NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Bertani / Slice of Life / Komedi
Popularitas:268.5k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Undangan Tak Terduga

Keesokan paginya, Banyu sudah siap tempur.

Dia mengeluarkan tiga batang ginseng "kurus" dari dalam Dimensi Kendi. Agar nilai jualnya naik, Banyu membersihkan sisa-sisa tanah di akarnya dengan sikat gigi bayi secara hati-hati, lalu membungkusnya dalam kotak kayu bekas jam tangan yang dilapisi kain beludru merah.

Prinsip marketing dasar: Packaging adalah kunci. Biarpun isinya cuma "akar rumput", kalau dikemas ala pejabat, harganya bisa naik ratusan ribu.

Baru saja Banyu melangkah keluar pagar kosan, ponselnya berdering.

Belakangan ini, panggilan masuk dari nomor tak dikenal makin sering biasanya dari chef atau manajer restoran yang mau pesan sayur. Jadi, Banyu mengangkatnya dengan nada bisnis standar.

"Halo, dengan Banyu di sini. Mau pesan sawi atau bayam?"

Namun, suara di seberang sana bukan suara bapak-bapak dapur yang nge-bass, melainkan suara cempreng nan imut.

"Om Banyu! Ini Melati!"

Banyu sempat loading sebentar. Melati siapa? Tapi sedetik kemudian dia ingat pada gadis kecil berpipi bakpao yang dia tolong waktu itu.

"Oh! Melati toh," nada suara Banyu langsung berubah ramah. "Gimana kabar Kakek? Udah sembuh?"

"Udah! Kakek minum air dari Om, langsung sembuh total!" seru Melati riang. Tapi sedetik kemudian, nadanya berubah jadi sedih dan menuduh. "Tapi Om Banyu pembohong! Katanya mau main ke rumah Melati, kok nggak pernah datang? PHP!"

Jleb.

Banyu menepuk jidatnya. Dia memang sempat janji palsu pada anak kecil itu supaya dia berhenti menangis waktu itu. Nggak nyangka bakal ditagih beneran.

"Ehh... itu..." Banyu tertawa canggung. "Om lagi sibuk banget kerja, Melati. Jadi belum sempat main. Maafin Om ya?"

"Nggak apa-apa sih. Mama juga sibuk kerja terus, jarang nemenin Melati," celoteh polos bocah itu membuat hati Banyu mencelos sedikit. "Tapi hari ini kan Sabtu! Om libur kan? Main ke rumah Melati yuk! Makan siang di sini!"

"Waduh..." Banyu garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

Jujur saja, dia suka dengan Melati yang lucu. Tapi dia malas berurusan dengan ibunya Siska. Wanita karir yang jutek, arogan, dan memandangnya sebelah mata itu. Banyu sudah bilang ke Siska kalau dia nggak akan ganggu hidup mereka lagi. Kalau sekarang dia datang, nanti dikira mau minta sumbangan atau cari muka.

Saat Banyu sedang merangkai alasan penolakan yang halus, tiba-tiba terdengar suara perpindahan telepon, dan suara berat berwibawa mengambil alih.

"Halo? Nak Banyu? Ini saya, Wijaya. Kakek yang kamu tolong waktu itu."

Mengetahui lawan bicaranya adalah orang tua, mode sopan santun Banyu langsung aktif. "Oh, Pak Wijaya. Siang, Pak. Nggak usah sungkan begitu, saya cuma bantu sebisa saya kok."

"Hahaha, buat kamu mungkin cuma 'bantu sebisa', tapi buat saya itu nyawa, Nak," tawa Pak Wijaya terdengar renyah dan sehat. "Jujur saja, saya sudah lama mau undang kamu makan sebagai tanda terima kasih. Tapi saya nggak tahu alamat kamu. Kebetulan Melati kangen berat sama kamu. Kalau kamu nggak keberatan, mampir lah ke gubuk kami. Atau kalau kamu sibuk, biar saya yang sowan ke tempat kamu."

Mendengar tawaran itu, Banyu jadi nggak enak hati. Masa orang tua disuruh nyamperin anak kos? Banyu ini penganut adab ketimuran sejati: Kalau orang tua mengundang, haram hukumnya menolak, apalagi menyuruh mereka datang.

"Waduh, jangan Pak. Pamali kalau Bapak yang ke sini," jawab Banyu cepat. "Ya sudah, mumpung saya lagi luang, biar saya yang ke sana sekalian nengok Melati. Kasihan kalau dibilang tukang bohong sama anak kecil."

"Hahaha! Bagus, bagus! Catat alamatnya ya: Jalan Teuku Umar Nomor 98, Menteng."

Banyu mencatat alamat itu, basa-basi sebentar, lalu menutup telepon.

Dia menghela napas. Menteng. Tepatnya Jalan Teuku Umar. Itu bukan sekadar perumahan elit, itu kawasan "Ring 1"-nya Jakarta. Tetangganya kalau bukan Jenderal, ya Menteri, atau Konglomerat Naga.

"Pantesan Siska sombongnya selangit. Ternyata old money beneran," gumam Banyu. Dia sama sekali belum tahu kalau Pak Wijaya adalah Wakil Gubernur. Dia cuma mengira Pak Wijaya ini pensiunan pengusaha kaya raya.

Banyu melirik jam tangan. Rencana jual ginseng ke Glodok terpaksa ditunda ke sore hari.

---

Setengah jam kemudian, motor bebek Banyu berhenti di depan sebuah gerbang besi tempa yang menjulang tinggi di kawasan Menteng.

Nomor 98.

Rumah itu bukan sekadar rumah, tapi lebih mirip istana kolonial Belanda yang terawat sempurna. Halamannya luas dengan rumput jepang yang dipangkas rapi, ada pos satpam pribadi, dan bangunan utamanya bergaya Art Deco klasik dengan pilar-pilar marmer.

Banyu menelan ludah. "Gila... ini rumah harganya berapa ya? Seratus Miliar nyampe kali?"

Sebagai pemuda yang baru pegang duit 50 juta, melihat aset ratusan miliar di depan mata membuatnya sadar kalau dia masih butiran debu di Jakarta ini.

Banyu memencet bel interkom. Tak lama, gerbang otomatis terbuka. Seorang asisten rumah tangga berseragam rapi menyambutnya di pintu utama.

Dan belum sempat Banyu melepas helm sepenuhnya, sosok kecil berbaju dress merah muda berlari keluar.

"Om Banyuuu!"

Melati berlari kencang dan langsung menubruk kaki Banyu. Untung kuda-kuda Banyu kokoh.

"Halo, Tuan Putri," sapa Banyu sambil mengangkat Melati ke dalam gendongannya. Anak ini wangi bedak bayi dan sampo mahal.

Tak lama kemudian, seorang pria tua berjalan keluar dari pintu utama dengan langkah tegap. Itu Pak Wijaya.

Kondisinya jauh berbeda dibanding saat Banyu menemukannya tergeletak di pinggir jalan. Sekarang, Pak Wijaya terlihat segar bugar, wajahnya merona sehat, dan mengenakan kemeja batik sutra yang terlihat mahal namun santai. Aura wibawanya sebagai pemimpin terasa kuat, namun senyumnya hangat.

"Wah, Nak Banyu akhirnya datang juga! Selamat datang, selamat datang!" sambut Pak Wijaya sambil mengulurkan tangan. "Kamu ini benar-benar penyelamat saya."

Banyu menyalami tangan pria tua itu dengan sopan sambil menurunkan Melati. "Ah, Om Wijaya bisa aja. Kebetulan lewat doang kok, Om."

Hening sejenak.

Alis Pak Wijaya terangkat sebelah. Senyumnya sedikit tertahan karena kaget.

"Kamu... panggil saya apa tadi?"

Banyu bingung melihat reaksi itu. "Eh? Om Wijaya? Atau... Pak Wijaya? Maaf, saya harus panggil Kakek atau gimana nih biar sopan?"

Pak Wijaya terdiam sesaat, lalu meledak dalam tawa terbahak-bahak.

"BWAHAHAHA!"

Tawa Pak Wijaya menggelegar sampai burung gereja di pohon mangga kabur. Biasanya, tamu yang datang ke rumah ini akan memanggilnya "Pak Wagub", "Bapak Wakil Gubernur", atau minimal "Pak" dengan nada sangat formal dan tubuh membungkuk hormat.

Baru kali ini ada pemuda pakai kaos polo murah yang memanggilnya "Om" dengan santai, seolah-olah dia cuma tetangga sebelah rumah.

"Lho, kenapa panggil 'Om'? Memangnya saya kelihatan muda?" tanya Pak Wijaya memancing.

Banyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh, bukan gitu, Pak... eh, Om. Awalnya saya mau panggil 'Bapak' atau 'Tuan', tapi kok rasanya kaku banget kayak lagi ngadep bos di kantor. Berhubung umur Om sebelas-dua belas sama Bapak Kos saya, Pak Rahmat, jadi lidah saya otomatis manggil 'Om'. Biar lebih akrab gitu."

Pak Wijaya menatap mata Banyu lekat-lekat selama setengah detik. Dia mencari tanda-tanda kepalsuan atau jilat-menjilat, tapi yang dia temukan hanya ketulusan yang polos dan sorot mata yang tenang.

Dia tersenyum puas. "Bagus. Panggil Om saja. Saya malah senang, berasa punya keponakan baru. Ayo, ayo masuk!"

1
Jujun Adnin
taik segar
G 454 NG
🤣🤣🤣🤣
Sefran Yuanda
IPB d Bogor thor, bukan Bandung. Lagian di awal nulis Unpad. sekarang tiba-tiba jadi IPB
DipsJr: wkwk, bener nanti saya revisi. makasih infonya
total 1 replies
Sefran Yuanda
Awalnya Unpad, kok tiba-tiba jadi IPB. Jauh banget, awalnya kan dia mau ke bandung. ketemu mahasiswa Unpad. lah kok tiba-tiba pindah jadi IPB. Jadi Bogor dong
Was pray
beli lahan nyu udah punya modal Gedhe masak puas cuma nyewa terus .. peningkatan lah...kalau nyewa rentan dipermainkan sama pemilik lahan, predikat petani sultan kok gak punya lahan sendiri, mobil juga gak punya , apa gunanya punya duit banyak kalau lahan ngrental , mobil juga ngrental.... lucu deh... 🤣🤣
Naga Hitam
kapan banyu bisa nyetir...
sitanggang
mcnya kok goblok yaa
Jujun Adnin
up
Was pray
bos sultan kok hobinya nebeng .. komedi deh, buayapZ punya uang banyak mau bepergian aja ribet nyari Tebengan... 🤣
KETUA SEKTE
Picky Eater: Makan Pilih2
Was pray
katanya sultan motor aja gak punya... bantu tu sultan dalam dunia komedi .
Rizky Rizkun Karim Rizky
mampus lu jing....🤣🤣🤣
Jujun Adnin
ok
asammanis
thanks thor seru banget ceritanya 👍👍👍
Tio Kusuma
jossssss
Tio Kusuma
mantepppp....lanjut thor
muchamat efendi
banyu2 ngakak tingkahnya, 🤣🤣🤣🤭
muchamat efendi
wkwkwk🤭🤣
asammanis
jackpot 🤣
asammanis
umpan lambung yg sangat cantik dari bang anton🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!