NovelToon NovelToon
Antara Pagar Dan Detak Jantung

Antara Pagar Dan Detak Jantung

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Persahabatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dalgichigo

Varendra Malik Atmadja, seorang arsitek muda yang tampan, ramah, dan sangat telaten, baru saja pindah ke Blok C-17. Sebagai penganut paham "tetangga adalah saudara", Malik bertekad untuk menjalin hubungan baik dengan seluruh penghuni kompleks.

Namun, rencananya membentur tembok tinggi setinggi pagar Blok C-18.

Di sanalah tinggal Vanya Ayudia Paramitha, seorang Game Developer yang lebih suka berinteraksi dengan baris kode daripada manusia. Baginya, ketenangan adalah segalanya, dan tetangga baru yang terlalu ramah seperti Malik adalah gangguan sinyal bagi kedamaian hidupnya.

Awalnya, Malik hanya berniat memberikan camilan sebagai tanda perkenalan. Tapi, setiap sapaan Malik dibalas dengan debuman pintu, dan setiap perhatiannya dianggap sebagai gangguan oleh Ayu.

Lalu, bagaimana jika sebuah paket yang salah alamat dan aroma masakan dari dapur Malik perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Ayu? Bisakah Malik merancang fondasi cinta di hati gadis yang bahkan enggan membuka pintu rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dalgichigo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga diantara Bunga

Di sisi lain kesibukan keluarga Malik, ada Hani yang dunianya selalu penuh warna dan aroma wangi. Toko bunganya yang bernama "Hani’s Bloom" bukan sekadar tempat bisnis, tapi sudah jadi markas estetik di sudut komplek yang selalu ramai pengunjung.

Siang itu, matahari cukup terik, tapi di dalam toko Hani, suasananya tetap sejuk. Hani sedang sibuk merangkai buket mawar putih dan baby's breath. Dia memakai apron soft pink dengan rambut yang dicepol asal, tapi entah kenapa, kecantikannya malah makin terpancar.

Seringkali, pembeli pria yang datang mendadak lupa mau beli bunga apa begitu melihat sang pemilik toko.

"Mbak Hani, ini mawar merahnya satu ikat berapa?" tanya seorang pembeli pria sambil curi-curi pandang.

"Lima puluh ribu saja, Mas," jawab Hani ramah dengan senyum andalannya.

"Kalau yang pegang mawarnya, Bisa dibeli  gak sekalian buat dibawa pulang ke rumah orang tua saya?" goda si pembeli.

Hani tertawa renyah, sudah terbiasa dengan gombalan receh seperti itu. "Wah, kalau saya mah nggak dijual, Mas. Mahal soalnya.

Di sudut toko, Kula sedang sibuk membantu mengepak bunga-bunga ke dalam kardus. Sejak Thalita datang, Kula makin rajin cari kegiatan, dan membantu Hani adalah cara terbaik untuk tetap terlihat "produktif" (sekalian mengharap tips buat bensin Aerox).

"Tante Hani, ini pesanan ke Blok A sudah siap semua. Mau Kula anter sekarang?" tanya Kula sambil mengangkat satu kotak besar.

Hani langsung kegirangan. Matanya berbinar setiap kali Kula memanggilnya 'Tante'. Baginya, panggilan itu bukan tanda dia tua, tapi tanda dia adalah wanita dewasa yang matang dan berkelas.

"Aduh, adek yang paling ganteng! Pinter banget sih. Iya, anterin sekarang ya, Kul. Hati-hati, jangan sampai layu di jalan, itu buat kado ulang tahun!" ucap Hani sambil mengelus kepala Kula sekilas.

Kula hanya bisa nyengir. "Siap, Tante! Tipsnya jangan lupa ya buat masa depan!"

Sambil menunggu kurir dadakannya kembali, Hani menyempatkan diri mengintip grup WhatsApp yang masih heboh dengan berita keluarga Malik.

Hani: Duh, senengnya liat keluarga Malik kumpul. Kapan ya Mas Bima juga bawa Mamahnya ke sini buat kenalan sama aku? Eh, lupa, Mas Bima mah sibuk jagain negara, biar aku aja yang jagain hatinya lewat bunga. 🌸👮‍♂️

Sarah: Waduh Tante Hani! Jualan bunga apa jualan curhat nih? Tadi gue liat ada cowok bening banget di depan toko lu, nggak lu bungkus sekalian Han?

Hani: Dih, Sarah! Mata gue cuma ada filter Mas Bima-nya. Yang lain mah blur semua kayak foto hantu Juned kemarin!

Vino: Bah! Jangan kau panggil dia Tante, Sarah. Nanti makin senang dia. @Kula , kau jangan asyik main bunga aja di situ, bantu aku angkut dekorasi besok!

Kula: Sori Bang, gue lagi dinas resmi di bawah komando Tante Hani. Harap antre! 🏍️💨

Pak RT: Nah, Kula gitu dong, bantuin tetangga itu ibadah. Tapi inget Kul, jangan sampe bunga Hani kamu kasih semua ke Zahra tanpa ijin Papi ya!

Sore harinya, saat toko mulai agak sepi, Hani mengambil satu tangkai bunga tulip merah sisa stok hari itu. Ia memandanginya sambil tersenyum tipis. Di sela-sela kesibukannya meladeni pembeli yang hobi menggoda dan mengatur Kula, pikiran Hani tetap kembali pada satu orang.

Ia merogoh ponselnya, lalu mengetik pesan singkat.

[Chat Pribadi ke Bima]

Hani: Mas Bima, semangat ya dinasnya. Jangan lupa minum air putih yang banyak. Di toko lagi banyak bunga tulip cantik, mirip aku dikit lah. Hehe.

Pesan itu hanya menunjukkan centang biru dua, tanpa balasan. Tapi bagi Hani, itu sudah cukup. Selama Mas Bima masih membaca pesannya, selama itu pula Hani akan terus menjadi "Bunga Komplek" yang pantang layu sebelum mendapatkan hatinya sang polisi.

Di balik seragam taktis yang gagah dan tatapan mata yang setajam elang, Bima adalah sebuah misteri yang bahkan rekan-rekan setimnya di kepolisian pun sulit pecahkan. Di kantor, dia adalah detektif Jatanras yang efisien, dingin, dan tidak punya waktu untuk basa-basi.

Namun, di balik tembok pertahanan yang ia bangun tinggi-tinggi, ada sisi lembut yang hanya muncul saat ia sudah melepas lencana dan berada di balik jendela rumahnya di Griya Visual.

Pagi itu di kantin kantor polisi, Bima sedang duduk tenang menyesap kopi hitamnya. Suasana tenang itu langsung pecah saat rekan-rekan timnya datang merangkul bahunya.

"Woy Bim! Lu mau jadi jomblo abadi apa gimana? Itu anak baru di bagian administrasi nanyain lu mulu," ledek salah satu seniornya.

"Fokus tugas dulu, Bang. Kasus curanmor kemarin belum tuntas," jawab Bima datar, wajahnya tak menunjukkan ekspresi apa pun.

"Halah, alasan! Lu gak kayak tim 'Halo Dek' yang hobi tebar pesona lewat seragam. Tapi ya jangan sedingin es batu juga. Inget umur, Bim! Seragam lu udah keren, tinggal pendampingnya aja yang belum ada di kursi pelaminan," timpal temannya yang lain sambil tertawa.

Bima hanya menggeleng pelan. Ia memang bukan tipe polisi yang suka kirim pesan "Lagi apa dek?" ke sembarang wanita di media sosial. Baginya, komitmen adalah hal serius, seserius ia menjaga keamanan negara.

Setiap pagi, sebelum berangkat dinas pukul tujuh, Bima punya ritual rahasia. Ia akan berdiri di balik gorden jendela ruang tamunya yang sedikit terbuka. Matanya yang biasanya mengintai tersangka, kini fokus pada satu titik yaitu Teras rumah Hani.

Ia melihat Hani yang baru saja keluar dengan daster bunga-bunga, rambut yang digerai, sedang memilah sayuran dari abang tukang sayur keliling. Suara tawa Hani yang renyah saat menawar harga terdengar sampai ke telinga Bima.

"Masa kangkung naik lagi, Bang? Diskon dong, kan Hani langganan tetap!" seru Hani sambil mengibaskan rambutnya.

Di balik gorden, sudut bibir Bima perlahan terangkat. Sebuah senyum tipis yang sangat langka terukir di wajahnya. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya setiap kali melihat keceriaan Hani yang alami. Bagi Bima, Hani adalah kontras dari dunianya yang penuh dengan sisi gelap kriminalitas.

Sebenarnya, Bima tidak sedingin itu pada Hani. Alasan ia sering mengabaikan pesan Hani atau hanya menjawab singkat, adalah karena ia bingung bagaimana harus merespons energi Hani yang meluap-luap tanpa merusak citra tegasnya.

Saat Hani mengirim pesan "Mas Bima jangan lupa minum air putih", Bima sebenarnya langsung meminum air satu botol penuh sambil menahan senyum. Tapi di balasan pesan, ia hanya akan mengetik: "Ya. Terima kasih." Atau hanya membaca saja.

Sore hari, saat Bima pulang dinas dan melihat Hani sedang menyiram tanaman di depan tokonya, Bima sengaja memacu motornya perlahan. Ia memperhatikan bagaimana butiran air dari selang Hani berkilau terkena cahaya matahari, sama berkilaunya dengan mata gadis itu.

"Tahan, Bim. Jangan senyum dulu, nanti dia makin nakal godainnya," batin Bima sambil tetap memasang wajah cool saat melewati pagar rumah Hani.

Bima jarang muncul di grup WhatsApp, tapi dia adalah pembaca setia. Terutama kalau nama Hani disebut-sebut.

[Grup WA Warga Guweh]

Hani: Duh, tadi liat Mas Bima lewat depan toko, gagah banget pake helm full face. Tapi kok nggak nengok sih? Apa jangan-jangan kacanya burem ya Mas? @Bima

Vino: Bukan burem itu Hani. Si Bima mah lagi jaga image biar tetep keliatan macam pahlawan di film aksi! Padahal aslinya pasti dia deg-degan itu lewat depan kau.

Sarah: WKWKWK Mas Bima mah fokusnya ke jalan, bukan ke bunga!

Adit: Sabar ya Mbak Hani. Mas Bima emang tipenya 'Silent but Deadly'.

Bima: (Mengetik di kolom chat tapi kemudian dihapus lagi) "Saya nengok kok, kamu aja yang nggak liat."

Akhirnya, Bima hanya meletakkan ponselnya dengan helaan napas panjang. Ia mengambil gelas kopi pemberian Hani kemarin yang masih tersimpan rapi di mejanya. Di dunia kepolisian, dia mungkin seorang pemburu penjahat yang ditakuti, tapi di hadapan seorang gadis toko bunga bernama Hani, Bima hanyalah seorang pria yang sedang berjuang keras menyembunyikan detak jantungnya sendiri.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dalgichigo: siaapp💪
total 1 replies
Jumi Saddah
👍👍👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹
Dalgichigo: 🫰🏻🫰🏻🫰🏻
total 1 replies
Juli Idyawati
menarik ceritanya
Dalgichigo: Makasihh Kak Juli <3, jangan lupa lanjutin baca ya, karena ceritanya bakal makin menarik nihh
balas
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!