Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Kepala Mereka
📖 BAB 35: Harga Kepala Mereka
Alarm masih berbunyi saat siaran berita internasional memenuhi layar utama.
Foto Qingyan terpampang jelas.
Foto Liora di sampingnya.
Foto Gu Beichen paling kanan.
Di bawah ketiganya, huruf merah menyala:
WANTED BY PRIVATE INTERNATIONAL SECURITY COALITION
REWARD: €500,000,000
CAPTURED PREFERRED. DEAD ACCEPTABLE.
Han memegang dadanya.
“Saya rasa saya terlalu tampan untuk hidup seperti ini.”
Xue menatap layar.
“Lima ratus juta euro.”
Ia menoleh ke Qingyan.
“Aku tersinggung. Kenapa kita bertiga harga paket?”
Mira menutup laptop.
“Karena yang mengeluarkan dana bukan negara. Ini jaringan swasta.”
Beichen menatap layar tanpa emosi.
“Helios.”
“Ya,” kata Liora. “Mereka resmi membuka perburuan.”
Qingyan mengusap pelipis.
“Bagus. Hidupku sudah cukup rumit, sekarang ada bonus pemburu bayaran.”
---
🕶️ Kota yang Tiba-Tiba Menjadi Musuh
Han membuka peta kota Praha.
Titik-titik merah mulai muncul.
“Kamera publik memakai pengenal wajah. Polisi lokal baru menerima notifikasi. Beberapa kontraktor keamanan swasta juga bergerak.”
“Berapa banyak?” tanya Mira.
“Cukup banyak untuk membuat saya ingin pindah profesi.”
Xue tersenyum.
“Terlambat.”
Beichen mengambil jaketnya.
“Kita pindah sekarang.”
Qingyan menatapnya.
“Ke mana?”
“Tempat yang tidak dibeli Helios.”
“Masih ada?”
“Sedikit.”
Liora mengangkat tangan.
“Aku tahu satu.”
Semua menoleh.
“Kenapa kau selalu menyimpan informasi sampai menit terakhir?” tanya Han.
“Karena kalian panik lucu.”
---
🚇 Jalan Keluar Bawah Kota
Tiga puluh menit kemudian mereka turun ke terowongan layanan tua di bawah stasiun metro.
Udara lembap. Lampu kuning redup berkedip. Suara kereta dari kejauhan menggema seperti gemuruh.
Liora memimpin jalan dengan senter kecil.
“Ada safehouse lama milik Vivienne. Dia lupa aku hafal semua jalurnya.”
Han berjalan paling belakang.
“Saya tidak dibangun untuk lorong basah.”
Xue menoleh.
“Kau dibangun untuk apa?”
“Cinta dan pendingin ruangan.”
Mira mendesah.
Qingyan berjalan di tengah.
Beichen di sampingnya, terlalu dekat untuk diabaikan, terlalu diam untuk nyaman.
“Apa?” tanya Qingyan tanpa menoleh.
“Kau gelisah.”
“Kau mengganggu.”
“Itu bukan jawaban.”
Ia berhenti dan menatapnya.
“Setengah kota memburu kita. Aku baru tahu ibuku diracun. Dan aku punya saudari yang menyimpan pistol di kotak biola.”
“Poin terakhir sebenarnya mengesankan.”
Qingyan hampir tertawa.
Hampir.
---
🏚️ Safehouse Lama
Bangunan tua di distrik industri berdiri seperti pabrik mati.
Jendela pecah sebagian. Cat mengelupas. Namun di balik dinding baja kedua, interiornya bersih dan penuh perlengkapan.
“Vivienne memang suka tampil dramatis,” kata Liora.
Han memeriksa ruangan.
“Dapur lengkap. Saya maafkan kejahatannya sedikit.”
Mira membuka lemari senjata.
“Tidak. Jangan maafkan.”
Qingyan berjalan ke jendela atas.
Dari sini kota tampak jauh.
Tenang.
Padahal mereka diburu.
“Aku muak lari,” katanya pelan.
Beichen berdiri di sampingnya.
“Kalau begitu berhenti.”
Ia menoleh.
“Dengan cara?”
“Kita balas.”
Jawaban khas dia.
Mengerikan.
Dan entah kenapa menenangkan.
---
💣 Pengunjung Tak Diundang
Han tiba-tiba menoleh ke monitor.
“Kita punya tamu.”
Empat SUV hitam berhenti di luar pabrik.
Belasan pria keluar.
Seragam tak bertanda.
Gerakan rapi.
Profesional.
Liora memucat sedikit.
“Itu bukan pemburu biasa.”
“Siapa?” tanya Qingyan.
Sebelum ia menjawab, suara tembakan penekan menghantam jendela lantai bawah.
Mira langsung mematikan lampu utama.
“Posisi!”
Beichen mengambil senjata dari rak seolah ia hafal semua isi dunia.
Liora menatap monitor.
“Ini unit pribadi keluarga Gu.”
Sunyi sepersekian detik.
Qingyan menoleh ke Beichen.
“Milik ayahmu?”
“Ya.”
“Dia datang menangkap kita?”
“Tidak.”
Beichen memeriksa magazine.
“Dia datang mengambil sesuatu.”
---
Pintu baja bawah diledakkan.
Suara dentuman mengguncang bangunan.
Han bersembunyi di balik meja dapur.
“Saya ingin dicatat bahwa saya mendukung perdamaian.”
Xue tersenyum sambil menarik pisau.
“Aku mendukung hiburan.”
Pria-pria bersenjata masuk lantai pertama.
Beichen turun tangga tanpa tergesa.
Gerakannya tenang.
Terlalu tenang.
Qingyan mengikutinya.
“Jangan.”
“Aku tidak minta izin.”
Ia menatapnya sekilas.
Waktu seperti berhenti satu detik.
Lalu ia berkata rendah,
“Kalau kau terluka, aku marah.”
Qingyan membalas datar.
“Antre. Aku juga.”
---
⚔️ Pertarungan di Lantai Bawah
Tembakan pertama memecah udara.
Mira menjatuhkan lampu gantung darurat.
Gelap.
Xue menyelinap dari sisi kanan dan melumpuhkan dua orang.
Han berteriak dari atas:
“Saya bantu moral!”
Tak ada yang peduli.
Beichen bergerak cepat di antara bayangan, menjatuhkan satu per satu tanpa pemborosan gerak.
Qingyan mengambil pistol cadangan dan menutup sisi kiri.
Ia menembak lutut seorang penyerbu yang mencoba flank.
“Bagus,” kata Beichen singkat.
“Jangan terdengar bangga.”
“Aku memang bangga.”
Dadanya menghangat di saat paling tidak tepat.
---
Saat pria terakhir tumbang, langkah pelan terdengar dari pintu utama yang rusak.
Seseorang masuk sendirian.
Tinggi.
Rapi.
Setelan abu gelap.
Wajah tampan dingin yang memiliki sedikit kemiripan dengan Beichen—cukup untuk membuat udara berubah.
Ia bertepuk tangan sekali.
“Impresif.”
Liora mengumpat pelan.
“Tidak.”
Beichen menegang untuk pertama kali malam itu.
“Kau.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Sudah lama, sepupu.”
Han mengintip dari balik meja.
“Kita punya model baru?”
---
🐍 Gu Family Cabang Gelap
Pria itu berjalan masuk seolah ruangan miliknya.
“Perkenalkan bagi yang belum kenal. Gu Tianze.”
Ia menatap Qingyan terang-terangan.
“Jadi ini wanita yang membuat keluarga utama berantakan.”
Qingyan menyilangkan tangan.
“Dan ini pria yang terlalu cinta cermin.”
Han berbisik.
“Saya suka dia dibenci cepat.”
Tianze tertawa kecil.
“Kasar. Menarik.”
Beichen melangkah maju.
“Apa maumu.”
“Paman memintaku menjemput dua gadis itu.”
“Coba.”
“Aku juga datang karena penasaran.”
Tatapannya pindah ke Qingyan.
“Sekarang aku mengerti.”
Qingyan merasa jijik otomatis.
---
Liora berdiri di sisi kakaknya.
“Kalau ayahmu kirim anjing, setidaknya kirim yang lebih tampan.”
Tianze mengangkat alis.
“Kau pasti Liora. Mulut keluarga ini memang diwariskan aneh.”
Mira membidik kepalanya.
“Dua detik untuk menjelaskan atau pergi.”
Tianze melirik senjata itu tanpa takut.
“Aku datang membawa penawaran.”
Tak seorang pun menurunkan senjata.
Ia tetap tersenyum.
“Helios memburu kalian. Gu Zhengyuan ingin mengurung kalian. Vivienne ingin memakai kalian.”
Ia menatap Qingyan.
“Aku satu-satunya yang menawarkan kebebasan.”
“Dengan harga?” tanya Qingyan.
“Kau ikut denganku.”
Ruangan hening.
Han menutup mata.
“Selalu begitu.”
---
Beichen bergerak lebih dulu.
Dalam satu detik ia sudah mencengkeram kerah Tianze dan menghantamnya ke dinding retak.
Suara benturan keras.
“Kau salah ruangan.”
Tianze masih tersenyum meski bibirnya berdarah.
“Lihat? Aku bilang dia berantakan karena wanita.”
Beichen menekan lebih keras.
Qingyan melangkah maju.
“Beichen.”
Ia tak melepas.
“Beichen.”
Nada suaranya lebih lembut.
Baru kali itu ia langsung patuh.
Ia melepaskan Tianze dan mundur setengah langkah.
Semua orang memperhatikan.
Termasuk Tianze.
“Menarik sekali,” gumamnya.
---
Tianze merapikan jasnya.
“Aku akan kembali.”
“Datang dengan peti,” kata Xue.
“Aku suka energimu.”
Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti.
Menoleh ke Qingyan.
“Jika kau ingin tahu siapa benar-benar membunuh ibumu… jangan tanya orang yang sedang jatuh cinta padamu.”
Tatapannya beralih ke Beichen.
“Dia tak akan objektif.”
Lalu ia pergi.
Sunyi panjang tertinggal.
Qingyan menatap Beichen.
“Apa yang dia maksud?”
Beichen tak menjawab.
Karena ponsel Liora bergetar.
Pesan anonim masuk.
Hanya satu foto.
Madam Qin duduk di kursi roda dalam ruang gelap.
Di belakangnya berdiri Vivienne.
Dan teks singkat:
Kalau mau jawaban, datang sendiri. Kali ini bawa kakakmu juga.
BERSAMBUNG KE BAB 36