NovelToon NovelToon
Tuan Muda Harta Langit

Tuan Muda Harta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:96.4k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyegarkan Suasana

Lan Suya dan Gao Rui telah duduk di meja makan. Pelayan dengan tangan gemetar mulai menyusun hidangan di atas meja. Teh hangat, beberapa piring daging, dan makanan ringan khas penginapan itu. Namun tidak ada satu pun yang benar-benar memperhatikan makanan tersebut. Aura yang tersisa di ruangan itu masih terlalu berat.

Lan Suya menyandarkan punggungnya perlahan, lalu melirik ke arah Bai Kai dan Rou Xi yang masih berdiri di belakang.

“Duduk.”

Satu kata. Tenang. Tidak tinggi. Namun jelas perintah. Bai Kai dan Rou Xi langsung memberi hormat ringan.

“Iya, Nyonya.”

Keduanya kemudian duduk di sisi meja. Walaupun status mereka adalah pengawal, posisi mereka di dalam Harta Langit jelas tidak biasa. Mereka adalah orang-orang yang telah mengikuti Lan Suya sejak awal pembentukan kelompok itu. Para pendekar kuat yang tidak hanya dihormati, tetapi juga ditakuti oleh banyak pihak. Di meja itu… mereka bukan sekadar bawahan. Mereka adalah pilar.

Kini… hanya tersisa satu orang yang masih berdiri, Ji Un. Ia berdiri kaku beberapa langkah dari meja, kepala sedikit menunduk. Tangannya terasa dingin. Ia tidak berani bergerak… apalagi duduk. Ia tahu posisinya. Ia belum diizinkan.

Tatapan Lan Suya perlahan beralih ke arahnya. Beberapa detik… tidak ada suara. Lalu helaan napas panjang keluar dari bibir Lan Suya.

“…duduk.”

Nada suaranya sedikit melembut. Bukan karena ia tidak marah… tetapi karena ia menahan diri.

“Tidak perlu membuat orang luar berpikir Harta Langit memperlakukan kepala tokonya seperti itu.”

Kalimat itu sederhana… namun maknanya jelas. Ji Un tersentak.

“I-iya, Nyonya!”

Ia segera bergerak cepat dan duduk di ujung meja. Namun posisinya kaku. Punggungnya tegak, tangannya diletakkan di atas lutut. Ia bahkan tidak berani menyentuh makanan di depannya.

Suasana kembali hening. Tidak ada yang berbicara. Ji Un bahkan tidak berani mengangkat kepala.

Lan Suya menatapnya beberapa saat. Tatapannya tidak lagi meledak-ledak… namun justru jauh lebih menekan. Akhirnya ia berkata lagi...

“Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir.”

Suara itu datar. Tidak keras. Namun setiap kata terasa seperti palu yang menghantam. Tubuh Ji Un langsung menegang.

Lan Suya melanjutkan.

“Kejadian seperti hari ini… tidak akan kutoleransi lagi.”

Ia tidak meninggikan suara. Tidak menunjukkan emosi berlebih. Namun justru itu yang membuat kata-katanya terasa lebih dingin.

“Jika kau tidak bisa memperbaiki dirimu…”

Tatapannya menajam.

“...aku akan memecatmu.”

Kalimat itu jatuh tanpa ragu. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Ji Un langsung bangkit setengah berdiri dari kursinya.

“Nyonya! Saya....”

Suaranya gemetar.

“Saya minta maaf! Ini sepenuhnya kesalahan saya!” katanya cepat. “Saya akan memperbaiki semuanya! Saya bersumpah tidak akan mengulanginya lagi!”

Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Nafasnya tidak teratur.

Lan Suya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya… beberapa detik. Lalu.....

“Andaikan Rui’er tidak ada di sini hari ini…”

Suaranya pelan. Namun jelas.

“…kau sudah habis.”

Ji Un membeku. Kalimat itu… bukan ancaman kosong. Ia tahu betul.

Kalau bukan karena Gao Rui yang mengungkap semuanya sebelum transaksi terjadi… maka kesalahan itu akan benar-benar terjadi. Dan dampaknya… bisa menghancurkan reputasi Harta Langit di kota ini.

Tubuh Ji Un gemetar. Ia langsung menoleh ke arah Gao Rui, lalu membungkuk dalam-dalam dari posisi duduknya.

“Terima kasih, Tuan Muda!” ucapnya dengan suara penuh rasa takut sekaligus syukur. “Jika bukan karena Anda… saya…”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Namun semua orang di meja itu mengerti.

Gao Rui hanya melirik sekilas, lalu mengambil cangkir tehnya.

“Lain kali… lebih hati-hati saja,” katanya santai, seolah hal besar tadi hanyalah kejadian kecil.

Ia meniup permukaan teh itu pelan. Sikapnya… benar-benar kontras dengan ketegangan di meja itu.

Bai Kai dan Rou Xi diam-diam saling melirik lagi. Semakin lama mereka mengamati… semakin jelas satu hal di benak mereka. Bocah ini… bukan sekadar “Tuan Muda” biasa.

Akhirnya… tanpa ada yang memulai secara resmi, satu per satu tangan mulai bergerak setelah Lan Suya mengambil makanan yang ada di meja.  Orang-orang di meja itu mulai memakan makanan yang telah tersaji.

Suara sendok dan sumpit yang bersentuhan dengan piring terdengar pelan, menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Namun suasana masih terasa dingin. Tidak ada percakapan ringan. Bahkan Ji Un makan dengan gerakan kaku, seolah takut membuat kesalahan sekecil apa pun.

Lan Suya sendiri makan dengan tenang, elegan seperti biasa. Bai Kai dan Rou Xi juga tidak banyak bicara, hanya sesekali melirik ke arah Gao Rui.

Beberapa saat berlalu seperti itu… hingga akhirnya Gao Rui menghela napas kecil. Ia jelas tidak terlalu menyukai suasana seperti ini.

“Bibi,” katanya santai sambil meletakkan sumpitnya, “besok kita lanjut perjalanan lagi?”

Pertanyaan itu terdengar ringan, namun cukup untuk memecah keheningan. Semua orang tanpa sadar melirik ke arah Lan Suya. Wanita itu mengangkat pandangannya sedikit, lalu menggeleng pelan.

“Belum.”

Jawabannya singkat.

“Kita akan tinggal di kota ini beberapa hari lagi.”

Gao Rui sedikit terkejut.

“Beberapa hari?” ulangnya.

Lan Suya menyesap tehnya sebelum melanjutkan.

“Besok malam… ada acara ulang tahun seorang kenalan lama,” katanya. “Seseorang dari keluarga Shou.”

Nada suaranya tetap tenang, namun Bai Kai dan Rou Xi langsung memahami maksudnya. Keluarga Shou bukan keluarga biasa. Mereka adalah salah satu kekuatan besar di kota ini. Hubungan seperti itu… tidak bisa diabaikan.

“Aku akan datang,” lanjut Lan Suya.

Ia kemudian menoleh ke arah Gao Rui.

“Kau ikutlah denganku.”

Gao Rui sedikit mengernyit.

“Aku?” ia menunjuk dirinya sendiri, agak heran. “Untuk apa aku datang ke acara seperti itu?”

Baginya, acara ulang tahun keluarga besar terdengar merepotkan. Penuh formalitas, basa-basi, dan orang-orang yang saling mengukur kekuatan.

“Bukankah lebih baik aku di penginapan saja?”

Lan Suya langsung menggeleng.

“Tidak.”

Jawabannya tegas, tanpa ragu.

“Justru karena itu kau harus datang.”

Gao Rui mengangkat alis.

Lan Suya melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih dalam.

“Dunia ini bukan hanya tentang kekuatan… tapi juga tentang hubungan, pengaruh, dan cara membaca orang.”

Tatapannya lurus ke arah Gao Rui.

“Acara seperti itu… adalah tempat terbaik untuk belajar.”

Ruangan kembali sedikit hening. Namun kali ini… tidak setegang sebelumnya. Gao Rui terdiam sejenak, mencerna kata-kata itu. Ia bukan tidak mengerti. Justru… ia mengerti terlalu jelas.

Setelah beberapa detik, ia menghela napas lagi.

“Baiklah,” katanya akhirnya.

Nada suaranya terdengar pasrah, tapi tidak benar-benar menolak.

“Aku ikut.”

Lan Suya tidak tersenyum… namun ada sedikit perubahan halus di tatapannya. Seolah ia cukup puas dengan jawaban itu.

Di sisi lain, Bai Kai dan Rou Xi kembali saling melirik. Jika sebelumnya mereka hanya melihat Gao Rui sebagai anak muda yang menarik… sekarang mereka mulai menyadari satu hal lain.

Besok malam… mungkin akan menjadi pertama kalinya Tuan Muda itu benar-benar “muncul” di hadapan dunia luar. Dan entah kenapa… mereka merasa, malam itu tidak akan berjalan biasa saja.

...********...

Mereka akhirnya benar-benar mulai makan. Awalnya masih canggung… namun perlahan suara sumpit dan percakapan kecil mulai terdengar. Gao Rui beberapa kali melemparkan komentar ringan. Tentang rasa masakan, tentang kota ini, bahkan sesekali menggoda Ji Un yang masih terlihat tegang. Tanpa disadari, suasana di meja itu mulai mencair.

Ji Un pun akhirnya berani menjawab beberapa pertanyaan, meskipun masih dengan nada hati-hati. Bai Kai dan Rou Xi juga sesekali menimpali. Tidak banyak… tapi cukup untuk membuat makan malam itu terasa lebih “hidup” dibanding sebelumnya.

Lan Suya hanya memperhatikan semua itu sambil makan dengan tenang. Ia tidak banyak bicara… namun jelas ia membiarkan suasana itu berkembang.

Waktu berlalu. Piring-piring di meja mulai kosong, teh di cangkir mulai dingin. Tanpa ada yang benar-benar menyadari kapan tepatnya… makan malam itu pun selesai.

Lan Suya berdiri lebih dulu.

“Aku kembali ke kamar,” katanya singkat.

Tidak ada yang menahan. Bai Kai dan Rou Xi langsung berdiri memberi hormat ringan. Ji Un juga buru-buru bangkit.

“Istirahatlah. Besok masih banyak yang harus disiapkan,” lanjut Lan Suya sebelum berjalan keluar ruangan.

Langkahnya tenang seperti biasa… namun auranya tetap membuat orang tidak berani sembarangan. Tak lama, ia pun menghilang dari ruangan itu.

Beberapa saat setelahnya, ruangan makan mulai sepi. Ji Un pamit lebih dulu, jelas masih ingin segera memperbaiki semua urusan yang sempat kacau.

Gao Rui duduk beberapa saat, menopang dagunya dengan tangan. Matanya menatap cangkir teh yang sudah hampir kosong.

“…masih belum ngantuk,” gumamnya pelan.

Ia lalu berdiri dan pamit. Tanpa tujuan yang jelas, kakinya melangkah keluar dari ruangan makan. Udara malam menyambutnya begitu ia keluar dari bangunan utama penginapan. Angin berhembus pelan, membawa aroma kayu dan tanah yang lembap.

Tatapannya mengarah ke taman penginapan di kejauhan. Lampu-lampu kecil menggantung di beberapa sudut, menerangi jalan setapak dengan cahaya redup. Suasananya tenang… hampir sunyi.

“Hm… sepertinya menarik,” katanya pelan.

Ia pun mulai berjalan ke arah taman itu. Langkahnya santai. Tangannya dimasukkan ke dalam lengan bajunya. Wajahnya tampak rileks… seolah semua ketegangan sebelumnya tidak pernah terjadi.

Namun… baru beberapa langkah ia berjalan....

“Tuan Muda.”

Sebuah suara memanggil dari belakang.

Gao Rui berhenti.

Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.

“Senior Kai,” jawabnya santai.

Ia akhirnya menoleh sedikit. Benar saja, pria itu berdiri beberapa langkah di belakangnya, sikapnya tegap seperti biasa.

“Ada apa?” tanya Gao Rui.

Bai Kai memberi hormat ringan, lalu berkata,

“Tuan Muda hendak ke mana?”

Nada suaranya tenang… namun jelas mengandung maksud.

Gao Rui mengangkat bahu.

“Hanya ingin melihat-lihat taman,” jawabnya ringan. “Udara malam lumayan segar.”

Bai Kai terdiam sejenak. Tatapannya menyapu sekeliling, seolah memastikan tidak ada yang mencurigakan.

“Kota ini tidak sepenuhnya aman,” katanya kemudian. “Harap berhati-hati.”

Gao Rui tersenyum tipis.

“Bukankah ada dirimu?” balasnya santai.

Kalimat itu terdengar seperti pujian… tapi juga seperti godaan.

Bai Kai tidak langsung menjawab.

“Tugas kami adalah melindungi Tuan Muda,” katanya akhirnya. “Bukan membiarkanmu berjalan sendirian di malam hari.”

Gao Rui menghela napas kecil.

“Kalau begitu… ikut saja,” katanya sambil kembali melangkah. “Aku tidak bilang ingin sendirian.”

Bai Kai sedikit terdiam… lalu tanpa berkata lagi, ia mengikuti dari belakang.

1
asammanis
sogokan 🤭🤣
Andi Heryadi
Gao Rui pintar,dia muncul dan mengenalkan diri dikeluarga Shou,membuat persaingan semakin rumit dan kemungkinan menguntungan harta langit.
Xiao Shuxiang
DAN HADIAH² DR GAO RUI AKAN MEMBALIKKAN KEADAAN SOAL KERJA SAMA CAO REN 🤣🤣
adek Darma
kok up ny cmn keseringan 1eps truss thorrr
budiman_tulungagung
masih satu mawar 🌹
Armoire
Aduh duh duh duh duh... Author nya paling pinter bikin readers mati penasaran... Lagi seru2 nya malah "To be continued" 😭😭😭😭
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Rui emang numero uno 🔥🌽
Nanik S
Naga Baja... apakah akan mengubah Kerjasama Patriak Shoi dan Harta Langit terus berlanjut
Nanik S
Gao Rui... membuat kejutan gak main main....Bahkan tidak sebanding dg Emas dan Permata ..Baru Naga Baja
Arie Chaniago70
kapan Thor Gao rui ini melanglana buana seperti gurunya,,,masak main dikandang aja nggak paten,,,jadi kurang Greg ceritanya
Eka Haslinda
hadiah pertama.. hadiah kedua.. ketiga.. owalaahhhh buanyak.. gak payu lagi hadiah rumah dagang Naga Emas 🤣🤣🤣
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
tariii
ayo, Rui.. kamu mau kasih hadiah apa? yg pasti harus lebih wowwww dari si cincaooooo itu yaaa...😂😂
will
klo ada pil anti miskin..mau donk gao rui 🤭👍
Heri Victor Purba
maen kali ceritanya bah.. bikin dag dig dug ser.. jalan ceritanya macam jalan kelok 44 .. gas thor
y@y@
⭐👍🏾🌟👍🏾⭐
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...hadiah yg melebihi hadiah orang lain🤣👍👍
Zainal Arifin
joooooooosssss 😍😍🤭
indrawanto djiwanto
hadiah pertama berarti ada hadiah lanjutan. hadiah kedua pil utk membantu kultivasi, hadiah ketiga pil kecantikan.
Jeffie Firmansyah: Bisa jadi pil kecantikan tuk istrinya
total 1 replies
Maz Shell
lagi update terbaru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!