NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:25.5k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11 Kak Venus Sudah Tiada

"Mama sudah pulang? Aku khawatir sekali."

Sean langsung berlari ke pelukan Venus begitu pintu depan tertutup. Dekapan kecil itu terasa begitu erat, seolah-olah bocah itu takut jika ia melepaskan pegangannya, ibunya akan menghilang.

Venus menghela napas panjang, mengusap punggung putranya untuk meredakan ketegangan yang ia bawa dari jalanan.

"Maaf membuatmu khawatir, Sayang. Ada sedikit kendala di jalan tadi," ucap Venus lembut, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya.

Sean melepaskan pelukannya, lalu mendongak menatap ibunya dengan tatapan menyelidik yang tajam. "Dihadang beberapa orang?"

Venus tersentak. Ia melepaskan tas belanjanya di atas meja. "Darimana kau tahu?"

"Ponsel Mama. Aku melacak koordinatnya saat Mama berhenti terlalu lama di bawah jembatan tua. Dan ya, aku hanya mengira-ngira saja awalnya," jawab Sean sambil menyilangkan tangan di dada. Ia mendekat, lalu mengendus jaket Venus. "Tapi sekarang aku yakin. Mama sedikit bau bubuk mesiu. Lebih baik Mama mandi sekarang. Iyuh, baunya sangat menusuk!"

Sean menutup hidungnya dengan ekspresi sangat terganggu. Sementara Venus hanya bisa melongo, lalu terkekeh sambil mengacak rambut putranya.

"Kau ini sudah jadi detektif sungguhan, ya? Baiklah, Mama mandi dulu."

Venus melangkah ke kamar mandi, sedangkan Sean mulai memindahkan barang belanjaan ke dapur.

Tubuhnya yang mungil nampak kesulitan menjinjing kantong plastik besar, tapi ia bersikeras melakukannya sendiri selama paman Leo belum kembali dari urusan pembersihannya.

"Astaga, Mama! Kenapa telurnya pecah semua begini!" teriak Sean dari dapur. Ia mengangkat tangannya yang sudah belepotan lendir telur mentah dengan wajah jijik.

"Ini mengerikan! Menjijikkan! Jadi tidak bisa dimakan, kan? Sia-sia saja Mama belanja kalau akhirnya jadi telur orak-arik di dalam kantong begini!"

Sean mendengus kesal, namun ia tetap telaten memilah belanjaan yang masih selamat untuk dimasukkan ke dalam lemari es.

Sebagai gantinya, ia mengambil beberapa lembar roti tawar dan mengoleskannya dengan selai cokelat tebal, lalu memasukkannya ke dalam pemanggang.

Tak lama kemudian, aroma roti panggang yang menggoda memenuhi ruangan. Sean menyiapkannya di tiga piring berbeda. Satu untuknya, satu untuk ibunya, dan satu lagi untuk Leo yang biasanya pulang dengan perut keroncongan.

Venus keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai, wajahnya nampak lebih segar tanpa topeng kulitnya. Ia menghampiri meja makan dan duduk dengan helaan napas lega.

"Minumlah. Aku sudah membuatkan cokelat panas untuk Mama, juga roti panggang cokelat," ucap Sean sambil menyodorkan gelas besar.

"Terima kasih, Sayang. Kau benar-benar anak yang bisa diandalkan," puji Venus tulus.

Namun kemudian ia teringat sesuatu. "Tapi lain kali tidak perlu, ya? Terakhir kali kau membuatkan Mama cokelat hangat, kau ketumpahan di tangan dan kita harus ke dokter karena kulitmu merah-merah."

"Itu karena paman Leo mengagetkanku, Ma! Bukan karena aku tidak becus." Sean membela diri. Ia duduk di kursinya dan mulai menggigit rotinya. Tiba-tiba, ia berhenti dan menatap toples selai di sudut meja. "Tapi Ma, bicara soal makanan... kenapa Mama tidak membeli selai kacang lagi? Mama masih takut karena kejadian alergi udang kemarin? Hubungannya apa?" tanyanya dengan nada menuntut.

Venus memutar bola matanya malas. "Sean, sudah berapa kali Mama bilang? Mama trauma dengan segala hal yang berbau alergi sekarang. Lagi pula, selai kacang itu lengket dan berantakan."

"Itu alasan yang tidak logis, Ma," sahut Sean datar. "Hanya karena Mama pingsan gara-gara sup udang tuan Dante yang bodoh itu, bukan berarti selai kacang di rumah ini harus ikut diasingkan. Ini diskriminasi terhadap kacang tanah."

"Sean! Sampai kapan kau akan membahas selai kacang itu?" keluh Venus sambil memijat pelipisnya. "Mama sedang pusing karena baru saja menembak empat orang, dan sekarang harus berdebat soal selai dengan anak usia enam tahun?"

"Sampai selai itu kembali ke lemari es kita. Lagipula, mengoles selai kacang jauh lebih aman daripada Mama yang mengoles peluru ke pistol Mama setiap hari," jawab Sena tanpa dosa.

Venus terdiam, lalu tertawa kecil sambil mencubit hidung Sean. "Kau benar-benar tidak bisa dikalahkan, ya? Baiklah, besok Mama belikan. Tapi kau harus janji tidak berkelahi lagi di sekolah."

"Tergantung," jawab Sean sambil kembali mengunyah rotinya dengan tenang, membuat Venus hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah menggemaskan sekaligus dewasa putranya itu.

Momen hangat ini adalah satu-satunya alasan bagi Venus untuk tetap bertahan.

*****

"Benar dugaanku. Ternyata kau memang masih hidup, Leo!"

Leo membeku di tempat, tangannya yang baru saja hendak menarik pelatuk pistol di balik saku jaket mendadak lemas.

Di bawah remang lampu jalanan yang sepi, sosok tinggi tegap itu melangkah keluar dari mobil hitam yang membuntutinya. Cahaya lampu sorot mobil memperjelas segalanya, wajah tegas yang sangat ia kenal.

"Kak... Kak Dante?" gumam Leo hampir tak terdengar.

Tanpa aba-aba, Dante langsung menerjang dan memeluk Leo dengan sangat erat. Sebuah pelukan yang sarat akan kerinduan dan rasa bersalah selama tujuh tahun.

Leo meraba wajahnya dengan panik. Sial! Ia lupa memakai kembali topeng kulitnya karena tadi mandi keringat saat menggotong empat mayat ke jurang.

"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak senang melihat kakakmu ini masih bernapas?" tanya Dante, melepaskan pelukannya dan menatap wajah Leo dengan mata berkaca-kaca.

"Kak, apa kabar?" tanya Leo kikuk sembari menepuk-nepuk pundak Dante. "Aku... aku hanya terkejut. Bagaimana Kakak bisa ada di sini?"

Dante terkekeh, meski raut lelahnya tak bisa disembunyikan. "Kenapa kau seperti baru melihat hantu, Leo? Aku sedang dalam perjalanan pulang saat melihat mobil dengan gaya mengemudi yang sangat kukenali. Aku mengikutimu, dan dugaanku tak pernah salah. Kau adikku, meski kau mencoba sembunyi di lubang semut pun, aku akan menemukanmu."

Leo tersenyum tipis sembari menyembunyikan kegugupannya. Nasibnya benar-benar apes malam ini. Baru saja membereskan kekacauan Venus, sekarang ia terjebak dalam kekacauan yang lebih besar.

"Oh iya, di mana Venus?" Dante bertanya dengan antusias. matanya. "Dia pasti bersamamu, kan? Antar aku menemuinya sekarang, Leo! Katakan padanya aku masih hidup. Katakan kita akan kembali bersama dan memulai semuanya dari awal!"

Mendengar itu, jantung Leo seolah berhenti berdetak. Ia terdiam membeku, menatap kakaknya dengan tatapan nanar. Inilah momen yang paling ia takuti.

"Kak... jangan sekarang," ucap Leo lirih.

"Kenapa? Aku sudah menunggu tujuh tahun untuk hari ini!" Dante mencengkeram bahu Leo. "Aku hanya ingin istriku kembali!"

"Kak Venus sudah tiada," ucap Lep seketika membuat tubuh Dante lemas.

1
🅰️Rion bee 🐝
👍👍👍👍👍..
Kinara Widya
😂😂😂😂😂
Tiara Bella
pedes bngt loh Dante kata² anakmu...
Nice1808
bacanya sambil mewek lihat sean yg menangis dlm pelukan dante😭.Ayolah sean terima dan maafkan papamu agar bianca gk ambil papamu lagi🤣
Senja: kyak Teletubbies😆
total 3 replies
Arbaati
othooor...tanggung jawab...aku mewek ini
Senja: peluk jauh kak😚
total 1 replies
Sri Rahayu
ayolah Sean maafkan papa mu...karena semuanya itu bukan keinginan Dante...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Senja: Siapp
total 1 replies
tinie
akhirnya mulai luluh tembok dingin itu😭😭😭
Senja: huuhuhum
total 1 replies
Sri Rahayu
baru tau kamu Dante....anak mu Sean sangat cerdas, mulutnya pedas dan pemberani...lanjut Thorr😘😘😘
tinie
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣rasakan kau dantee
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tidak bergeming = tidak diam?
Senja: Beda2 ya kak, 🤣🤭
total 4 replies
tia
nikmati benih u dante 😁😁
🇧🇬
😆😆😆
Jungkookieeeeeee97🐰
infooo si Venus makan apa sih waktu hamil??
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh 🫪
Jungkookieeeeeee97🐰
tau tuh si Dante, loe mau anak istri loe kembali,
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
Jungkookieeeeeee97🐰
Udah didalem kamar pun masih nyaut 🥸
Tiara Bella
papahmu itu Sean....
Jungkookieeeeeee97🐰
bener kata Sean Ve,,,,, Suami mafia mu itu,, Oneng nya tuh Ngoneng bangettt /Scream//Scream/
Jungkookieeeeeee97🐰
Wkwkwkkwkwkwk
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
lovely_day
ayo Sean.. makan with papa🤗
Jungkookieeeeeee97🐰
Ttttaaapiiiii ucapan Sean bener loh 😳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!