Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"Ayo sayang, kita kembali ke rumah," ajak Ghaizka lembut sambil menggenggam erat tangan kecil Gelsya.
Mereka pun berjalan meninggalkan warung makan. Malam itu, lampu-lampu jalan menerangi langkah kaki mereka.
Tiga orang pria berwajah seram terus membuntuti mereka dari jarak yang tidak jauh.
Mata mereka tajam menatap tas yang dibawa oleh Ghaizka, tas yang tadi terlihat penuh dengan uang.
"Hei kawan, lihat tuh... Wanita itu bawa uang banyak banget tadi. Ayo kita rampas tasnya secepatnya sebelum dia sampai rumah! Ini kesempatan emas!" bisik salah satu dari mereka sambil menelan ludah. "
Mereka semakin mempercepat langkah, siap untuk bertindak nekat.
Tapi...
Meskipun tidak menengok ke belakang, indra Ghaizka yang tajam langsung merasakan adanya niat jahat.
Tiba-tiba Ghaizka berhenti mendadak.
"Untuk apa kalian mengikuti ku?" kata Ghaizka. Suaranya terdengar dingin dan tenang, namun cukup jelas terdengar oleh ketiga pria di belakangnya.
Mereka terkejut bukan main. "Wah! Bisa tahu lagi dia kita ikutin! Instingnya kuat juga ya cewek ini!"
Karena sudah ketahuan, mereka tak perlu bersembunyi lagi.
Salah satu pria yang paling berani langsung mengeluarkan pisau lipat tajam dari sakunya, lalu menodongkan benda tajam itu tepat ke arah punggung Ghaizka.
"Oh, jadi kau sudah tahu ya? Bagus! Instingmu memang kuat, tapi itu tidak ada gunanya! Cepat serahkan tasmu dan semua uang di dalamnya! Jangan bergerak atau kau akan mati!" kata pria itu sombong
Ghaizka menghela napas pelan, lalu dengan gerakan cepat bagaikan kilat...
SWISH!
Ia memutar tubuhnya membalikkan badan!
Saat itu juga, ia mengayunkan kakinya dengan tenaga yang luar biasa!
DUG! BRAKK!!
Satu tendangan cepat mengenai pergelangan tangan si penjahat yang memegang pisau.
TINGGG!!!
Pisau itu terlempar tinggi ke udara dan jatuh jauh ke selokan. Pria itu pun terhuyung mundur beberapa langkah, tangannya terasa mati rasa dan kesakitan.
Ghaizka berdiri tegap dengan wajah datar dan menatap tajam ke arah ketiga penjahat yang kini terbelalak kaget.
"Kalian mau mencuri... atau mau mati?" tanya Ghaizka pelan namun suaranya membuat bulu kuduk merinding.
"Sialan! Berani kau melawan!" teriak salah satu temannya yang bertubuh gemuk.
Melihat rekannya kalah hanya dengan satu tendangan, dua orang lainnya menjadi marah besar. Mereka tidak terima.
Salah satu dari mereka langsung mencabut kayu pentungan besar, sementara yang lain siap mengangkat pukulannya untuk memukul Ghaizka.
"Serang dia! Jangan biarkan dia bicara banyak! Ambil tasnya dan habisi dia!" teriak pria itu sambil memegangi pergelangan tangannya yang masih kesakitan.
HIAAATTT!!
Pria dengan pentungan itu mengayunkan kayu kerasnya dengan kuat ke arah kepala Ghaizka, berniat membuat wanita itu pingsan seketika.
Tapi...
Ghaizka sama sekali tidak bergeming. Wajahnya tetap tenang.
Saat kayu itu hampir menyentuh kulitnya, dengan gerakan secepat kilat Ghaizka mencondongkan tubuhnya sedikit ke samping. Kayu itu meleset hanya beberapa milimeter!
BRAK!
Sebelum pria itu sempat menarik kembali senjatanya, Ghaizka dengan cepat menangkup lengannya, lalu memutar tubuhnya dengan teknik bela diri kuno yang sangat halus!
BYURRR!!!
Pria bertubuh besar itu terlempar jauh! Ia mendarat dengan keras di aspal, membuat debu berterbangan. Pentungannya terlepas dan ia hanya bisa meringkuk kesakitan.
"A-apa kekuatan dia ini...?!" batin orang terakhir yang masih berdiri, kakinya mulai gemetar hebat melihat betapa mudahnya teman-temannya dikalahkan.
Ia ragu untuk maju, tapi ia tak bisa tinggal dia, ia berpikir jika tenaga Ghaizka sudah habis dan ia harus memukul Ghaizka dengan satu pukulan telak.
"Jangan sembarangan! Kami banyak orang! Kau cuma sendirian!" teriaknya mencoba mengintimidasi.
Ghaizka menatapnya dengan tatapan tajam yang menusuk jiwa.
"Kalau kalian masih punya akal sehat, sebaiknya pergi dari hadapanku sekarang juga sebelum aku berubah pikiran," ucap Ghaizka dingin.
"TAPI KAMI TIDAK TAKUT!"
Pria itu nekat maju, mencoba ingin menendang Ghaizka.
Namun sayang, kecepatannya sangat lambat dibandingkan Ghaizka.
DUG!
Hanya dengan satu jotosan santai ke arah perut, pria itu langsung melipat tubuhnya, napasnya tercekat, dan jatuh berlutut tak berdaya.
Dalam hitungan detik, ketiga penjahat itu sudah tergeletak di tanah saling timpa, meringis kesakitan, wajah mereka penuh ketakutan dan rasa malu.
"AMPUN TUAN PUTRI! AMPUN! KAMI SALAH! KAMI TIDAK TAU DIRI!" teriak mereka serentak, berusaha merangkak mundur menjauh dari Ghaizka seolah melihat hantu.
Ghaizka hanya menepuk-nepuk tangannya pelan membersihkan debu yang tak ada, lalu kembali berubah menjadi sosok ibu yang lembut saat menoleh ke arah Gelsya.
"Ayo sayang, lanjut jalan pulang. Jangan biarkan sampah-sampah ini mengotori perjalanan kita," kata Ghaizka santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Gelsya yang dari tadi menonton dengan tenang justru bertepuk tangan kecil.
"Hebat sekali Mama! Mama keren banget!"
Mereka pun berjalan pergi, meninggalkan tiga penjahat yang masih ketakutan dan tidak berani bergerak sedikitpun.