Lue Ang yang hampir mati diselamatkan oleh wanita tua, di sana Lue Ang diberitahu kalau dirinya memiliki spirit.
Untuk membalaskan dendam yang diterimanya selama ini, Lue Ang mencoba berkulivasi dan mengembangkan spirit yang ada di dalam tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cici aremanita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Anak Hu Ang
Lue Ang sama sekali tidak peduli dengan para tamu yang terlihat tidak senang, Hu Ang walau kesal tidak bisa melakukan apapun dan hanya berharap anak-anaknya bisa menang, karena jika anaknya menang membuat para tamu kembali senang sangat mudah baginya.
"Karena kamu juga sudah ada di sini kita akan langsung memulai pertarungannya, biarkan Tuan Sam dari Menteri Hukum, dan Tuan Daang dari menteri keadilan saksinya," ucap Hu Ang.
"Tunggu sebentar, tidak mungkin kita melakukan pertarungan begitu saja tanpa memberitahu kedua saksi tentang taruhan kita," sahut Lue Ang sambil tersenyum.
"Kedua saksi aku berharap kalian bersikap adil nantinya, selama aku berada di kediaman keluarga Ang aku mendapatkan makanan sisa yang sudah busuk, jika aku menang aku mau mereka juga memakan hal yang sama," sambung Lue Ang.
"Itu tidak benar, kami tidak pernah... ."
Sun yang ingin membela diri tidak melanjutkan perkataannya karena Tuan Sam mengangkat tangannya.
"Kami tidak peduli jika yang dikatakanya benar atau tidak tapi di dalam taruhan itu kami menyetujuinya," ucap Tuan Sam.
"Tapi bagaimana jika kamu yang kalah," sahut Tuan Daang.
"Di dalam cincin penyimpanan milik ku ini terdapat seratus lima puluh keping emas bahkan lebih, jika aku kalah aku akan memberikan semuanya termasuk cincinnya juga," ucap Lue Ang.
"Baiklah, taruhan berlaku," sahut Tuan Sam dan Tuan Daang serentak.
"Masih ada satu lagi, Aku mau bertarung ini menjadi pertarungan hidup dan mati, jika di antara kami ada yang mati Hu Ang dan Istri tidak bisa ikut menghentikan pertandingan dengan alasan apapun," ucap Lue Ang.
"Bagaimana Hu Ang apa kamu dan istrimu setuju?" Tanya Tuan Sam.
"Tentu saja kami setuju," sahut Hu Ang yang yakin anaknya tidak mungkin mati di tangan Lue Ang.
"Apa yang ingin kamu katakan sudah selesai? Jika sudah bisakah kamu memulai pertarungannya," ucap Tuan Sam.
Lue Ang hanya mengangguk pelan dan berjalan ke tengah-tengah, di depannya saat ini sudah ada lima anak Hu Ang yang biasa menindasnya.
Wang Ang, Fa Ang, San Ang, Fana Ang dan Hua Ang sudah mengatur posisi masing-masing bersiap menyerang Lue Ang, Kelima anak Hu Ang masih berpikir Lue Ang adalah si sampah lemah, mengalahkan nya pasti sangat muda.
"Apa kalian semua sudah siap?" Tanya Tuan Daang.
Semua serentak menganggukan kepala dan mengeluarkan senjata masing-masing, Wang Ang meminta keempat saudaranya untuk mengelilingi Lue Ang agar tidak bisa kabur ke mana-mana, diantara kelima anak Hu Ang Wang Ang pemilik tingkat kultivasi tertinggi.
Lue Ang yang melihat saat ini dirinya di keliling keempat anak Hu Ang hanya tersenyum tidak terlihat takut sedikitpun di wajahnya, Lue Ang menarik pedangnya dan memasukkan kekuatannya ke pedang.
Artefak di dalam tubuh Lue Ang menambah kekuatan yang keluar dari tubuhnya.
Wheeeeeeeeeeeeeeeees.
Satu ayunan pedang Lue Ang berhasil melukai Hua Ang Fana Ang dan San Ang.
Fa Ang yang menyadari ayunan pedang Lue Ang tidak biasa berhasil menghindar dan membuat dirinya tidak terluka seperti ketiga saudaranya.
"Kalian bodoh, kenapa tidak lebih berhati-hati," ucap Fa Ang.
"Kami hanya ceroboh, tidak akan terulang kedua kalinya," sahut San Ang.
Mendengar apa yang diucapkan keduanya Lue Ang hanya tersenyum, mereka memang ceroboh karena ingin mengepung dirinya tanpa menyadari kalau dirinya bukanlah orang yang sama seperti sebelumnya, dan serangan baru saja yang mengenai mereka sengaja tidak dikenakan oleh Lue Ang dengan serius.
Wheeeeeeeeeeeeeeeees.
Tak menunggu anak-anak Hu Ang selesai berbicara Lue Ang kembali mengayunkan pedangnya, menyerang Hua Ang dan Fana Ang yang masih belum terbiasa dengan luka di tubuh masing-masing.
"Anak seperti kalian tidak mungkin tidak akan kuat dengan luka-luka itu bukan," ucap Lue Ang sengaja memprovokasi keduanya.
"Kamu sengaja menargetkan mereka berdua yang masih lemah dan masih anak-anak," sahut Wang Ang.
"Pertarungan hidup dan mati tidak ditentukan dari usia dan tingkat pelatihan," sahut Lue Ang.
"Jika kamu terus menargetkan mereka aku tidak akan melepaskan mu," sahut Fa Ang.
"Kalau begitu kalian berdua maju saja agar aku tidak menyerang adik kalian lagi," ucap Lue Ang.
Wang Ang menatap Fa dan San Ang, ketiganya berpikir sepertinya mereka memang harus mengeluarkan serangan terakhir mereka, jika itu masih gagal mereka harus mengeluarkan spirit masing-masing.
Setelah saling memberi isyarat Wang Ang, Fa Ang dan San Ang sama-sama memasukkan kekuatan masing-masing dan memusatkan ke tangan, ketiganya berpikir Lue Ang mungkin ahli menggunakan pedang tapi dia tidak akan bisa menerima serangan mereka bertiga sekaligus.
Wheeeeeeeeeeeeeees.
Duuuuuuuuuuuaaaaar.
Satu pukulan keras dari ketiganya hanya membuat Lue Ang termundur ke belakang, Lue Ang masih bisa tersenyum santai walau menerima pukulan berkekuatan penuh dari ketiganya.
"Sepertinya kalian melupakan sesuatu, serangan kalian sudah sering aku terima bahkan saat aku tidak memiliki kultivasi," ucap Lue Ang.
"Serangan kalian yang benar-benar lemah ini sama sekali tidak bisa membunuhku," sambung Lue Ang.
Serangan yang diterima Lue Ang berhasil di tahan karena semalam Lue Ang berendam dengan herbal yang bisa memperkuat tubuh, serangan yang bisa membunuhnya hanya serangan besar dari kultivator tingkat menengah akhir.
"Kalau begitu majulah tanpa pedangmu kalau berani," sahut Fa Ang.
"Apa kamu yakin? Apa kamu yakin ingin menerima serangan ku dengan tangan kosong?" Tanya Lue Ang.
"Tidak perlu banyak bicara cepat lakukan saja, biarkan semua melihat kalau sampah tetaplah sampah," ucap Fa Ang.
Lue Ang kembali tersenyum karena akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menggunakan kekuatan penuh dan kekuatan dari artefak, tadi dirinya memang menggunakan kekuatan artefak tapi sengaja mengurangi kekuatannya agar kekuatan artefak yang keluar juga tidak sangat besar.
"Baiklah, kalau kamu ingin mati lebih dulu," ucap Lue Ang.
Setelah memfokuskan kekuatannya ke dalam tangan Lue Ang bersiap menyerang, sambil menyeringai Lue Ang langsung berlari ke arah Fa Ang yang benar-benar sudah siap menerima serangannya.
Baaaaaaaaaaaaaaaaam.
Bruuuuuuuuuuuaaaaaak.
Satu pukulan Lue Ang berhasil membuat Fa Ang terlempar jauh ke belakang, Fa Ang seketika muntah darah bahkan sampai tidak sadarkan diri.
Hu Ang yang melihat itu sangat terkejut, hanya dengan satu pukulan anaknya kalah dan tidak sadarkan diri.
"Fa Ang!" teriak Sun.
"Kalian harus ingat seperti yang sudah ada di perjanjian awal pertarungan ini adalah pertarungan hidup dan mati," ucap Tuang Sam.
Wang Ang dan San Ang sama-sama menelan ludah melihat saudara mereka yang hampir mati, dua lainnya bahkan terluka parah di pertarungan awal dan tidak bisa membantu lagi, San Ang sendiri juga terluka tapi tidak separah saudaranya.
"Tidak bisa dibiarkan, aku akan mengeluarkan spirit ku dan memintanya mencabik-cabik mu," teriak Wang Ang.
"Surai!" teriak Wang Ang
Whuuuuuuuuuuuuuus.
Dari dalam tubuh Wang Ang seekor Singa terbang membuat semua bersorak, spirit Wang Ang bukan spirit lemah, membunuh seorang manusia sangat mudah baginya.
"Sekarang giliranku," ucap Ameng.
"Jika kamu keluar akan membuat kehebohan besar, kabar itu juga akan sampai ke keluarga utama Ang, tapi itu sangat bagus biarkan mereka bersiap," sahut Lue Ang.
"Aku memang akan membantumu, tapi aku tidak akan keluar," ucap Ameng.
"Aku tidak mengerti maksud mu," sahut Lue Ang.