NovelToon NovelToon
Putri Tanpa Cahaya

Putri Tanpa Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dyana

Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 – Resonansi dalam Kegelapan

Malam itu…

Akademi terasa lebih sunyi dari biasanya.

Langit di atas menjulur gelap tanpa bulan. Awan tipis menggantung rendah, menutupi cahaya bintang yang seharusnya memberi sedikit kehangatan. Angin berhembus pelan, menyusuri dinding batu tua Akademi kerajaan Averion, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Lorong-lorong panjang yang biasanya dipenuhi suara siswa kini kosong. Obor sihir di dinding menyala redup, cahayanya bergetar halus seolah bisa padam kapan saja.

Sakura berjalan sendiri.

Langkahnya pelan. Terukur. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang terasa… tidak tenang.

Sejak sore tadi, dadanya terasa berat.

Bukan sakit.

Tapi seperti ada sesuatu yang… menekan dari dalam.

Ia mengeratkan mantel tipisnya.

Napasnya terlihat samar di udara dingin.

“Aneh…” gumamnya pelan.

Ia seharusnya menuju ruang alkimia. Masih ada tugas yang belum selesai. Ramuan sederhana sesuatu yang biasanya bisa ia lakukan tanpa berpikir.

Namun malam ini…

Pikirannya tidak bisa fokus.

Langkahnya melambat.

Lalu Ia berhenti.

Di ujung lorong…

Ada sebuah pintu.

Besar.

Terlalu besar untuk sekadar ruang penyimpanan atau kelas biasa.

Terbuat dari batu hitam pekat. Permukaannya tidak rata, seolah dipahat dari satu bongkahan batu utuh. Di seluruh permukaannya, ukiran rumit membentuk pola melingkar, simbol-simbol kuno yang samar berpendar dalam cahaya kebiruan yang hampir tidak terlihat.

Sakura mengernyit.

“Ada tempat seperti ini…?”

Ia yakin tidak pernah melihatnya sebelumnya.

Padahal ia sudah cukup sering melewati lorong ini.

Perlahan…

Ia melangkah mendekat.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Udara berubah.

Semakin dekat ia ke pintu itu, semakin berat rasanya bernapas. Seolah tekanan tak terlihat menekan dari segala arah.

Dingin.

Bukan dingin biasa.

Dingin yang merayap masuk ke dalam tubuh.

Ke tulang.

Ke darah.

Jantung Sakura berdetak lebih cepat.

Degup.

Degup.

Degup.

Dan tanpa ia sadari, tangannya terangkat.

Seolah ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat.

Semakin dekat…

Semakin kuat perasaan itu.

Seolah Ada sesuatu di balik pintu itu…

menunggunya.

Memanggilnya.

“Datang…”

Suara itu tidak terdengar melalui telinga.

Namun jelas.

Sangat jelas.

Langsung di dalam pikirannya.

Sakura tersentak.

Matanya melebar.

“Siapa?”

Langkahnya goyah.

Napasnya memburu.

Dan saat itu rasa sakit tajam tiba-tiba menjalar dari dadanya.

“Ah !”

Ia mencengkeram bajunya.

Tubuhnya gemetar.

Di dalam dirinya sesuatu bergerak.

Gelap.

Dingin.

Namun… hidup.

Suara lain muncul.

Lebih dalam.

Lebih berat.

Berbeda.

“…akhirnya…”

Sakura terhuyung.

Bayangan hitam sekilas melintas di penglihatannya.

Seolah ada sesuatu yang mencoba… bangkit dari dalam dirinya.

“Noctyra…”

Nama itu terlintas begitu saja di pikirannya.

Dan saat itu juga ukiran di pintu bersinar lebih terang.

Menanggapi.

Seolah… mengenali.

“Jangan.”

Suara dingin memotong semuanya.

Tekanan itu langsung terputus.

Sakura tersentak dan menarik tangannya dengan cepat, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk.

Ia menoleh.

Master Kaelen Arcturus berdiri di ujung lorong.

Seperti bayangan yang muncul tanpa suara.

Tatapannya tajam. Dalam. Mengunci Sakura tanpa ampun.

“Jangan pernah mendekati pintu itu lagi.”

Suaranya rendah.

Tenang.

Namun ada sesuatu di dalamnya perintah mutlak.

“…Apa itu?” tanya Sakura pelan, masih mencoba mengatur napasnya.

Kaelen tidak langsung menjawab.

Matanya sempat beralih ke pintu itu.

Hanya sekejap.

Namun cukup untuk menunjukkan ia tahu.

Lebih dari yang ia katakan.

“Segel.”

Satu kata.

Pendek.

Namun berat.

Hening menyelimuti lorong.

“Sesuatu yang tidak boleh dibuka.”

Sakura menelan ludah.

Tatapannya kembali ke pintu itu.

Kini ukirannya kembali redup.

Namun entah kenapa Ia masih bisa merasakan “kehadiran” itu.

Seolah masih mengawasinya.

“…Kenapa terasa seperti memanggilku…?”

Kalimat itu keluar tanpa ia sadari.

Kaelen langsung menatapnya.

Dan ekspresinya berubah.

Bukan marah.

Bukan dingin.

Tapi… sesuatu yang lebih dalam.

Sesuatu yang nyaris seperti khawatir.

Namun hanya sepersekian detik.

Ia segera berbalik.

“Itu hanya ilusimu.”

Jawaban yang terlalu cepat.

Terlalu ringan untuk sesuatu yang barusan terjadi.

“Ke ruang alkimia. Sekarang.”

Nada suaranya kembali seperti biasa.

Dingin.

Tertutup.

Tidak memberi ruang untuk bantahan.

Sakura terdiam sesaat.

Lalu mengangguk pelan.

“…Baik.”

Ia berbalik dan mulai berjalan.

Namun langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya.

Dadanya masih berdenyut pelan.

Seolah sesuatu di dalam dirinya belum sepenuhnya tenang.

Dan sebelum ia benar-benar pergi Ia melirik sekali lagi, ke arah pintu itu.

Dan untuk sesaat ukiran itu bersinar lebih terang, seperti mata yang terbuka dalam kegelapan.

Mengawasinya.

Menunggu.

Di dalam istana…

Jauh dari Akademi.

Di ruang tersembunyi yang bahkan tidak tercatat dalam peta kerajaan, seorang wanita berdiri di tengah lingkaran sihir.

Ratu.

Rambutnya jatuh rapi di punggungnya. Gaun hitamnya menyentuh lantai batu yang dipenuhi simbol kuno.

Lingkaran sihir di bawah kakinya berpendar redup.

Energi gelap berputar perlahan.

Terkontrol.

Ditahan.

Seolah sesuatu yang sangat besar… berusaha untuk tidak meluap.

Matanya perlahan terbuka.

“…Akhirnya.”

Udara di sekitarnya bergetar halus.

Aura gelap muncul sesaat, lalu langsung ditekan kembali.

Ia mengangkat tangannya.

Jari-jarinya menyentuh udara kosong.

Namun ekspresinya berubah.

“Segelnya…”

Matanya menyipit.

“…bereaksi.”

Di hadapannya, bayangan hitam perlahan muncul dari lingkaran sihir.

Tidak memiliki bentuk pasti.

Kadang menyerupai asap.

Kadang seperti cairan.

Namun satu hal pasti ia hidup.

Dan ia melihat.

Suara itu muncul.

Bukan di ruangan itu.

Namun langsung di dalam pikirannya.

“Kunci itu… telah bangkit…”

Ratu tersenyum tipis.

“Ya…”

Nada suaranya hampir seperti bisikan.

“Dan dulu… aku hampir membunuhnya.”

Ia menurunkan tangannya perlahan.

Tatapannya menjadi lebih dalam.

Lebih dingin.

“Kesalahan yang hampir fatal.”

Bayangan itu berdenyut pelan.

“Tanpanya… segel tidak akan terbuka…”

Ratu berjalan perlahan mengitari lingkaran sihir.

Langkahnya tenang.

Terkontrol.

Seperti seseorang yang telah merencanakan semuanya sejak lama.

“Itulah sebabnya…”

“Aku menghentikan racun itu.”

Ia berhenti.

Matanya menatap simbol di lantai.

“Bukan untuk membunuhnya…”

“Tapi untuk menekan… dan membentuk tubuhnya.”

Suaranya kini lebih rendah.

Lebih tajam.

“Supaya dia mampu menahan kekuatan itu…”

“Dan tidak hancur… saat segel terbuka.”

Bayangan itu bergerak lebih kuat.

Seolah merespon.

“Waktunya… semakin dekat…”

Ratu menghela napas pelan.

“Belum.”

Satu kata.

Tegas.

Tidak terbantahkan.

“Raja masih hidup.”

Hening.

Dan nada suaranya berubah.

Lebih dingin dari sebelumnya.

Lebih tajam.

Seperti pisau yang baru diasah.

“Aku tidak bisa bergerak bebas selama dia masih ada.”

Ia menutup matanya sesaat.

Seolah menahan sesuatu.

Mungkin emosi.

Atau mungkin… niat yang belum bisa diwujudkan.

“Segala sesuatu… harus terjadi pada waktunya.”

Matanya terbuka kembali.

“Termasuk…”

Ia berhenti sejenak.

Senyumnya perlahan muncul.

“…kematiannya.”

Bayangan itu bergetar pelan.

Seolah memahami.

Seolah… menunggu.

Ratu mengangkat tangannya sedikit.

Dari kegelapan beberapa sosok muncul.

Berpakaian hitam.

Berwujud samar.

Namun aura mereka cukup untuk membuat udara terasa berat.

Prajurit bayangan.

Mereka berlutut serentak.

“Perintah diterima.”

“Awasi anak itu,” kata Ratu tanpa menoleh.

“Jangan sentuh dia.”

Nada suaranya berubah sedikit.

Lebih… berhati-hati.

“Hanya awasi dari jauh.”

“Dia masih belum siap.”

Ia melangkah perlahan menjauh dari lingkaran sihir.

“Dan aku tidak ingin siapa pun merusaknya…”

“…sebelum waktunya tiba.”

Para prajurit itu menghilang tanpa suara.

Seolah tidak pernah ada.

Ruangan kembali sunyi.

Hanya tersisa Ratu dan bayangan hitam yang perlahan memudar.

Ia berdiri sendiri.

Namun tidak benar-benar sendirian.

Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.

“Bertahanlah, Sakura…”

Bisikannya hampir tidak terdengar.

Namun penuh makna.

“Karena saat waktunya tiba…”

Aura gelap di sekitarnya berdenyut pelan.

“…dunia ini akan berubah…”

Matanya berkilat.

“…karena dirimu.”

----

1
Yarim Yovan
menarik
Kali a Mimir
padahal ceritanya bagus kok sepi
Kali a Mimir: siap🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!