Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 - Teman Baru
Siang selepas pertemuannya dengan Duke Elzarr, Avara kembali dihadapkan dengan seorang iblis asing. Kali ini iblis laki-laki muda yang tersenyum demikian cerah, menyilaukan ruang arsip yang diisi orang-orang yang lebih terbiasa dengan temaram. Dia memperkenalkan diri sebagai Australe, pegawai kantor wilayah yang mendapat kehormatan untuk dimutasi ke istana.
"Kau tidak datang untuk mengancamku?" tanya Avara separuh bercanda.
Australe mengerjap dengan dramatis. "Anda justru alasan utama saya untuk datang ke sini."
Itu sudah cukup untuk mencuri perhatian trio Oxron, Fulton, dan Gaiyus.
"Mulai hari ini dia akan bergabung dengan kalian," ujar Oriole yang membawa masuk Australe.
"Tapi ruangan ini sudah sangat sempit untuk menampung tambahan satu orang lagi," keluh Oxron pada Oriole, disetujui Fulton dan Gaiyus.
Oriole mengangkat alis, seolah baru mengingat satu hal penting. "Oh, aku belum memberitahu kalian? Kalian bertiga akan ditempatkan di ruangan baru yang lebih luas bersama para pegawai magang. Australe termasuk salah satunya."
Sorak-sorai seketika pecah di ruang arsip yang biasa hening itu, membuat Avara tertawa dan bertepuk tangan. Namun ada satu orang yang tidak sepakat, membungkam kegaduhan pendek mereka.
"Saya ingin satu ruangan dengan penyihir arsip."
Semua mata memandang Australe.
"Saya ingin lebih banyak belajar padanya. Saya mohon!"
Oriole bergantian menatap Australe dan Avara, bimbang memutuskan hal di luar kuasanya.
...****************...
"Jadi kau membiarkan iblis baru itu seruang dengan Avara?" tanya Fulqentius.
"Avara sendiri menyetujuinya, Your Majesty. Dia ingin mengajari sendiri si iblis baru dasar-dasar administrasi."
Fulqentius mendengus. "Kau yakin dia tidak akan mengganggu?"
Oriole bergeming. Fulqentius menghela napas.
...****************...
Avara dibantu Australe mengatur tata letak meja mereka di dalam ruang arsip, menyusunnya sedemikian rupa hingga si iblis muda berbinar-binar. Mejanya diletakkan di muka pintu, menjadikannya orang pertama yang akan tahu siapa tamu yang datang, membuatnya merasa memiliki andil besar dalam pekerjaan sehari-hari. Avara menahan diri untuk tidak mengatakan bahwa sangat sedikit orang yang datang bertamu ke ruang arsip.
Setelah menata semua hal yang patut mereka tata, Avara mulai menjelaskan pekerjaan bagian administrasi di kerajaan, terutama di istana, dari laporan tertulis hingga penggunaan kristal sihir dan sistem database. Pelan-pelan, dia mengutarakan tugas mereka, dari harian hingga bulanan, dari yang mudah ke yang rumit, semuanya sesuai prioritas kerja yang selama ini dia anut.
Australe jelas terlihat bingung, tapi dia begitu vokal menyuarakan apapun yang tidak dia mengerti, membantu Avara untuk memahami di bagian mana dia harus lebih banyak memberikan penjelasan.
"Anda membuat banyak program ini sejak datang ke sini?"
"Bukan cuma aku, tapi seluruh tim," elak Avara. "Omong-omong, jangan terlalu kaku saat bicara denganku. Santai saja, karena mulai hari ini kita rekan kerja."
Semburat malu terbit di pipi Australe. "Kalau begitu bisakah aku memanggilmu Kakak?"
Avara melongo.
"Kak admin?" Australe tersenyum.
Sudah sangat lama rasanya Avara tidak mendapat panggilan semacam itu, tapi sejujurnya hal ini sudah melebihi apa yang awalnya dia maksudkan. Meski begitu Avara tetap mengangguk, "Boleh." Dan membiarkan si iblis muda merasa senang.
"Aku akan bekerja keras, Kak. Mohon bantuannya, ya."
Mungkin memperoleh tenaga baru yang lebih 'segar' ada gunanya. Avara merasa lebih bersemangat.
...****************...
Petangnya, Avara dan Australe menengok ruang baru Oxron, Fulton, dan Gaiyus yang lebih luas, yang sebenarnya hanya berjarak beberapa langkah dari ruang arsip. Menurut penuturan Oxron, ke depannya akan dilakukan perekrutan iblis-iblis yang memahami magitech seperti mereka dan ditempatkan di ruang itu. Mereka jelas bertugas untuk mengamankan kinerja kristal sihir utama dan memastikan tidak adanya galat dalam kehidupan kantor istana sehari-hari.
Avara semakin yakin menyebut mereka tim IT.
"Australe, kau sudah mulai terbiasa bekerja bersama Avara?"
Si iblis muda mengangguk malu-malu. "Kak admin sudah mengajari saya banyak hal."
Fulton dan Oxron berpandangan. Kak admin?
Gaiyus menimbrung. "Kalau ada hal yang belum kau mengerti, jangan sungkan untuk bertanya pada kami atau kakak admin, ya."
Avara mengibaskan tangan, menghentikan lelucon mereka sebelum dimulai.
Australe kembali mengangguk. Dia iblis muda polos yang energik dan ceria, agaknya mengusiknya menjadi penghiburan baru bagi para iblis lain yang telah lebih dulu lelah menghadapi tuntutan pekerjaan.
"Bagaimana kalau kita makan-makan di kedai di luar istana?" ajak Avara. "Anggap saja pesta penyambutan Australe dan peresmian ruang baru tim kita."
"Ide bagus!"
"Sepakat!"
Avara mengarahkan kakinya ke ruang kerja Fulqentius. "Aku akan pamit dulu pada raja iblis. Sekalian mengajaknya kalau dia mau."
...****************...
"Makan-makan?"
Avara mengangguk bersemangat. "Ini bisa menjadi ajang untuk mempererat ikatan antar anggota tim. Jika Anda berkenan, bagaimana kalau bergabung bersama kami malam ini?"
Fulqentius melirik berkas-berkas yang harus dia selesaikan hari itu; tinggal sedikit. Berkat artefak pena sihir yang diberikan padanya, dia bisa bekerja lebih cepat dari sebelumnya. Tapi jika dia ikut acara itu, akan timbul keseganan dan ketidaknyamanan berlebihan di antara para iblis. Jadi Fulqentius menolak.
"Baiklah, mungkin lain kali kita bisa makan bersama," ujar Avara sungguh-sungguh. "Mohon jangan bekerja sampai terlalu larut malam."
Sepeninggal Avara, Fulqentius memandang pena sihir dalam genggamannya, merasakan ketulusan Avara dan bawahannya terhadapnya yang entah sampai kapan begitu kikuk jika dihadapkan dengan urusan birokrasi.
Pada akhirnya, Fulqentius hanya mampu melihat bulan dari jendela terbuka ruang kerjanya, sendiri dan kesepian.
...****************...
Avara memandang bulan yang seolah mengikuti setiap langkah kakinya, terpesona oleh warna peraknya yang lembut dan sikap malu-malunya di balik awan.
Fulton dan Gaiyus ramai membahas kedai makan tujuan mereka, sementara Oxron bercakap-cakap dengan Australe yang tidak lagi rikuh di sekitar mereka. Sekian jarak di belakang ada Avara, tertinggal karena langkah kaki para iblis cenderung panjang dan sulit disamai.
Pikirannya pecah pada Fulqentius yang tidak dapat bergabung dengan mereka dan pada kehidupannya di dunia asal, di mana dirinya kadang pergi untuk makan bersama rekan-rekan kerjanya, pada malam-malam mereka pulang kerja atau saat lembur di akhir bulan. Avara mendapati perasaan rindu, yang entah pada hal pertama atau kedua.
"Kak!" panggil Australe yang berhenti untuk menunggunya.
Avara tersenyum, melambaikan tangan.