Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.
Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!
Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Penculikan di Tengah Aroma Sate dan Amarah Kawanan Serigala
Pagi kembali menyapa Kerajaan Valerius dengan hiruk-pikuk yang sudah menjadi rutinitas baru bagi Melan. Hari ini, ia kembali meluncur ke lokasi pembangunan Mall Nusantara dengan iring-iringan yang lebih ramai.
Selain Dayang Lin, ada Baron yang tampak siaga dan beberapa pengawal istana yang wajahnya kaku seperti beton.
Sesampainya di sana, Melan disambut oleh pemandangan yang menghangatkan hati. Suara dentuman palu dan tawa ibu-ibu di dapur umum menjadi latar belakang yang menyenangkan.
Begitu sosok Permaisuri itu turun dari kereta, serentak para pekerja pria, ibu-ibu yang sedang mengaduk kuali, hingga anak-anak yang sedang bermain lari-larian, semuanya berhenti dan membungkuk memberi salam.
"Selamat pagi, Yang Mulia Permaisuri!" seru mereka hampir bersamaan.
Melan melambaikan tangan dengan santai, gaya yang jauh dari kata formal namun sangat disukai rakyatnya.
"Pagi, pagi! Lanjutkan kerjanya ya, jangan lupa istirahat kalau sudah jam makan siang!"
Ia kemudian melangkah menuju area logistik, di mana ia melihat Kibo anak laki-laki setengah binatang yang ia selamatkan kemarin sedang sibuk membantu Jaka mengatur tumpukan kayu.
Kibo terlihat jauh lebih segar telinganya yang runcing bergerak-gerak mengikuti suara di sekitarnya, dan ekor bulunya sesekali bergoyang tanda ia sedang dalam suasana hati yang baik.
"Gimana, Kibo? Betah di sini?" tanya Melan sambil menepuk pundak anak itu.
Kibo tersentak kaget, lalu segera membungkuk dalam. "Yang Mulia! Sangat betah. Tuan Jaka dan yang lainnya... mereka sangat baik. Tidak ada yang memukul atau menertawakan saya seperti di luar sana."
Jaka tertawa sambil memikul balok kayu. "Anak ini hebat, Yang Mulia. Pendengarannya tajam sekali. Dia bisa tahu kalau ada kayu yang mau patah atau kalau ada pengawas yang datang dari jarak jauh."
Melan tersenyum tipis, tapi hatinya merasa miris saat Kibo bercerita tentang kawanan dan negerinya.
Kibo bercerita bahwa ia terpisah dari rombongannya saat mereka menjelajah hutan terlarang.
Di negerinya, manusia dianggap sebagai makhluk paling kejam.
"Kami benci manusia, Yang Mulia," bisik Kibo dengan nada sedih.
"Di mana-mana, kami ditertawakan. Banyak dari kami yang dijadikan budak atau hanya jadi penghibur di arena karena fisik kami yang aneh. Tapi Anda... Anda berbeda."
Melan menghela napas. "Di sini, selama kamu kerja jujur, kamu aman. Saya sudah titipkan uang pembangunan ke Baron dan Jaka, jadi kalau butuh apa-apa, langsung lapor ya."
Setelah memastikan proyek berjalan lancar, Melan mengumpulkan tim intinya di bawah pohon rindang.
"Baron, tugas kamu hari ini adalah ke pasar grosir," instruksi Melan tegas.
"Beli semua bahan pokok dalam jumlah besar. Beras, gandum, bumbu dapur, sampai kain rami yang kita bicarakan kemarin. Jangan mau ditipu harga, ingat teknik tawar yang saya ajarkan!"
Baron menghela napas pasrah. "Saya ini ksatria, Yang Mulia, bukan pedagang sayur. Tapi baiklah, demi perintah Anda."
"Dan Lin," Melan menoleh ke dayang setianya. "Kamu pergi ke pusat kota. Cari toko yang lokasinya strategis tapi dijual dengan harga masuk akal. Saya mau segera buka minimarket pertama kita sambil nunggu gedung Mall ini jadi.".
"Siap, Yang Mulia!" Lin menjawab dengan semangat, meski ia masih sedikit gugup berjalan tanpa pengawalan ketat.
"Lalu Yang Mulia sendiri mau ke mana?" tanya Baron curiga.
Melan membetulkan letak selendangnya. "Saya mau... inspeksi pasar. Sekalian cari makan enak. Udah lama nggak mukbang di pinggir jalan."
______________
Melan, dengan hanya dikawal oleh empat ksatria terpilih, melipir ke sebuah kedai makan yang aromanya sangat menggoda semacam sate daging panggang dengan bumbu rempah yang tajam.
Ia duduk di pojokan, menikmati setiap gigitan dengan perasaan luar biasa bahagia.
"Sumpah, ini lebih enak daripada makanan istana," gumam Melan sambil mengunyah.
Namun, ketenangannya terus terusik oleh suara bising dari arah belakang kedai.
Tiba-tiba, sekelompok pria bertubuh kekar dengan tudung hitam menutupi wajah mereka muncul dari balik gang.
Mereka berlari dengan gerakan yang sangat lincah, bukan seperti manusia biasa.
"Siaga!" teriak salah satu pengawal Melan sambil menghunus pedangnya.
Melan membeku. Sendok di tangannya jatuh. Ini pertama kalinya ia berada dalam situasi berbahaya secara langsung sejak ia masuk ke tubuh ini.
Para pengawal segera membentuk lingkaran pelindung di sekeliling Melan, namun jumlah pria bertudung itu terlalu banyak.
"Serahkan wanita itu!" teriak salah satu pria bertudung dengan suara parau yang mirip geraman binatang.
Pertarungan pecah. Denting logam pedang beradu dengan cakar-cakar tajam yang keluar dari balik lengan baju para pria bertudung itu.
Para pengawal Melan kewalahan karena lawan mereka memiliki kecepatan yang tidak normal.
Di tengah kekacauan itu, seorang pria bertudung muncul dari arah belakang Melan, melompati meja makan dengan sekali loncatan.
Sebelum Melan sempat berteriak, pria itu menarik lengannya dengan kasar dan membopongnya di atas bahu seperti karung beras.
"LEPASIN ANJING! WOI TOLONG GUE! BARON! NOLAN!" teriak Melan histeris, kakinya menendang-nendang udara.
Begitu target mereka berhasil ditangkap, para pria bertudung itu mengeluarkan bom asap dan segera melarikan diri ke arah hutan dengan kecepatan luar biasa.
Saat asap menipis, para pengawal Melan hanya bisa melongo melihat tempat duduk sang Permaisuri sudah kosong melompong.
"Permaisuri... hilang!" teriak salah satu ksatria dengan wajah pucat pasi. "Lapor ke Raja! Cepat!"
____________
Melan merasa mual karena terus-menerus berguncang di atas bahu pria yang menculiknya.
Setelah beberapa lama menembus lebatnya hutan, ia akhirnya diturunkan di sebuah gua tersembunyi yang dijaga ketat oleh kaum Manusia Binatang lainnya.
Melan terduduk di tanah dengan napas terengah-engah, rambutnya berantakan dan gaunnya kotor.
Saat ia mendongak, ia melihat sekelompok orang dengan telinga dan ekor yang serupa dengan Kibo menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Kenapa kalian menculik saya? Saya salah apa?!" teriak Melan, mencoba membangun keberaniannya.
Seorang pria tinggi dengan telinga serigala maju ke depan, membuka tudungnya.
"Kami melihatmu, manusia. Kami melihatmu menahan salah satu saudara kami di lokasi bangunanmu. Kami melihat Kibo ada di bawah perintahmu!".
Melan tertegun. "Kibo? Kalian kawanan Kibo?".
"Jangan sebut namanya dengan mulut kotarmu!" bentak pria itu.
"Manusia selalu melakukan ini. Berpura-pura baik, memberi makan, lalu menjadikan kami budak untuk membangun gedung-gedung mewah kalian. Kami tidak akan membiarkan Kibo jadi alat bisnismu!"
Melan tertawa sinis, meski hatinya menciut. "Budak? Kalian buta ya? Kibo itu makan enak, punya seragam bagus, dan dihargai di sana! Dia malah bilang kalian yang hilang saat di hutan!".
"Bohong!"
Saat suasana memanas, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki kecil dari arah pintu gua.
"Kakak! Berhenti!"
Kibo muncul dengan napas tersengal-sengal, wajahnya penuh ketakutan. Ternyata ia telah mengikuti bau kawanannya sejak tadi.
"Kibo? Kau masih hidup?" pria serigala itu terkejut.
"Dia bukan majikan jahat, Kak! Dia menyelamatkanku dari pedagang budak!" teriak Kibo sambil berdiri di depan Melan, merentangkan tangannya untuk melindungi Permaisuri itu.
Suasana di gua itu mendadak hening. Melan menatap Kibo dengan rasa haru, sementara kawanan Manusia Binatang itu saling berpandangan dengan bingung.