Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19# Maafkan mama
Karin dan Alya sudah sampai di butik sejak setengah jam yang lalu, Karin belum mulai fitting karena masih menunggu Aiden yang belum sampai. Justru Alya yang mencoba berbagai macam gaun, mumpung gratis dan nebeng sang kakak.
“Kak Aiden masih lama, mbak?” Alya tengah bergaya di depan cermin, dia mencoba sebuah gaun pesta berwarna blue sea. Dia miring ke kanan dan ke kiri bak seorang model.
“Katanya sebentar lagi,” Karin terus melihat kearah pintu masuk butik bridal, berharap Aiden segera datang. Sesungguhnya dirinya itu sedang gelisah.
Karin takut kalau Aiden tidak akan datang, dia takut ayah biologis dari janinnya tersebut ingkar dan memilih kabur. Hingga beberapa saat kemudian dia mendengar suara pintu berderit, dari sana masuk seorang pria dengan tubuh atletis yang cukup mempesona.
Senyum penuh kelegaan terbit dari kedua sudut bibir Karin, orang yang dia tunggu akhirnya datang.
Aiden menghampiri Karin dan Alya, napasnya ngos-ngosan. “Maaf terlambat,”
Alya menoleh. “Jangan bilang macet ya, kak! Template banget,” gerutu Alya di gelengi Aiden.
“Ketiduran. Aku tidak dengar panggilan telepon Karin dan juga alarmku,” jujur Aiden.
Lima kali tadi Karin melakukan panggilan telepon, namun tidak ada jawaban dari Aiden. Hingga dia memutuskan untuk berangkat ke butik bridal dengan Alya, itulah tadi yang menjadi alasan Karin merasa gelisah saat Aiden tidak kunjung datang.
“Lalu bagaimana kak Aiden akhirnya bisa bangun?” kepo Karin.
“Di bangunkan Sandi asisten om Harun. Dia lihat sudah jam dua tapi aku belum keluar ruangan, dia mencoba menelepon tapi tidak aku respon. Sandi langsung masuk ruangan untuk membangunkanku,” Aiden beruntung karena Sandi paham tentang semua jadwalnya seharian itu, karena sebab itulah Aiden terlambat datang sampai tiga puluh menit.
Aiden kemudian duduk di samping Karin, dia menyenggol bahu Karin menggunakan lengannya. Karin yang tadinya menatap kearah Alya yang sedang bertingkah centil di depan kaca menjadi terusik karena ulah Aiden, dia menoleh ke samping sambil mengerutkan dahinya.
“Marah?” lirih Aiden, Karin menggelang. “Marah kenapa?”
“Karena aku datang terlambat,”
“Bukan marah, tapi takut. Aku takut kamu tidak datang,”
Aiden tersenyum, dia membelai surai Karin. “Aku tidak akan kabur dari tanggung jawab, kamu tahu ke mana harus mencari diriku seandainya aku kabur. Bukan hanya om Andi tapi juga om Harun, mereka berdua pasti mencariku hingga lubang semut sekalipun. Terutama om Harun yang tidak akan membiarkan generasinya lari dari tanggung jawab,”
Karin mengangguk.
Aiden berdiri dari kursinya, dia mengulurkan tangan pada Karin. “Ayo! Kita pilih baju akad untuk besok,” ajak Aiden, Karin meraih uluran tangan Aiden.
Hari itu mereka mencoba beberapa gaun internasional dan juga baju nasional. Akhirnya keduanya sepakat menggunakan siger sunda untuk akad nikah sekaligus resepsi, Karin tidak menuntut lebih untuk acara pernikahannya dengan Aiden.
***
Malam yang di nantikan karin dan Aiden akhirnya tiba, Karin menggenggam tangan Alya dengan erat. Sedangkan Alya tak mampu menahan tawanya melihat betapa tegang dan groginya sang kakak.
“Yang ngucap akad kak Aiden, mbak. Bukan kamu, tegang amat. Harusnya kak Aiden yang tegang,” ledek Alya pada Karin.
“Semua orang yang sedang di posisi Karin pasti tegang, Alya. Nanti kamu rasakan sendiri saat menjelang akad nikahmu,” sahut mama Nirma karena karin tidak membalas ledekan sang adik, dia sudah cukup tegang untuk sekedar membalas candaan Alya.
Alya hanya nyengir kuda menanggapi sang mama, mama Nirma kemudian duduk di samping Karin. Dia mengusap lembut punggung putrinya tersebut, terlepas dari semua masalah yang terjadi tetap saja malam itu Karin akan lepas dari tanggung jawab mama dan papanya. Beberapa menit lagi statusnya sudah berganti menjadi istri, itu berarti papa Andi memindahkan tanggung jawab Karin beralih pada Aiden.
“Tarik napas lalu hembuskan! Sebentar lagi Aiden akan mengucapkan kalimat sakral yang akan mengubah hidupmu mulai malam ini, nak.” Mama Nirma memeluk Karin. “Maafkan mama karena membuatmu ikut menerima karma atas perbuatan mama pada kakakmu,” lanjutnya.
Karin mengurai pelukannya pada mama Nirma. “Tidak, ma. Mama jangan bilang sperti itu, ini semua bukan salah mama. Aku juga punya andil menyakiti mbak Rhea, jadi bukan salah mama sepenuhnya. Kita tidak bisa mengubah yang sudah terjadi tapi kita bisa memperbaikinya,”
Alya tersenyum melihat kedua orang yang dia sayangi tersebut mulai berubah, walaupun pada dasarnya Karin memang baik. Dia hanya butuh seseorang yang bisa membawa dan membantunya menjadi lebih baik dan Alya harap Aiden bisa melakukan hal tersebut.
“Itu suara kak Aiden mengucap kalimat akad,” ucap Alya membuat mama Nirma dan Karin sedikit gelagapan.
Mama Nirma langsung berdiri. “Kamu harus siap-siap, nak!” mama Nirma membantu Karin berdiri. “Mama duluan ke depan,” lanjutnya diangguki Karin dan Alya.
Karin bersiap untuk keluar menuju pelaminan, dia di bantu Alya yang menjadi pengiringnya. Setelah kalimat akad terucap dan pernikahan mereka dinyatakan sah, Alya membawa Karin menuju pelaminan.
“Jangan nangis sekarang, mbak! Gak lucu kalau kamu mewek,” bisik Alya.
“Harusnya ada mbak Rhea di sini,” balasnya lirih.
Alya mendengus. “Aku tebak anakmu nanti lahir terbucin-bucin sama kak Rhea,”
“Biarin.”
Alya menahan tawanya, tidak mungkin dia meledek sang kakak di saat seperti itu. Malam itu Karin terlihat cantik dengan siger sunda yang menghiasi kepalanya, dari atas pelaminan yang juga menjadi tempat akad sudah ada Aiden yang menatapnya kagum.
Papa Andi menepuk pundak Aiden. “Papa mohon jangan sakit dia, nak! Perlakukan istrimu dengan baik dan layak, pernikahan kalian mungkin memang terjadi karena suatu hal. Tapi papa punya harapan besar pada kalian berdua,”
Aiden mengangguk. “Aiden akan selalu berusaha menjadi suami dan ayah terbaik, pa. Aku tidak akan membiarkan anak-anakku kelak mengalami hal yang pernah aku alami,”
Aiden menatap Karin yang sudah ada di hadapannya, mulai malam itu mereka sudah berganti status sebagai suami istri. Intimate wedding yang seharusnya menjadi hari Rhea dan Rega kini menjadi acara milik Karin dan Aiden.
Semua tamu yang hadir rata-rata memang keluarga, papa Harun dan mama Indah juga sudah mengumumkan pada keluarga besarnya jika pernikahan Rega dan Rhea untuk saat itu di tunda karena Rega mengalami kecelakaan.
Acara tetap berlangsung namun yang menjadi mempelai adalah Aiden dan karin, Aiden dan keluarga Setyadarma tidak terlalu memperdulikan saat ada beberapa yang bertanya dan menggunjing. Baik dan buruk mereka akan tetap di bicarakan dan itulah kehidupan, papa Harun dan mama Indah sudah memberikan wejangan pada keponakannya tersebut sehari sebelumnya agar Aiden lebih baik diam dari pada menanggapi.