NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Keputusan itu tidak datang tiba-tiba. Ia tidak muncul seperti kilat yang menyambar. Tidak juga seperti jawaban yang langsung terasa benar. Namun juga tidak butuh waktu terlalu lama. Lebih seperti sesuatu yang perlahan terbentuk.

Dari potongan-potongan kecil, dari percakapan, dari diam, dari hal-hal yang selama ini dihindari.

Malam itu, setelah percakapan panjang di villa, Fania tidak langsung tidur. Lampu kamar sudah dimatikan. Namun ia tetap berdiri di balkon.

Udara dingin menyentuh kulitnya, menusuk tipis. Namun tidak cukup untuk menenangkan pikirannya. Ia memeluk dirinya sendiri. Bukan karena dingin namun karena pikirannya terlalu penuh.

Semua yang dikatakan Livia dan Chaerlina berputar. Berulang tanpa henti. Tentang pilihan, tentang konsekuensi, tentang diam yang ternyata bukan lagi netral. Ia mencoba mengabaikan.

Namun tidak bisa karena untuk pertama kalinya semua itu terasa masuk akal. Dan itu justru yang paling mengganggu. Fania menatap jauh ke depan.

Kabut masih menggantung. Lampu-lampu kecil terlihat samar di kejauhan. Namun ia tidak benar-benar melihat. Pikirannya ada di tempat lain.

Di masa lalu. Di hal-hal kecil yang dulu ia anggap biasa yang dulu ia tolak secara halus. Yang dulu ia kira tidak penting. Sekarang semuanya terasa berbeda.

Sekarang semuanya terasa berarti. Dan perlahan sesuatu muncul. Bukan kepastian namun dorongan kecil. Namun cukup kuat untuk tidak diabaikan.

Kalau ia terus diam ia tidak akan pernah tahu. Dan kali ini ia tidak yakin ia siap hidup dengan ketidaktahuan itu.

Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang. Lalu membukanya lagi. Dan untuk pertama kalinya ia tidak mencari alasan untuk mundur.

***

Dua hari kemudian, keputusan itu menjadi nyata. Fania berdiri di bandara. Dengan koper di sampingnya. Orang-orang berlalu-lalang. Pengumuman terdengar samar di atas. Suasana sibuk namun teratur.

Tatapannya lurus ke depan namun pikirannya masih penuh. Bukan ragu namun belum sepenuhnya tenang.

Livia berdiri di sampingnya, lebih santai. Tangannya menyelip di saku jaket. Namun matanya tetap memperhatikan Fania.

“Kau yakin?” tanyanya pelan.

Fania mengangguk kecil. “Iya.” Singkat. Namun kali ini lebih tegas.

Livia tersenyum tipis. “Good.”

Di sisi lain Mark berdiri sedikit menjauh. Dengan ponsel di tangan sesekali mengetik. Sesekali menelepon singkat seperti biasa. Terlihat profesional, terlihat terkontrol.

Namun kali ini posisinya berbeda. Bukan sebagai asisten Ronald. Namun sebagai seseorang yang berdiri di sisi mereka. Dan entah kenapa itu terasa aneh. Namun juga… membantu. Ada rasa lebih aman dan lebih terarah.

Fania meliriknya sebentar, lalu kembali menatap ke depan.

“Dia tau?” tanya Fania tiba-tiba.

Livia langsung mengerti maksudnya. Menggeleng.

“Tidak.” Jawaban itu singkat dan sengaja.

Fania menarik napas pelan. “Bagus.” Lebih seperti bisikan. Bukan untuk Livia namun untuk dirinya sendiri.

Karena kalau Ronald tahu mungkin ia akan ragu. Dan ia tidak mau memberi dirinya kesempatan untuk mundur.

Perjalanan terasa panjang, namun juga cepat. Waktu berjalan aneh. Kadang lambat saat pikirannya mulai berputar. Kadang terlalu cepat saat ia mencoba tidak memikirkan apa-apa.

Fania lebih banyak diam, menatap keluar jendela pesawat. Awan-awan bergerak perlahan, putih, tenang. Namun pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.

Apa yang akan ia temukan? Apa yang akan ia lihat? Dan yang paling jujur apa yang akan ia rasakan? Ia tidak punya jawaban. Dan itu membuatnya gelisah.

Livia beberapa kali mencoba mengajak bicara. Hal-hal ringan tentang tempat tujuan, tentang makanan, tentang hal-hal kecil. Tidak memaksa. Hanya menjaga agar suasana tidak terlalu tenggelam.

Mark sesekali ikut menimpali dengan singkat dan efisien. Ia tahu batas, dan ia menghormatinya. Fania menghargai itu. Karena ia tidak butuh banyak kata. Ia hanya butuh tidak sendirian.

Sesampainya di negara tujuan udara terasa berbeda. Lebih dingin, lebih tajam, lebih asing. Bahasa di sekitar terdengar berbeda.

Ritme orang-orang berjalan pun terasa lain. Namun juga lebih nyata. Ini bukan lagi rencana, ini bukan lagi kemungkinan. Ini kenyataan.

Fania berdiri di luar bandara, menarik napas dalam. Udara dingin memenuhi paru-parunya. Seolah mencoba menyiapkannya untuk sesuatu.

“Jadi?” tanya Livia. “Langsung?”

Fania diam sejenak, menimbang. Namun tidak lama lalu mengangguk.

“Iya.”

Tidak ada alasan untuk menunda. Karena semakin lama ia menunggu semakin besar kemungkinan ia mundur. Dan kali ini ia tidak mau.

Mark melangkah mendekat.

“Aku sudah cek.” Nada suaranya profesional namun tidak kaku.

“Hotel yang biasa dipakai Bos kemungkinan besar dia di sana.”

Fania menoleh sedikit terkejut.

“Kau yakin?”

Mark mengangguk.

“Kalau bukan di sana, biasanya ada alternatif. Tapi jarang.”

Informasi itu cukup, lebih dari cukup.

Fania mengangguk kecil.

“Oke.” Singkat.

Namun kali ini ada ketegasan. Yang sebelumnya tidak ada.

Mereka naik mobil. Perjalanan menuju hotel terasa sunyi. Namun bukan sunyi yang kosong. Lebih seperti hening sebelum sesuatu terjadi.

Fania menatap ke luar jendela, lampu kota terlihat berbeda. Jalanan lebih tertata. Bangunan tinggi menjulang namun pikirannya tidak lagi berlari ke mana-mana.

Tidak lagi menyangkal, tidak lagi membuat alasan. Hanya menunggu. Apa pun yang akan ia lihat ia akan menghadapinya. Tanpa lari, tanpa menutup mata.

Mobil berhenti di depan hotel, gedung tinggi tampak elegan. Dengan pencahayaan hangat yang kontras dengan udara dingin di luar.

Tempat itu terasa familiar namun juga asing. Karena kali ini ia datang dengan tujuan yang berbeda.

Fania turun, langkahnya pelan. Namun pasti Livia berjalan di sampingnya. Tenang namun siap.

Mark sedikit di belakang, mengawasi. Mereka masuk ke lobby. Suasana tenang, profesional, rapi. Seperti tempat-tempat lain yang pernah Fania datangi bersama Ronald.

Namun sekarang semuanya terasa berbeda. Detak jantungnya terdengar lebih jelas, lebih keras dan lebih nyata.

Ia berhenti sejenak, menghela napas. Berusaha menstabilkan dirinya namun tidak lama. Ia melangkah lagi.

“Fan,” panggil Livia pelan.

Fania menoleh.

“Kau tak sendiri.” Kalimat itu sederhana namun tepat.

Fania mengangguk kecil. Ada sesuatu yang menguat di dalam dirinya. Bukan keberanian besar namun cukup.

Ia menatap lurus ke depan. Dan untuk pertama kalinya ia tidak mencoba lari. Tidak mencoba menyangkal. Tidak mencoba menenangkan diri dengan kebohongan.

Ia memilih melihat dan menghadapi. Apa pun yang ada di depan. Karena kali ini ia tidak datang untuk membuktikan sesuatu ke orang lain.

Bukan untuk menang, bukan untuk mempertahankan ego. Namun untuk jujur pada dirinya sendiri. Dan mungkin untuk pertama kalinya itu lebih penting daripada segalanya.

"Terimakasih sudah selalu ada untukku, Vi" ujar Fania dengan tulus.

Dirinya sungguh merasa bersyukur memiliki Chaerlina dan Livia dalam hidupnya. Mereka yang senantiasa selalu ada bersamanya dalam keadaan apapun.

Livia tersenyum tipis lalu memeluk Fania guna menguatkan apapun yang nantinya akan Fania hadapi.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!