NovelToon NovelToon
ISTRI JAMINAN CEO

ISTRI JAMINAN CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gendis Pitaloka

Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.

​Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.

​"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"

​Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Celah Dalam Sangkar

​"Nasi gorengnya sudah siap. Silakan makan, Ibu Mertua."

​"Kamu pikir aku akan memakan masakan dari tangan yang tadi mengancamku? Kamu pikir aku serendah itu untuk mencicipi makanan rakyat jelata?" Sofia mendorong piring itu hingga beberapa butir nasi tumpah ke meja marmer yang mengkilap.

​"Kalau tidak mau makan, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa. Tapi setidaknya biarkan pelayan membereskan barang-barangku yang belum sempat kamu buang ke tempat sampah," jawab Naya tenang. Ia menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Sofia, sebuah tindakan yang dianggap sangat lancang di rumah itu.

​"Berani sekali kamu duduk di depanku tanpa izin! Siapa yang mengajarimu tata krama?" Sofia menggebrak meja, membuat sendok perak di atasnya bergetar.

​"Arkan sedang di Singapura, Ibu Mertua. Tidak ada kamera, tidak ada kolega bisnis, dan tidak ada wartawan yang perlu kita buat terkesan. Kita tidak perlu pura-pura jadi keluarga harmonis yang saling mencintai, kan? Mari kita bicara jujur untuk sekali saja," Naya menopang dagunya, menatap Sofia dengan sorot mata yang menantang.

​"Jujur? Kamu ingin kejujuran?" Sofia tertawa hambar. "Kejujurannya adalah aku membencimu setiap kali aku melihat wajahmu. Kamu itu pengingat akan kegagalan Arkan dalam memilih pasangan yang setara. Kamu hanya parasit yang menempel pada nama besar Arkan."

​"Kalau aku parasit, maka Arkan adalah inangnya yang sengaja membiarkanku menghisap hartanya. Kenapa Tante tidak menyalahkan putra kesayangan Tante saja?"

​"Lancang! Janu! Kemari!" teriak Sofia memanggil asisten Arkan.

​Janu masuk dengan langkah cepat, namun ia hanya berdiri di sudut ruangan dengan kepala tertunduk. "Iya, Bu?"

​"Bawa wanita ini masuk ke kamarnya! Kunci dari luar! Aku tidak mau melihat wajahnya sampai matahari terbenam!"

​Naya berdiri sebelum Janu sempat bergerak satu langkah pun. "Janu tidak akan melakukannya, karena dia tahu Arkan ingin aku terlihat 'sehat dan bahagia' saat dia menelepon lewat video nanti malam. Kalau aku dikurung, wajahku akan pucat, dan Arkan akan menanyakan alasannya. Apa Tante siap menjelaskan pada Arkan kenapa istrinya diperlakukan seperti tahanan politik?"

​Sofia terdiam, wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak di dada. Ia tahu Naya benar. Arkan sangat terobsesi dengan kontrol dan citra istrinya di depan matanya sendiri.

​"Keluar dari hadapanku! Sekarang! Sebelum aku benar-benar kehilangan kendali!" usir Sofia dengan suara gemetar.

​Naya berjalan menuju kamarnya, tapi ia berbelok ke arah lorong tempat Janu berada. Begitu Sofia masuk ke kamarnya untuk tidur siang, Naya segera menarik lengan Janu ke area jemuran belakang yang sepi dan tersembunyi dari pantulan cermin ruang tengah.

​"Janu, berikan ponselmu. Sekarang juga. Aku tidak punya banyak waktu," bisik Naya mendesak.

​"Mbak, Ibu Sofia punya mata-mata di mana-mana. Bahkan pelayan di dapur bisa saja melaporkan kita. Saya bisa mati kalau ketahuan memberikan ini," Janu mencoba menjauhkan sakunya dari jangkauan Naya.

​"Kamu lihat sendiri tadi, aku sudah mempertaruhkan nyawaku dengan melawan Sofia secara terang-terangan. Berikan saja ponsel itu! Aku harus tahu apa yang sebenarnya ditandatangani Ayah sebelum dia benar-benar kehilangan kesadarannya di rumah sakit itu. Kamu berutang padaku, Janu!" Naya mencengkeram lengan Janu dengan kuat.

​"Mbak, tolong... saya punya keluarga yang harus saya hidupi."

​"Dan aku punya ayah yang sedang sekarat karena ulah majikanmu! Hanya lima menit, Janu. Aku akan menghapus riwayatnya, aku bersumpah."

​Janu menarik napas panjang, tampak bergulat dengan rasa takutnya yang luar biasa. Akhirnya, ia menyerah dan mengeluarkan ponselnya. "Hanya lima menit. Jika lebih, saya akan mengambilnya paksa."

​Naya segera menekan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala. Nomor Pak Baskoro, paman Arkan yang tampak paling tidak menyukai cara kerja keponakannya sendiri.

​"Halo? Pak Baskoro?" bisik Naya begitu telepon diangkat.

​"Siapa ini? Dari mana kamu mendapatkan nomor pribadi saya?" suara berat di seberang sana terdengar sangat waspada.

​"Ini Kanaya, istri Arkan. Pak, saya butuh bantuan. Anda satu-satunya yang berani bicara jujur di acara kemarin. Saya tahu ada yang tidak beres dengan surat penyerahan itu. Tolong, katakan apa yang Anda ketahui."

​"Kanaya... kamu tahu risiko menelepon saya? Arkan bisa menghancurkan bisnis saya dalam semalam jika dia tahu kita berkomunikasi. Dia punya telinga di setiap dinding."

​"Tapi Anda punya bukti, kan? Anda tahu Arkan menjebak Ayah soal penggelapan dana itu? Anda tahu dia memalsukan tanda tangan pada dokumen audit?"

​"Dengarkan aku baik-baik, Nak. Arkan tidak bekerja sendiri. Ada pengkhianat di perusahaan ayahmu yang memberikan kunci brankas digital itu. Aku punya salinan dokumen aslinya yang belum sempat Arkan musnahkan, tapi aku tidak bisa memberikannya padamu selama kamu masih diawasi seperti ini."

​"Arkan sedang di Singapura selama tiga hari ke depan! Ini satu-satunya kesempatan saya, Pak. Tolong bantu saya."

​"Temui aku besok jam sepuluh pagi di kafe tua di belakang gedung peninggalan kakek Arkan. Datang sendiri. Jika aku melihat ada bayangan Janu atau pengawal lain di sekitarmu, aku akan pergi dan kita tidak akan pernah bicara lagi," Pak Baskoro langsung memutuskan sambungan.

​Naya mengembalikan ponsel itu pada Janu. Tangannya gemetar hebat. "Terima kasih, Janu. Kamu baru saja menyelamatkan satu nyawa."

​"Mbak bicara dengan siapa? Wajah Mbak pucat sekali," tanya Janu cemas.

​"Bukan urusanmu. Sekarang, dengar. Aku butuh bantuanmu lagi. Besok pagi, kamu harus mengalihkan perhatian Sofia. Aku harus keluar sebentar."

​"Mbak gila? Keluar tanpa pengawalan? Pak Arkan akan membunuh saya!"

​"Janu, dengar! Arkan membayar semua kemewahanmu dengan uang hasil merampok keluargaku. Apa kamu tidak merasa sedikit pun berdosa? Bantu aku kali ini, dan aku tidak akan menyeret namamu kalau rencana ini berhasil," ancam Naya, kali ini dengan nada yang lebih rendah namun mematikan.

​Janu terdiam cukup lama, menatap lantai. "Besok pagi Ibu Sofia ada jadwal ke spa jam sembilan. Beliau biasanya menghabiskan waktu empat jam di sana. Itu waktu terbaik Mbak. Tapi saya tidak bisa menjamin supir pribadi Pak Arkan akan diam."

​"Aku akan lewat pintu belakang, naik taksi biasa. Pastikan saja tidak ada yang mencariku ke kamar selama dua jam."

​Malam harinya, ponsel di kamar Naya berdering. Panggilan video dari Arkan. Naya menarik napas sedalam mungkin, memijat pipinya agar tidak terlihat tegang sebelum menekan tombol hijau.

​"Halo, Arkan," ucap Naya dengan suara yang diusahakan semanis mungkin.

​Layar menunjukkan Arkan yang sedang duduk di sebuah balkon hotel mewah. "Kamu terlihat lelah. Apa Ibu terlalu keras mendidikmu hari ini?"

​"Hanya beberapa perdebatan kecil soal menu makan siang. Tidak ada yang luar biasa," jawab Naya, matanya tetap tertuju pada kamera, mencoba tidak menunjukkan kegelisahan.

​"Bagus. Aku suka wanita yang punya harga diri, asalkan dia tahu kapan harus menunduk. Kudengar kamu membersihkan ruang kerjaku hari ini? Janu bilang kamu sangat teliti," Arkan menyipitkan matanya, seolah sedang membaca pikiran Naya melalui layar.

​"Aku hanya bosan. Lagipula, ruangan itu memang berdebu," bohong Naya.

​"Jangan terlalu rajin, Naya. Aku tidak ingin kamu menemukan sesuatu yang belum saatnya kamu lihat. Oya, jangan coba-coba keluar dari apartemen besok. Aku sudah mengganti kode akses lift utama dan memasang sensor gerak di gerbang bawah. Aku ingin kamu tetap aman di dalam."

​Naya menelan ludah. Jantungnya berdebu kencang. Sensor gerak?

​"Aku tidak punya rencana ke mana-mana, Arkan. Aku lebih suka di sini daripada dihina orang di luar sana," sahut Naya dingin.

​"Jawaban yang bagus. Tidurlah sekarang. Aku punya banyak agenda besok. Jangan sampai aku mendengar kabar buruk tentangmu dari Janu," Arkan mematikan sambungan secara sepihak.

​Naya melempar ponsel itu ke kasur. Ia harus berpikir lebih keras. Jika lift utama dan gerbang bawah dijaga sensor, ia harus mencari jalan lain.

​"Janu!" Naya keluar kamar dan menemukan Janu yang sedang memeriksa pintu balkon.

​"Iya, Mbak?"

​"Lift utama ada kodenya sekarang. Di mana jalan keluar yang tidak memakai sensor?"

​Janu tampak pucat pasi. "Hanya ada satu, Mbak. Lewat jalur pembuangan limbah di lantai bawah. Tapi itu kotor dan sangat gelap. Mbak harus melewati area bongkar muat barang."

​"Aku tidak peduli kalaupun harus melewati selokan! Besok jam sembilan, bantu aku lewat sana. Aku harus menemui Pak Baskoro. Ini satu-satunya cara, Janu. Satu-satunya cara agar kita berdua lepas dari iblis ini."

​Janu menatap Naya dengan iba, lalu mengangguk pelan. "Baik, Mbak. Saya akan siapkan jalannya. Tapi tolong... jangan sampai Mbak terlambat kembali. Jika Arkan tahu, kita tidak akan pernah melihat matahari lagi."

​Naya kembali ke kamarnya, menatap bayangannya di jendela. Ia tahu, esok hari adalah pertaruhan nyawa. Ia bukan lagi sekadar jaminan bisnis, ia adalah ancaman yang sedang mengasah belati di balik punggungnya sendiri.

1
Fitri Zee
wih galak woy
Fitri Zee
hai aku mampir
Gendis Pitaloka: Hai.. terimakasih ya sudah mampir semoga suka dengan cerita nya ❤️
total 1 replies
sindi
thor, lanjut nulisnya udah gasabar lagi baca kelanjutannya
Gendis Pitaloka: Besok pagi update lagi,masih di ketik ini 😁
total 1 replies
fara sina
Lanjut kak. semangat terus nulisnya 🥰🥰🥰
Gendis Pitaloka: Harus selalu semangat 🤩
total 1 replies
fara sina
sudah kuduga emang Arkan sengaja biarin kamu gitu nay. duhhh mnaa ini kedua kalinya kamu gini nay.
fara sina
malah aku mikir justru Arkan sengaja membiarkan kamu masuk ke kantornya hari itu. pls jangan gegabah lagi nay.
fara sina
waduh, aku pikir bakal bela Kanaya ternyata gini. ibunya Arkan juga perlakuan ke Kanaya terlalu merendahkan. semoga cepet selesai kontraknya nay. pasti gabetah ngadepin kehidupan kaya gini
fara sina
💪💪💪 semangat.btw kamu seyakin ini nay? urusannya sama Arkan. tapi aku masih bingung sama Arkan sebenernya baik apa jahat
fara sina
Arkan emang CEO pria jenius pantes dijuluki. gini ajah gerak Kanaya udah ketebak 🤭
fara sina
belajar dari kesalahan nay
fara sina
hampir ajah Kanaya percaya. bau bau Arkan sebenernya ga jahat
fara sina
kan jadi gini😭 Arkan serem ya kalo marah begini
fara sina
tetep waspada nay.
fara sina
menarik nih. bagus
fara sina
bahaya kalo jebakan jangan kesana sendirian nay. takutnya mata mata komisaris yang jahat
fara sina
aktingnya keren banget ya Arkan
fara sina
waduh ada skenario lengkap nay kamu siap siap jadi aktris lagi yang di sutradara Arkan 😭
fara sina
hati hati Kanaya jangan sendirian bahaya
fara sina
sudah kuduga sepertinya Arkan gak sejahat yang dikira kamu Naya.
fara sina
anggapa ajah kamu sedang kerja untuk Arkan. Harus professional. gausah dimasukin ke hati omongan yang nyakitin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!