NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Kesunyian yang terasa aneh itu tiba-tiba runtuh saat angin tipis berembus dari arah Bukit Wengker. Hembusannya bukan membawa rasa segar, justru menyeret hawa lembap dengan bau kemenyan yang begitu pekat, sampai menusuk dan tertinggal di tenggorokan. Baju lusuh yang mereka pakai berkibar tidak wajar, seolah ada sesuatu yang tak kasatmata sedang mempermainkannya, menarik dan menggoyangkannya sesuka hati.

Wajah Nadi, Boyo, dan Jaya menegang di bawah sisa cahaya senja yang makin pudar. Di sela suara angin, muncul bisikan-bisikan yang saling bertumpuk, tak jelas asalnya. Suara itu seperti merayap, datang dari balik batang pohon maja, dari dalam semak, bahkan terasa begitu dekat seakan ada yang sengaja berbisik tepat di telinga mereka.

“Ba… bau menyan. Ada suara… itu suara apa, Nad?” tanya Boyo dengan napas terputus-putus. Tangannya yang menggenggam bambu gemetar hebat, tak lagi bisa ia kendalikan. Jaya yang paling kecil hanya memejamkan mata sekuat mungkin, tubuhnya kaku, bulu kuduknya meremang sejak aroma aneh itu muncul.

“Ah, kalian cuma kebawa takut saja!” sahut Nadi, mencoba terdengar tegas, walau suaranya sendiri serak dan goyah. Di dalam dadanya, rasa gentar mulai merayap tanpa bisa ia tahan. Ia tahu betul tidak ada kemenyan yang ia bawa, apalagi dibakar. Dan suara itu—bisikan yang diselingi tawa kecil seorang wanita dengan nada parau—terlalu jelas untuk sekadar dianggap khayalan.

Di tengah kepanikan yang mulai menguasai, Gandraka justru terdiam. Wajahnya tampak tenang, tapi di dalam hatinya muncul perasaan tidak enak yang perlahan membesar. Ia merasakan bambu di tangannya kini bergetar dengan cara yang berbeda, bukan lagi sekadar isyarat halus, melainkan seperti denyut sesuatu yang hidup—dingin, dan terasa lapar.

Saat itu juga Gandraka mengerti, ada yang keliru dengan apa yang mereka lakukan. Yang datang bukan sekadar makhluk usil yang biasa menampakkan diri pada anak-anak. Ada sesuatu yang jauh lebih tua, lebih dalam, dan jauh lebih berbahaya yang terus bergerak mendekat, tertarik oleh panggilan mereka, seolah ingin ikut masuk dan bermain dalam lingkaran yang mereka buat sendiri.

Bambu di tangan mereka mendadak tersentak hebat, seolah ada kekuatan raksasa yang mencoba menghunjamkannya ke dalam tanah. Tempurung kelapa yang menjadi kepala boneka itu perlahan-lahan mendongak, berputar patah-patah ke arah Nadi yang posisinya paling dekat.

​"Nad... lepas, Nad! Aku tidak kuat!" rintih Boyo. Telapak tangannya terasa panas membara, seolah memegang besi yang baru saja diangkat dari perapian.

​"Jangan lepas!" bentak Gandraka. Suaranya tidak lagi terdengar seperti suara anak-anak; nadanya rendah dan berwibawa, membelah kebisingan angin yang kian menderu. "Kalau kau lepas sekarang, dia akan mengikuti bayanganmu sampai ke dalam rumah!"

​Nadi ingin berteriak, tapi lidahnya terasa kelu. Di hadapannya, dari balik keremangan pohon maja yang tertutup kabut tipis, ia melihat sesuatu yang mustahil. Sebuah bayangan tinggi kurus dengan rambut menjuntai hingga ke tanah perlahan muncul. Sosok itu tidak berjalan, melainkan melayang mendekat dengan gerakan yang sangat halus, hampir tak bersuara.

​Bisikan-bisikan yang tadi simpang siur kini menyatu menjadi satu senandung parau yang menyayat hati. Sebuah nyanyian tentang anak-anak yang hilang dan liang lahat yang dingin.

​“Ojo diculke... aku pengen melu...” (Jangan dilepas... aku ingin ikut...)

​Suara itu terdengar tepat di tengkuk Nadi.

​Jaya mulai terisak, air matanya tumpah namun ia tetap memegang erat bambu itu sesuai perintah Gandraka. Sementara itu, Gandraka bisa merasakan Kitab di benaknya bergetar hebat, seolah-olah setiap huruf di dalamnya berontak ingin keluar untuk mengunci makhluk ini.

​"Dia sudah di sini," bisik Gandraka.

​Tiba-tiba, suhu di sekitar mereka anjlok drastis. Hawa dingin yang mematikan rasa mulai merambat dari kaki mereka, naik ke betis, terus menuju dada. Kabut yang menyelimuti kaki mereka berubah menjadi hitam pekat.

​Di atas tempurung kelapa itu, perlahan muncul sepasang tangan panjang dengan kuku-kuku hitam yang melengkung. Tangan itu tidak memegang bambu, melainkan perlahan-lahan merayap naik ke arah lengan Nadi yang sedang gemetar hebat.

​Nadi membelalak. Ia ingin lari, tapi kakinya seolah telah menyatu dengan tanah Mojorejo. Ia menatap Gandraka dengan pandangan memohon, namun yang ia lihat adalah sosok Gandraka yang diselimuti cahaya remang kebiruan, dengan mata yang menatap tajam ke arah kegelapan di belakang Nadi.

​"Gandraka... tolong..." desis Nadi nyaris tak terdengar.

​Gandraka mengencangkan genggamannya pada bambu. Ia tahu, jika ia menggunakan kekuatannya sekarang di depan teman-temannya, rahasia keluarganya akan terbongkar. Namun jika tidak, Nadi akan menjadi mangsa pertama bagi penghuni kolong Wengker ini.

Suasana di bawah pohon maja itu kini benar-benar mencekam. Langit sudah kehilangan sisa cahayanya, menyisakan kegelapan pekat yang hanya ditembus oleh sorot mata mereka yang ketakutan.

​Tangan hitam dengan kuku melengkung itu kini sudah menyentuh kulit lengan Nadi. Dinginnya luar biasa, seperti ditempelkan pada bongkahan es dari liang kubur. Nadi ingin menjerit, namun suaranya tertahan di kerongkongan, hanya menyisakan bunyi napas yang tersengal dan air mata yang mengalir deras.

​"Gandraka... sakit..." rintih Nadi. Lengan bajunya mulai tampak menghitam di titik sentuhan kuku makhluk itu.

​Gandraka memejamkan mata. Ia merasakan Kitab di benaknya mulai membuka lembaran yang berisi aksara-aksara kuno tentang pemutusan ikatan gaib. Ia tahu ini berisiko. Jika ia membacanya terlalu keras, Boyo dan Jaya akan mendengar sesuatu yang seharusnya tidak diketahui telinga manusia biasa.

​"Tutup mata kalian!" perintah Gandraka pelan namun penuh penekanan. "Tutup mata dan jangan pernah buka sampai aku bilang 'selesai'. Jangan dengarkan suara apa pun kecuali suaraku!"

​Boyo dan Jaya patuh. Mereka memejamkan mata rapat-rapat hingga kelopak mereka bergetar. Tinggal Nadi yang masih terbelalak, terpaku pada sosok tinggi di belakangnya yang kini mulai menampakkan wajah—wajah pucat tanpa mata dengan mulut yang menjahit sendiri.

​Gandraka kemudian meraih tangan Nadi yang gemetar, menumpuk genggamannya di atas tangan temannya itu pada bilah bambu. Ia mulai merapal mantra dalam hati, membiarkan energi dingin dari kitab itu mengalir melalui lengannya.

​“Sira teko ora diundang, sira bali ora diterke. Baliho marang panggonmu, muliho marang sepi...”

​Sekaligus, bambu itu bergetar hebat seperti ingin meledak. Suara lengkingan tinggi yang memekakkan telinga terdengar dari segala arah—suara tangisan bayi yang bercampur dengan tawa nenek tua. Angin berputar di sekeliling mereka, menerbangkan debu dan daun kering hingga membentuk pusaran kecil.

​Nadi merasakan tekanan di lengannya perlahan mengendur. Sosok di belakangnya itu mengeluarkan suara geraman rendah yang membuat bulu kuduk berdiri, seolah-olah ia merasa tidak rela buruannya dilepaskan.

​Tiba-tiba, bambu itu retak. Krak!

​"Tahan!" bentak Gandraka pada batinnya sendiri.

​Gandraka memaksakan sisa energinya. Ia menekan bambu itu kuat-kuat ke tanah. Tiba-tiba, aroma kemenyan yang tadi menyesakkan dada mendadak hilang, digantikan oleh bau tanah basah yang segar. Suasana menjadi sunyi senyap seketika. Bisikan-bisikan itu lenyap, dan hawa dingin yang menusuk tulang perlahan memudar.

​Gandraka menghela napas panjang, keringat dingin membasahi dahinya. "Buka mata kalian," ucapnya lirih.

​Boyo, Jaya, dan Nadi perlahan membuka mata. Sosok mengerikan itu sudah hilang. Bambu kuning di tangan mereka kini telah pecah menjadi dua, dan kain kafan yang melilitnya nampak hangus seperti bekas terbakar api.

​Nadi jatuh terduduk di tanah. Ia memandangi lengannya; ada bekas kebiruan berbentuk empat jari di sana, namun rasa sakitnya sudah hilang. Ia menatap Gandraka dengan pandangan yang sulit diartikan—takut, takjub, sekaligus berutang nyawa.

​"Ayo pulang," kata Gandraka sambil membuang sisa bambu yang patah. "Hari sudah benar-benar gelap. Orang tua kalian pasti mencari."

​Mereka bangkit tanpa bicara sepatah kata pun. Boyo dan Jaya berjalan cepat, hampir berlari, seolah-olah sesuatu masih mengintai di belakang mereka. Hanya Nadi yang berjalan tertatih di samping Gandraka.

​"Gandraka..." bisik Nadi saat mereka sudah mendekati batas desa. "Tadi itu... apa?"

​Gandraka menoleh, wajahnya kembali terlihat seperti bocah biasa di bawah cahaya obor rumah warga yang mulai dinyalakan. "Hanya permainan yang salah, Nadi. Jangan pernah dimainkan lagi."

​Nadi hanya bisa mengangguk lemah. Ia sadar, Gandraka bukan sekadar "bocah aneh" yang beruntung bisa mengusir wereng. Gandraka adalah sesuatu yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah ia bayangkan di desa Mojorejo ini.

ilustrasi

1
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg otorrrr
🆓🇵🇸 Jenahara
🔥🔥🔥
🆓🇵🇸 Jenahara
semakin seru 🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll...
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!