Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bukan air mata lagi yang keluar. Karena saking sakitnya, air mata itu seolah trauma untuk menampakan diri lagi. Alena malah tersenyum sengit, keputusan yang ia pilih semakin berdentum kuat dalam dadanya.
Alena bangkit. Dokumen sudah berada dalam pelukannya. Setelah mencium Delan, wanita cantik itu langsung keluar.
Mobil Fauzan sudah menunggu di depan. Pria itu membukakan pintu, Alena masuk dengan sikap hangatnya.
Fauzan kembali masuk, mobil mulai melaju kembali menuju Kabupaten Gunung Kidul. Untuk sejenak, keadaan mobil terasa senyap. Wajah Fauzan menahan luka dibalik kacamata kerjanya.
"Mas Dewan baru saja melangsungkan pernikahan dengan Tiyas, Mas Fauzan!" Alena menatap Adik Iparnya sekilas.
Fauzan cukup syok berat. Bahkan, ia sampai menghentikan mobilnya untuk sejenak. Menoleh Alena demi memastikan ekspresi Kakak Iparnya itu.
"Kamu tahu darimana, Alena?"
Alena mengeluarkan gawainya, mengotak atik pesan sejenak, lalu menyodorkannya pada Fauzan. "Ada nomor asing entah siapa yang mengirimkan siaran langsungnya."
Fauzan sampai geleng-geleng tak habis pikir dengan perbuatan hina Kakaknya itu. Alena kembali mengambil gawainya. Wajahnya tenang, tak ada lagi gurat kecewa atau luka di sana.
"Kamu tidak menangis lagi?"
Alena menoleh, bahkan memajukan sedikit wajahnya penuh ejekan. "Sudah nggak lagi, Dokter Fauzan!"
Fauzan tersenyum. Ingin rasanya ia merengkuh pundak kecil itu. Namun, hanya usapan kepala yang dapat Fauzan lakukan seperti dulu. "Kamu masih ingat dengan panggilan itu?"
"Kenapa tidak?!" balas Alena dengan santai. Senyumnya perlahan kembali membaik.
"Tolong batalkan keputusan gilamu itu, Alena! Biar saya yang bicara dengan Juragan Danu," Fauzan menatapnya penuh permohonan.
Alena hanya mampu menghela napas berat. Jika di bilang pilihan utama untuk membalaskan rasa sakit suaminya... Tentu tidak! Alena hanya memikirkan banyak nyawa yang berlindung dibalik kata 'Pekerja' saja. Dewantara pergi tanpa kejelasan. Meninggalkan banyak hutang.
"Kamu dapat menerima orang lain, kenapa tidak dengan saya? Padahal kenyataanya, jauh sebelum kamu menikah dengan Mas Dewan, kita pernah sedekat itu!"
Alena menoleh dengan lirikan konyol. Sikap tengilnya mulai kembali muncul. "Itu karena kita dulu sebatas pasien dan Dokter, Mas Fauzan!"
Fauzan meluruhkan bahunya. Menyandarkan punggungnya ke belakang. Mobil mulai melaju kembali.
"Kamu selalu menganggapnya seperti itu, Alena," ada nada keputusasaan saat menyebutkan itu. Fauzan rasa, perasaanya memang bertepuk sebelah tangan.
Alena menanggapinya dengan tawa cukup puas. Detik kemudian mobil itu kembali senyap. Ada bagian hancur yang tak dapat Fauzan ungkap sebagaimana orang normal disaat patah hati.
Mobil terus melaju, kini tibalah di...
Pengadilan Agama Gunung Kidul
Setelah menyerahkan semua data gugatan dan melalui mediasi personal untuk pengajuan gugatan tersendiri, Alena di arahkan untuk membayar tuntutan terlebih dulu.
"Baik, terimakasih, Ibu Alena. Untuk infomasi sidangnya, nanti pihak pengadilan akan memberitahukan melalui via chat pribadi. Mohon di tunggu!" Ucap sang Petugas.
Alena bangkit, merapikan sisa data-datanya. "Baik, permisi Pak...."
Fauzan sudah antusias menunggu di luar. Melihat Alena keluar sambil membawa buku Pengadilan, perasaan pria itu mulai agak ringan. Alena mengangkat buku tadi dengan senyum mengembang.
'Padahal kenyataanya kamu belum selesai nifas, tapi sudah harus di hantam beberapa masalah berat, Alena. Andai saja statusku bukan Iparmu... Aku sudah membawamu pergi sejak dulu,' Fauzan hanya mampu tersenyum, lalu mengajak Kakak Iparnya itu untuk keluar.
"Sudah jam 11. Kita makan siang dulu. Kamu tadi sudah siapkan Asi buat Delan 'kan?"
Alena mengangguk. "Aku bersyukur, satu minggu ini Asiku kembali lancar. Delan sudah jarang rewel lagi," katanya dengan senyum bahagia.
Fauzan kembali mengusap kepala Alena. Keduanya berjalan keluar dengan obrolan kecil. Namun disaat tiba di halaman parkir, baik Fauzan maupun Alena, di kejutkan dengan sebuah mobil yang menghadang jalan mereka.
Seorang pria dewasa mengenakan kemeja hitam di gulung, celana kain hitam. Sorot mata kuatnya. Kedua alis tebal. Rahang tegas itu. Alena sudah cukup hafal dengan aroma parfumnya saja.
Juragan Danu berjalan mendekat sambil melepas kacamatanya.
Fauzan sudah menatapnya penuh waspada. Sementara Alena tiba-tiba saja sudah memasang wajah cadas.
"Mau apa Anda kemari?" Fauzan lebih dulu membuka suara.
Juragan Danu tersenyum simpul penuh arti. Sementara tatapanya melekat kearah Alena. "Saya ingin menjemput calon Istri saya, Pak Fauzan!"
Alena bergidik ngeri mendengar suara serak itu. "Saya rasa, Pak Danu ada dimana-mana. Sengaja jadi penguntit, ya?"
Fauzan maju lebih dekat. Sorot matanya sangat tajam, irish matanya bak anak panah yang melesat pada kedua kornea Juragan Danu.
"Jaga ucapan Anda! Alena hanya terpaksa melakukan semua ini!"
Juragan Danu cukup tersenyum sinis. "Saya tidak memiliki urusan sama Anda, Dokter Fauzan! Urusan saya sama Alena. Ada beberapa problem pabrik yang harus kira bicarakan!" Danu melihat Alena seolah mengajaknya jalan. "Alena... Ayo!"
Sebelum melangkah, Alena cukup menarik napas berat. Menatap Fauzan sejenak. Tatapan itu seolah berkata: Jika semuanya akan baik-baik saja.
Barulah Alena melangkah lagi. Juragan Danu sudah membukakan pintu mobilnya. Sementara di tempatnya, Fauzan menatap itu penuh rasa geram. Namun selebihnya, ia tak dapat berkutik dibalik status Iparnya itu.
Mobil Juragan Danu sudah mulai melaju. Tidak ada obrolan apapun. Alena sejak tadi memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Sekali lagi Juragan Danu menatapnya sekilas. Wajahnya datar, tapi perasaan itu sulit terkontrol.
"Kamu tidak ingin bertanya, saya akan mengajakmu kemana?" Suara berat itu membuat Alena menoleh cukup malas.
"Dimana pun itu, saya harap Pak Danu dapat memahami... Jika saya masih memiliki bayi yang tak dapat di tinggal terlalu lama," cetusnya.
Juragan menoleh sekilas. "Kecil-kecil kamu juga galak ya ternyata. Saya cuma ingin menyerahkan perjanjian yang sudah saya ucapkan waktu itu. Kita mampir di resto terdekat."
"Terserah Pak Danu. Yang jelas, Anda harus memastikan saya pulang dalam keadaan kenyang! Saya ini menyusui!" Kecamnya kembali.
"Kamu pikir saya orang tidak mampu?! Jika pun kamu mau, saya dapat membuatkan satu resto mewah yang setiap harinya hanya menyediakan makanan untukmu!"
Setelah sekian purnama menyandang status pria belok, Juragan Danu juga tak tahu hatinya kini mulai melabuh pada Istrinya orang. Padahal, dari Perawan desa sampai Nyonya kota sering datang ke Pabrik hanya untuk sekedar kerja sama, ataupun mencari perhatian saja. Tapi nyatanya, sampai usia 38 tahun itu, Danu lebih memilih menyendiri.
"Buatkan saja! Saya ingin melihat Pak Danu bangkrut karena menghidupi saya nantinya," balas Alena menatap malas.
Danu malah tersenyum miring. "Saya tidak akan bangkrut, apalagi nanti sudah menikah denganmu! Kamu lupa? Doa seorang Istri yang membuat rejeki suaminya terus ada."
"Tapi saya hanya Istri Kontrak! Dan Pak Danu jangan lupakan itu!" balas telak Alena.
Di tengah perdebatan sengit itu, tiba-tiba gawai Danu berdering kencang. Tepat di tengah-tengah tempat duduknya dengan Alena.
Lisa?
Alena cukup menyipitkan mata. Namun, kerutan dahinya semakin ketara, karena Perjaka tua di sampingnya itu tak bereaksi apapun.
"Ani-ani Pak Danu telfon? Kenapa tidak di angkat?" tegur Alena.
Danu cukup tertawa sengit. "Bagaimana saya dapat menerima panggilan wanita lain... Di depan calon Istri saya sendiri!" tatapan sekilas itu membuat Alena cukup tersentak, reflek menarik tubuhnya sedikit menjauh.
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔