NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 : CEMBURU YANG TAK DIUCAPKAN

Pagi itu ruang meeting lantai 20 terasa lebih formal dari biasanya. Meja panjang dari kayu mahoni sudah disusun rapi. Laptop, map dokumen, dan beberapa botol air mineral tertata sempurna.

Hari ini PT Harsono Group ada pertemuan penting dengan calon mitra baru untuk proyek ekspansi di Surabaya.

Kirana duduk di kursi paling depan sebagai perwakilan direktur penampilannya sudah rapi dengan setelan Jas hitam dan Rok selutut. Di sebelahnya, Arga duduk dengan setelan jas hitamnya yang rapi. Ekspresinya datar. Profesional.

"Jaga jarak, Kirana. Ingat... ini kantor," pikir Kirana sambil mengatur napas.

Pintu ruang meeting terbuka. Seorang pria muda usia 27 tahunan, dengan setelan jas biru navy dan senyum ramah yang tidak berlebihan. Berjalan dengan langkah yang tegap memasuki ruang meeting.

“Selamat pagi. Saya Rayhan Adi Pratama, Wakil Direktur Utama dari PT Cahaya Mandiri,” sapa pria itu sambil mengulurkan tangan.

Kirana berdiri dan menjabat tangan itu sebentar. “Selamat pagi, Pak Rayhan. Saya Kirana, Kepala Divisi Operasional PT Harsono Group, saya disini mewakili Papa saya yang berhalangan.”

Rayhan menatap Kirana agak lama. Ada kilatan yang familiar di matanya. “Kirana... nama yang tidak berubah. Sama seperti dulu.”

Kirana mengernyit. "Dulu..?" pikir Kirana.

Arga yang melihat itu langsung menoleh tajam. “Kalian saling kenal?” tanyanya datar.

Rayhan tersenyum tipis. “Kami satu kampus dulu, Pak Arga. Tapi sepertinya Kirana sudah lupa.”

Kirana terdiam. "Rayhan Adi Pratama... aku ingat. Anak fakultas ekonomi yang dulu sering ikut organisasi kampus. Dia pernah..." pikir Kirana tapi cepat-cepat dia tepis.

“Silakan duduk, Pak Rayhan. Mari kita mulai meetingnya,” ujar Kirana cepat untuk mengalihkan suasana.

Meeting dimulai. Rayhan mempresentasikan proposal kerjasama dengan sangat profesional. Suaranya tenang. Penuh keyakinan.

Tapi setiap kali dia selesai bicara, matanya selalu mencari Kirana.

“Kirana, menurutmu bagaimana dengan poin investasi ini? Aku yakin kamu pasti punya pertimbangan yang matang,” tanya Rayhan sambil menyerahkan dokumen ke tangan Kirana.

Tangannya sengaja menyenggol tangan Kirana sedikit lebih lama dari seharusnya.

Kirana menarik tangannya cepat. "Kenapa dia..." pikir Kirana sambil menunduk.

Arga yang melihat itu mengeratkan genggamannya di atas meja. Wajahnya tetap datar. Tapi rahangnya sedikit mengeras.

"Rayhan ini... Dia terlalu ramah pada Kirana." pikir Arga. "Terlalu dekat. Terlalu... familiar."

Meeting berjalan selama dua jam. Rayhan beberapa kali mengajukan pertanyaan langsung ke Kirana. Bahkan saat Kirana batuk kecil karena AC yang terlalu dingin, Rayhan langsung berkata,

“Kirana, kamu baik-baik saja? Jangan dipaksakan kalau sedang kurang fit.” Ucap Rayhan seolah ingin memperlihatkan perhatiannya.

Kirana hanya mengangguk singkat. “Terima kasih, Pak Rayhan. Saya baik-baik saja.”

Arga menutup map dokumennya dengan suara cukup keras. “Kalau begitu Pak Rayhan, bisa kita lanjut ke poin selanjutnya.” potong Arga dengan suara yang lebih dingin dari biasanya.

“Tentu, Pak Arga.Mari kita lanjut.”Ucap Rayhan

seraya tersenyum ke arah Arga. Senyum yang terlihat sangat ramah.

"Kenapa Arga jadi seperti ini?" pikir Kirana. "Tadi dia baik-baik saja. kenapa sekarang nada bicaranya jadi ketus." pikir Kirana sambil melirik Arga diam-diam.

Arga menatap lurus ke depan. Tidak melirik Kirana sedikit pun. Tapi di bawah meja, tangannya mengepal.

"Kirana batuk... tapi Rayhan yang duluan bertanya. Kirana pegang dokumen... Rayhan yang duluan menyentuh tangannya," pikir Arga. "Aku yang suaminya... tapi kenapa rasanya aku seperti orang luar disini ?"

Meeting akhirnya selesai. Reyhan menjabat tangan Arga

dan kemudian Kirana sedikit agak lama Seraya tersenyum, buru buru Kirana melepaskan tangannya.

“Kirana, senang sekali bisa bertemu lagi setelah sekian tahun.Ternyata Kamu masih tetap cantik... bahkan lebih berwibawa sekarang,” puji Rayhan dengan senyum yang tampak ramah.

Kirana tersenyum sopan. “Terima kasih, Pak Rayhan. Senang juga bisa bertemu Anda kembali.”

Rayhan menatap Kirana dalam-dalam. “Kalau di per bolehkah saya ingin mengajak Nona makan siang bersama minggu depan..? Sekaligus Aku ingin membahas detail proyek lebih lanjut. Dan sekalian... bernostalgia.”

Sebelum Kirana menjawab, suara Arga terdengar dari belakang.

“Maaf, Pak Rayhan. Jadwal Nona Kirana sudah penuh minggu depan.” jawab Arga dingin.

Rayhan menoleh ke Arga. “Oh ya? Sayang sekali.”

Arga berjalan mendekati Kirana dan berbisik pelan, “Kita ada rapat internal jam satu. Sebaiknya kamu bersiap.”

Kirana mengangguk. “Baik, Arga.”

Rayhan menatap interaksi itu dengan tatapan yang sedikit menyipit. "Jadi begitu..." pikir Rayhan. "sepertinya mereka tampak lebih dekat dari dugaanku...hem menarik." Rayhan tersenyum. Senyuman yang ramah, bahkan terlalu ramah.

Rayhan mengangguk dan berpamitan. Tapi sebelum pergi, dia berkata pelan ke Kirana, “Kirana... hati-hati memilih orang di sekitarmu.”

Kirana mengernyit. "Maksudnya apa?" pikir Kirana.

Ruang meeting kembali sepi. Tinggallah Kirana dan Arga.

Kirana menatap Arga yang sedang merapikan dokumen dengan cepat. “Arga... kamu kenapa?” tanya Kirana pelan.

Arga tidak menjawab. Dia tetap merapikan dokumen.

“Arga?” panggil Kirana lagi.

Arga akhirnya menoleh. Tatapannya serius. “Jangan terlalu ramah sama klien, Kirana. Tidak semua orang punya niat baik.”

Kirana terdiam beberapa detik.

" Apa Dia cemburu?" pikir Kirana. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Arga, Kamu cemburu..?” tanya Kirana langsung.

DEG..

Arga terdiam jantungnya seakan berhenti. Dia menatap Kirana lama. Lalu menghela napas. “Kirana, aku hanya tidak ingin kamu terluka. Itu saja.”

Arga berbalik dan berjalan keluar ruangan tanpa menunggu jawaban Kirana.

Kirana menatap punggung Arga yang pergi. "Dia tidak menjawab. Tapi... dia juga tidak menyangkal," pikir Kirana sambil memegang dada.

"Apa Arga benar-benar cemburu... dengan Rayhan?" pikir Kirana. Wajahnya tiba-tiba terasa hangat. Detak jantung nya sedikit memburu.

Siang itu, suasana kantor terasa aneh. beberapa Staf Karyawan mulai berbisik-bisik.

“Kalian tadi lihat nggak? Pak Rayhan itu kayaknya perhatian banget sama Ibu Kirana.”

“Iya... terus juga Pak Arga kelihatan dingin banget pas meeting, nggak seperti biasanya”

" Iya perasaan kemarin pas meeting kerja sama perusahaan dengan Ibu Pratiwi Pak Arga biasa aja."

“Jangan-jangan... ada apa-apa ya?”

"husss... sudah sudah kalian jangan banyak gosip nanti kalau Tuan Harsono tau abis kalian ." Ucap salah satu staf laki-laki.

Kirana yang tak sengaja mendengar bisikan itu hanya bisa menghela napas. "Gosip sudah mulai beredar," pikir Kirana. "aku harus lebih hati hati menjaga sikap".

Tapi di sisi lain... ada perasaan aneh di hatinya.

"Kenapa aku merasa... senang saat Arga cemburu? " pikir Kirana.

"Kenapa aku merasa... dia peduli?" Bibir Kirana sedikit tersenyum.

"Nggak..nggak.. Kirana Fokus nggak usah mikir aneh aneh" segera kirana menarik senyum nya kembali ke mode profesionalnya.

Sore hari, jam menunjukkan pukul lima sore. Kirana masih di ruang kerjanya. Dia menatap layar laptop tapi pikirannya tidak fokus.

Tiba-tiba Pintu terbuka. Arga masuk dengan membawa segelas teh hangat.

“Minum ini dulu. Suaramu agak serak tadi.” kata Arga sambil meletakkan teh di meja Kirana.

Kirana menatap Arga. “Arga, Kamu...kamu baik-baik saja?” tanya Kirana hati-hati.

Arga mengangguk. “Aku baik-baik saja.”

Kirana terdiam sebentar. Lalu bertanya, “Arga... tadi saat meeting. Kamu keliatan berbeda kenapa..??apa ada masalah..??”

Arga terdiam. Dia menatap Kirana. Matanya tidak berkedip.

“Ya,” jawab Arga singkat.

DEG..

Kirana terbelalak. "Dia... mengakuinya?" pikir Kirana.

“Aku gak suka liat cara pak Rayhan menatapmu Kirana” lanjut Arga pelan. “Tatapannya seolah punya maksud lain, Sebagai laki laki saya paham dengan tatapan seperti itu Kirana.”

Jelas Arga serius. Kirana tidak bisa berkata apa-apa. Jantungnya berdetak tidak beraturan.

“Arga... dia hanya kenalan lama, selain itu kita..”

“Kita ini suami istri kontrak,” Potong Arga sebelum Kirana selesaikan ucapannya.

“Aku tahu itu. Tapi... aku tidak bisa bohong pada diriku sendiri, Kirana. Aku...aku khawatir sama kamu. ”

Kirana menatap Arga. " Arga tidak bisa bohong..??" pikir Kirana. "Apa maksudnya..? "

Arga menghela napas. “Kirana, Aku hanya... tidak mau kehilangan kamu.” ucapnya lirih. Hampir seperti berbisik. Tapi masih terdengar oleh Kirana.

Kalimat itu seperti petir yang menyambar Kirana.

"Tidak mau kehilangan aku..." pikir Kirana. "Apa Arga sudah mulai... menyukaiku?"

Kirana menunduk. Pipiinya memerah. “Arga... aku...”

Kirana tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

Arga menatap Kirana. Dia ingin memegang tangan Kirana. Ingin bilang kalau dia tidak bisa membayangkan hari tanpa Kirana. Tapi dia menahan dirinya. Otak dan hatinya bersebrangan, Hatinya

ingin dia jujur dengan perasaanya. Tapi Otak dan logikanya menyuruhnya untuk tetap realistis. Kontrak itu masih ada, aturan itu masih ada seakan menjadi rambu rambu untuk

hatinya agar tidak melanggarnya.

"Belum saatnya, Arga. Belum saatnya" ,pikir Arga.

Arga akhirnya berbalik. “Kirana, Aku pulang duluan. Aku ada urusan sebentar diluar. Kunci mobilnya aku titip ke Pak Warto. Kamu jangan pulang jangan terlalu malam.”

Pintu tertutup. Tinggallah Kirana sendirian dengan segelas teh yang masih hangat.

Kirana menatap pintu yang sudah tertutup. "Arga bilang dia tidak mau kehilangan aku..." pikir Kirana sambil memegang dada. Jantungnya berdetak sangat cepat.

"Kirana, sadarlah. Ini hanya kontrak. Dia hanya takut kontraknya berantakan," gumam Kirana dalam hati. Tapi semakin dia menyangkal... semakin dia merasa tidak jujur pada dirinya sendiri.

Malam itu, Kirana tidak bisa tidur. Pikirannya terus teringat kata-kata Arga.

“Aku tidak bisa bohong pada diriku sendiri, Kirana.”

“Aku hanya..tidak mau kehilangan kamu."

"Apa ini... awal dari sesuatu yang lebih dari kontrak?" pikir Kirana sambil menatap langit-langit.

Arga juga tidak bisa tidur. Dia pura pura tertidur di tepi tempat tidurnya di sofa, matanya terpejam tapi bayangan wajah Kirana yang tersenyum saat Rayhan menyapanya terus muncul di matanya.

"Kirana... aku tidak mau kamu jadi milik orang lain. Aku tidak mau melihat kamu tersenyum untuk orang lain," pikir Arga sambil memejamkan mata.

"Kirana... maaf. Aku sudah mulai melanggar kontrak kita." pikir Arga dalam hati.

Di sisi lain kota, Rayhan duduk di balkon apartemennya sambil memegang segelas wine.

"Kirana... kamu masih sama seperti dulu. Dingin tapi membuatku penasaran," pikir Rayhan sambil tersenyum.

"Dan sekarang... sepertinya ada laki laki yang dekat denganmu Kirana, tapi itu bukan masalah buatku." batin Rayhan dengan senyumannya yang licik.

"Permainan ini... baru saja dimulai, Kirana." pikir Rayhan sambil menyesap wine-nya.

Di kamar, Kirana menutup mata. "Rayhan... Arga... kontrak pernikahan... perasaannya..."pikiran Kirana berkecamuk. Kepalanya pusing.

"Kirana, kamu harus kuat. Jangan jatuh cinta pada suami kontrakmu sendiri," gumam Kirana dalam hati. Tapi untuk pertama kalinya... Kirana tidak yakin apakah dia masih bisa mengendalikan hatinya.

Dan untuk pertama kalinya... Kirana merasa takut. Takut kalau dia benar-benar jatuh cinta. Dan takut kalau cinta itu tidak akan pernah berbalas.

[BERSAMBUNG...]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!