NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 : KIRANA SAKIT

Sejak penandatanganan kontrak dengan perusahaan Nyonya Pratiwi, Kirana makin bekerja keras.

Meja kerjanya yang dulu rapi kini dipenuhi tumpukan berkas legal dan laporan keuangan. Lampu ruang kerjanya hampir tidak pernah mati sebelum pukul sembilan malam. Bahkan Arga yang datang mengantar makan siang saja sering kali mendapati Kirana masih menatap layar laptop disaat jam makan siang. Mungkin Kirana akan melewatkan makan siangnya kalau Arga sampai lupa mengingatkannya.

Semua itu juga tak luput dari perhatian Pak Harsono, beliau mulai kawatir dengan Putrinya . Sebenarnya pak Harsono sudah sering menegurnya agar tidak perlu terlalu keras dalam bekerja. Tapi memang kirana yg memiliki sifat keras kepala. Pak Harsono

hanya bisa pasrah, mungkin semua sifat itu menurun darinya.

“Papa lihat kamu hampir tiap malam lembur, Kirana. Apa nggak capek?” tanya Pak Harsono suatu sore sambil meletakkan kotak makanan di meja Kirana.

Kirana hanya tersenyum tipis tanpa menoleh. “Ini tanggung jawab Kirana, Pah. Kontrak dua puluh miliar itu bukan hal kecil. Kirana harus pastikan tidak ada kesalahan sedikit pun.”

Pak Harsono menghela napas. Dia tahu sifat anaknya. Kalau sudah keras kepala, sulit untuk diingatkan.

Arga yang duduk di ruang sebelah bisa memahami kekhawatiran seorang ayah. Dia sering memperhatikan Kirana dari sudut matanya. Sejak tiga hari terakhir, Kirana hanya makan roti dan kopi. Kadang lupa makan sama sekali karena terlalu fokus pada dokumen. Arga ingin menegur, tapi dia tahu Kirana bukan orang yang suka dinasehati, apalagi soal cara kerja.

Malamnya,“Kirana, kamu sudah makan?” tanya Arga pelan saat jam menunjukkan pukul delapan malam.

Kirana mengangguk tanpa melihat ke arah Arga. “Sudah.”

Arga mengernyit. Di meja Kirana tidak ada satu pun bekas bungkus makanan. Hanya ada cangkir kopi yang sudah kosong tiga kali.

“Kamu bohong,” jawab Arga singkat.

Kirana akhirnya menoleh. Tatapannya tajam. "Arga, saya sedang fokus. Kalau tidak ada hal penting, jangan ganggu saya.”

Arga terdiam. Dia menarik napas panjang lalu kembali ke mejanya. Tapi dia tidak bisa tenang. Dia merasa ada sesuatu yang salah dengan Kirana hari ini. Wajahnya pucat. Tangan yang mengetik keyboard juga sedikit gemetar.

Malam itu, kantor kembali sepi. Karyawan sudah pulang sejak pukul enam. Hanya Kirana dan Arga yang masih bertahan.

“Arga, Kamu pulang saja dulu. Aku bisa selesaikan ini sendiri,” kata Kirana tanpa menoleh.

Arga menatap jam dinding. Sudah pukul 22.45. “Tidak. Aku tunggu sampai kamu selesai.”

Kirana menggeleng. “Kamu nggak harus...”

“Aku mau,” potong Arga seperti yang pernah dia ucapkan minggu lalu.

Kirana tidak membantah lagi. Dia hanya kembali fokus ke layar laptop. Sampai akhirnya, jarinya berhenti mengetik. Pandangannya mulai kabur. Kepalanya terasa berat.

“Kirana?” suara Arga terdengar pelan.

Kirana tidak menjawab. Dia mencoba menggelengkan kepala agar rasa pusing itu hilang. Tapi tubuhnya tidak mendengar. Gelas air di samping laptopnya terguling dan pecah. Suara pecahan kaca membuat Arga langsung berdiri.

“KIRANA!”

Arga berlari mendekat. Dia menangkap tubuh Kirana yang hampir terjatuh dari kursi. Wajah Kirana pucat pasi. Bibirnya kering. Napasnya tidak beraturan.

“Kirana, bangun. Kirana!” panggil Arga sambil mengguncang bahu Kirana pelan.

Tidak ada respon. Mata Kirana terpejam.

Arga langsung mengangkat tubuh Kirana dan membawanya ke sofa di ruang istirahat. Dia menaruh Kirana dengan hati-hati lalu meraba dahi Kirana. Panas. Sangat panas.

Arga panik. Dia mengeluarkan ponselnya dan hendak menelepon Pak Harsono. Tapi tangannya berhenti. Sudah pukul sebelas malam. Tidak mungkin dia membangunkan Pak Harsono hanya untuk hal ini.

“Aku yang akan jaga kamu, Kirana,” gumam Arga pelan.

Arga berlari ke pantry. Dia mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air dingin. Kembali ke sofa, dia menempelkan handuk itu ke dahi Kirana dengan lembut.

Satu jam berlalu. Kirana masih belum sadar. Akhirnya memilih membawa Kirana pulang. Arga menggendong Kirana menyusuri lorong kantor yg gelap, Arga menatap wajah Kirana yang biasanya tegas kini terlihat lemah. Tanpa makeup. Tanpa ekspresi dingin. Hanya ada Kirana yang sedang tidak berdaya.

Arga meminta tolong security mengambilkan mobilnya. "Ya Alloh Non kirana kenapa Pak Arga..??" tanya pak warto security kantor.

"Demam pak, kecapean..Pak Warto Arga minta tolong ambilin mobil Arga di parkiran boleh..?" Pinta Arga .

"Baik pak Arga tunggu sebentar..!!" tampa berlama lama pak Warto segera mengambil mobil Arga.

Setelah memasukkan Kirana

Arga langsung melajukan mobilnya membawa Kirana pulang.

Di jalan Arga mampir ke apotek membeli beberapa obat demam untuk Kirana.

Arga menghela napas. “Kamu keras kepala sekali, Kirana.”

Setelah sampai rumah Bi Rina membuka pintu dan Kaget melihat Non Kirana

di gendong Arga. " Ya Alloh Den Arga, Non Kirana

kenapa Den...?? " Bi Rina khawatir.

"Demam bi, kayaknya kelelahan.. " jawab Arga sambil membawa Kirana

masuk kamarnya dan merebahkan di kasurnya.

Tengah malam itu, Kirana akhirnya membuka mata. Kesadaran datang perlahan. Yang pertama dia rasakan adalah rasa dingin di dahinya dan sakit di seluruh tubuhnya. Di memperhatikan sekelilingnya "ini di kamarku" dia baru sadar kalau sudah berada di rumah.

“Kirana... kamu sudah sadar?” suara Arga langsung terdengar.

Kirana mengerjap. Dia melihat Arga duduk di sampingnya dengan mata sembab dan jas yang sudah kusut.

“Kamu... kenapa di sini?” tanya Kirana pelan. Suaranya serak.

“Kamu pingsan, Kirana. Aku khawatir.” Arga menjawab jujur tanpa basa-basi.

Kirana mencoba duduk tapi tubuhnya masih lemas. Arga langsung menyangga punggung Kirana dengan bantal.

“Jangan bergerak dulu. Kamu demam tinggi.”

Kirana menatap Arga dalam diam. Untuk pertama kali, dia melihat Arga sebagai orang yg berdiri di sisinya disaat dia membutuhkan nya. Dia melihat Arga sebagai orang yang benar-benar khawatir padanya.

“Aku... aku cuma kelelahan saja. Besok aku baik-baik saja.” Kirana mencoba meremehkan.

Arga menggeleng. “Kamu jarang makan tiga hari ini, Kirana. Aku lihat kamu cuma minum kopi.” Kirana terdiam. Dia tidak menyangka Arga memperhatikan hal sekecil itu.

Arga berdiri dan berjalan ke dapur. “Aku buatkan bubur. Kamu harus makan dulu.”

Kirana ingin menolak. Tapi tubuhnya tidak mampu. Dia hanya bisa mengangguk pelan.

Dua puluh menit kemudian, Arga kembali dengan semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih. Aroma jahe dan ayam langsung tercium. Kirana menatap bubur itu dengan ragu.

“Kamu yang masak?” tanya Kirana tidak percaya.

Arga mengangguk sambil menyodorkan mangkuk ke Kirana. “Iya. Aku belajar dari ibu panti dulu. Kalau ada yang sakit, bubur ayam paling gampang. Tenang saja Bi Rina juga ikut bantu tadi, jadi gak usah takut rasanya aneh. ” ucap Arga meyakinkan Kirana

.

Kirana menerima mangkuk itu dengan tangan gemetar. Suapan pertama masuk ke mulutnya. Hangat. Sederhana. Tapi rasanya lebih enak dari makanan restoran bintang lima yang biasa dia makan.

“Enak...” gumam Kirana tanpa sadar.

Arga tersenyum kecil melihat itu. “Makan pelan-pelan. Jangan keburu-buru.”

Kirana

makan dalam diam. Tidak ada obrolan formal. Tidak ada jarak, status suami kontrak seakan di kesampingkan . Hanya ada dua orang, dengan satu mangkuk bubur di tangan Kirana.

Setelah Kirana selesai makan, Arga mengambilkan baju ganti untuk Kirana

serta selimut di lemari. Kirana

hanya menatapnya lalu diam beberapa detik.

Arga bingung lalu " A..astaga , maafkan aku. Aku keluar sebentar." Arga baru sadar tak mungkin Kirana mau mengganti baju di depanya. Arga menepuk-nepuk jidat nya sendiri.

Dikamar Kirana

tersenyum melihat tingkah Arga. Beberapa menit kemudian Arga masuk membawa teh jahe untuk Kirana.

"ini minum dulu teh jahenya, lalu minum obatnya"

“Abis itu kamu tidur. Aku jaga di sini.”

"Pokoknya gak usah mikirin kerjaan dulu, kamu harus fokus istirahat."

Kirana mengernyit kan dahinya " Arga kamu bawel banget, udah kayak Guru BK di sekolah dulu."

"Biarin" jawab Arga singkat.

Kirana menatap Arga. “Kamu nggak perlu jaga aku. Kamu juga harus istirahat Arga. Besok masih ada kerjaan.”

Arga menggeleng. “Tidak, aku besok akan ijin kerja sampai kamu belum benar-benar baik.”

Kirana ingin membantah. Tapi matanya sudah berat. Selimut yang hangat dan suara Arga yang tenang membuat kantuknya datang lagi.

“Terima kasih... Mas Arga,” ucap Kirana pelan sebelum matanya terpejam.

Arga terdiam mendengar panggilan itu. "mas Arga". Arga menampar pipinya kanan dan kiri . Plak..plak.." "awww sakit". Arga mencoba memastikan ini bukan mimpi. " ini nyata, ini bukan mimpi. Dia panggil aku apa tadi Mas Arga...Astaga..astaga".

Arga yg kegirangan hampir saja berteriak. Ini pertama kalinya dia dengar Kirana memanggilnya Mas Arga.

Dia menatap Kirana yang sudah tertidur lagi. Wajah Kirana terlihat lebih tenang. Arga duduk kembali ke sofanya. Dia tidak berani tidur. Dia takut kalau Kirana terbangun dan tidak ada siapa-siapa di sampingnya.

Satu jam kemudian, Kirana terbangun lagi karena mimpi buruk. Dia bermimpi semua kontrak gagal dan Pak Harsono kecewa padanya. Dia tersentak dan duduk tegak. Keringat dingin membasahi dahinya.

Arga yg ternyata baru tertidur langsung sadar. “Kirana kamu kenapa..? pusing..? mual..? Apa Kamu mimpi buruk?” baru bangun tapi langsung menyerang dengan pertanyaannya, dia menghampiri Kirana.

Kirana mengangguk. Dia tidak menjawab. Tapi tangannya menggenggam erat ujung selimut.

Arga tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya duduk di samping Kirana dan berkata pelan, “Aku di sini. Kamu tidak sendirian.”

Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Kirana, itu lebih menenangkan dari seratus kata motivasi. Dia menatap Arga dalam diam. Untuk pertama kali, dia merasa aman.

“Kamu... kenapa mau jaga aku, Arga? Kita hanya suami istri kontrak.” Kirana akhirnya bertanya.

Arga menatap Kirana. Matanya serius. “Karena kamu manusia, Kirana. Bukan robot kerja. Kamu boleh lelah. Kamu boleh sakit. Dan aku... aku tidak mau kamu melewatinya sendirian.”

Kirana terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Dia tidak tahu harus jawab apa.

Arga melihat itu dan tersenyum kecil. “Tidur lagi. Besok kamu gak usah masuk kerja dulu.”

Kirana mengangguk. Dia berbaring kembali dan menutup mata. Tapi kali ini, dia tidak takut tidur. Karena ada Arga yang menjaga di sampingnya.

Pagi datang lebih cepat dari yang Kirana kira. Saat dia membuka mata, ruangan sudah terang. Dia melihat Arga masih duduk di sampinya di atas kasur dengan kepala bersandar ke dinding. Tidur dengan posisi tidak nyaman.

Kirana bangun perlahan agar tidak membangunkan Arga. Dia berjalan ke kamar mandi dan mencuci muka. Wajahnya masih pucat tapi demamnya sudah turun. Hanya saja kepalanya masih sangat berat dan pusing.

“Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Arga pelan yang ternyata juga sudah bangun.

Kirana mengangguk. “Sudah lebih baik. Terima kasih, Arga.”

Arga mengangguk balik. “Bagus. Aku Akan minta izin ke Pak Harsono. Kamu cuti tiga hari.”

Kirana terkejut. “Cuti? Aku tidak perlu...”

“Kamu perlu,” potong Arga tegas. “Kesehatanmu lebih penting dari kontrak itu.”

Kirana terdiam. Dia tidak terbiasa ada orang yang memprioritaskan kesehatannya di atas pekerjaan. Selama ini, semua orang hanya melihatnya sebagai anak direktur yang harus sempurna.

Arga melihat ekspresi Kirana dan tersenyum tipis. “Jangan lihat aku seperti itu. Aku cuma melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang....Teman”

"teman.." Kirana mengulang.

Kirana tersenyum kecil mendengar kata teman itu. Ada perasaan tak nyaman saat Arga mengucapkan kata teman. Kenapa dengan hatinya padahal itu hanya sebuah kata teman. Tapi kenapa begitu mengganjal di hatinya.

[BERSAMBUNG...]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!