Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Shafiya Punya Hak Untuk Ambil Sikap
"Shafiya butuh itu."
"Dia bilang?"
Agam menggeleng. "Aku melihatnya."
Aku melihatnya.
Aku melihatnya.
Aku melihatnya.
Sagara menutup layar laptop hampir dengan keras. Napasnya tertahan. Dan pandangannya lurus seakan hendak menembus tembok ruang kerjanya.
Masih tentang ucapan Agam. Yang tak benar-benar hilang. Meski sudah sekuat tenaga diabaikan.
Sagara bangkit. Meraih gelas kopi yang sudah tak lagi hangat. Berdiri di depan jendela yang dibiarkan terbuka. Angin malam menerjang. Dingin. Namun di wajah itu ada satu titik keringat yang sengaja tidak diusap.
Sagara kegerahan.
Bukan karena pendingin ruangan yang tak berfungsi. Tapi karena arah pikirannya yang berjalan di dua sisi.
Satu tetap pada pekerjaan. Teratur. Terjaga.
Di sisi lain, tetap pada satu kalimat yang sama, dari Agam.
Dan itu… cukup mengganggu.
Lebih dari yang ia akui.
Agam tidak mungkin bergerak tanpa alasan. Itu yang paling ia pahami. Dia Bukan tipe yang mengambil keputusan hanya karena diminta. Apalagi keputusan yang melewati batas yang selama ini dijaga.
Jika Agam tetap melakukannya, berarti ada sesuatu yang ia lihat. Sesuatu yang dianggap cukup penting untuk didahulukan.
Pikirannya terus bekerja. Menyusun ulang kejadian tadi siang. Dari dokter. Perjalanan yang berbelok. Sampai Shafiya yang terlihat lebih tenang saat kembali.
Semua itu tidak datang tanpa sebab.
Dan Agam… menangkapnya lebih dulu.
Itu yang mengganggu.
Bukan soal ke mana mereka pergi.
Tapi kenapa orang lain bisa membaca keadaan Shafiya lebih cepat darinya.
Jari Sagara mengetuk pelan sisi gelas. Sekali. Dua kali. Lalu berhenti.
Ia tidak terbiasa berada di posisi itu.
Tidak mengetahui.
Atau terlambat mengetahui.
Sagara kemudian meletakkan gelas itu. Tangannya bergerak mengambil ponsel tanpa ragu. Satu nama dipilih.
Sambungan tersambung cepat.
“Dokter Zulaika,” ucapnya langsung. Nada tetap datar. “Saya ingin tahu diagnosa Shafiya saat kontrol tadi." Sagara langsung pada inti. Tidak basa-basi.
"Sa-ya sudah sampaikan ke pak Agam tadi." Jawaban Zulaika sedikit terbata di awal. Bukan karena takut. Tapi tak siap. Dia ditelepon malam-malam oleh pimpinan Adinata itu, di saat baru saja merengkuh lelap.
"Saya butuh langsung."
"Baik."
...
....
Sagara keluar dari ruang kerjanya dengan langkah tidak tergesa, tapi juga tidak santai. Pikirannya masih tertinggal di sana--pada penjelasan dokter Zulaika yang baru saja ia dengar.
Ia tidak langsung kembali ke kamar. Kakinya justru membawanya turun ke bawah, seolah ada sesuatu yang belum selesai.
Di waktu yang hampir bersamaan, pintu kamar Shafiya terbuka. Ia tidak bisa tidur karena merasa ingin makan sesuatu. Bukan karena benar-benar lapar. Hanya ingin sesuatu yang segar. Manis. Dingin. Agar kepalanya sedikit lebih ringan dari yang ia rasakan sejak sore tadi.
Mereka bertemu di ruang itu. Arah yang menuju dapur.
Sagara yang lebih dulu menyadari. Tatapannya berhenti sesaat pada Shafiya yang baru masuk.
“Belum tidur?”
Reflek menyapa.
Shafiya sedikit terkejut. Kemudian menggeleng kecil.
“Ingin ambil buah," katanya. Saat itu Sagara memang berdiri lebih dekat dengan kulkas.
Sagara tidak bertanya lagi. Ia langsung membuka kulkas. Tangannya mengambil wadah berisi potongan jeruk yang sudah disiapkan rapi dalam wadah kaca.
Ia ingat malam itu di pesantren. Hampir dini hari saat Shafiya makan jeruk dengan penuh minat.
Sagara meletakkan wadah kaca itu di atas meja, dekat dengan Shafiya.
“Ini.”
Shafiya melihat sebentar. Lalu menggeleng pelan.
“Tidak, Mas. Saya ingin semangka saja.”
Sagara menatapnya sejenak. Tidak lama, tapi cukup untuk menangkap bahwa itu bukan sekadar pilihan buah. Tapi penolakan atas apa yang diambilkan.
“Jeruk lebih ringan," kata Sagara. Tanpa bermaksud memaksa.
Shafiya tetap menggeleng. “Tidak apa-apa.”
Sagara tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengembalikan wadah jeruk itu ke dalam kulkas, lalu hendak mengambil potongan semangka di sisi lain. Namun...
"Saya saja." Shafiya maju. Membuat tangan Sagara yang sudah menyentuh wadah itu berhenti. Lalu menarik diri dan menyisih.
Shafiya tidak mengambil semua. Hanya satu irisan kecil saja. Tidak berlama-lama. Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruang itu dengan sedikit tergesa.
Sagara tetap di tempatnya. Tidak menahan. Namun pandangannya mengikuti langkah Shafiya sampai benar-benar hilang dari jangkauan.
Sesuatu telah berubah. Kecil, tapi terasa. Dan Sagara tidak perlu lagi menganalisa apa sebabnya.
Shafiya punya hak untuk ambil sikap. Seperti dirinya yang telah lebih dulu melakukannya.
Tidak memikirkan itu terlalu lama, Sagara membuka kulkas. Mengambil minuman dan membawanya ke ruang tengah. Ia duduk di sana tanpa benar-benar melakukan apa-apa.
Di sisi lain, Shafiya tidak langsung kembali ke kamar. Ia berhenti sebentar di ruang duduk--sebuah ruang di depan kamarnya yang mengarah ke taman samping. Pintu kacanya terbuka sedikit menampilkan pemandangan taman yang tenang.
Di sana ia memakan irisan semangka itu pelan. Dingin. Manis. Berair. Seperti yang ia inginkan. Namun tak sepenuhnya sama. Karena bukan itu yang benar-benar ia mau.
Shafiya kembali menggigit pelan.
Awalnya tidak ada yang terasa aneh.
Namun beberapa detik setelahnya, ia berhenti. Rasa itu datang tiba-tiba. Tidak terlalu kuat. Tapi cukup membuatnya tidak nyaman.
Ia tetap menelan. Mencoba mengabaikan.
Buah itu tinggal potongan kecil. Suapan terakhir. Namun belum sempat habis, ia sudah menurunkannya kembali.
Tangannya menahan bagian perut. Napasnya berubah sedikit.
Tidak lama. Ia bangkit cepat.
Langkahnya bergegas menuju kamar mandi di dalam kamar, dan belum sempat menutup pintu.
Sagara masih di ruang tengah. Menyesap minuman dingin itu pelan. Suasana malam yang hening membuat suara Shafiya itu sampai.
Tidak jelas. Tidak keras.Tapi cukup dipaham.Tatapan Sagara beralih ke arah koridor. Diam beberapa detik.
Untuk memastikan apakah itu hanya kebetulan… atau tidak.
Di dalam, Shafiya membungkuk di depan wastafel. Rasa mual itu benar-benar datang. Tidak terlalu berat. Tapi cukup untuk mengosongkan isi yang baru saja masuk.
Ia bertahan dengan satu tangan di sisi wastafel. Napasnya tidak teratur.
Setelahnya, ia hanya diam.
Menunggu sampai tubuhnya kembali tenang.
Sagara telah berdiri di ambang pintu yang terbuka. Tidak masuk. Kamar itu masih benderang dan rapi. Pintu kamar mandi tidak tertutup. Dan dari sana suara itu datang. Tapi kini sudah berhenti sepenuhnya.
Hening.
"Elara." Sagara memanggil dengan suara yang cukup.
Tetap hening.
Beberapa detik kemudian.
"Ya." Jawaban itu datang. Singkat. Pelan.
Shafiya muncul kemudian. Dengan kondisi tak lagi sebaik waktu mereka bertemu barusan. Pandangan mereka bertemu sesaat.
"Butuh sesuatu?"
Shafiya menggeleng terlalu cepat.
"Tidak." Kembali menolak.
Terdengar langkah tergesa mendekat. Winda datang. "Tu--tuan." Kaget menyadari keberadaan Sagara di ambang.
"Jangan jauh-jauh dari nona."
"Baik, Tuan."
Sagara menarik diri. Melangkah pergi.
Winda bergegas masuk.
"Nona."
Segera membimbing Shafiya duduk di sofa.
"Mual lagi, Nona?"
"Iya. Salah makan kayaknya."
"Nona sebenarnya ingin makan apa? Saya buatkan."
Shafiya diam sejenak. Lalu menggeleng.
"Aku mau minum air hangat saja, Mbak."
"Saya ambilkan." Winda bangkit.
"Tunggu sebentar ya, Nona."
Persediaan air hangat dalam kamar habis. Winda telat menyiapkannya untuk malam ini. Ia bergegas keluar kamar. Namun di sana langkahnya berhenti seketika.
Sagara masih di ruang duduk itu. Berdiri menghadap ke taman.
"Tuan." Winda menyapa dan langsung menunduk.
"Bagaimana?"
"Sudah tidak mual. Tapi mungkin belum sepenuhnya nyaman."
Sagara mengangguk. Menatap Winda lagi.
"Kenapa ditinggal?"
"Saya mau ambil air hangat."
"Sekalian bawakan jeruk di kulkas."
Perintah Sagara selalu tegas. Tak memberi ruang untuk ditolak.
"Jeruk?" Winda masih bergumam.
"Dia ingin itu."
"Baik, Tuan."
Sagara lalu melangkah menjauh dari ruang itu. Namun hampir di ujung ruang ia berhenti. "Jika ada apa-apa lagi, beritahu Ratri."
"Iya, Tuan."
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering