Varendra Malik Atmadja, seorang arsitek muda yang tampan, ramah, dan sangat telaten, baru saja pindah ke Blok C-17. Sebagai penganut paham "tetangga adalah saudara", Malik bertekad untuk menjalin hubungan baik dengan seluruh penghuni kompleks.
Namun, rencananya membentur tembok tinggi setinggi pagar Blok C-18.
Di sanalah tinggal Vanya Ayudia Paramitha, seorang Game Developer yang lebih suka berinteraksi dengan baris kode daripada manusia. Baginya, ketenangan adalah segalanya, dan tetangga baru yang terlalu ramah seperti Malik adalah gangguan sinyal bagi kedamaian hidupnya.
Awalnya, Malik hanya berniat memberikan camilan sebagai tanda perkenalan. Tapi, setiap sapaan Malik dibalas dengan debuman pintu, dan setiap perhatiannya dianggap sebagai gangguan oleh Ayu.
Lalu, bagaimana jika sebuah paket yang salah alamat dan aroma masakan dari dapur Malik perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Ayu? Bisakah Malik merancang fondasi cinta di hati gadis yang bahkan enggan membuka pintu rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dalgichigo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rantang Kosong
Pukul sepuluh malam. Harusnya kompleks sudah sepi, tapi tidak bagi penghuni Blok C.
Malik baru saja selesai merapikan ruang kerjanya saat telinganya menangkap suara dentingan logam di depan rumah. Dengan gerakan cepat, ia mengintip dari balik jendela. Benar saja, sebuah tangan ramping terlihat menarik diri dari pagar rumahnya, meninggalkan rantang estetik yang tadi sore ia cantolkan di pagar Ayu.
"Sudah diambil?" gumam Malik dengan senyum kemenangan.
Namun, saat Malik membuka pintu dan mengambil rantang itu, senyumnya sedikit luntur. Rantang itu memang kosong bersih, tapi tidak ada memo balasan. Hanya ada satu lembar tisu yang dilipat rapi di dalamnya. Saat dibuka, isinya cuma tulisan tangan yang sangat kecil dan hampir tidak terbaca: 'Terima kasih. Besok-besok jangan pedas sekali.'
"Bah! Cuma gitu aja balasan dia?"
Malik menoleh ke samping. Di atas pagar pembatas yang cukup tinggi, kepala Vino muncul dengan kamera yang masih menggantung di leher.
"Kau ini macam mana, Bang? Sudah dikasih makan, cuma dibilang 'terima kasih'. Kalau aku jadi kau, sudah kuketok pintunya, kutanya: 'Mana uang makannya, Kak?' Begitu!" cerocos Vino dengan logat Medannya yang khas.
"Hush! Jangan sembarangan lu, Vin," seru Adit yang tiba-tiba muncul dari kegelapan, membawa kantong kresek berisi martabak. "Namanya juga usaha. Bang Malik kan lagi pake taktik 'halus', kagak kayak lu yang maunya main tabrak aje."
"Eh, buleh (saya) dengar-dengar ada yang lagi galau gara-gara rantang?"
Suara berat dengan logat Madura yang kental menyambar dari arah jalan. Juned berjalan santai dengan kaos oblong putih yang tetap terlihat mahal di badannya. "Lik, mon kareh bini' (kalau soal perempuan), jangan terlalu dikejar. Menneng (Diam) saja dulu. Biar dia yang mencari aromamu."
"Aroma apaan, Ned? Aroma bawang putih habis masak?" ledek Adit yang langsung disambut tawa kencang Vino.
"Sudah, sudah. Mending kalian balik ke rumah masing-masing. Malu dilihat Pak RT kalau jam segini masih nangkring di pagar orang," usir Malik sambil membawa rantangnya masuk.
Keesokan paginya, Malik memutuskan untuk tidak terlalu agresif. Sesuai saran (yang tidak sengaja) dari Juned, dia ingin melihat apakah Ayu akan mencari "aromanya".
Malik sengaja tidak menyiram tanaman di depan. Ia hanya duduk di teras dengan laptopnya, pura-pura sibuk bekerja sambil sesekali melirik ke arah Blok C-18.
Satu jam, dua jam... rumah Ayu tetap sunyi.
Baru sekitar pukul satu siang, pintu rumah itu terbuka. Ayu keluar dengan penampilan yang sedikit lebih "manusiawi"—menggunakan hoodie hitam dan celana training. Ia tampak celingukan, menatap pagar rumah Malik sebentar, lalu berjalan menuju kotak listrik di depan rumahnya sendiri.
"Mbak Ayu, kenapa?" tanya Malik basa-basi sambil berdiri dari kursinya.
Ayu tersentak, bahunya menegang. Ia membenarkan letak kacamatanya yang melorot. "Token... habis. Internet mati."
"Oh, mau saya bantu belikan lewat HP?" tawar Malik cepat.
Ayu terdiam sejenak, wajahnya terlihat bimbang. "Nggak usah. Saya mau ke minimarket depan sekalian."
"Sama saya saja, Mbak. Kebetulan saya juga mau beli... kopi," bohong Malik. Padahal stok kopinya masih cukup untuk satu bulan.
Ayu menatap Malik dengan tatapan datar di balik kacamata tebalnya. "Nggak usah, Mas. Jaraknya dekat."
"Bah! Keras kepala kali kau, Kak!" Vino tiba-tiba muncul dari balik pohon mangga (entah sedang memotret apa). "Ikut aja sama Bang Malik ini. Biar aman kau dari gangguan preman-preman pasar!"
"Preman apaan, Vin? Adanya juga emak-emak mau senam," gumam Malik pelan.
Ayu akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah saat Malik sudah mengeluarkan kunci mobilnya. Dalam perjalanan yang hanya memakan waktu lima menit itu, suasana terasa sangat canggung. Bau parfum kayu cendana Malik memenuhi kabin mobil, membuat Ayu merasa tidak nyaman sekaligus... aneh.
"Mbak Ayu kalau kerja game gitu, istirahatnya kapan?" tanya Malik memecah keheningan.
"Kalau ngantuk," jawab Ayu singkat.
"Makan?"
"Kalau lapar."
Malik terkekeh. "Jawaban yang sangat efisien ya. Tapi Mbak, seenggaknya keluar rumah sesekali biar kena sinar matahari. Biar nggak pucat-pucat banget."
Ayu menoleh, menatap Malik tajam. "Mas Malik ini memang hobinya mengurusi hidup orang lain ya?"
Kalimat itu telak mengenai ulu hati Malik. Suasana jadi makin dingin. Namun, Malik tidak menyerah. Ia justru tersenyum kecil. "Bukan hidup orang lain, Mbak. Cuma hidup tetangga saya. Takutnya Mbak pingsan di dalam, saya yang repot nggak ada saingan buat adu diam di pagar."
Ayu tidak membalas, tapi Malik bisa melihat sedikit tarikan di sudut bibir Ayu. Sangat tipis, tapi itu sudah cukup bagi seorang Malik untuk merasa bahwa fondasinya mulai terbangun.