NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang di Dalam Otak Iblis

Tengah malam. Ruang kerja Lucifer.

Lampu dipadamkan. Hanya bias Central Park yang merembes lewat kaca sebesar dinding. New York di bawah berpesta cahaya, namun di dalam batok kepala Lucifer, yang ada cuma kelam.

Dua pekan berlalu sejak malam terkutuk itu. Dua pekan Florence bungkam. Tak menoleh. Dua pekan Lucifer menggeletak di sofa ruang kerja sebab tak sanggup menginjak kamar yang aromanya masih melekat di seprai, di dinding, di udara.

Sesal itu nyata. Tiap fajar ia terjaga dengan ulu hati bergolak karena teringat apa yang ia perbuat. Teringat paras Florence yang pias. Teringat noda merah di sutra. Teringat suaranya yang remuk melirih kumohon.

Kau lebih rendah dari bangkai yang kau kubur di rubanah. Mereka mati seketika. Kau membunuhnya pelan-pelan.

Suara itu, suara nalar, suara insan yang tersisa di dirinya, menghardik tiap malam. Menamparnya. Menyodorkan laras ke pelipisnya sendiri.

Namun ada suara lain. Lebih tua. Lebih dalam. Suara yang bersarang sejak ia tujuh tahun dan menyaksikan ibunya padam.

Suara jahanam.

Bangkai? Dia milikmu. Dari awal dia milikmu. Kau memungutnya. Kau menyuapinya. Kau memburunya sampai ke ujung bumi. Wajar kau pungut apa yang jadi hakmu.

Dia meratap? Bagus. Artinya dia paham siapa yang bertakhta. Artinya dia takkan lupa.

Kau sesal? Untuk apa? Sebab dia berlinang? Perempuan memang selalu berlinang. Esok dia alpa. Esok dia akan paham tempatnya memang di sini. Di bawah mu.

Dua suara itu bertempur. Tiap detik. Tiap hela napas. Membuat Lucifer tak mampu meneken kontrak. Tak mampu menelan suap. Marco sudah tiga kali mengabarkan kiriman baja tertahan karena Sang Raja tak membubuh tinta.

Lucifer tak acuh. Singgasananya boleh runtuh. Jagat boleh hangus. Yang ia dengar hanya dua hal: gema sesalnya sendiri, dan...

Suara Florence.

Bukan jeritnya. Bukan tangisnya. Melainkan lirihnya malam itu. “Lu-Lucifer... jangan... kumohon...”

Bergetar. Gentar. Luluh. Dan entah mengapa, benak iblisnya merekam suara itu. Menyimpannya. Memutarnya ulang tiap kali sunyi mencekik.

Dan malam ini, sunyi itu terlalu pekat.

Lucifer duduk di kursinya. Jemari meremas rambutnya sendiri hingga kulit kepala menyala. Kelopaknya terkatup. Ia coba menghalau suara itu. Menghalau ingatan tentang kulit pualam Florence. Tentang perlawanan rapuh di genggamannya. Tentang bagaimana raga di bawahnya menggigil.

Henti. Henti. Kau monster bila mengenangnya.

Namun tubuhnya mengkhianati akalnya. Raga yang dua purnama tak dijamah siapa pun. Raga yang candu pada Florence sejak gadis itu rebah di kapel. Raga yang sepekan lalu akhirnya menagih apa yang ia damba, meski dengan cara paling nista.

Ingatan itu… basah. Membara. Sarat kuasa. Dan di kepala Lucifer yang retak, kuasa adalah satu-satunya dialek cinta yang ia pahami.

Suara Florence menggema lagi. “Kumohon...”

Napas Lucifer memburu. Rahangnya mengunci. Tangan yang tadi menjambak, turun. Mengepal di atas paha. Lalu… takluk.

Ia membuka mata. Menatap ke arah pintu, memastikan tergembok. Memastikan tak ada lensa mengintip di ruang kerjanya. Memastikan tak ada yang menyaksikan Raja Jahanam, yang digentari separuh dunia, kini terpuruk di singgasananya sendiri, ditaklukkan oleh benaknya.

Jemarinya bergerak. Kasar. Geram. Bukan sebab berahi. Sebab buntu. Sebab muak pada dirinya. Sebab satu-satunya cara membungkam suara Florence di kepalanya… adalah menghidupkannya lagi. Mengulang malam itu di dalam benaknya, bingkai demi bingkai.

“Hmmmgh, ahhhh… Florence.” Desahnya lolos tanpa restu, berkhianat dari kerongkongan.

Cengkeram di rahang. Bibir yang ia lumat hingga pecah. Perlawanan yang sia-sia. Isak yang ia sumpal. Klaim mutlak.

Menjijikkan. Hina. Dan raganya merespons. Pengkhianatan paling telak.

Saat semua usai, tak ada lega. Hanya rasa mual yang kian parah. Hanya ada benci pada diri yang berlipat. Hanya ada suara nalar yang kembali menghardik, lebih nyaring.

Lihat kau. Menodainya di dunia nyata, lalu menodainya lagi di benakmu. Kau bahkan tak memberinya jeda di dalam pikiranmu. Kau iblis. Kau tak layak menyesal, sebab sesalmu dusta.

Lucifer tersengal. Peluh dingin membasahi kemejanya. Ia menunduk, menatap telapaknya sendiri. Yang kini bernoda cairan kental miliknya. Telapak yang tadi… telapak yang sepekan lalu meremukkan kehormatan seorang gadis.

Ia ingin menetak tangan itu.

Ia bangkit. Melangkah ke kamar basuh di dalam. Membuka keran hingga air menggeruak penuh. Membenamkan kepalanya di sana. Lama. Sampai paru-parunya menyala. Sampai pikiran itu, suara itu, ingatan itu, karam sejenak.

Ia mengangkat kepala. Menatap pantulan di cermin. Basah. Mata merah. Paras orang asing.

“Jika begini caranya,” bisiknya pada kaca itu, “lebih baik aku mati. Atau dia yang mati. Sebab bila kita berdua bernyawa… akan kuhancurkan dia lagi. Dan lagi. Sampai tak ada sisa.”

Perang itu takkan pernah ia menangkan. Sebab tak peduli sisi mana yang menang, nalar atau jahanam, Florence yang akan gugur. Selalu Florence yang gugur.

Dan malam ini, Lucifer akhirnya paham satu hal: ia tak gentar Florence enyah. Ia gentar pada dirinya sendiri jika Florence tetap di sini.

---

1
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!