NovelToon NovelToon
Suami Dadakanku Penjual Bakso Bakar

Suami Dadakanku Penjual Bakso Bakar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Bima

Arumi terkejut karena pagi pagi sudah terdengar keributan di depan kontrakan mereka,lagi-lagi mobil pick up datang membawa furnitur kerumah kontrakan yang ditempati Arumi dan Elang.

"Mas,kamu beli lagi?"

"Iya,seharusnya kemarin sore datangnya,tapi tapi tokonya baru bisa mengantar hari ini ."

Arumi terdiam,dia merasa bingung dengan suami dadakannya itu,seorang penjual bakso bakar,tapi uangnya bisa sebanyak itu

“Turunkan di sini saja, Pak!” ujar Elang kepada sopir dan kenek yang menurunkan serta membawa barang-barang dari toko tempat ia bekerja.

Ia berbicara sambil menunjuk ke mana barang-barang itu harus diletakkan. Semua barang yang telah dibeli Elang sebagian masih berada di luar kontrakan, sebagian lagi ditumpuk di ruang tamu rumah kontrakan tersebut.

Untuk sementara, ia meletakkan barang-barang itu di tempat tersebut karena kamar yang akan kugunakan masih berantakan. Kamar itu sebelumnya dijadikan gudang olehnya, sehingga masih penuh dengan barang-barang lama.

Setelah semua barang sudah diturunkan dan sopir serta kenek yang mengantarkan pulang, Elang kembali masuk ke rumah yang kini sudah penuh sesak oleh barang-barang belanjaannya.

“Wah, barang sebanyak ini mau ditaruh di mana? Ruang ini sampai penuh sesak begini!” ujar Mbak Sari,kepo sambil melongok dari pintu luar rumah.

“Iya, Mbak. Ini juga belum disusun, Mbak. Nanti kalau sudah disusun pasti rapi,” jawab Elang.

“Andai saja Mas Rian ada di rumah, pasti ada yang membantu menyusun dan membereskan barang-barang ini,” ujar Mbak Sari. Ia terlihat kasihan melihat begitu banyak barang, tetapi kami harus membereskannya sendiri.

“Tidak apa-apa, Mbak. Lagian Mas Rian kan sedang kerja. Masa harus rela pulang hanya untuk membantu saya,” jawab Elang tersenyum

“Oh ya, nanti kan Mas Ria pulang istirahat. Biar saja ia bantu Mas Elang membereskan,” sahut Mbak Sari

Mendengar tawaran itu, Elang merasa kurang enak. “Tidak usah, Mbak. Kasihan suami mbk dia capek kerja dan hanya istirahat sebentar. Jangan sampai semua waktu istirahatnya terpakai untuk membantu saya,” ucapnya.

Mas Rian, suami Mbak Sari, bekerja sebagai buruh bangunan di dekat rumah kontrakan. Setiap jam istirahat, ia pasti pulang untuk makan dan beristirahat sebentar sebelum kembali bekerja.

“Ya tidak apa-apa, Mas. Namanya juga membantu tetangga yang sedang kerepotan,” ucap Mbak Sari.

“Tidak usah, Mbak. Lagian nanti ada teman yang akan datang dan membantuku membereskan semua ini,”

“Oh, teman Mas Elang yang sering datang dan membantu itu ya?” tanya Mbak Sari

Arumi hanya mendengarkan percakapan Elang dengan Mbak Sari karena ia sendiri masih sock meliat Elang berbelanja begitu banyak barang perabotan rumah dan ia juga belum tahu banyak tentang teman Elang.

“Iya, Mbak. Dia yang sering datang dan membantu aku,sebentar lagi juga ia sampai”

“Ya sudah, kalau nanti ada yang membantu Mas Elang. Kalau begitu, saya pulang dulu ya. Soalnya mau masak. Nanti keburu Mas Rian pulang,”Mbak Sari beranjak dari tempatnya.

“Iya, Mbak,” jawab Elang. Kemudian Mbak Sari pulang kembali ke kontrakannya,tepatnya disamping rumah kontrakan yang Arumi dan Elang tempati

“Ya sudah, ayo aku bantu Mas untuk mengeluarkan barang-barang yang ada di kamar itu,” ucap Arumi merasa iba melihat Elang agak kesulitan .

“Tidak usah. Kamu masak saja. Lagian nanti ada temanku yang akan datang dan membantu aku membereskan semuanya,” tolak Elang.

Mendengar ucapannya, Arumi hanya mengangguk. Ia tidak punya pilihan lain selain menurutinya. Lagi pula, di rumah kontrakan ini ia hanya menumpang. Semua biaya sewa dibayar oleh Elang.

“Ya sudah, kalau memang keinginan Mas Elang begitu,” katanya. Ia tidak mau berdebat dengan Elang .lagi pula Hari sudah mulai siang dan ia belum memasak untuk makan siang mereka

“Oh ya, Arumi. Nanti tolong masak yang agak banyak ya. Soalnya nanti ada temanku yang akan membantu membereskan barang-barang yang tadi aku beli,”

“Iya, Mas, kebetulan kemarin kita sudah belanja .”

“Terima kasih. Maaf aku merepotkanmu,” Elang berkata pelan .

“Ya, Mas.Nggak ada yang merasa direpotkan Kalau begitu, aku ke dapur dulu ya, Mas. Aku mau masak. Nanti kalau Mas butuh bantuan, panggil saja,” Kemudian Arumi meninggalkan tempat itu dan menuju dapur untuk memasak.

(Lima belas menit sebelumnya )

Elang diam-diam mengotak-atik ponselnya tanpa sepengetahuan Arumi, Ponsel yang digunakannya merupakan ponsel terbaru yang belum pernah Arumi lihat sebelumnya. Saat Elang menikahinya kemarin malam."

“Halo, Bos!” jawab telepon yang baru tersambung ketika Elang melakukan panggilan lewat aplikasi.

“Bim! Kamu bawa satu temanmu lagi ke kontrakanku sekarang juga!” perintah Elang kepada orang di balik telepon.

“Ada apa, Bos? Bukannya Bos tadi bilang mau libur, tidak jualan bakso bakar?” sahut orang yang berada di seberang.

“Iya, memang hari ini aku libur. Aku tidak jualan,” jawab Elang.

“Terus kenapa aku harus ke kontrakan, Bos? Lagian ini hari aku juga lagi free,Aku juga lagi jalan sama pacarku,” ujar orang yang diajak bicara itu.

“Kamu sudah berani membantah perintahku?” sahut Elang dengan suara dingin.

Orang di seberang terdengar ketakutan mendengar nada suara Elang. “Tidak, Bos! Mana berani aku melawan Bos!”

“Makanya, kamu lekas kemari!” perintah Elang.

“Siap, Bos! Saya segera ke sana,” suara di sebrang nampak gemetar.

“Oh ya, nanti kamu jangan ngomong aneh-aneh dengan Arumi!” perintah Elang. Mendengar nama yang disebutkan, Bima terbengong di balik telepon.

“Arumi? Siapa dia, Bos?” tanya Bima heran. Ia memang belum mengetahui pernikahan Arumi dan Elang

“Dia istriku,” sahut Elang lirih.

“Apa? Istri Bos?” teriak Bima di telepon hingga Elang menjauhkan ponsel dari telinganya karena sakit.

“Jangan teriak-teriak begitu, Bim! Kupingku panas tahu!” omel Elang.

“Habis kata-kata Bos barusan membuat aku kaget!”

“Iya ....ya , tapi jangan lebay dan berteriak begitu! Bikin kupingku sakit saja. Nanti kalau ada orang yang dengar, gimana?” kembali Elang mengomeli Bima . Sementara itu, Bima yang diomeli hanya tertawa.

“He he he! Maaf, Bos! Habis refleks,”

“Eh, ngomong-ngomong, tadi Bos bilang siapa namanya?”

“Arumi!”

“Iya, Arumi adalah istri Bos! Memang kapan Bos menikah?” tanya Bima penuh selidik,Bima benar-benar tidak tahu bahwa Bosnya sudah menikah

“kemarin malam,” jawab Elang singkat.

Bima semakin terkejut. “Apa? Kemarin malam? Bukannya kemarin malam Bos berdagang bakso bakar seperti biasanya di taman itu?”

“Ceritanya panjang, Bim. Kapan-kapan aku cerita semua padamu,” sahut Elang.

“Ya, Bos!”

“Oh ya,Bim. Kalau kamu ke sini, jangan sampai ia tahu bahwa kamu asistenku. Karena ia tahunya aku pagi bekerja sebagai OB di kantor Dirgantara Grup, dan malamnya berjualan bakso bakar,” jelas Elang.

“Siap, Bos! Aku akan merahasiakan semuanya,”

“Ingat, penampilanmu jangan mencolok. Kamu ke sini jangan pakai mobil. Cukup pakai motor butut seperti biasanya. Aku tidak mau kedatanganmu menjadi perhatian penghuni kontrakan ini, apalagi Arumi,” peringat Elang.

“Siap, Bos! Aku akan datang menggunakan motor seperti biasanya,”

“Bagus! Kamu cepat ke sini. Jangan pakai lama!” perintah Elang.

“Siap, Bos!”

Setelah memutuskan sambungan telepon, Elang menunggu di luar kontrakan. Tak lama kemudian, ia masuk ke dapur menemuiku.

Tidak berapa lama kemudian, terdengar ketukan di pintu kontrakan kami.

“Tok! Tok! Assalamualaikum!”

Mendengar ketukan dan salam dari luar, aku segera keluar melihat siapa tamu yang datang. Saat itu Elang sedang pamit ke kamar mandi.

“Waalaikumsalam!” jawab Arumi ,ia segera keluar dan melihat dua orang tamu. Begitu Arumi muncul, keduanya hanya terbengong melihat kearah Arumi,Bima dan temanya menatap Arumi tanpa berkedip.

(‘Orang ini kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?’)gumam Arumi dalam hati sambil memeriksa pakaiannya sendiri. Ia takut baju yang ia kenakan salah atau ada yang tidak beres.

(“Perasaan tidak ada yang salah. Bajuku juga tidak kebalik. Tapi kenapa mereka menatapku begitu?”) batin Arumi masih bertanya-tanya.

“Mas… Mas mau cari siapa?” Arumi bertanya lembut lembut dan sopan kepada kedua tamu itu.

“Eh … iya. Maaf, maaf,” sahut salah satu dari mereka.

“Mas-mas ini mau cari siapa?” Tanya Arumi sopan.

“Eh … kami ke sini …” belum sempat mereka menyelesaikan kalimat, Elang sudah muncul di belakangku.

“Siapa yang datang?” tanya Elang.

“Ini ada tamu, Mas. Aku sendiri juga tidak tahu siapa,”

“Oh … kamu Bim !” ujar Elang begitu mengenali tamunya.

“Iya, Bo —” sahut tamu itu terhenti karena mendapat tatapan tajam dari Elang.

“Kamu pasti datang mau membantu, kan?” tanya Elang cepat, ingin mencairkan suasana sekaligus agar Arumi tidak curiga.

“Eh … iya! Aku ke sini sama temanku. Ingin membantu kamu membereskan,” jawab temannya dengan tergagap. Sementara itu, Arumi hanya diam memperhatikan interaksi mereka. Mata salah satu tamu masih menatap Arumi dengan penuh selidik.

“Oh ya, Arumi. Ini temanku namanya Bima, Dia yang selalu membantuku selama ini. Dan hari ini juga ingin membantu kita membereskan kamar itu,” jelas Elang kepadaku.

Bima segera mengulurkan tangannya. “Nama saya Bima dan ini teman saya Agus. Saya sahabatnya Elang.”

“Saya Arumi,” jawab Arumi singkat. Arumi tidak memperkenalkan diri terlalu panjang karena Bima adalah sahabat Elang. Pasti ia sudah mengetahui seluk-beluk keluarga Elang. Arumi tidak mau ketahuan berbohong jika mengaku sebagai adik Elang

Arum menatap Elang seolah bertanya. Ia seolah mengerti dan hanya mengangguk pelan.

“Jadi Mas ini sahabatnya Mas Elang?” tanya Arumi pada Bima untuk memastikan.

“Iya, bahkan dari zaman SMA,” Bima merangkul bahu Elang.

“Iya, kita memang bersahabat sejak SMA,” tambah Elang.

“Oh, begitu,”

“Silakan masuk,”

“Terima kasih,” jawab Bima dan temannya. Kemudian keduanya masuk.Bima tercengang begitu melihat kondisi dalam rumah.

“Hah! Ini kamar apa gudang?” seru Bima begitu melihat barang-barang yang masih berantakan.

“Ya jelas gudang lah! Pakai nanya lagi,” ujar Elang dengan nada sinis.

“Makanya kamu aku suruh kemari. Untuk membereskan semua ini,”kaya Elang selanjutnya santai.

“Oh, pantas aku disuruh kemari dengan membawa orang. Ternyata aku cuma disuruh jadi tukang bersih-bersih,” sahut Bima sinis.

“Ya iyalah. Memang disuruh ngapain lagi kalau bukan bantu beresin ini,” jawab Elang santai.

Arumi hanya tersenyum melihat interaksi keduanya yang sudah seperti kebiasaan.

“Oh ya, Mas berdua ini mau minum apa?” tanya Arumi sopan.

“Kalau ada es teh, soalnya di luar panas,” jawab Bima sambil tertawa kecil.

“Emang di sini warteg? Pakai pesen es teh segala,” sahut Elang sinis.

“Ya sekali-sekali kan tidak apa-apa,” balas Bimai sambil tertawa.

“Ya sudah, kalau begitu aku ke belakang dulu,” pamit Arumi. ia segera berjalan menuju dapur untuk membuatkan es teh pesanan Bima sekaligus meneruskan memasak.

1
Neng Saripah
lama2 istrimu bisa curiga kamu belanja sebanyak itu ,lang 🤭
MayAyunda: he .he. .Iya kak
total 1 replies
Dwiwinarni
suatu saat nanti gilang akan membahagiakan arumi, sabar ya arumi sapa tahu gilang anak horang kaya😃
MayAyunda: he he
total 3 replies
Dwiwinarni
Arumi tidak sudi menikah sama juragan dirga, mending hidup jadi gembel dijalanan.. Elang bersedia menikah sama arumi...
Dwiwinarni
Bagus arumi jangan mau menikah juragan dirga sibandot tua itu🤭
Dwiwinarni
Elang hanya penjual bakso tusuk bakar, dihina abis2an...
Dwiwinarni
bagus itu baru pria gentmen elang...
Dwiwinarni
Kasian arumi yg jadi korbannya menikah sama bandot tua botak🤣🤭
MayAyunda: iya kak😄😄
total 1 replies
Rosmenti Sitanggang
lanjut thor💪💪
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Dwiwinarni
Ini mah kebalik cewek ngelamar cowok🤣dasar arumi belum kenal dah berani ngelamar😃
MayAyunda: he he 😁
total 1 replies
Nanik Arifin
semoga pernikahan kalian samawa & langgeng. baik tinggal dikontrakan petak maupun di mansion
MayAyunda: aamiin
total 1 replies
Nanik Arifin
tenang Arumi, suamimu ceo, pemilik perusahaan t4 kamu kerja
MayAyunda: iya kak .he.he
total 1 replies
Nanik Arifin
puas"in senyumnya Bu Lastri, krn setelah kepergian Arumi, gaya hidupmu & anakmu minta dilunasi. klo tak ada uang, ya udah bayar aj putrimu atau dirimu sendiri. lumayan kan, jadi istri Tuan Dirga yg kaya...😜
MayAyunda: .he .He ..betul itu kak😁
total 1 replies
Nanik Arifin
enak aj suruh Arumi yg membuat hutang lunas, kan yg pakai uangnya kalian? suruh aj tuh Rina nikah sama juragan Dirga, lagian pacarnya yg direktur blm tentu mau nikahi juga kan ? y ogahlah punya istri + mertua benalu
Nanik Arifin: masama. semangat thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!