Suaraku datar, namun memiliki resonansi komando yang membuat Marco terdiam seketika. "Harga diri tidak akan menyelamatkan nyawa mereka saat peluru Baron menembus tengkorak karena mereka terlambat bereaksi nol koma lima detik."

​Aku melangkah ke tepi podium, menatap barisan pria di bawah sana. "Kalian menyebut diri kalian elit?" teriakku. Suara anak kecilku menggema, namun otoritas yang terkandung di dalamnya membuat beberapa penjaga di barisan depan bergidik. "Kemarin, aku mematikan seluruh sistem keamanan kalian hanya dengan sebuah tablet mainan. Jika aku adalah musuh, kalian semua sekarang hanyalah mayat yang membusuk di bawah lantai marmer ini!"

​Seorang pria besar dengan tato kalajengking di lehernya maju satu langkah. "Dengar, Bocah. Kami menghargai kecerdasanmu meretas komputer, tapi jangan coba-mencoba mengajari kami cara bertarung. Kami sudah mandi darah saat kau bahkan belum lahir."

​Aku tersenyum tipis. Seringai dingin yang dulu membuat para pemberontak di medan perang memilih untuk bunuh diri daripada ditangkap hidup-hidup oleh pasukanku.

​"Paman berbaju nomor 07," ucapku sambil menunjuknya. "Posisi berdirimu condong ke kaki kiri. Kau memiliki cedera lama di lutut kanan yang tidak pernah sembuh total. Dalam pertarungan jarak dekat, aku hanya butuh satu tendangan di titik saraf lututmu untuk membuatmu lumpuh selamanya. Kau ingin membuktikannya?"

​Pria itu tertegun, wajahnya memerah karena malu sekaligus ngeri. Bagaimana mungkin seorang bocah tahu tentang cedera rahasianya?

​"Mulai hari ini, klan Vipera tidak butuh otot besar. Kita butuh efisiensi logistik dan presisi taktis," aku melemparkan sebuah berkas fisik ke bawah. "Itu adalah jadwal latihan baru. Mulai dari latihan pernapasan untuk menstabilkan bidikan, hingga simulasi tempur dalam kegelapan total. Siapa pun yang gagal mencapai target dalam tiga hari... silakan angkat kaki dan cari pekerjaan sebagai penjaga toko kelontong."

​Aku berbalik, meninggalkan mereka yang masih terpaku dalam keheningan yang mencekam. Aku bisa merasakan tatapan benci sekaligus hormat yang mulai tumbuh. Bagus. Ketakutan adalah fondasi pertama dari kepatuhan, dan kepatuhan adalah kunci dari kemenangan.

​“Kak, kau terlalu galak. Detak jantung mereka bergejolak seperti sup yang mendidih,” suara Lea berdesir di benakku melalui Shadow Talk.

​“Disiplin adalah satu-satunya bahasa yang mereka pahami, Lea. Bagaimana dengan misimu di dalam?”

​“Sedang berjalan lancar. Papa sedang 'terjebak' di ruang makan bersama Mama. Aku sudah mengatur menu yang memicu memori dopamin mereka sebelas tahun lalu. Strategi nostalgia sedang bekerja,” balas Lea dengan nada ceria.

​Aku menghela napas, menatap layar tablet yang terhubung dengan satelit pribadiku. "Pastikan mereka tetap di sana. Aku mendeteksi ada anomali pada sensor perimeter luar. Sepertinya Baron mengirimkan 'salam perkenalan' lebih cepat dari dugaanku."

​POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)

​Ruang makan mansion Vipera pagi ini memiliki atmosfer yang sangat menarik untuk dibedah. Aroma kopi Mandailing kesukaan Papa dan nasi goreng bumbu rempah buatan Mama memenuhi ruangan. Sebagai mantan Profiler FBI, aku tahu bahwa lingkungan fisik adalah kunci untuk meruntuhkan pertahanan mental seseorang.

​Mama duduk di ujung meja, jemarinya memutar-mutar sendok dengan canggung. Sementara Papa, Damian Xavier, duduk di sisi lain sambil pura-pura membaca koran bisnis, padahal matanya terus melirik ke arah Mama setiap sepuluh detik sekali.

​Analisis: Damian sedang berada dalam fase 'Protective Obsession'. Dia ingin mendekat tapi takut ditolak. Qinanti berada dalam fase 'Hyper-vigilance'. Dia merasa tidak aman meski berada di tempat paling aman di dunia.

​"Susu cokelatnya enak sekali, Ma," ucapku memecah kesunyian yang mencekik itu. Aku memberikan senyum paling polos yang bisa kubentuk. "Papa, kenapa Papa tidak mencoba nasi gorengnya? Mama bilang, ini resep rahasia yang dulu sering Papa minta saat Papa masih... sering mengantar Mama pulang."

​Skak.

​Papa tersedak kopinya. Wajah sang Raja Mafia itu memerah hingga ke telinga. Sementara Mama langsung menunduk dalam, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.

​"Lea, jangan bicara sembarangan," bisik Mama lirih.

​"Aku tidak bicara sembarangan, Ma. Aku hanya mengobservasi data," balasku santai sambil mengunyah roti panggang. "Papa, menurut analisis profilku, jika Papa terus diam seperti patung batu, probabilitas Mama memaafkan Papa akan menurun sebesar 5% setiap harinya. Sangat tidak efisien, bukan?"

​Damian meletakkan korannya, menatapku dengan pandangan yang merupakan campuran antara gemas dan takjub. "Kau benar-benar tidak bisa membiarkan orang dewasa sarapan dengan tenang, ya?"

​"Orang dewasa seringkali terlalu rumit, Papa. Padahal solusinya sederhana," aku mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu yang cukup keras agar didengar keduanya. "Ajak Mama melihat galeri pribadi Papa di sayap utara sore ini. Ada lukisan 'The Silent Rose' yang Papa beli di lelang Paris tiga tahun lalu, kan? Itu lukisan favorit Mama, bukan?"

​Mama mendongak, matanya membelalak kaget. "Damian... kau membeli lukisan itu?"

​Papa berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh. "Hanya untuk investasi bisnis, Qin. Tidak ada alasan lain."

​Bohong. Aku melihat kedutan di otot pipi kirinya. Kebohongan tingkat tinggi untuk menutupi rasa bucin-nya yang akut.

​"Investasi bisnis dengan menaruhnya di ruangan yang suhunya diatur khusus agar catnya tidak rusak? Papa, itu namanya dedikasi romantis," ucapku sambil tertawa kecil.

​Tepat saat suasana mulai mencair, tablet Leo di atas meja makan berbunyi nyaring. Sebuah sinyal merah berkedip-kedip di layar.

​“Lea, target terdeteksi. Sektor empat. Tiga penyusup menggunakan setelan kamuflase termal. Mereka sudah melewati gerbang luar melalui jalur gorong-gorong,” suara Leo terdengar melalui protokol Shadow Talk.

​Senyumku menghilang seketika. Aku menoleh ke arah jendela besar yang menghadap ke arah taman.

​"Papa," ucapku, suaraku kini berubah menjadi nada dingin yang profesional. "Waktunya menunjukkan pada Mama bahwa Papa bisa menjadi perisai yang baik. Ada tamu tak diundang yang sedang mencoba masuk lewat jalur belakang."

​Damian berdiri seketika. Auranya berubah dalam sekejap—dari seorang ayah yang canggung menjadi predator yang siap menerkam. "Marco! Lockdown seluruh sayap utara! Bawa Qinanti ke ruang aman!"

​POV: DAMIAN XAVIER

​Aku tidak pernah merasa sehidup ini sekaligus sekhawatir ini dalam sebelas tahun terakhir. Aku menarik Qinanti ke arah lift tersembunyi di balik dinding perpustakaan, sementara Marco dan beberapa pengawal elit sudah bersiaga dengan senjata laras panjang.

​"Damian, apa yang terjadi?!" Qinanti bertanya dengan suara yang bergetar karena panik.

​"Hanya masalah kecil, Qin. Tetaplah di dalam ruang aman bersama Lea," jawabku tegas. Aku ingin mencium keningnya, tapi aku menahan diri. Belum saatnya.

​Aku berlari menuju ruang kendali utama, tempat Leo sudah duduk manis di kursi eksekutifnya. Di layar monitor besar, aku melihat pemandangan yang luar biasa: para pengawalku yang baru saja dipecat dan dididik ulang oleh Leo sejam yang lalu, kini bergerak dalam formasi yang sangat rapi.

​"Mereka menggunakan granat asap sensorik, Papa," ucap Leo tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. Jemarinya menari di atas keyboard. "Tapi mereka lupa kalau aku sudah mengganti sistem satelit dengan pelacak panas berbasis AI. Lihat."

​Di layar, tiga siluet merah terlihat sedang mengendap-endap di balik semak-semak. Mereka adalah profesional. Gerakannya sangat halus. Namun, yang membuatku terperangah adalah bagaimana para pengawalku mencegat mereka.

​Biasanya, orang-orangku akan langsung melepaskan tembakan membabi buta. Tapi di bawah instruksi Leo lewat earpiece, mereka bergerak mengepung dengan presisi militer. Dalam waktu kurang dari dua menit, ketiga penyusup itu sudah dilumpuhkan tanpa satu peluru pun ditembakkan.

​"Satu tertangkap hidup-hidup. Dua lainnya memicu kapsul sianida di gigi mereka," lapor Leo datar. "Amatir. Harusnya mereka tahu kalau klan Vipera tidak akan memberikan kematian yang semudah itu."

​Aku menatap putraku. Tingginya bahkan belum mencapai dadaku, tapi ia baru saja mengelola krisis keamanan klan mafia terbesar tanpa berkeringat sedikit pun.

​"Leo," panggilku.

​"Ya, Papa?"

​"Ajarkan aku cara menggunakan sistem itu," ucapku jujur.

​Leo menoleh, menatapku dengan mata abu-abunya yang dingin. "Boleh. Tapi sebagai gantinya, Papa harus memecat koki di mansion ini. Dia terlalu banyak memasukkan gula pada menu sarapan Mama tadi. Itu bisa meningkatkan risiko diabetes tipe dua dalam jangka panjang. Aku butuh Mama hidup seratus tahun lagi."

​Aku tertawa. Sebuah tawa yang melepaskan semua ketegangan di dadaku. "Deal. Apapun untuk Mamamu."

​Aku berjalan keluar menuju ruang aman, tempat Lea dan Qinanti berada. Saat pintu terbuka, aku melihat Lea sedang duduk di pangkuan Qinanti, membacakan sebuah buku cerita seolah-olah tidak ada badai yang baru saja terjadi di luar sana.

​Qinanti mendongak, matanya mencari kepastian di mataku. "Sudah selesai?"

​Aku mengangguk, berjalan mendekat dan memberanikan diri untuk mengusap rambutnya yang sedikit berantakan. "Sudah selesai. Kita aman sekarang."

​Lea melirikku sambil mengedipkan satu matanya. “Bagus, Papa. Poin kasih sayangmu naik 10%. Sekarang, lanjutkan kencan ke galeri seni itu. Aku sudah mengatur pencahayaan yang paling romantis di sana,” bisik Lea melalui Shadow Talk.

​Aku menarik napas panjang. Mengelola ribuan anggota mafia rasanya jauh lebih mudah daripada menghadapi tuntutan psikologis anak perempuanku sendiri.

​Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sebelas tahun, aku dan Qinanti berdiri di depan lukisan 'The Silent Rose' di galeri pribadiku. Keheningan di antara kami tidak lagi terasa canggung. Ada jembatan yang mulai terbangun, meskipun jembatan itu dibangun dengan strategi catur dari dua anak kecil kami.

​"Leo dan Lea..." Qinanti memulai, suaranya sangat lembut di tengah keremangan galeri. "Mereka bukan anak biasa, kan, Damian? Mereka seperti... pelindung yang dikirim dari langit."

​"Mereka adalah darah dagingmu dan darah dagingku, Qinanti," jawabku sambil berdiri di sampingnya, tangan kami nyaris bersentuhan. "Mereka adalah skakmat yang dikirim takdir agar aku berhenti menjadi bajingan dan mulai menjadi seorang pria yang pantas untukmu."

​Qinanti tersenyum kecil—senyuman tulus pertama yang ia berikan padaku sejak ia kembali. Dan di sudut ruangan yang gelap, aku tahu ada dua pasang mata kecil yang sedang mengamati kami dengan rasa puas yang tak terhingga.

​“Target terkunci, Kak. Hubungan emosional mereka telah mencapai tahap stabilisasi awal,” lapor Lea dalam kegelapan.

​“Bagus. Sekarang kita bisa fokus pada ancaman berikutnya. Baron sedang merencanakan serangan kedua di dermaga. Saatnya kita melakukan serangan balik, Lea,” balas Leo dingin.

​Papan catur ini baru saja memanas. Dan bagi musuh-musuh klan Xavier, neraka baru saja menyalakan apinya melalui tangan sepasang kembar yang paling berbahaya di dunia.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!