Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Panggung Kemenangan dan Resleting Gaun
Langkah kakiku menaiki tangga panggung Grand Ballroom terasa seperti sedang berjalan di atas pecahan kaca. Setiap pasang mata, kilatan lampu kamera, dan bisikan para elite bisnis Jakarta terasa menembus kulitku.
Di ujung panggung, Rendra berdiri dengan nampan perak di tangannya. Senyum kemenangannya begitu lebar, menyilaukan dan memuakkan. Ia sudah siap melihatku hancur, menangis, dan mempermalukan diriku sendiri di depan seluruh dewan direksi.
Namun, jemari besar yang menggenggam tanganku menyalurkan sebuah kekuatan yang tak masuk akal. Bumi tidak berjalan di belakangku layaknya seorang pengawal; ia melangkah sejajar, bahunya yang tegap menjadi benteng yang menghalangi separuh pandangan ruangan dariku.
Sesampainya kami di depan Rendra, pria berjas beludru merah maroon itu menyodorkan nampan berisi lambang kemudi mobil Adrian yang patah.
"Silakan, Aruna," ucap Rendra, suaranya dipenuhi bisa yang disamarkan dengan nada duka cita. "Sebuah pengingat bahwa masa lalu... akan selalu menghantuimu."
Aku menarik napas panjang, bersiap mengulurkan tanganku yang bergetar.
Namun, sebelum jemariku menyentuh nampan itu, tangan Bumi bergerak lebih cepat. Dengan gerakan yang luar biasa elegan namun sarat akan dominasi, Bumi mengambil alih nampan perak itu dari tangan Rendra.
Rendra sedikit terkesiap. Ia menatap Bumi dengan kilat amarah yang tertahan. Bumi membalas tatapannya dengan senyum dingin yang membuat bulu kudukku meremang.
Tanpa memedulikan Rendra, Bumi berjalan mendekati tiang mikrofon utama. Ia meletakkan nampan itu di atas mimbar, lalu mengatur posisi mikrofon. Posturnya menjulang tinggi, memancarkan karisma yang langsung membungkam bisik-bisik di seluruh penjuru ballroom.
"Selamat malam, hadirin sekalian yang terhormat," suara bariton Bumi menggelegar tenang dan jernih, memenuhi ruangan yang luas itu.
Kamera-kamera wartawan langsung memusatkan fokus padanya. Pemuda yang digosipkan hanya sebagai "suami pajangan" ini kini memegang kendali panggung sepenuhnya.
"Tiga tahun lalu, Wiratmadja Tech kehilangan seorang pemimpin. Dan istri saya," Bumi menoleh ke arahku, menatapku dengan kelembutan yang membuat dadaku berdesir hebat, "kehilangan separuh jiwanya."
Bumi kembali menatap para penonton. Ia mengangkat lambang kemudi yang patah itu.
"Bapak Rendra Daniswara memberikan benda ini malam ini sebagai bentuk kenang-kenangan. Bagi sebagian orang yang berjiwa kerdil, benda yang hancur ini mungkin dilihat sebagai simbol trauma, kelemahan, dan tragedi. Sebuah alat untuk mengintimidasi."
Kalimat Bumi telak menghantam Rendra. Para dewan direksi mulai saling berbisik. Aku bisa melihat rahang Rendra mengeras di sudut panggung.
"Tapi bagi saya, dan bagi Aruna," lanjut Bumi, suaranya kini meninggi, memancarkan kebanggaan yang absolut, "benda ini adalah simbol dari cinta dan pengorbanan tertinggi. Mendiang Bapak Adrian Wiratmadja mengemudikan mobilnya menembus badai demi memastikan perusahaan dan istrinya tetap aman. Beliau tidak hancur; beliau menjadi perisai."
Hening. Ratusan orang di ruangan itu seolah lupa cara bernapas, terhipnotis oleh orasi pria dari divisi Back-end ini.
"Tragedi itu tidak membuat Aruna Wiratmadja menjadi wanita yang lemah," Bumi menatapku lagi, kali ini ia mengulurkan tangannya.
Tanpa ragu sedikit pun, aku melangkah maju dan menyambut uluran tangannya. Kami berdiri berdampingan di tengah panggung.
"Tragedi itu justru menempa istri saya menjadi seorang pemimpin yang tidak akan pernah bisa dipatahkan oleh intrik murahan apa pun," tegas Bumi, tatapannya menyapu tajam ke arah jajaran direksi yang selama ini meragukanku. "Oleh karena itu, malam ini, alih-alih meratapi masa lalu, kami akan merayakan masa depan. Atas nama mendiang Adrian Wiratmadja, saya dan Aruna mendonasikan dana pribadi kami sebesar sepuluh miliar rupiah untuk mendirikan Yayasan Keselamatan Lalu Lintas dan Keamanan Siber Nasional."
Mataku sedikit membelalak, meski aku berusaha keras mempertahankan senyum di wajahku. Sepuluh miliar?! Pria ini benar-benar gila! Dia menggunakan uang pribadiku untuk menggertak seluruh ruangan ini. Tapi astaga... gertakan itu sangat jenius.
Riuh tepuk tangan seketika pecah, menggema bagai guntur di dalam ballroom. Para wartawan berebut mengambil foto kami.
Panggung yang sengaja disiapkan Rendra untuk menghancurkanku kini berbalik menjadi panggung penobatanku sebagai CEO yang dermawan, kuat, dan didukung penuh oleh suami yang berwibawa. Narasi "pernikahan kontrak" dan "perpecahan" hancur lebur malam itu juga.
Aku melirik Rendra. Pria ningrat itu berdiri kaku, wajahnya pucat pasi, dan tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Ia telah kalah telak.
Bumi menundukkan kepalanya sedikit ke arah mikrofon untuk penutupan. "Terima kasih, Pak Rendra, atas pengingatnya. Tapi kami tidak hidup di masa lalu. Kami adalah masa depan Wiratmadja Tech."
Bumi melepaskan mikrofon, membiarkan lambang patah itu tertinggal di atas mimbar. Ia menautkan jemarinya dengan jemariku, lalu membimbingku turun dari panggung diiringi tepuk tangan sambil berdiri (standing ovation) dari sebagian besar tamu yang hadir.
Kami berjalan membelah lautan manusia itu, tak terkalahkan.
Begitu pintu mobil Maybach tertutup rapat dan menyembunyikan kami dari kilatan lampu kamera, seluruh sisa adrenalin di tubuhku menguap tak bersisa.
Aku menyandarkan punggungku ke jok kulit yang empuk, memejamkan mata, dan menghela napas panjang yang terdengar seperti rintihan kelelahan. Udara di dalam kabin mobil terasa begitu tenang, diisi oleh alunan musik klasik pelan dari radio dan derum halus mesin.
"Kamu tidak apa-apa?" Suara Bumi terdengar sangat lembut, kontras dengan suaranya yang menggelegar di panggung tadi.
Aku menoleh, menatapnya. Dia sedang melonggarkan dasi kupu-kupunya dan membuka dua kancing teratas kemejanya, membiarkan lehernya bernapas. Pemandangan itu... entah mengapa membuat tenggorokanku sedikit mengering.
"Aku... aku berutang sepuluh miliar padamu," gumamku sambil tersenyum tipis, mencoba mengusir debaran aneh di dadaku. "Itu bluffing (gertakan) paling mahal yang pernah kudengar seumur hidupku, Bumi."
Bumi terkekeh pelan. Tawa yang renyah dan dalam, membuat sudut matanya berkerut manis. "Maafkan aku, Aruna. Aku tidak punya waktu untuk meminta izinmu. Aku harus mengalihkan fokus media dari rasa dukamu menjadi aksi filantropi. Uangnya... nanti akan aku ganti dari gaji bulananku. Walaupun mungkin butuh waktu sekitar tiga ratus tahun."
Tawaku akhirnya pecah. Murni dan tanpa beban. "Tidak perlu. Itu uang yayasan pribadiku. Rencana itu brilian, Bumi. Rendra terlihat seperti pecundang yang baru saja ditampar di depan umum."
Aku memiringkan posisiku agar lebih menghadapnya, menarik kedua kakiku naik ke atas jok, lalu dengan susah payah mencoba melepaskan sepasang stiletto yang sejak tadi menyiksa tumitku.
"Biar kubantu," ucap Bumi refleks.
Sebelum aku bisa menolak, tangan Bumi sudah menyentuh pergelangan kakiku. Sentuhan kulitnya menembus stoking tipis yang kukenakan, mengirimkan sengatan listrik kecil ke seluruh sarafku. Dengan gerakan yang sangat telaten, ia melepaskan sepatu hak tinggi itu satu per satu, memijat pelan tumitku yang kemerahan selama beberapa detik, lalu meletakkan sepatu itu di lantai mobil.
"Terima kasih," bisikku, wajahku terasa memanas. Kegelapan di dalam mobil menjadi satu-satunya penyelamatku.
"Beristirahatlah, Aruna," Bumi menyandarkan kepalanya ke jok, menatapku dengan mata yang mulai diselimuti kantuk. "Pertunjukan malam ini sudah selesai. Kamu aman sekarang."
Aku mengangguk, ikut menyandarkan kepalaku. Mendengarkan deru napasnya yang teratur di sampingku adalah melodi pengantar tidur paling damai yang pernah kurasakan dalam tiga tahun terakhir.
Kami tiba di safe house Kemang menjelang tengah malam.
Rumah besar itu sangat sepi. Tim Garda berjaga di luar, sementara Hajah Fatimah dan Sifa sudah lama tertidur di sayap kiri rumah.
Kelelahan yang teramat sangat membuat kakiku terasa seperti jeli saat melangkah memasuki kamar utama. Kamar ini luas, dengan pencahayaan temaram dan sebuah ranjang king-size yang sangat menggoda.
Aku berdiri di depan cermin meja rias, menatap penampilanku yang mulai berantakan. Aku ingin segera mandi dan menenggelamkan diriku ke balik selimut. Namun, ada satu masalah besar.
Gaun haute couture ini memiliki ritsleting belakang yang sangat panjang, memanjang dari pangkal leher hingga ke bawah punggung. Dan resleting itu macet karena kainnya tersangkut.
Aku mencoba memutar tanganku ke punggung, menariknya dengan paksa. Sial. Kainnya semakin kusut. Aku tidak mungkin memotong gaun seharga ratusan juta ini, tapi lenganku sudah terlalu pegal untuk terus berusaha.
Aku berjalan keluar kamar, melongok ke arah lorong. Cahaya dari ruang kerja kecil di seberang kamarku masih menyala. Bumi pasti sedang di sana, mengecek sistem keamanan bersama tim Garda.
Aku berjalan pelan mendekati ruangan itu. Pintu sedikit terbuka.
"Bumi?" panggilku ragu-ragu.
Bumi yang sedang duduk menghadap laptop langsung memutar kursinya. Dia sudah mengganti kemejanya dengan kaus oblong hitam yang nyaman. Matanya sedikit membesar melihatku berdiri di ambang pintu, masih mengenakan gaun malam yang menempel ketat di tubuhku.
"Kamu belum tidur, Aruna? Ada yang bisa kubantu?" tanyanya, langsung berdiri menghampiriku.
Aku menundukkan wajahku, menggigit bibir bawahku dengan canggung. "Bisa... bisa tolong bantu aku? Resleting gaunku tersangkut di punggung."
Langkah Bumi seketika terhenti. Matanya sedikit melebar. Aku bisa melihat jakunnya bergerak saat ia menelan ludah. Bagi pria yang selalu menundukkan pandangannya dan sangat menjaga batas fisik, permintaanku ini pasti terasa seperti ujian berat.
"A-aku akan coba memanggil pelayan wanita di bawah," ucap Bumi cepat, berniat memutar arah.
"Mereka sudah tidur, Bumi. Tolonglah, aku lelah sekali. Punggungku sakit," rengekku, yang setengahnya memang benar. Suaraku tanpa sadar terdengar sangat memohon, nyaris manja.
Bumi menghela napas pasrah. Ia berjalan mendekat. "Baik. Berputarlah."
Aku memutar tubuhku, membelakanginya. Aku menyibakkan rambutku yang sudah kubongkar sanggulnya ke salah satu sisi bahu, mengekspos tengkuk dan punggung atas tempat resleting itu bermula.
Aku bisa merasakan hawa panas dari tubuh Bumi yang berdiri sangat dekat di belakangku. Jarak kami mungkin hanya beberapa sentimeter. Aroma wangi kasturi dan maskulinitasnya menyelimutiku.
"Permisi," bisiknya serak.
Jemari Bumi yang hangat dan sedikit kasar menyentuh pangkal leher belakangku.
Aku tersentak pelan. Napasku tertahan di dada.
Dia berusaha melepaskan kain yang tersangkut di ritsleting itu. Gerakannya sangat berhati-hati, lambat, dan penuh perhitungan, seolah ia takut menyakiti kulitku. Namun, setiap kali buku-buku jarinya bergesekan dengan kulit punggungku yang terbuka, sengatan listrik tak kasatmata mengalir lurus ke tulang belakangku, membuat lututku sedikit melemas.
Ruangan itu begitu sunyi. Aku bisa mendengar helaan napas Bumi yang mulai berat dan tak beraturan. Pria ini sedang mati-matian menahan dirinya.
"Hampir... selesai," gumamnya dengan suara yang sangat rendah, bergetar di dekat telingaku.
Tarikan terakhir. Ritsleting itu berhasil turun hingga ke batas pinggangku, melonggarkan gaun yang sedari tadi mencekik tubuhku. Kulit punggungku kini terpapar udara dingin pendingin ruangan, namun terasa terbakar oleh kedekatan pria di belakangku.
"Sudah," ucap Bumi cepat.
Ia langsung menarik tangannya seolah baru saja menyentuh besi panas, dan mundur satu langkah besar. Ia membalikkan badannya, membelakangiku. Telinga dan sebagian leher belakangnya terlihat merah padam.
"T-terima kasih, Bumi," bisikku, merapatkan gaunku ke depan dada. Jantungku berdetak sangat kencang, sebuah melodi debaran asmara yang tak pernah kurasakan seumur hidupku.
"Sama-sama. Selamat malam, Aruna."
Aku tersenyum simpul, berbalik dan berjalan kembali ke kamarku dengan perasaan ringan dan hangat yang membungkus hatiku. Pria itu benar-benar menghormatiku. Di saat pria lain mungkin akan mengambil kesempatan dalam kesempitan, Bumi memilih menjaga kehormatanku. Dan itu, anehnya, justru membuatku semakin jatuh ke dalam pesonanya.
Sementara Aruna tertidur lelap dengan senyum di bibirnya, Bumi masih terjaga di ruang kerja safe house.
Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menetralkan suhu tubuhnya dan debaran jantungnya yang belum mau tenang pasca insiden ritsleting gaun tadi. Berada di dekat Aruna adalah ujian keimanan terbesar dalam hidupnya.
Untuk mengalihkan pikirannya, Bumi kembali membuka laptopnya. Ia mengakses sistem malware yang sudah ia tanam di perangkat elektronik Sarah.
Program itu baru saja selesai mendekripsi sebuah paket data suara (voice note) terbaru yang dikirimkan Sarah kepada Rendra setengah jam yang lalu, tepat saat acara Gala Dinner selesai.
Bumi memasang earphone-nya dan menekan tombol putar.
Suara panik Sarah terdengar memenuhi telinganya.
"Pak Rendra, maafkan saya! Rencana kita di Gala Dinner gagal total. Bumi terlalu pintar, dia memutarbalikkan narasinya! Bagaimana ini, Pak? Kalau Bumi mulai menyelidiki saya, saya bisa dipenjara!"
Terdengar jeda beberapa detik, lalu suara balasan Rendra yang dingin dan tanpa belas kasihan mengalun.
"Kau memang tidak berguna, Sarah. Tapi jangan khawatir, aku sudah tidak membutuhkanmu untuk memantau mereka di kantor. Aku punya rencana yang lebih cepat. Orang bayaranku baru saja berhasil meretas CCTV lalu lintas. Mereka tahu SUV Aruna mengarah ke perumahan Kemang. Aku sudah tahu di mana mereka menyembunyikan ibunya."
Bumi berhenti bernapas. Darahnya seakan membeku menjadi bongkahan es.
Lanjutan pesan suara Rendra itu terdengar seperti lonceng kematian.
"Kirim tim bayaran kita ke Safe House Kemang malam ini juga. Jangan tinggalkan saksi mata. Singkirkan ibunya, lumpuhkan Aruna, dan pastikan si programmer sialan itu melihat istrinya hancur sebelum dia mati."
____________________________________________
Laptop di pangkuan Bumi nyaris terjatuh. Waktu seolah melambat. Rendra tahu letak rumah ini. Benteng terakhir perlindungan mereka telah jebol. Tepat di detik itu, lampu utama di ruang kerja Bumi tiba-tiba padam total. Suara alarm perimeter keamanan yang biasa berbunyi tidak terdengar, menandakan sistem listrik rumah ini telah diputus dari luar secara profesional. Bumi mencabut earphone-nya, berdiri dalam kegelapan pekat, dan mendengar suara kaca jendela lantai bawah pecah berkeping-keping. Mereka sudah datang.
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘