Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Pagi itu, kediaman Widjaja tampak lebih sibuk dari biasanya. Beberapa mobil hitam mengilat sudah berjajar rapi di depan lobi, bersiap untuk iring-iringan kepresidenan. Namun, di tengah hiruk-pikuk persiapan protokol kenegaraan, Aurora meluncur turun dari tangga dengan energi yang seolah bisa menerangi seluruh rumah.
Ia mengenakan one-set denim berwarna biru muda yang chic, dipadukan dengan tank top putih dan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya. Tas bermerek melingkar di bahunya, dan aroma parfum mahal yang manis mengikuti setiap langkahnya.
Di ruang makan, Haura dan Elang masih sibuk dengan roti panggang mereka. Anggara yang sedang membaca koran digital di tabletnya mendongak saat melihat putri tengahnya melintas secepat kilat.
"Kamu nggak sarapan dulu, Ra?" tanya Anggara, suaranya berat dan penuh wibawa.
Aurora berhenti sejenak, hanya untuk memberikan kecupan singkat di pipi Melati yang sedang menuangkan teh. "Nggak, Pa. Aku kan ada pemotretan di Bogor, takut nggak keburu. Jalur ke sana kan suka nggak ketebak macetnya. Nanti aja aku makan di mobil, Kak Mayang udah siapin roti kok."
"Hati-hati di jalan. Bogor itu jauh, jangan suruh sopirmu ngebut," pesan Melati lembut.
"Siap, Kanjeng Mami! Bye Pa, Ma! Kak Elang, Haura, jangan kangen ya!" seru Aurora sambil melambai riang tanpa menoleh lagi.
"Dasar anak itu, energinya nggak pernah habis," gumam Elang sambil menggelengkan kepala.
Begitu mendorong pintu besar mansion, Aurora langsung disambut oleh udara pagi yang segar dan pemandangan yang paling ia sukai: Langit Ardiansyah.
Langit berdiri di samping mobil dinas ayahnya, tampak gagah dengan setelan jas hitam formal dan pin protokol istana di kerahnya. Rambutnya ditata sangat rapi, dan wajahnya kembali ke mode "robot" yang sempurna.
Langkah Aurora yang tadinya cepat berubah menjadi langkah ringan yang centil. Ia menghampiri Langit dengan senyum paling lebar yang ia miliki pagi ini.
"Pagi, Mas Langit!" sapa Aurora, sengaja berdiri sangat dekat hingga ia bisa melihat pantulan dirinya di kacamata hitam yang dikenakan Langit.
Langit sedikit tersentak, namun dengan cepat menguasai diri. "Selamat pagi, Non Aurora."
Aurora sedikit menurunkan kacamata hitamnya ke ujung hidung, menatap Langit dengan mata yang penuh binar jahil. "Gimana tidurnya semalem? Mimpiin aku nggak? Hayo...?? Jujur aja, stiker-stiker aku semalem pasti masuk ke mimpi Mas, kan?"
Langit berdehem, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ingatannya kembali pada rentetan stiker beruang joget dan pesan "calon suami" yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak sampai jam dua pagi.
"Saya tidur untuk beristirahat agar bisa bertugas dengan maksimal hari ini, Non. Tidak ada waktu untuk bermimpi," jawab Langit, meskipun suaranya sedikit kurang stabil dari biasanya.
"Masa sih? Bohong banget mukanya," goda Aurora. Ia maju satu langkah lagi, membuat Langit terpaksa sedikit mundur hingga punggungnya menyentuh badan mobil. "Mas tau nggak, semalem aku—"
"AURORA!"
Suara pekikan Mayang dari arah mobil SUV putih di ujung jalan memotong kalimat Aurora. Mayang sudah berdiri di samping pintu mobil yang terbuka, menunjuk jam tangannya dengan wajah frustrasi.
"Apa sih Kak May! Ganggu aja orang lagi wawancara masa depan!" seru Aurora kesal, menoleh ke arah asistennya itu.
"Kita harus berangkat sekarang, Ra! Lo mau kita telat sampai Bogor? Vendor bunganya udah standby di lokasi!" teriak Mayang tidak mau kalah.
Aurora mendesah dramatis. Ia kembali menatap Langit, lalu mengulurkan tangannya seolah ingin merapikan dasi Langit, namun ia hanya menepuk-nepuk kerah jas pria itu dengan lembut.
"Iya iya, tau kok. Sabar sedikit kek," gumam Aurora. Ia kemudian berbisik pada Langit, "Bye Mas Langit, semangat kerjanya ya. Jangan liatin staf istana yang cantik-cantik, inget... Mas itu punya aku."
Sebelum Langit sempat memprotes, Aurora mengedipkan sebelah matanya dengan sangat berani—sebuah kedipan maut yang bisa meruntuhkan iman siapa pun—lalu ia berbalik dan berlari kecil menuju mobilnya sendiri.
Langit terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ia baru saja hendak mengatur napasnya kembali ketika sebuah kehadiran berat terasa di belakangnya.
"Langit."
Suara itu rendah, dingin, dan penuh otoritas. Langit langsung membalikkan badannya dan berdiri dalam posisi tegak sempurna. Di sana, Anggara Widjaja sudah berdiri dengan tangan yang disembunyikan di dalam saku celana bahan mahalnya. Matanya yang tajam menatap ke arah mobil Aurora yang mulai bergerak meninggalkan halaman, lalu perlahan beralih menatap Langit.
"Siap, Bapak," ucap Langit tegas.
Anggara berjalan mendekat, langkahnya pelan namun setiap pijakannya terasa mengintimidasi. Ia berhenti tepat di depan Langit. Suasana di sekitar mereka mendadak menjadi sangat sunyi, bahkan para pengawal lain seolah menahan napas.
"Kamu ajudan terbaik yang saya punya, Langit," ujar Anggara pembuka. "Disiplin, cerdas, dan punya loyalitas tinggi. Itu sebabnya saya sangat mempercayaimu."
"Terima kasih atas kepercayaannya, Bapak."
Anggara menatap Langit tanpa berkedip. "Tapi saya harap kamu cukup bijaksana untuk membedakan mana tugas dan mana distraksi. Aurora itu masih muda, dia impulsif, dan dia suka bermain-main. Dia anak saya, dan saya tahu betul sifatnya."
Langit tetap menatap lurus ke depan, namun rahangnya mengeras. "Mohon maaf jika ada interaksi yang kurang berkenan di mata Bapak."
Anggara menepuk bahu Langit. Tepukan itu terasa berat, lebih seperti sebuah penekanan daripada pujian. "Saya tidak suka spekulasi, apalagi yang melibatkan martabat keluarga saya. Saya sudah menyiapkan jalan yang panjang untuk karir kamu ke depan, Langit. Jangan biarkan kerikil kecil seperti 'perasaan' atau 'candaan anak muda' merusak jalan itu."
Anggara mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Langit, suaranya kini hanya berupa bisikan yang tajam. "Aurora adalah putri seorang anggota DPR, dan dia adalah seorang model kelas atas. Dunianya bukan di paviliun ajudan. Dan duniamu... bukan di sampingnya sebagai pendamping hidup. Kamu paham maksud saya?"
Langit menelan ludah. Kata-kata itu seperti hantaman beton yang telak mengenai hatinya. "Siap. Saya sangat paham, Bapak."
"Bagus," Anggara menjauhkan wajahnya, kembali ke ekspresi ramahnya yang palsu di depan publik. "Sekarang, siapkan tim. Kita berangkat ke istana lima menit lagi."
"Siap, Bapak!"
Anggara masuk ke dalam mobil limosinnya. Setelah pintu tertutup, Langit masih berdiri mematung di posisi tegak selama beberapa detik. Tangannya yang tertaut di belakang tubuh terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Peringatan itu bukan sekadar nasehat, itu adalah ancaman halus. Anggara Widjaja baru saja menegaskan kembali tembok kasta yang selama ini coba diruntuhkan oleh Aurora dengan keceriaannya.
Langit menatap ke arah jalanan kosong tempat mobil Aurora menghilang. Ia teringat kedipan mata gadis itu tadi pagi. Kedipan yang penuh harapan dan keberanian. Sementara di sisi lain, ia baru saja mendengar vonis dari sang penguasa rumah bahwa hubungan mereka adalah sesuatu yang terlarang.
"Maaf, Non Aurora..." gumam Langit sangat pelan, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi mesin mobil yang mulai menderu. "Sepertinya saya harus membangun kembali tembok itu, lebih tinggi dari sebelumnya."
Langit segera masuk ke mobil pengawal di belakang Limosin Anggara. Wajahnya kini benar-benar kembali menjadi robot yang tak bernyawa, lebih kaku dan lebih dingin dari hari-hari sebelumnya. Tugas berat hari ini bukan hanya di istana, tapi menjaga hatinya agar tidak hancur oleh realita yang baru saja ditegaskan oleh atasannya sendiri.