NovelToon NovelToon
Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!

Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi / Time Travel / Masuk ke dalam novel / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Calista F.

Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Langkah kaki Zevian berhenti tepat beberapa meter dari bangku batu tempat Freya dan Aria duduk.

Suasana taman yang tadi terasa hangat mendadak berubah tegang.

Angin pagi masih berhembus pelan di antara pepohonan akademi, menggoyangkan bunga-bunga kecil di sekitar jalan setapak. Namun entah kenapa, Freya merasa udara di sekitarnya mendadak jauh lebih dingin.

Atau mungkin… itu cuma efek aura Zevian.

'MATI AKU.'

Freya menahan ekspresi wajahnya mati-matian agar tidak berubah panik.

Di samping Zevian, Ares berdiri sambil memasukkan satu tangan ke saku celananya. Senyumnya santai, tapi matanya yang berwarna emas itu terus menatap Freya dengan rasa penasaran terang-terangan.

Dan itu justru lebih menyeramkan.

Kalau Zevian tipe yang bikin orang takut secara langsung. Sedangkan Ares tipe yang kelihatannya santai tapi diam-diam membaca semuanya.

"Y-Yang Mulia," sapa Freya cepat sambil berdiri dari bangku batu.

Aria yang tadi mulai rileks langsung ikut berdiri panik.

"N-Nona… eh, Yang Mulia…" gadis itu sampai gugup sendiri.

Zevian tidak langsung menjawab. Tatapannya jatuh ke tangan Freya dan Aria yang tadi sempat saling menggenggam.

Lalu perlahan… matanya naik menatap Freya. Tatapan itu tajam sekali.

Freya sampai refleks menegakkan punggungnya.

"Aku mengganggu?" tanya Zevian akhirnya.

Suaranya rendah dan datar seperti biasa. Sulit ditebak apakah dia marah, kesal, atau cuma bertanya biasa.

"Ti-tidak," jawab Freya terlalu cepat.

Lalu ia buru-buru batuk kecil dan memperbaiki ekspresinya.

"Maksud saya… tentu tidak, Yang Mulia."

Ares langsung terkekeh pelan melihat reaksinya.

Lucunya, Freya baru sadar satu hal. Ini pertama kalinya ia melihat Ares secara langsung. Dan sialnya… pria itu memang tampan. Sangat tampan.

Berbeda dengan Zevian yang punya aura dingin dan menekan, Ares terlihat jauh lebih santai dan hangat. Rambut hitam kecokelatannya sedikit berantakan terkena angin, memberi kesan liar tapi tetap elegan.

Dan matanya… Mata emas itu terus menatap Freya seolah menemukan hiburan baru.

'Bahaya,' batin Freya langsung waspada. 'Cowok model begini biasanya paling susah dibaca.'

"Aku benar-benar terkejut." Ares akhirnya bicara sambil tersenyum kecil. "Tidak kusangka aku akan melihat pemandangan seperti ini pagi-pagi."

Freya langsung deg-degan lagi. 'Pemandangan seperti apa? Dia dengar dari mana? Sejak kapan mereka berdiri di sana?'

"A-Apa maksud Tuan Muda?" tanya Freya hati-hati.

Ares melirik Aria sebentar, lalu kembali menatap Freya.

"Freya Valencia Vane," katanya santai. "Duduk manis bersama Aria Elowen tanpa perang dunia."

"…"

"…"

"…"

Aria langsung menegang lagi. Freya juga ikut mati gaya. Sedangkan Ares malah tertawa kecil melihat ekspresi mereka.

"Jangan tegang begitu," katanya santai. "Aku cuma bercanda."

'ENGGAK LUCU, BANG.'

Zevian akhirnya melangkah maju satu langkah.

"Ares." Nada suaranya pendek. Teguran halus.

Ares langsung mengangkat kedua tangan pura-pura menyerah. "Baik, baik. Aku diam." Meski begitu, senyumnya belum hilang sedikit pun.

Sementara itu, Zevian kembali menatap Freya. Dan kali ini… tatapannya terasa jauh lebih serius.

"Kau berubah."

Kalimat itu membuat Freya refleks menelan ludah. Lagi-lagi kalimat itu. Sejak kemarin semua orang terus bilang dia berubah.

'YA IYALAH BERUBAH. ISI ORANGNYA JUGA BERUBAH.'

Tapi tentu saja ia tidak mungkin mengatakan itu.

Freya menundukkan kepala sedikit. "Saya hanya sedang berusaha memperbaiki diri, Yang Mulia."

"Memperbaiki diri?" ulang Zevian pelan.

"Ya."

"Dengan mendekati Aria?"

Nah. Datang juga pertanyaan itu.

Freya sebenarnya sudah menduga.

Di novel asli, Freya sangat membenci Aria karena cemburu melihat Zevian membantu Aria membawakan buku dan di pandangan matanya, Aria itu terlihat jatuh cinta pada Zevian. Padahal aslinya bukan seperti itu. Freya asli itu tergila-gila pada Zevian, tapi sayangnya Zavian malah muak dengan tingkah Freya. Jadi perubahan mendadak seperti ini jelas terlihat mencurigakan.

Dan Zevian bukan tipe orang bodoh yang gampang percaya begitu saja.

"Aku penasaran," lanjut Zevian sambil menatap Freya lekat-lekat. "Apa tujuanmu sebenarnya?"

Hening.

Tatapan itu terlalu tajam.

Freya merasa seperti sedang diinterogasi polisi.

Di sampingnya, Aria terlihat cemas. Gadis itu melirik Freya beberapa kali seperti takut Freya akan kembali dimarahi.

Freya menarik napas pelan. 'Tenang. Kalau gugup sekarang, habis sudah.'

"Aku tidak punya tujuan apa-apa," jawab Freya akhirnya.

Zevian langsung menyipitkan mata sedikit.

Freya buru-buru lanjut bicara sebelum suasana makin menyeramkan. "Maksud saya… saya memang tidak punya niat buruk."

Ia menatap Aria sebentar. "Aria tidak pernah melakukan kesalahan apa pun pada saya."

Lalu Freya kembali menatap Zevian. "Selama ini saya hanya terlalu egois untuk menyadarinya."

Ares yang tadi santai mulai terlihat sedikit lebih serius mendengar jawaban itu.

Sedangkan Zevian masih diam. Tatapannya belum berubah.

"Dan tiba-tiba kau sadar begitu saja?" tanyanya.

…Nah. Pertanyaan ini susah dijawab.

Masa Freya harus bilang, Karena aku gak mau mati dipenggal?

"Kadang seseorang baru sadar setelah hampir kehilangan nyawanya," jawab Freya pelan.

Dan kali ini… itu bukan bohong. Freya memang benar-benar takut mati.

"Aku banyak berpikir setelah jatuh dari kuda kemarin."

Ia tersenyum kecil pahit.

"Dan aku sadar selama ini aku terlalu menyusahkan banyak orang."

Tatapan Zevian sedikit berubah. Tidak banyak. Tapi Freya menangkapnya.

Pria itu seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.

Ares tiba-tiba bersandar santai ke pohon terdekat sambil menyilangkan tangan.

"Menarik."

Freya meliriknya bingung.

Ares tersenyum kecil. "Biasanya orang berubah setelah jatuh cinta."

"…"

"Tapi kau berubah setelah jatuh dari kuda."

"…"

"Lumayan unik."

Freya hampir keselek ludah sendiri.

'ARAH PEMBICARAANNYA KENAPA JADI ANEH?'

Bahkan Aria sampai terlihat bingung harus bereaksi bagaimana.

Sedangkan Zevian terlihat makin tidak suka melihat Ares bicara sembarangan.

"Ares."

"Oke, oke." Ares tertawa kecil lagi. "Aku serius kok."

Lalu matanya kembali menatap Freya.

"Tapi aku memang penasaran."

Ia melangkah mendekat pelan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Dan berhenti cukup dekat di depan Freya.

"Mana Freya yang biasanya galak dan suka marah-marah?"

Senyumnya tipis.

"Yang ini terlalu jinak."

Freya refleks mundur setengah langkah kecil. Dan itu tidak luput dari perhatian Ares. Mata emasnya langsung sedikit menyipit geli.

'ANJIR DIA SADAR.'

Freya buru-buru memasang ekspresi normal lagi.

"Seseorang tidak mungkin terus hidup dengan sifat buruk selamanya kan, Tuan Muda?"

"Hmm…"

Ares memiringkan kepala sedikit.

"Bisa jadi."

"…"

"Tapi entah kenapa…" lanjutnya pelan sambil terus menatap Freya. "Aku merasa kau benar-benar berbeda."

DOR.

Freya langsung panik dalam hati.

'JANGAN CURIGA KE ARAH SUPERNATURAL WOI.'

Untungnya Ares malah tertawa kecil setelah mengatakan itu. "Mungkin jatuh dari kudanya terlalu keras."

'SYUKURLAH OTAKNYA GAK NYAMPE SITU.'

Sementara itu, Aria yang dari tadi diam akhirnya memberanikan diri bicara pelan. "Yang Mulia…"

Zevian menoleh padanya.

Aria terlihat gugup.

"T-Tolong jangan marah pada Freya…"

Freya langsung menoleh kaget.

"Eh?"

Aria menggenggam ujung bajunya sendiri gugup sebelum melanjutkan.

"Freya benar-benar minta maaf pada saya…" Suaranya kecil tapi tulus. "Dan dia tidak terlihat berbohong."

Tatapan Zevian berubah sedikit saat melihat Aria membela Freya.

Jujur saja, Freya sendiri juga cukup tersentuh. 'Ya ampun. Female lead ini terlalu baik.'

"Dia juga…" Aria melirik Freya sebentar lalu tersenyum malu-malu. "Dia baik sekali tadi."

'KRITICAL DAMAGE.' Freya hampir menepuk dadanya sendiri. 'LUCU BANGET SIH INI CEWEK.'

Bahkan Ares sampai tertawa kecil melihat ekspresi Freya yang tiba-tiba blank beberapa detik.

"Wah," gumamnya geli. "Ekspresimu menarik sekali."

Freya langsung sadar lalu buru-buru batuk kecil.

"S-Saya hanya senang Aria tidak takut lagi pada saya."

"Belum sepenuhnya tidak takut sih…" gumam Aria jujur polos.

"…"

"…"

"…"

Freya langsung kena mental.

Aria panik. "EH? Bukan maksud saya jahat"

Ares ngakak pelan. Bahkan sudut bibir Zevian terlihat seperti hampir naik sedikit.

HAMPIR.

Dan itu saja sudah cukup bikin dunia terasa aneh.

Freya memegang dadanya dramatis. "Aria… ternyata jalan kita masih panjang…"

"A-Aku minta maaf."

"Tidak apa-apa…" Freya mengusap air mata palsu. "Aku akan bekerja keras mendapatkan kepercayaanmu…"

Aria langsung makin panik.

Sedangkan Ares sekarang benar-benar terlihat terhibur.

"Ini pertama kalinya aku melihatmu semenarik ini, Freya."

DOR.

Kalimat itu langsung membuat suasana hening satu detik.

Aria membeku.

Freya membelalak.

Dan Zevian… Tatapannya langsung berpindah tajam ke Ares.

Ares sendiri tampak santai. "Apa?" katanya polos. "Aku cuma jujur."

'WOI JANGAN MULAI SEGITIGA CINTA DARI SEKARANG WOI.'

Freya rasanya ingin pingsan.

Untungnya Zevian akhirnya menghela napas pelan sebelum bicara lagi.

"Aku belum sepenuhnya percaya padamu, Freya."

'Nah. Ini lebih masuk akal.'

Freya langsung fokus mendengarkan.

"Tapi…" lanjut Zevian pelan. "Aku akan melihat sendiri apakah perubahanmu ini nyata atau tidak."

Tatapannya tajam.

"Jangan buat Aria menangis lagi."

Dan anehnya… Tidak terdengar seperti ancaman. Lebih seperti peringatan serius.

Freya menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Saya mengerti."

Dan kali ini jawabannya benar-benar tulus. Karena justru dia sendiri yang paling tidak ingin Aria terluka.

Zevian memperhatikan wajah Freya beberapa saat lagi. Lalu akhirnya ia berbalik.

"Kita pergi, Ares."

Ares menghela napas dramatis. "Padahal aku masih ingin ngobrol."

"Kau terlalu banyak bicara."

"Itu namanya ramah."

"Itu namanya mengganggu."

Ares terkekeh pelan lalu akhirnya berjalan mengikuti Zevian. Namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh lagi ke arah Freya. Senyumnya muncul lagi.

"Kita akan bertemu lagi, Freya."

Entah kenapa… Cara dia mengucapkannya terdengar seperti masalah besar.

Begitu kedua pria itu akhirnya pergi menjauh dari taman, Freya langsung terduduk lemas di bangku batu.

"Ya Tuhan…"

Aria panik.

"Freya? Kamu tidak apa-apa?"

"Aku hampir mati…"

"EH?"

"Mentalku…"

Aria bengong beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak tadi.Dan suara tawanya lembut sekali.

Freya langsung menoleh menatapnya. 'Astaga. Female lead senyum itu illegal.'

"Freya aneh," kata Aria sambil masih tertawa pelan.

Freya langsung menunjuk dirinya sendiri tidak terima. "Baru juga jadi teman sudah menghina aku."

"A-Aku tidak menghina."

"Kamu bilang aku aneh."

"Karena memang sedikit aneh…"

Freya langsung pura-pura terluka lagi.

Aria panik lagi. Dan untuk beberapa saat... Taman belakang akademi itu dipenuhi suasana hangat yang tidak pernah dibayangkan siapa pun sebelumnya.

Tidak ada hinaan. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada air mata ketakutan. Hanya dua gadis yang mulai belajar memahami satu sama lain.

Namun jauh dari sana… Di koridor akademi, Zevian berjalan dalam diam.

Ares melirik sepupunya beberapa kali sebelum akhirnya menyeringai kecil.

"Kau terus memikirkan Freya ya?"

"Tidak."

"Bohong."

Zevian tidak menjawab. Dan itu justru membuat Ares tertawa kecil. Karena selama ini, Zevian tidak pernah peduli pada Freya.

Tidak pernah memperhatikannya. Tidak pernah memikirkannya. Tapi sekarang? Pria itu bahkan beberapa kali melamun sejak keluar dari taman.

Menarik sekali.

Sementara itu, Zevian sendiri diam-diam mengingat kembali wajah Freya tadi.

Senyumnya. Tatapan matanya. Cara dia bicara pada Aria. Dan entah kenapa… Semua itu terasa sangat berbeda dari Freya yang selama ini ia kenal.

"…Berubah, ya." Gumamannya pelan.

Tapi justru karena terlalu berbeda…Zevian jadi semakin tidak bisa mengalihkan pandangannya darinya.

1
aku
lagi 😁
aku
😭😭 alasan nmr 83 😭😭 🤣🤣🤣no.1 nya cembokurr 🤣🤣
aku
mulai mekar kah bunga asmara pangeran?? 😁
aku
🤣🤣🤣🤣 jlebbb 🤣🤣🤣
aku
aduduh,ngabrut 🤣🤣🤣 seminar ekonomi 🤣🤣🤣
aku
jangan2 si ares kyk emaknya 🤣
frina ayu: faktor genetik kak 😭
total 1 replies
paijo londo
lyra dulu meninggal karena TDK ada yg membantu untuk menutup gerbangnya hingga mengambil nyawanya sedangkan Freya mulai banyak yg munyukainya hingga tanpa ragu berani mengorbankan nyawanya untuk Freya 💪freya
paijo londo
celetukan Freya bikin Ares suka ketawa
paijo londo
frey lucu ya kalo ngumpat dalam hati kita yg baca jadi ketawa ngakak 🤣🤣
aku
kok kesian sm monster2 nya 😭😭
aku
res, lu lama2 gue gibeng jg. bkin reader kepo maksimal. 😭😭 agk curiga tp jg menghibur 🤣
aku
ceileeeehhh terkesimo kah kau frey 😌😌
aku
ares, lama2 kau makin mengerikan 😭😭
aku
selamatkan jantungmu frey 🤣🤣
aku
bnr, tidak fantassttt ish ish ish 😌😌🤣🤣
aku
ceplas ceplos dn bar bar kah aslinya ra??? 🤣🤣🤣
frina ayu: asbun kak dia🤣
total 1 replies
aku
heh 🤣🤣 nyukurin yg asli mati duluan 🤣🤣 astagaa
frina ayu: takutnua kalo gak dimatiin nanti rebutan tubuh kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!