Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Naskah dan Nyata
Pagi itu, sinar matahari menembus tirai tipis apartemen Arkan dengan cara yang terasa berbeda bagi Sia. Ia terbangun di sofa besar yang semalam menjadi saksi bisu bagaimana naskah "penyerahan diri" di Bab 20 ditulis ulang oleh kenyataan. Di sampingnya, Arkan sudah terjaga, duduk bersandar sambil menatap layar tabletnya. Namun, kali ini ia tidak sedang membaca laporan saham, melainkan sedang menelusuri kolom komentar di platform Nightshade.
"Kenapa, Pak? Komentarnya ada yang enggak enakin?" tanya Sia dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Arkan menoleh, ekspresi kaku yang biasanya ia pasang di kantor kini mencair menjadi senyum tipis yang hangat. Ia mengulurkan tangan, mengacak rambut Sia pelan. "Justru sebaliknya. Komentar mereka sangat positif, mereka suka dengan cara penulisan Nightshide kali ini. Mereka sangat yakin kalau Nightshide sedang jatuh cinta."
Sia tertawa kecil, menarik bantal untuk menutupi wajahnya yang mendadak panas. "Pembaca itu detektif paling hebat, Pak. Bapak nggak bisa bohong sama mereka. Emosi yang Bapak tuangkan di Bab 20 itu terlalu jujur."
Arkan meletakkan tabletnya. Ia bergerak mendekat, menarik bantal yang menutupi wajah Sia hingga mata mereka bertemu. "Saya memang tidak berniat bohong lagi, Sia. Baik kepada pembaca, maupun kepada kamu."
Kembali ke kantor Dewangga Group di hari Senin terasa seperti memasuki dimensi lain. Bagi seluruh karyawan, Arkan Dewangga tetaplah sang CEO bertangan besi yang efisien. Namun bagi Sia, setiap kali ia masuk ke ruangan Arkan untuk memberikan agenda harian, ia melihat pria yang semalam membuatkan teh jahe untuknya dan berdiskusi soal diksi romantis hingga pukul tiga pagi.
"Pagi, Pak," sapa Sia saat masuk ke ruangan pukul sembilan tepat. Ia meletakkan kopi suhu 85 derajat di meja.
Arkan tidak mendongak, ia hanya mengangguk. "Pagi. Letakkan saja di situ. Ada pesan dari Gibran?"
"Pak Gibran minta jadwal pertemuan jam sebelas di ruang creative lounge. Katanya ada urusan 'darurat'," lapor Sia.
Arkan mengernyit. "Darurat bagi Gibran biasanya berarti dia butuh teman makan siang atau ingin pamer mobil baru."
Dan benar saja. Pukul sebelas, Gibran sudah duduk manis di sofa ruang kreatif dengan wajah yang sangat serius—terlalu serius untuk ukuran pria yang biasanya hobi bercanda.
"Kan, gue butuh bantuan lo. Ini serius," ujar Gibran begitu Arkan dan Sia masuk.
Arkan duduk di seberangnya, sementara Sia berdiri di samping Arkan dengan buku catatan. "Apa lagi, Gibran? Masalah vendor?"
"Bukan. Ini soal Laras," Gibran menghela napas. "Adek gue itu makin gila sama Nightshade. Dia tahu kalau gue temenan sama beberapa orang di industri platform digital, dan dia maksa gue buat cari tahu siapa identitas asli penulis itu. Dia mau ajak Nightshade kerja sama buat proyek film pendek di kampusnya."
Sia hampir menjatuhkan pulpennya. Ia melirik Arkan yang wajahnya tetap datar seperti tembok beton, namun ia bisa melihat jemari Arkan yang mengetuk meja dengan ritme yang sedikit lebih cepat.
"Lalu?" tanya Arkan pendek.
"Ya gue pusing lah! Gue bilang sama dia kalau privasi penulis itu dilindungi kontrak. Tapi dia malah nantang gue, katanya kalau gue nggak bisa dapet infonya, dia bakal lapor ke nyokap kalau gue sering bawa cewek ke apart gue," keluh Gibran frustrasi. "Lo kan jago masalah legal dan kontrak, Kan. Ada celah nggak buat gue dapetin info minimal lokasi atau kontak asisten si penulis itu?"
Arkan terdiam sejenak. Ia menatap Sia sekilas, sebuah tatapan yang penuh dengan makna tersembunyi.
"Gibran, privasi adalah hal paling mahal di era digital," ujar Arkan dengan nada CEO-nya yang paling meyakinkan. "Kalau penulis itu memilih anonim, berarti dia ingin karyanya yang bicara, bukan pribadinya. Bilang pada Laras untuk berhenti mengejar bayangan. Lagipula, apa gunanya tahu siapa dia? Bisa saja dia pria paruh baya yang kaku dan membosankan, tidak cocok untuk proyek film anak muda."
Sia menahan tawa sekuat tenaga. Pria paruh baya yang kaku? Bapak sedang mendeskripsikan diri sendiri, Pak? batinnya geli.
Gibran mengacak rambutnya. "Masalahnya, Laras yakin banget kalau penulis ini orangnya keren. Dia bilang, 'Mas, orang yang bisa nulis perasaan seintens itu pasti orang yang punya pengalaman hidup luar biasa'. Yah, terserah deh. Gue coba kasih alasan lain nanti ke dia."
Setelah Gibran keluar, Sia segera menutup pintu ruang kreatif dan bersandar di sana sambil tertawa lepas. "Pria paruh baya yang kaku dan membosankan, Pak? Serius? Itu strategi pengalihan isu paling lucu yang pernah saya dengar."
Arkan berdiri, berjalan mendekati Sia dengan gaya santai. "Itu bukan strategi. Itu fakta—setidaknya di mata orang-orang sebelum saya bertemu kamu."
Ia mengunci posisi Sia dengan tangannya di dinding, persis seperti adegan riset mereka tempo hari, tapi kali ini suasananya jauh lebih ringan. "Tapi sekarang, pria kaku ini punya masalah baru. Bagaimana caranya membuat sekretaris pribadinya ini menyemangati dirinya?"
Sia mendongak, menatap mata Arkan yang kini penuh dengan kilat jahil. "Bapak mau apa? Kita sedang dikantor pak,"
Arkan menunduk, mengecup ujung hidung Sia. "Ekspresi kamu itu berbahaya bagi saya, Sia. Kamu satu-satunya orang yang bisa bikin saya lupa kalau saya punya rapat direksi dalam sepuluh menit."
Sore harinya, mereka memutuskan untuk melanjutkan "riset" di sebuah kafe tersembunyi di daerah Jakarta Selatan. Kafe itu sepi, dikelilingi tanaman hijau, sangat cocok untuk menulis tanpa gangguan.
Arkan membuka laptopnya, namun kali ini ia tidak memaksakan diri. Ia membiarkan Sia membaca beberapa draf ide untuk bab selanjutnya.
"Pak, gimana kalau kita bikin Bima mulai berani muncul di depan umum sama Raya, tapi dengan identitas yang masih samar? Semacam kencan rahasia di tempat terbuka," usul Sia sambil menyeruput latte-nya.
Arkan mengetik beberapa kata. "Menarik. Bima yang selalu sembunyi di balik bayangan, mulai merasa dunianya terlalu sempit jika tidak melibatkan Raya di dalamnya. Dia ingin dunia tahu Raya miliknya, tapi dia tidak ingin dunia menyentuh privasi mereka."
"Persis kayak kita sekarang ya, Pak?" celetuk Sia tanpa sadar.
Arkan berhenti mengetik. Ia menatap Sia lama, lalu meraih tangan Sia di atas meja, menggenggamnya erat tanpa peduli jika ada pelayan kafe yang melihat. "Iya. Persis seperti kita. Saya mulai merasa, menjadi Nightshade itu menyenangkan karena saya bisa mengekspresikan perasaan saya tanpa takut dinilai oleh dunia korporat. Tapi menjadi Arkan yang memiliki kamu... itu jauh lebih nyata."
"Tapi Pak," Sia teringat sesuatu. "Status Bapak sebagai Nightshade itu aset besar. Kalau suatu saat terbongkar, apa Bapak siap?"
Arkan menutup laptopnya, memberikan perhatian penuh pada wanita di depannya. "Sia, saya membangun Dewangga Group dengan logika dan kerja keras. Tapi saya menulis Nightshade dengan hati. Jika suatu saat rahasia ini terbongkar, saya tidak akan malu. Saya justru akan bangga karena di balik semua angka dan kontrak itu, saya masih punya kemampuan untuk mencintai seseorang dengan cara yang begitu dalam."
Sia tersenyum tulus. Ia merasa beruntung. Ia tidak hanya jatuh cinta pada bosnya, tapi ia jatuh cinta pada jiwa kreatif yang selama ini terperangkap di balik setelan jas mahal.
Malam itu mereka habiskan dengan berdiskusi bukan hanya soal novel, tapi soal rencana liburan singkat—yang kali ini murni liburan, tanpa embel-embel riset (meskipun Arkan tetap bersikeras membawa buku catatan kecil "untuk jaga-jaga kalau ada inspirasi").
Tidak ada drama besar. Hanya ada dua orang yang sedang menikmati fase awal hubungan mereka yang unik. Hubungan yang tumbuh di antara barisan paragraf spicy dan laporan tahunan perusahaan.
Saat mereka berjalan menuju parkiran, Arkan merangkul bahu Sia, menariknya dekat ke sisinya.
"Besok Bab 21 harus naik cetak... maksud saya, harus update," ujar Arkan.
"Ide ceritanya sudah ada, Pak?"
"Sudah. Tentang seorang pria yang akhirnya menyadari bahwa mahakarya terbaiknya bukan naskah yang dibaca jutaan orang, melainkan senyum asistennya di pagi hari," bisik Arkan.
Sia tertawa, menyembunyikan wajahnya di lengan Arkan. "Bapak gombalnya makin jago ya. Efek samping jadi penulis novel romantis memang luar biasa."
"Bukan efek samping, Sia. Itu progres," jawab Arkan dengan nada bangga.
Dan di bawah lampu jalan Jakarta yang temaram, sang CEO dan asistennya itu melangkah pulang, siap menuliskan bab-bab selanjutnya dalam hidup mereka—bab yang mungkin tidak pernah berakhir, selama mereka masih memiliki satu sama lain dan satu akun anonim bernama Nightshade untuk menampung seluruh perasaan mereka yang meluap-luap.
Status Arkan sebagai Nightshade tetap menjadi rahasia publik yang manis, namun bagi mereka, itu adalah jembatan yang menyatukan dua dunia yang berbeda menjadi satu harmoni yang sempurna. Sederhana, tanpa drama berlebih, namun penuh dengan rasa yang nyata.