"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: PESAN DARI BALIK DINDING KACA
Sisa tawa kami karena ulah Coki si kucing gembul tadi pagi mendadak menguap saat tablet yang tadi dilempar Keano ke ujung kasur kembali berbunyi. Kali ini bunyinya bukan beep standar, tapi nada peringatan high-priority yang gue setel khusus untuk aktivitas ilegal di perimeter rumah lama keluarga Halim.
Gue langsung melepaskan pelukan Keano, merangkak cepat di atas kasur untuk menyambar tablet itu.
"Lia, ada apa?" Suara Keano berubah seketika. Sifat "Beruang Manja"-nya hilang, berganti menjadi singa yang siap menerkam. Dia melihat perubahan di wajah gue yang mendadak pucat.
"Ké... ini bukan soal rekening. Ini soal CCTV tersembunyi yang gue pasang di paviliun belakang rumah Papa Aldric," tangan gue gemetar saat jemari gue menari di atas layar, mencoba memperjelas gambar yang terpotong-potong.
Di layar itu, terlihat siluet beberapa pria berpakaian hitam masuk ke paviliun tempat Ibu Mirelle selama ini dikurung oleh Aldric dengan dalih "perawatan medis". Sejak Aldric masuk penjara, gue memang belum sempat memindahkan Ibu karena masalah birokrasi dan kondisi kesehatannya yang sangat kritis. Gue pikir, dengan Aldric di sel, Ibu akan aman di sana sementara waktu. Gue salah.
"Itu orang-orang Shania," desis gue. "Gue kenal tato di leher salah satu dari mereka. Itu tentara bayaran yang dulu sering dipakai Aldric buat kerjaan kotor."
Keano langsung berdiri, menyambar kaosnya dan memakainya dalam satu gerakan cepat. "Evan! Siapkan mobil dan tim Alpha. Kita ke kediaman Halim sekarang!" teriaknya melalui interkom kamar.
"Ké, mereka bawa tandu," suara gue tercekat. "Mereka mau bawa Ibu. Shania tahu kalau Ibu adalah pemegang kunci terakhir dari sisa aset yang nggak bisa gue tembus. Dia mau jadiin Ibu sandera buat nuker semua akses keuangan yang gue blokir."
Gue nggak nunggu Keano lagi. Gue lari ke ruang ganti, melepas piyama dan memakai celana taktis serta jaket kulit kebanggaan gue. Persetan dengan hari libur. Persetan dengan nasi goreng gila. Kalau ada yang berani nyentuh satu rambut pun dari Ibu Mirelle, gue bakal pastiin mereka nggak akan punya hari esok.
Kediaman Halim – New Ardent, 10:45 WIB
Mobil SUV hitam kami menghantam gerbang kediaman Halim yang biasanya dijaga ketat, tapi sekarang tampak lengang secara mencurigakan. Keano keluar lebih dulu dengan pistol di tangan, gerakannya taktis dan dingin. Gue mengikuti dari belakang, memegang tablet untuk mematikan semua sistem keamanan rumah itu agar orang-orang Shania terjebak di dalam.
"Evan, kepung paviliun belakang. Jangan biarkan ada satu tikus pun yang lolos!" perintah Keano.
Kami berlari menembus taman yang tak terurus. Begitu sampai di depan paviliun, bau obat-obatan yang menyengat menusuk hidung. Pintu paviliun sudah terbuka lebar.
DOR! DOR!
Dua tembakan peringatan dari arah dalam membuat kami merunduk di balik pilar.
"BERHENTI DI SANA, WINCHESTER! ATAU WANITA TUA INI MATI SEKARANG!" teriakan melengking itu milik Shania.
Gue mengintip dari balik pilar. Shania berdiri di sana, penampilannya berantakan, matanya merah penuh kegilaan. Di depannya, ada Ibu Mirelle yang duduk di kursi roda, tampak sangat rapuh dengan selang oksigen yang masih menempel. Seorang pria berbadan besar menodongkan senjata tepat di pelipis Ibu.
"Shania, lepasin Ibu!" teriak gue. Emosi gue meluap, tapi gue tahu gue harus tetap tenang. "Lo udah kalah. Aldric di penjara, lo nggak punya apa-apa lagi. Mau lo apa?!"
"GUE NGGAK PUNYA APA-APA KARENA LO, ALZENA! ATAU SIAPA PUN JIWA SETAN YANG ADA DI TUBUH ADIK GUE INI!" Shania tertawa histeris. "Gue tahu Ibu masih simpan kode enkripsi fisik buat brankas bawah tanah di Swiss. Kasih gue akses ke semua rekening itu, atau lo liat ibu tercinta lo ini tewas di depan mata lo!"
Keano melangkah maju perlahan, tangannya tetap siaga. "Shania, dengarkan aku. Lepaskan Nyonya Mirelle. Aku bisa kasih kamu uang tunai dan jalur aman keluar dari New Ardent. Tapi kalau kamu tarik pelatuk itu, tidak akan ada tempat di bumi ini yang cukup jauh untuk kamu bersembunyi dari Winchester."
"Gue nggak butuh jalur aman! Gue butuh kekuasaan gue balik!" Shania makin histeris. "Alzena! Buka sistemnya sekarang!"
Gue menatap Ibu Mirelle. Mata Ibu yang sayu itu menatap gue. Ada sebuah binar pengenalan di sana. Ibu tahu... Ibu tahu kalau yang berdiri di depannya bukan Alzena yang lemah, tapi Arcelia, anak yang dulu dibuang. Ibu menggerakkan bibirnya tanpa suara.
“Lari... Arcelia...”
Hati gue hancur berkeping-keping. Di saat maut di depan matanya, Ibu masih memikirkan gue.
"Oke, Shania. Oke... gue buka," suara gue bergetar. Gue mengangkat tablet gue. "Gue lagi masuk ke server Swiss. Tapi ini butuh waktu dua menit buat bypass enkripsi dua arah. Jangan bergerak."
Jemari gue bergerak secepat kilat. Tapi gue bukan lagi buka rekening. Gue lagi meretas sistem oksigen dan sprinkler otomatis di paviliun itu. Gue butuh pengalihan.
"Ké... di hitungan ketiga," bisik gue lewat mic kecil di kerah jaket.
Satu... (Gue mengirim perintah ke sistem sprinkler).
Dua... (Gue mengunci semua pintu keluar).
Tiga!
PSSSSHHHHHH!
Air dari sprinkler menyembur deras, membuat ruangan mendadak kacau dan pandangan kabur. Di saat yang sama, gue mematikan aliran listrik total. Ruangan jadi gelap gulita.
DOR!
Satu tembakan terdengar. Jantung gue hampir copot.
"IBU!" teriak gue.
Keano bergerak secepat kilat dalam kegelapan. Dengan bantuan kacamata night vision-nya, dia menerjang pria yang memegang senjata tadi. Gue berlari menembus air, mengabaikan Shania yang berteriak-teriak marah.
Gue sampai di samping kursi roda Ibu. Gue langsung memeluk tubuhnya yang dingin dan basah karena air sprinkler.
"Ibu... Ibu nggak apa-apa?" suara gue pecah.
Ibu Mirelle terbatuk, tangannya yang kurus memegang lengan jaket gue. "Kamu... Arcelia... anakku..."
Di sisi lain ruangan, terdengar suara perkelahian fisik yang brutal. Keano menghajar pria bayaran itu tanpa ampun. Sementara itu, Shania mencoba lari, tapi dia terpeleset di lantai yang licin dan langsung diringkus oleh Evan yang baru saja mendobrak masuk.
"BAWA IBU KE RUMAH SAKIT SEKARANG!" perintah Keano.
Keano menghampiri gue, dia melihat gue yang mendekap Ibu sambil menangis. Dia berlutut, menyelimuti Ibu dengan jaketnya yang kering. "Lia, tenang. Ibu selamat. Tembakan tadi meleset ke arah dinding."
Rumah Sakit New Ardent – 14:00 WIB
Koridor rumah sakit itu sunyi. Ibu Mirelle sedang dalam penanganan intensif untuk menstabilkan kondisinya setelah syok tadi. Shania sudah dibawa polisi, dan kali ini, gue pastikan dia nggak akan pernah bisa keluar lagi dengan tuduhan percobaan pembunuhan dan penculikan.
Gue duduk di kursi tunggu, baju gue masih agak basah. Keano duduk di samping gue, memberikan segelas cokelat hangat.
"Lia, maafkan aku. Aku seharusnya memperketat penjagaan di sana lebih awal," kata Keano, suaranya penuh penyesalan.
Gue menyenderkan kepala di bahunya. "Bukan salah lo, Ké. Shania emang udah gila. Tapi sekarang gue sadar... selama Ibu masih ada di New Ardent, dia nggak akan pernah bener-bener aman. Sisa-sisa pengikut Aldric akan terus mengincar dia."
Keano mengusap rambut gue. "Kita akan pindahkan Ibu ke kediaman Winchester di New Ardent. Tempat itu punya fasilitas medis terbaik dan penjagaan paling ketat. Tidak akan ada yang bisa menyentuh Ibu lagi."
Gue menatap Keano. "Ké, tadi Ibu manggil gue 'Arcelia'. Dia tahu, Ké. Dia tahu kalau gue bukan Alzena."
Keano tersenyum tipis, mencium kening gue. "Seorang ibu selalu tahu jiwa anaknya, Lia. Tak peduli dalam tubuh mana pun kamu berada."
Konflik dengan Shania mungkin sudah berakhir, tapi kehadiran Ibu Mirelle yang kini sepenuhnya ada di pihak kami akan membongkar rahasia terakhir keluarga Halim yang belum gue ketahui. Rahasia yang selama ini Shania incar habis-habisan.
"Lia," panggil Keano pelan.
"Ya?"
"Liburan kita gagal total ya?"
Gue tertawa pahit. "Iya. Beruang gue gagal hibernasi gara-gara ulet keket dan kakaknya yang gila."
"Nanti kita ganti. Tapi sekarang, fokus ke kesehatan Ibu dulu," Keano menggenggam tangan gue erat.
Di balik pintu ruang ICU, Ibu Mirelle adalah harapan terakhir gue untuk menemukan kedamaian sejati sebagai Arcelia. Dan gue bersumpah, siapa pun yang mencoba mengganggu kesembuhan Ibu, mereka akan menghadapi sisi paling iblis dari seorang Arcelia Mirelle Winchester.
...****************...
TBC
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘