Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 19
Sebagai seorang ibu, tentu saja Jenia merasa sedih. Jenia tidak menyangka jika putrinya kembali mengalami hal yang sama selama di dalam kelasnya bersama bu Sindy. Jika saja Ansel tidak cerita tentang apapun, sudah dapat di pastikan jika Jenia tidak akan pernah tahu putrinya kembali mendapatkan ketidakadilan di sekolahan yang seharusnya bisa memberikan keamanan dan kenyamanan bagi siswa.
“Kenapa Cwen tidak cerita sama, mama?”tanya Jenia mengusap surai putrinya.
Cwen menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena telah membuat mamanya sedih.
“Maaf mama, Cwen tidak mau membuat mama sedih, jadi Cwen berfikir kalau Cwen menyimpannya sendiri, itu akan lebih baik,” lirihnya memainkan jari-jari tangannya.
Jenia menghela napas pelan, “mama lebih sedih saat tahu Cwen mendapatkan perlakuan baik saat di sekolah dan Cwen tidak cerita apapun pada mama,”
Cwen tidak membalas, tapi Jenia tahu jika putrinya merasa bersalah.
“Mama senang jika Cwen mau berbagi apa yang Cwen rasakan kepada mama, mama akan senang jika Cwen cerita pada mama jika Cwen sedang mengalami masalah. Cwen mau ya cerita masalah Cwen kepada mama, tidak baik loh menyimpan masalah sendiri,”
Cwen mengangguk,“maaf mama, lain kali Cwen akan berbagi cerita kepada mama jika Cwen sedang mengalami masalah,”
Jenia tersenyum lembut,“Kalau Cwen belum siap cerita pun, Cwen bisa cerita ke mama saat Cwen sudah siap, jangan terlalu memaksakan diri, oke sayang?”
Cwen mengangguk, lalu memeluk erat mamanya.
“Cwen tidak sendiri, masih ada mama yang bisa Cwen andalkan ketika Cwen mendapat masalah,”
Jenia mengusap lembut kepala Cwen.
“Ada pak guru juga ma, pak guru bilang Cwen boleh cerita kepada pak guru jika Cwen mendapatkan masalah di kelas,”
Jenia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Cwen dengan kedua telapak tangannya.
“Lihat, Cwen tidak sendiri, ada mama juga pak guru,”
Cwen mengangguk, senyumnya sama sekali tidak luntur dari wajah, perasaan sedihnya mendadak hilang begitu Cwen sadar jika ia bisa berbagi kesedihan dan masalahnya kepada sang mama dan juga pak guru.
***
Jenia sengaja mengantar Cwen lebih awal, karena setelah ia mengantar Cwen sekolah, ia masih harus ke rumah mantan suaminya.
Bukan tanpa alasan Jenia mendatangi rumah mantan suaminya, ia membutuhkan uang untuk beberapa hari ke depan sebelum ia mendapatkan pekerjaan, oleh karena itu, Jenia nekat meminjam uang kepada mantan suaminya itu, ia tidak punya pilihan lain, karena di Indonesia ia hidup tanpa berdampingan dengan tetangga lain juga tidak memiliki satu pun kenalan di negara yang kini ia tinggali itu.
Jenia sedikit terkejut melihat kehadiran seorang wanita yang sedang duduk di kursi halaman depan, tampaknya wnaita itu tidak menyadari kedatang Jenia, terbukti dari fokusnya yang tidak terpecah saat jenia menyapanya.
“Permisi!”
Maih tidak ada tanggapan, entah memang tidak dengar atau pura-pura tidak dengar, tapi apapun alasannya, Jenia merasa maklum karena wanita itu sedang membaca sebuh buku yang Jenia yakini itu adalah novel.
“Permisi!”
Jenia menepuk pelan bahu wanita itu agar segera sadar jika ada dirinya dihadapan wanita itu.
Dan benar saja, begitu Jenia menepuk bahunya, wanita itu langsung tersadar dan mendongak. Keningnya sedikit mengerut melihat Jenia yang berdiri di hadapannya dengan senyum lebarnya. Aneh. Pikir wanita itu karena Jenia memang benar-benar tersenyum lebar, tanpa alasan.
“Kamu siapa? Selama aku tinggal di sini aku tidak pernah melihat kamu? Tidak mungkin tetangga, kan? Rumah mas Anwar terletak jauh dari rumah-rumah tetangga.
“Aku Jenia, kamu siapanya Anwar?”
Wanita itu langsung menatap tidak suka kepada Jenia.“Kamu kenal pacarku?”tanya wanita itu sinis.
Jenia mengangguk,“aku man-,”
“Sayang kamu sudah menyiapkan semuanya, kan?”
Jenia dan wanita yang mengaku sebagai kekasih dari dari Anwar itu menoleh secara bersamaan kearah asal suara.
Tatapan Anwar langsung berubah tajam begitu melihat kehadiran Jenia di halaman rumahnya.
“Ada apa kamu ke sini? Kita tidak punya urusan apapun lagi, jadi jangan pernah datang ke rumahku lagi.”
Senyum Jenia sedikit luntur, tidak menyangka jika Anwar akan menolak kedatangannya sekeras itu. Jenia kira, Anwar akan sedikit ramah padanya setelah mereka bercerai, rupanya malah semakin parah.
“Kamu kenal sama dia mas?”
Anwar menoleh kearah kekasihnya dan mengangguk,“hanya kenalan mas saat kerja di Jerman, tidak penting,” jawab Anwar.
“Pantas saja wajahnya seperti bukan dari Indonesia, belum lagi warna rambutnya memiliki warna yang tidak dimiliki orang-orang sini,”
“Kamu masuk, katanya mau ikut mas!”
Kekasih Anwar itu mengangguk lalu langsung masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi kearah Jenia yang mematung diam di depan sebuah bangku panjang.
“Anwar tunggu!”
Jenia sedikit berjalan mendekati Anwar begitu Anwar berbalik untuk masuk ke dakam rumahnya.
Anwar menghentikan langkahnya dan berbalik, “Pergi dari rumahku!”usir Anwar menatap datar mantan istrinya itu.
“Anwar, aku mohon dengarkan aku dulu, aku butuh uang, aku ingin pinjam kepadamu, aku tidak tahu lagi harus mendatangi siapa," lirih Jenia menatap Anwar dengan penuh harap.
“Aku janji akan segera mengembalikannya kepadamu begitu aku sudah memiliki uang,”
Anwar tertawa, menatap Jenia dengan tatapan yang meremehkan,“Apa? Meminjam uang? Aku tidak salah dengar, kan? Memangnya bagaimana kamu akan mengembalikan uangnya? Perkerjaan tidak punya, benar-benar sangat miris sekali hidupmu,”
Jenia mengepalkan tangannya, rasanya ia tidak tahan dengan hinaan yang keluar dari mulut Anwar, ada perasaan ingin memukul, tapi ia tahan , karena untuk sekarang yang paling penting adalah mendapatkan pinjaman uang, sekalipun ia harus kehilangan harga dirinya.
Anwar melangkah mendekati Jenia dan mencengkeram pipi Jenia kuat,“Jangan pernah datang lagi ke rumahku, kau hanya akan membuat kekasihku marah, apalagi hanya untuk meminjam uang, kini rasanya bebas sekali terbebas darimu Jenia, bodohnya aku kenapa dulu bisa sampai menikahimu dan menafkahimu lamanya,”
Anwar tampak menghela napas, lalu melepaskan cengkramannya pada pipi Jenia dan sedikit mendorongnya untuk mundur,“Pergi! Dan jangan pernah menampakkan diri lagi di hadapanku juga kekasihku!”
Jenia hanya diam, tapi kedua tangannya mengepal semakin erat di kedua sisi tubuhnya.
“Kamu akan menyesal, Anwar.”
***
“Pak Ansel, kepala sekolah meminta tolong agar bapak mendatangi salah satu murid di kelas bapak yang sudah tidak masuk sekolah sampai hampir seminggu,”
Anwar menoleh ke arah Sindy yang tiba-tiba datang dan berjalan tepat di sebelahnya membuat Anwar sedikit menjaga jarak agar tidak terlalu dekat.
“Pak Ansel, bapak dengar saya bicara, kan?” tanya Sindy karena tidak mendapatkan respon apapun dari Ansel.
“Kepala sekolah sudah mengatakan hal itu kepada saya,”balas Ansel tanpa menatap Sindy.
“Ini pasti karena Cwen yang sel-,”
“Berhenti menyalahkan Cwen , Seharusnya bu Sindy sebagai guru berlaku adil terhadap siswa, bukannya malah berpihak kepada siswa yang bu sindy tahu jika ia salah.”
seru ceritanya