Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.
Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.
Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.
Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.
Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Maksudmu aku bisa keluar dengan menggunakan kunci ini?"
Nate tersenyum datar, tidak menunjukkan emosi apapun dalam senyumannya. Matanya menatap langsung ke arah Nelphy yang mengangguk dengan senyum tipis yang meresahkan.
"Ya, kamu tidak tahu? Kamu seharusnya memeriksa setiap hal yang kamu punya begitu ada waktu. Apa yang sebenarnya kamu lakukan, Tuan Peringkat Pertama?"
Nate mendecakkan lidahnya.
Pada dasarnya, dia telah beristirahat sendirian di ruangan itu tanpa menyadari bahwa yang lainnya sudah lama kembali ke server mereka masing-masing. Nate hampir ditinggalkan sendirian. Beruntung saat terbangun dan hendak kembali ke ruangan pribadinya, dia tidak sengaja bertemu Nelphy di tengah jalan dan akhirnya mengetahui cara meninggalkan tempat ini.
Dia segera mengeluarkan kunci itu dan memutarnya di udara sesuai yang dikatakan Nelphy.
"Ingat utangmu. Aku berharap kamu akan membawa sesuatu yang bagus untuk bayaran liontin itu."
Di seberang, Nelphy juga bersiap kembali ke servernya. Nate melambaikan tangannya dengan malas.
"Tentu, tentu, aku tahu. Pergilah, sangat menakutkan berada di satu ruangan yang sama denganmu."
Tanpa menunggu jawaban apapun, Nate masuk ke portal yang tercipta. Kesadarannya melemah sebelum akhirnya dia menemukan dirinya kembali di lokasi awal saat memasuki dungeon event.
Tidak seperti sebelumnya yang ramai dengan player yang berkumpul untuk menyaksikan, kini hanya tersisa beberapa orang di tempat itu. Begitu mereka menyadari keberadaan Nate, sekitar sepuluh player itu mendekat beberapa langkah dengan cara yang cukup untuk membuat Nate berpikir bahwa mereka datang dengan niat baik.
"Apakah kamu Tuan Nate Leicester?"
"....."
Nate terdiam sejenak, menatap mereka satu per satu, lalu memiringkan kepalanya dengan senyum kecil.
"Itu aku."
Tanpa alasan yang jelas, sabitnya terhunus. Suhu udara di sekitarnya turun drastis, energi ungu gelap merembes turun seperti asap dari es batu.
"Nah, siapa yang cukup bodoh untuk mengirim beberapa player untuk membunuhku, ketika aku baru saja kembali dari melawan monster yang jumlahnya puluhan kali lebih banyak dari kalian?"
Ketegangan menghantam kesepuluh player itu sekaligus. Senyuman di wajah mereka membeku di tempat, keringat dingin mengalir sebelum akhirnya salah satu dari mereka berteriak.
"SERANG DIA!"
Salah satu dari mereka mengeluarkan busur dengan tiga anak panah berwarna emas pucat, menariknya, membidik Nate. Saat pupil matanya menemukan target, Nate tiba-tiba tidak ada lagi di tempatnya.
"Hah?"
"Apa yang kamu cari?"
Suara Nate terdengar tepat di telinga kanannya.
Pupil player itu melebar sebelum Nate membenturkan kepalanya tepat ke aspal jalanan yang hancur.
"Nah, katakan padaku, mengapa aku harus membiarkanmu hidup?"
Player itu tidak menjawab. Kepalanya menumpahkan darah yang terus merembes tanpa henti ke celah-celah aspal.
"MATI!"
Seruan dari samping, diikuti hembusan angin kencang dari dua arah. Dua orang mendekat dengan cepat. Nate merasakan mereka, pupil abu-abu pucatnya tetap tenang, lalu dengan tawa yang geli dia mengayunkan bagian belakang sabitnya.
Baam!! Baam!!
Daya hantamnya mematikan. Keduanya terhempas menjauh, memegangi perut mereka dengan teriakan kesakitan.
Nate menghunus sabitnya sekali lagi dan menatap yang tersisa.
Mereka berdiri terpaku di tempat mereka, dipenuhi ketakutan dan ketidakpercayaan.
"Tidak mungkin! Dia bilang targetnya cuma sampah yang kebetulan naik ke level sepuluh karena beruntung! Dia pasti sudah berbohong!"
Salah satu dari mereka berbicara terlalu keras tanpa menyadarinya. Nate melirik ke arahnya.
"Jadi, siapa 'dia' yang kita maksud bersama di sini?"
Wajah player itu memucat. Lalu tanpa ragu-ragu dia berbicara.
"Itu Bryan! Kami, kami sudah ditipu olehnya. Kalau kami tahu kamu sekuat ini, pasti kami tidak akan mencoba! Tolong beri kami satu kesempatan."
Player-player yang tersisa segera menjatuhkan senjata mereka dan berlutut dengan penuh ketakutan.
Di dunia ini, pembunuhan sudah menjadi hal yang paling wajar. Hati nurani adalah sesuatu yang langka.
"Tentu. Kalian boleh pergi. Tapi selanjutnya, jangan pernah ikut campur dalam urusan Bryan lagi."
Senyuman muncul di wajah mereka satu per satu saat melihat Nate bersikap lunak, sembari mengasah pisau dapur yang dia keluarkan dari inventorinya.
"Ya, ya, ya! Kami tidak akan mengulanginya lagi, terima kasih Tuan!"
Tapi sebelum mereka sempat berbalik pergi, suara Nate kembali terdengar.
"Ngomong-ngomong, apa yang akan terjadi kalau aku lebih lemah dari kalian? Maksudku, apa kalian tidak akan memohon dan dengan pasti akan membunuhku?"
Tubuh mereka tersentak. Keringat dingin dan kegelisahan menyatu dalam diam yang tiba-tiba sangat berat.
Salah satu dari mereka berbalik, mencoba meminta maaf dan bersujud, tapi tubuhnya membeku begitu pupil matanya bertemu dengan pupil abu-abu pucat milik Nate. Otak player itu kosong seketika, tidak tahu harus mengatakan apa.
"Pasti begitu kan?"
Nate menjadi kabur dalam pandangan mereka.
Sraatt!! Sraatt!! Sraatt!!
Sedetik kemudian, masing-masing dari mereka kehilangan satu lengan.
Darah merah segar menyembur kuat seperti semprotan air, puluhan tangan terjatuh dan berguling di permukaan aspal. Nate berdiri diam, menatap pisau dapur yang kini penuh dengan darah manusia.
Satu menit berlalu dalam keheningan yang terasa seperti keabadian, sebelum teriakan kesakitan akhirnya pecah dari segala arah sekaligus.
Para player itu berlutut, memegangi lengan mereka yang masing-masing terpotong dengan rapi. Mereka terisak-isak, ingus mengalir, permintaan maaf yang tidak berhenti bercampur dengan teriakan minta tolong yang tidak akan pernah dijawab oleh siapapun.
Nate meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apapun.
Adapun tentang Bryan, nah...
"Tidak akan seru kalau aku langsung tahu lokasinya. Karena itulah Bryan, kamu harus berlari sejauh mungkin. Karena begitu aku menemukanmu..."
Nate terdiam sejenak, lalu tertawa geli.
"Wah, aku bukan psikopat, aku juga bukan bajingan gila yang tidak waras. Tapi percayalah, aku pasti akan membunuhmu."
Melanggar janji yang pernah dia buat untuk dirinya sendiri bukanlah masalah sama sekali.
Toh, dengan dunia yang sudah berubah seperti ini, Nate memutuskan untuk membuat beberapa perubahan dari dirinya sendiri. Itu akan dimulai dari aturan lama yang sudah lama mengikatnya, sesuatu yang dia terapkan dulu karena rasa bersalah.
***