Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Di kantornya, Hadrian memanggil Riko ke hadapannya. Ia menatap sang asisten yang berdiri gugup. Hatinya gelisah, Hadrian sudah pasti akan menanyakan kinerjanya selama tujuh tahun ini.
Hadrian menatap lurus pada wajah laki-laki di hadapannya. Baru saja ia memeriksa rekaman cctv di rumah yang tersambung dengan laptop di kantornya. Tak ada yang aneh, semuanya terlihat normal. Para pelayan bekerja sebagaimana mestinya. Sayang, rekaman semalam tak ada. Alasannya cctv rusak entah kenapa.
"Bagaimana penyelidikanmu selama tujuh tahun ini? Apakah kau sudah menemukan jejak istriku?" tanya Hadrian membuat sang asisten semakin gugup.
Pertanyaan itu lagi, sepanjang tahun di setiap bulannya, Hadrian akan selalu menanyakan perkembangan penyelidikan yang dilakukan asisten dan orang-orangnya.
"Sampai saat ini, orang-orang kita belum juga menemukan jejak nyonya, Tuan. Nyonya seperti hilang ditelan bumi. Tapi, Tuan, kami menemukan laki-laki itu," jawabnya membuat Hadrian menegang.
Ia mendekatkan tubuh pada meja, menatap lebih tajam pada tangan kanannya itu.
"Katakan!" Tak sabar ingin mendengar kabar tentang laki-laki yang membawa istrinya pergi.
"Sekarang laki-laki itu adalah seorang dokter di kota terpencil. Kota Pakis. Orang-orang kita sudah mendatangi tempatnya, tapi dari informasi yang diterima dia tinggal sendiri di rumah dinas tak jauh dari klinik tempatnya bekerja. Semua orang di sana mengatakan tak ada wanita yang menemaninya," papar Riko sesuai dengan hasil investigasi yang ia dapatkan dari orang-orang yang dikirimnya.
Hadrian menekuk tangan di atas meja, menautkan jemarinya. Ia meletakkan dagu si atas tangan, tercenung sendiri.
"Tapi, Tuan, dokter itu sudah meninggalkan kota Pakis. Kabarnya dia datang ke kota Anggrek membawa seorang gadis muda. Mungkin saat ini dia sudah berada di kota ini," lanjut sang asisten.
Hadrian mengangkat pandangan, tersirat harapan akan pertemuan dengan sang istri kembali. Ia melepaskan tautan tangannya, mengetuk-ngetuk meja dengan irama pelan.
"Temukan dia dan bawa ke hadapanku dengan cara apapun!" titahnya tegas dan tak terbantahkan.
"Baik, Tuan!" Riko menyahut tak kalah tegas.
"Kirim orang untuk memeriksa cctv di rumah. Aku ingin tahu kejadian tadi malam." Perintah berikutnya menyusul sebelum ia mengusir Riko dari ruangan dengan isyarat singkat tangannya.
"Baik, Tuan!" Riko undur diri, bergegas menjalankan perintah sang tuan untuk mencari keberadaan dokter Pri.
Hadrian membuka laci, mengeluarkan secarik kertas yang telah ia simpan selama tujuh tahun. Sebuah surat yang ditemukan di atas ranjang saat ia kembali ke rumah sembari membawa bayi Rasya.
Satu-satunya yang ditinggalkan Rania sebelum menghilang. Sebuah pengakuan bahwa dia terpaksa menikah dengannya. Di dalam surat itu, Rania mengatakan bahwa dia pergi menemui laki-laki yang dicintainya. Sahabat masa kecil yang telah meninggalkan kota kelahiran mereka.
Di sana juga tertulis permintaan Rania kepada Hadrian untuk tidak mencarinya dan merelakan dia pergi. Entah siapa yang menulisnya? Meski tulisan tangan serupa dengan milik Rania, tapi hati Hadrian ragu untuk percaya bahwa Rania sendiri yang menulisnya.
"Tulisan tangan bisa ditiru, tapi sampai saat ini aku belum menemukan petunjuk apapun. Sampai saat ini aku masih menolak untuk percaya bahwa surat ini kau yang menulisnya, Rania. Saat kau kembali nanti, kuharap kau memberiku penjelasan," gumamnya seraya meremas surat tersebut sebelum menyimpannya ke dalam laci.
Sudah tujuh tahun ia mencari jejak Rania, sudah selama itu juga dia mencari tahu tentang kebenaran surat itu, tapi tak satu pun petunjuk dia dapatkan. Hadrian mengusap wajah, lelah sudah, tapi ia sadar harus kuat. Ada Rasya yang masih menunggu kedua orang tuanya.
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄