Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUCUK 27
Beberapa bulan kemudian...
Musim berganti tanpa terasa.
Waktu bergerak diam-diam, tetapi membawa perubahan yang terlalu nyata untuk di abaikan.
Di sebuah hamparan savana pinggiran Yogjakarta, langit sore memerah cantik. Cahaya keemasan jatuh lembut di rerumputan tinggi yang bergoyang di tiup angin. Di tengah pemandangan itu, suara tawa kecil terdengar lepas.
"Lihat, Om Dipta! Burungnya terbang!"
Bocah laki-laki berusia lima tahun itu menunjuk ke langit sambil menggenggam kamera kecil yang menggantung di lehernya.
Raka.
Dan di sampingnya, Dipta berjongkok, membantu mengarahkan lensa.
"Bukan asal memotret," ucap Dipta sabar, membetulkan posisi tangan bocah itu. "Tunggu momen. Foto yang bagus selalu menunggu waktu yang tepat."
Raka mengangguk serius, lalu menekan tombol shutter.
Klik.
Wajah bocah itu berbinar bangga.
Tak jauh dari sana, Laras berdiri sambil memeluk jurnal kulit coklat di dadanya. Sudut bibir wanita itu terangkat, matanya menatap Dipta dengan sorot yang tak lagi sekadar kagum- melainkan rasa memiliki yang tumbuh perlahan.
Pemandangan itu...terlalu menyerupai keluarga.
Tanpa status.
Tanpa ikatan resmi.
Namun terasa utuh.
Dipta dan Laras tidak sengaja di tempat ini, sepulang dari kantor ia menyempatkan diri untuk mengambil foto di sini, mungkin untuk melepas lelah. Dan ternyata, janda anak satu itu berada di tempat yang sama dan berakhir seperti adegan tadi.
Dipta berjalan mendekat ke arah Laras.
"Rasanya aku harus pulang terlebih dulu, aku pamit."
Laras bangkit dari duduknya, tersenyum manis. "Ya. Makasih sudah mau mengajari putraku. Lain kali...kita lakukan hal seperti ini."
Dipta tertegun.
Laras buru-buru berkata. "Maksudnya... melakukan hal yang dulu sempat tidak kamu lakukan. Dan tentu saja izin dari istrimu, Rana."
"Kalau begitu...aku pamit." Ujar Dipta pada akhirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di perjalanan pulang, Dipta hanya diam di kursi penumpang. Sudah beberapa hari ini ia tidak menyetir mobil, dan membawa Pak Vito kemana pun Dipta pergi. Ke kantor, rapat, bahkan bertemu dengan Laras.
Dipta menatap kaca jendela, dengan pikiran melayang beberapa tahun silam.
"Pak, bolehkah aku meminta sesuatu dari bapak?" tanya Dipta pada akhirnya.
"Ya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Bapak sudah lama bekerja dengan saya, bapak tahu bagaimana karakter saya. Rasanya... setelah bertemu kembali dengan Laras...aku merasakan hidupku kembali." Ungkap Dipta jujur.
Pak Vito melihat tuan mudanya dari kaca spion, ia tahu betul pria ini. Selalu menjadi tumpuan bagi keluarganya, harus menuruti semua perintah keluarganya- tidak pernah menjadi diri sendiri.
"Tapi tuan, saya rasa...ini terlalu berlebihan. Pertemuan kalian bukan hanya sekadar pertemuan biasa. Meskipun kalian tidak pernah berjanji bertemu, apa...tuan tidak curiga?" tanya Pak Vito hati-hati.
"Curiga?"
"Ya. Dengan Non Laras." Ucapnya.
Dipta diam sejenak. Lalu terkekeh, "kenapa aku harus curiga? Laras tidak mungkin memiliki hal lain, bahkan...jujur saja...jika harus memilih...aku ingin sekali kembali kepadanya."
Pak Vito menelan ludahnya, "lalu.... bagaimana dengan nyonya muda?"
Dipta tidak bisa menjawab.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dipta membuka pintu saat sampai di rumah, terlihat Rana sedang memajang foto kedua anaknya di dinding ruang tamu.
"Mas pulang," ucapnya. Nadanya sedikit lesu.
Rana menoleh, tersenyum hangat seperti biasanya. "Sini, biar aku bantu."
Rana mengambil tas kerja dan jas milik Dipta, wanita itu menggeloyor menuju tangga. Sedangkan Dipta sudah duduk di sofa di ruang tengah, entah mengapa energi sosialnya seperti di serap habis.
Saat Rana turun kembali, ia masih mendapatkan suaminya yang tertidur di sofa. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Mas, mandi dulu. Terus makan malam, Mas udah lewatin makan malam dua hari lho." Tegur Rana.
"Aku sudah makan, tadi sebelum pulang." Jawab Dipta.
"Sama Hamdan?" tanya Rana basa-basi.
"Ya," jawabnya singkat.
Namun saat Rana membantu Dipta membuka kemeja kerjanya, Rana mencium bau alkohol pada mulut suaminya. Alisnya berkerut, menautkan kedua alisnya.
"Mas minum, ya?" tanya Rana.
"Sedikit."
"Yaudah, Mas ke atas dulu. Istirahat di kamar, biar aku buatkan teh madu hangat." Ujar Rana seraya membawa kemeja kotor suaminya.
Dipta menurut.
Rana menoleh ke arah punggung suaminya, pria itu sudah dua hari ini telat pulang. Biasanya Dipta akan pulang sekitar jam empat sore, paling lambat jam lima sore.
Malam harinya, ketika Dipta sudah tertidur Rana yang berbaring terlentang di sisi pria itu menoleh ke arah Dipta. Napas pria itu teratur, begitu tenang.
Rana bangun dari tidurnya dan meraih ponsel miliknya lalu pergi ke arah balkon kamar. setelah pintu tertutup rapat, Rana gegas mencari kontak Hamdan- sekretaris suaminya.
"Hallo, selamat malam. Siapa, ya?"
"Maaf mengganggu waktunya, saya Rana. Istrinya Pak Dipta." Jawab Rana seraya menoleh ke arah kaca jendela, takut-takut suaminya tiba-tiba bangun dan mendengar percakapan dirinya.
"Oh, selamat malam Bu Rana. Ada perlu apa ya?"
Rana diam sejenak, tangan kirinya memegang. Takut jika apa yang ia lakukan ini salah, lalu memejamkan kedua bola matanya sejenak.
"Hallo,"
"Ya, hallo. Hamdan. Bisakah besok kita bisa bertemu? Ada yang harus saya sampaikan kepadamu. Ini tentang pekerjaanmu, tapi...kamu tidak boleh memberitahu suami saya."
Hening.
"Ya, Bu."
"Baiklah. Kalau begitu, kamu save nomor saya. Tapi jangan sampai suami saya tahu."
Lagi-lagi hening.
Sedangkan di kamar kontrakan jauh dari rumah megah di area Hyarta residence, Hamdan berdiri di depan rumah kontrakannya, sebuah letong kecil di rooftop rumah milik salah seorang pemilik kedai bakmi.
Ada apa ini? Kenapa malam-malam Bu Rana tiba-tiba telpon? Jangan bilang sama pak Dipta? Tuhan!!! Apa Bu bos jatuh cinta sama saya???? Batinnya jauh dari pemikiran.
"Hallo, Hamdan? Apa kamu masih mendengar saya?"
"I-iya Bu. Siap, saya tidak akan memberitahukan soal ini kepada siapapun... termasuk Pak bos." Ujarnya.
Setelah itu, sambungan terputus. Jantung Hamdan berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia begong sebentar, menatap lampu-lampu Yogyakarta saat malam.
"Kenapa?"
Suara bariton dari arah sampingnya membuat ia tersadar dari lamunannya.
"Bu bos..., masa dia tiba-tiba ngajak ketemuan? Dia juga bilang, jangan sampai Pak Dipta tahu." Ujarnya seraya mendekat.
Pria itu, laki-laki yang duduk sila di atas bangku kayu menatap temannya. Wajah polos nan bingung itu membuat Alfian Mallarangeng- orang yang sudah dua Minggu ini menjadi mata Rana terkekeh pelan.
"Mas, apa jangan-jangan...Bu Rana naksir saya ya?" ucapnya polos.
Alfian membanting daun selada ke arah Hamdan. "Ngaco kamu, sudah makan lagi!"
Jauh dari rumah rooftop, Rana berdiri menatap langit malam. Rambut panjangnya ia biarkan diterpa angin malam.
Drtzzz...
Ponselnya bergetar, layarnya menyala. Rana menatapnya, ada pesan teks.
{ Nyonya, jangan khawatir soal sekretaris suami nyonya. Saya rasa...dia anak yang polos dan bisa kita kendalikan }
Sudut bibir Rana tersungging. Lalu membalas cepat pesan itu.
{ Baik }
Rana mematikan ponsel itu, lalu kembali masuk kedalam kamar. Melirik suaminya sekejap dan pergi ke arah almari kecil di sudut ruangan untuk menyimpan ponsel yang tadi ia gunakan dan lalu menguncinya.
...****************...
Hai...makasih udah nemenin sampe sini. Jangan lupa komen, like, vote, subscribe, bintang limanya. Boleh juga lah setangkai bunganya buat Yehppee hehehe....
Dan buat kamu! Iya kamu, marak banget nih orang-orang yang sering melakukan ATM ( Amati, Tiru, modifikasi) jangan ya dek ya🫵 hargai para penulis yang udah capek-capek riset buat tulisannya🙏
Jangan lupa follow
Papay👋
Salam ti urang Sunda asli👋
Bersambung...