NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Lampu-lampu studio yang menyilaukan akhirnya padam satu per satu. Suasana yang tadinya bising dengan instruksi fotografer dan musik techno yang menghentak, kini berganti dengan suara langkah kaki kru yang berbenah. Aurora berdiri di tengah set, masih mengenakan gaun haute couture yang berat dan rumit. Wajahnya yang dipoles riasan smokey eyes tampak luar biasa cantik, namun matanya memancarkan kelelahan yang tidak bisa disembunyikan.

Selama enam jam penuh, ia bekerja seperti robot. Tidak ada keluhan, tidak ada interupsi "cegil", tidak ada godaan nakal. Ia memberikan pose terbaik, mengikuti setiap arahan dengan presisi yang menakutkan. Profesionalisme Aurora memang tidak perlu diragukan, namun semua orang di sana merasa seperti sedang bekerja dengan sebuah manekin hidup yang tak memiliki nyawa.

Begitu fotografer berseru "Wrap!", Aurora langsung melangkah menuju ruang ganti tanpa menyapa siapa pun.

"Aurora! Tunggu sebentar!" Rio, sang manajer, berlari kecil mengejarnya sambil membawa jadwal baru di tangannya. "Ini ada revisi buat kontrak iklan minggu depan. Klien mau kamu meeting besok sore jam dua. Kita harus bahas—"

Aurora berhenti mendadak. Ia tidak berbalik, namun bahunya tampak menegang. "Bisa nggak Kak Rio nggak usah ganggu aku dulu! Aku tuh capek!" teriaknya, suaranya menggema di lorong studio yang sunyi.

Rio tertegun. Ia sudah biasa menghadapi mood Aurora, tapi kali ini terasa berbeda. "Ra, ini cuma sebentar. Kontraknya penting—"

"Aku nggak peduli! Mau penting, mau darurat, mau dunia kiamat sekalipun, aku nggak mau denger!" Aurora berbalik dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca. "Pinggang aku mau patah, perut aku sakit, dan otak aku lagi berisik banget! Bisa nggak sehari aja aku nggak dianggap sebagai mesin uang?"

Rio terdiam seribu bahasa. Ia perlahan menurunkan tabletnya.

Aurora mengatur napasnya yang memburu, lalu menoleh ke arah Mayang yang berdiri tak jauh darinya dengan wajah prihatin. "Ayo Kak May, pulang. Nggak ada yang bisa ngertiin orang banget di sini. Semuanya cuma peduli sama kerjaan."

Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Aurora meringkuk di kursi belakang mobil yang dikemudikan Pak Bambang. Ia menyumbat telinganya dengan noise-canceling headphone dan menutupi wajahnya dengan syal sutra. Ia tidak ingin melihat jalanan, tidak ingin mendengar suara apa pun, dan yang paling utama, ia sedang mencoba mematikan semua perasaan yang berhubungan dengan Langit Ardiansyah.

Namun, semakin ia mencoba melupakan, bayangan Langit yang berdiri tegak membukakan pintu mobil dengan ucapan "status" yang menyakitkan itu justru semakin jelas.

Begitu mobil SUV hitam itu memasuki gerbang kediaman Widjaja, Aurora tidak langsung masuk ke dalam rumah. Setelah pintu dibuka oleh Pak Bambang, ia keluar dengan langkah gontai. Bukannya naik ke kamarnya untuk tidur, ia justru berjalan menuju teras samping yang menghadap ke arah taman dalam.

Aurora mendudukkan dirinya di lantai teras yang dingin. Ia menekuk kedua kakinya rapat ke dada, lalu menyembunyikan wajahnya di antara lutut. Bahunya sedikit bergetar, namun tidak ada suara tangisan. Ia hanya sedang merasa sangat, sangat lelah—secara fisik dan mental.

Pak Bambang, yang baru saja memarkir mobil, berdiri diam di samping kendaraan. Ia menatap sosok putri majikannya yang biasanya ceria kini tampak begitu kecil dan rapuh di sudut teras. Sebagai pria yang sudah menganggap Aurora seperti anak sendiri, hatinya terasa sesak.

"Non Aurora..." gumam Pak Bambang pelan, hampir tak terdengar.

Di kejauhan, Langit yang baru saja keluar dari paviliun untuk pergantian shift malam, menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada sosok Aurora di teras.

"Pak," Langit menghampiri Pak Bambang dengan langkah cepat namun tertahan. "Kenapa Non Aurora di situ?"

Pak Bambang menoleh, lalu menghela napas panjang. Ia menatap Langit dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia habis meledak di studio, Ngit. Kata Mayang, dia sedang merasa tidak ada yang mengerti dia. Dan kamu tahu sendiri kan siapa pemicu badainya pagi tadi?"

Langit terdiam. Ia menatap ke arah teras. Posisinya cukup jauh, namun ia bisa melihat jemari Aurora yang meremas ujung celananya sendiri di antara lututnya.

"Sana, Ngit," bisik Pak Bambang sambil menepuk pundak Langit. "Lakukan sesuatu. Jangan jadi robot terus. Kadang, yang dia butuhkan bukan pengawalan, tapi seseorang yang mengakui kalau dia itu cuma gadis biasa yang bisa capek."

Langit ragu. "Tapi Pak, tadi pagi dia sangat marah. Saya takut malah memperburuk keadaan."

"Marahnya dia itu karena peduli, Langit. Kalau dia tidak peduli, dia tidak akan membuang tenaganya untuk marah padamu," sahut Pak Bambang tegas. "Pergi sana. Ambilkan sesuatu yang bisa bikin dia tenang."

Langit menarik napas dalam-dalam. Ia masuk ke dalam paviliun sejenak, lalu keluar dengan sesuatu di tangannya. Ia berjalan mendekati teras samping dengan langkah yang sengaja ia buat terdengar agar tidak mengejutkan Aurora.

Aurora tidak bergerak. Ia tahu ada orang yang mendekat, dan ia sudah siap untuk berteriak agar ditinggalkan sendirian.

"Pergi. Aku nggak mau bicara sama siapa-siapa," suara Aurora terdengar serak dari balik lututnya.

Langit berhenti di anak tangga teras. Ia tidak pergi. Ia justru duduk di lantai teras, berjarak sekitar satu meter dari Aurora. Ia tidak berusaha menyentuh atau mendekat lebih jauh.

"Saya tidak ke sini untuk bicara, Non," suara Langit terdengar rendah dan tenang, tidak ada nada kaku seperti biasanya.

Aurora perlahan mengangkat wajahnya sedikit. Satu matanya mengintip dari balik celah lutut. Begitu melihat sosok Langit yang duduk di sampingnya—tanpa seragam safari, hanya dengan kaos hitam polos—Aurora tertegun sejenak.

"Terus ngapain? Mau ingetin status lagi? Mau bilang kalau aku nggak boleh duduk di lantai karena nggak estetis buat anak anggota DPR?" tanya Aurora sinis, meski matanya yang sembab menunjukkan ia baru saja meneteskan air mata.

Langit tidak menoleh. Ia menatap ke arah kolam ikan di depan mereka. Ia meletakkan sebuah kotak susu cokelat kemasan yang masih dingin di lantai marmer, lalu menggesernya perlahan ke arah Aurora.

"Saya dengar dari Bintang, Non suka susu cokelat kalau sedang merasa... kesal," ucap Langit pelan.

Aurora menatap kotak susu itu, lalu menatap samping wajah Langit yang tegas dari arah samping. "Mas... Mas sengaja beliin ini?"

"Hanya sisa dari kantin paviliun," bohong Langit, padahal ia tadi sempat berlari kecil ke minimarket depan komplek hanya untuk mencari merk kesukaan Aurora. "Minumlah. Gula bisa membantu memperbaiki mood."

Aurora akhirnya melepaskan pelukan pada lututnya. Ia mengambil kotak susu itu, menusukkan sedotannya, dan menghisapnya sedikit. Rasa manis dan dingin mulai mengalir di tenggorokannya, memberikan sedikit ketenangan.

Hening tercipta di antara mereka selama beberapa menit. Hanya ada suara jangkrik dan gemericik air kolam.

"Mas Langit," panggil Aurora pelan.

"Iya, Non?"

"Kenapa sih Mas kaku banget? Apa Mas nggak capek selalu pakai topeng profesional itu? Apa Mas nggak ngerasa kalau aku ini tulus?" Aurora menoleh, menatap Langit dengan sisa-sisa kesedihannya.

Langit terdiam cukup lama. Ia akhirnya menoleh, menatap tepat ke mata Aurora. Untuk pertama kalinya, Aurora melihat ada gejolak di mata pria itu.

"Bukannya saya tidak merasa, Non Aurora," ucap Langit pelan. "Justru karena saya merasa, makanya saya harus membangun tembok. Jika saya membiarkan diri saya melampaui batasan itu, saya tidak akan bisa melakukan tugas saya untuk melindungi Anda dengan benar. Fokus saya akan terbagi, dan itu berbahaya bagi Anda."

Aurora mengerutkan kening. "Bahaya gimana? Aku nggak butuh dilindungi dari penjahat, Mas. Aku butuh ditemani sebagai Aurora."

"Dunia politik dan dunia hiburan tempat Anda berada itu kejam, Non," balas Langit. "Satu foto salah, satu gosip miring tentang Anda dengan seorang ajudan, karier Anda bisa hancur. Nama Papa Anda bisa terseret. Saya tidak ingin menjadi penyebab kehancuran itu."

"Jadi Mas... Mas kaku karena mau jagain aku dari gosip?" tanya Aurora memastikan.

Langit mengangguk kecil. "Saya lebih baik dianggap kaku dan dingin, daripada membiarkan Non Aurora jadi bahan gunjingan karena pria seperti saya."

Aurora tertegun. Ia tidak menyangka pemikiran Langit sejauh itu. Selama ini ia pikir Langit hanya sombong atau tidak tertarik padanya. Ternyata, kekakuan itu adalah bentuk perlindungan Langit yang paling tulus—meskipun menyakitkan bagi Aurora.

Aurora tersenyum tipis, kali ini senyumnya terasa sangat manis namun pahit. "Mas Langit... Mas itu bego ya?"

Langit menaikkan alisnya. "Bego?"

"Iya, bego," Aurora tertawa kecil, sedikit bebannya terangkat. "Mas pikir aku peduli sama gosip? Aku ini Aurora Widjaja. Aku udah biasa dihujat orang. Yang aku peduliin itu cuma satu... Mas Langit punya perasaan yang sama nggak sama aku?"

Langit tidak menjawab secara verbal. Ia hanya menatap Aurora dalam diam yang sangat lama. Lalu, perlahan, pria itu mengulurkan tangannya. Ia tidak menyentuh wajah Aurora, melainkan hanya merapikan anak rambut yang menutupi mata Aurora dan menyelipkannya di balik telinga gadis itu.

Sentuhan itu singkat, hanya sedetik, namun bagi Aurora rasanya seperti ledakan kembang api di tengah malam.

"Istirahatlah, Non. Sudah malam. Jangan duduk di lantai lagi, nanti sakitnya bertambah," ucap Langit sambil berdiri.

"Mas!" Aurora menahan ujung kaos Langit. "Besok... Mas tetep kaku lagi?"

Langit menatap tangannya yang memegang ujung kaosnya, lalu kembali menatap Aurora. Sebuah senyum tipis—kali ini benar-benar senyum—muncul di wajahnya.

"Status saya tetap ajudan, Non. Tapi mungkin... protokolnya bisa sedikit saya longgarkan kalau kita sedang berdua saja."

Aurora terbelalak. Ia melepaskan pegangannya dan ikut berdiri dengan semangat yang tiba-tiba kembali penuh. "Bener ya? Janji? Mas Langit udah janji lho!"

"Masuklah, Non. Selamat malam," ucap Langit sebelum berbalik pergi menuju paviliun dengan langkah yang tampak jauh lebih ringan.

Aurora berdiri di teras sambil memegang kotak susu cokelatnya. Ia tersenyum lebar, rasa sakit di pinggangnya mendadak terlupakan. Ia tahu, tembok beton Langit belum runtuh sepenuhnya, tapi hari ini, ia berhasil menemukan pintu rahasia di baliknya.

"Dapet! Mas Langit kena mental!" teriak Aurora kegirangan, membuat Pak Bambang yang masih berdiri di dekat mobil hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum lebar.

Badai telah berlalu, dan pagi esok tampaknya akan menjadi hari yang sangat cerah bagi si "Cegil" dan Mas Ajudannya.

1
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bapaknya jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!